Permata sesungguhnya-kutemukan tambatan hati-

 

 



PERMATA SESUNGGUHNYA -kutemukan tambatan hati-

 

PERTEMUAN DI AULA

Aula IAIN Medan terasa pengap sore itu, namun semangat mahasiswa dari berbagai jurusan tidak surut untuk membahas rencana KKN mandiri. Arie duduk di barisan belakang, memperhatikan satu per satu wajah yang akan menjadi rekan setimnya selama sebulan ke depan. Di sana ada Arnas yang santai, Imran yang serius, serta para mahasiswi yang sibuk mencatat. Namun, perhatian Arie tertuju pada seorang gadis yang sedang merapikan jilbabnya, tampak tenang di tengah hiruk-pikuk perdebatan Lokasi pengabdian mereka nantinya.dalam rapat itu hadir anggota kelompok mandiri

kelompok kami laki-laki: Arnas, Ipung,Imran, Arie.

yang perempuan: Ainun, Vivie, Hayati, Lely, Ayla, Shari, Kiyah dan Rina

 

Kipas angin berputar kencang di langit-langit, namun aliran udaranya tak cukup kuat menembus barisan kursi yang padat. Bau menyengat dari spidol penanda papan tulis bercampur dengan aroma kopi instan yang dibawa beberapa mahasiswa. Arie menyandarkan punggungnya, mencoba fokus pada dosen yang berdiri di depan, namun matanya terus saja melirik ke arah baris tengah di sebelah kiri.

 

Gadis itu tidak ikut dalam perdebatan sengit mengenai pemilihan desa antara Kecamatan Sunggal atau Deli Serdang. Ia hanya duduk dengan posisi tegak, jemarinya teliti menyusun kembali ujung jilbabnya yang sempat bergeser saat menulis di buku kecil. Gerakan itu terlihat begitu tenang, seolah-olah keributan di sekelilingnya hanyalah suara latar yang tak berarti.

"Kita butuh Lokasi yang aksesnya mudah, Arnas. Jangan cuma mikirin enaknya saja," suara Imran terdengar tegas, memecah keheningan sesaat di sudut ruangan.

Arnas bersandar santai sambil tersenyum. "Akses gampang bukan berarti harus di tengah kota, Ad. Kita kan KKN, bukan study tour."

 

Beberapa mahasiswa tertawa mendengar celetukan Arnas. Arie ikut menyeringai kecil, tapi tawanya langsung menguap saat gadis di baris tengah itu akhirnya angkat bicara. Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk membuat kepala Arie menoleh sepenuhnya.

"Kalau kita pilih desa yang terlalu jauh dari jalan raya, paket data kita habis percuma. Nanti susah koordinasi sama warga kalau sinyal mati total," ucapnya datar, tanpa mendongak dari bukunya.

 

Arie tertegun. Pandangan gadis itu tajam, jauh melebihi usianya yang masih terlihat muda. Ia mengamati cara gadis itu mencatat sesuatu lagi setelah selesai bicara, seolah tugasnya memberi masukan sudah selesai dan ia tak butuh pujian atas argumennya. Arie merasa ada ketertarikan yang aneh, sebuah rasa kagum yang mulai tumbuh dari kejauhan.


Ia menunduk, menatap buku catatannya sendiri yang masih bersih. Rasa kagum itu terasa mengganggu, seperti gatal di tenggorokan yang sulit ditelan. Arie menarik napas panjang, mencoba mengusir perasaan itu jauh-jauh sebelum rapat benar-benar dimulai. Ia harus menyatukan fokusnya sekarang, karena tim ini akan segera resmi terbentuk dan ada tanggung jawab besar yang menunggu.

 

Papan tulis di depan ruangan masih berbelek tulisan spidol yang terhapus setengah. Arnas memutar bolpoin di jarinya, matanya menyapu wajah-wajah yang duduk melingkar di kursi plastik yang mulai kendur. "Siapa yang mau jadi ketua?" tanya Arnas memecah keheningan yang mulai terasa pengap. Suara sirine jauh di luar gedung terdengar samar, mengingatkan mereka bahwa hari sudah menjelang sore.

 

Ipung langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan percaya diri, dagunya terangkat sedikit ke depan. Arie hanya mengangguk pelan saat Arnas menunjuk namanya sebagai wakil ketua. Tangannya sibuk merapikan tumpukan dokumen di atas meja, menghindari kontak mata dengan orang-orang di sekitarnya. Ada kegelisahan yang ia coba sembunyikan di balik ketenangan pura-pura itu.

 

Di sisi lain, Kiyah terpilih menjadi bendahara karena ketelitiannya yang sudah teruji di tugas-tugas sebelumnya. Arie mencuri pandang ke arah Kiyah yang sedang mencatat anggaran awal dengan teliti. Ujung pulpennya digigit pelan, kebiasaan yang Arie perhatikan baru pertama kali ini. Meja di sebelah Kiyah tampak berantakan dengan kabel charger yang melilit gelas minum. suara lembut Kiyah saat membacakan hasil rapat membuat Arie terpaku sepenuhnya. "Total biaya akomodasi ini kurang dari perkiraan awal," kata Kiyah tanpa mendongak. Arie merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, sebuah sensasi fisik yang tidak biasa. Ada getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sebuah ketertarikan instan yang mengganggu konsentrasinya.

 

Ketertarikan itu membuat Arie mendadak gugup saat Kiyah menatapnya untuk meminta persetujuan jadwal survei. "Arie, lo setuju untuk survei Lokasi minggu depan?" tanya Kiyah. Arie membuka mulut, namun hanya udara kosong yang keluar. Ia meraih botol minum di sampingnya, mencoba menenangkan tangan yang sedikit gemetar karena tekanan emosi yang tiba-tiba muncul. ketegangan di ruangan itu meningkat saat Ipung mulai mendesak soal target Lokasi KKN yang sulit. "Kita butuh tempat yang benar-benar terpencil, bukan cuma sekadar desa pinggiran," sela Ipung dengan nada tinggi. Arie melirik Kiyah lagi, melihat kerutan halus di


kening gadis itu saat mendengarkan argumen Ipung. Konflik soal Lokasi mulai memecah suasana yang tadinya cair. Arie merasa terjepit di antara ambisi Ipung dan kehati-hatian Kiyah yang mulai terlihat khawatir. Ia harus mengambil sikap sebelum rapat malam itu bubar tanpa keputusan. "Kita bahas opsi Lokasinya satu per satu," ucap Arie, suaranya sedikit serak karena kekeringan di tenggorokan. Ia berusaha mengalihkan perhatian agar diskusi tidak berlarut-larut dan emosinya tetap terkendali.

 

Begitu rapat dimulai lagi, perhatian mereka segera beralih sepenuhnya ke pemilihan Lokasi KKN yang sulit. Arie menyetujui jadwal itu dengan suara serak, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang kencang. Ia mencatat beberapa poin penting sambil sesekali mencuri pandang ke arah Kiyah yang masih asyik menghitung anggaran dengan tenang di sampingnya. Keputusan rapat hari itu berjalan cepat, mungkin terlalu cepat. Begitu nama Ipung diketuk sebagai ketua keLompok, suasana ruangan yang tadinya tegang sedikit mengendur.

Namun, Arie tahu masalah utama baru saja dimulai. Papan tulis masih penuh coretan tinta merah dan biru, menandai peta Lokasi yang menjadi rebutan sejak tadi pagi. Rina berdiri dan menunjuk ke arah garis pantai di peta. "Kita harus ambil daerah pesisir, teman-teman. Akses air bersih di sana masih jadi masalah utama. Kita bisa fokus ke sanitasi," ujarnya dengan nada meyakinkan. Beberapa anggota lain mengangguk setuju. Ide itu memang terdengar aman dan terstruktur.

 

Namun, Kiyah yang duduk di sudut meja tidak langsung setuju. Ia merapikan tumpukan dokumen di depannya sebelum akhirnya angkat suara. "Kalau kita lihat dari sisi kebutuhan mendesak, daerah pesisir sudah sering jadi sasaran program pemerintah." Ia menatap Ipung, lalu beralih ke Arie. "Saya lebih condong ke desa perkebunan di Kisaran."

 

Arie menoleh ke arah Kiyah. Ia memperhatikan nada suara Kiyah yang tenang namun tetap tegas. "Kenapa Kisaran?" tanya Arie, meski sebenarnya ia sudah memiliki jawaban di kepalanya. Ia ingin mendengar argumen itu langsung dari mulut Kiyah, ingin melihat betapa seriusnya gadis itu saat mengeluarkan pendapat. Kiyah menghela napas panjang sebelum menjawab. "Di sana aksesnya sulit, jalannya rusak parah kalau musim hujan. Tapi yang paling menyedihkan adalah fasilitas pendidikan mereka. Anak-anak di sana butuh bimbingan belajar dan motivasi, bukan cuma fisik


bangunan." Suara Kiyah tidak meninggi, tapi setiap kata terasa memiliki beban yang berat.

 

Arie merasakan degup jantungnya sedikit meningkat. Bukan karena tekanan rapat, tapi karena cara Kiyah memandang masalah itu. Ia melihat ini sebagai kesempatan. "Saya setuju dengan Kiyah," ujar Arie tiba-tiba. Suaranya sedikit lebih keras dari biasanya, memecah keheningan setelah penjelasan Kiyah. Ipung yang duduk di depan sedikit mengernyit. Ia menatap Arie, lalu Kiyah, seolah mencoba membaca situasi. "Arie, kita belum mendengar pendapat semua anggota. Rina sudah punya argumen kuat soal Logistik," kata Ipung mencoba menahan laju dukungan terhadap Kiyah.

"Ini bukan soal Logistik yang mudah, Ipung," potong Arie. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke arah ketua keLompok yang baru saja terpilih itu. "Ini soal di mana kehadiran kita benar-benar dibutuhkan. Kisaran itu menantang, tapi di situlah letak strategi kita sebenarnya." Ia sengaja menekankan kata 'strategi' untuk menunjukkan bahwa ia berpikir secara objektif.

 

Kiyah menoleh ke arah Arie, matanya sedikit melebar karena terkejut melihat dukungan yang begitu bersemangat. Namun, di balik tatapan itu, ada sedikit rasa malu karena menjadi pusat perhatian dalam perdebatan tersebut. "Terima kasih, Arie. Tapi kita harus lihat juga kemampuan kita," bisik Kiyah pelan, hanya Arie yang mendengarnya. Ipung mendengus pelan. Ia merasa sedikit tergeser sejak awal rapat. Sebagai ketua, seharusnya ia yang mengarahkan diskusi, tapi Arie dan Kiyah seolah memiliki bahasa rahasia sendiri. "Oke, kalau begitu kita lihat data lapangannya. Siapa yang punya data tentang kondisi sekolah di Kisaran?" tanya Ipung, mencoba merebut kembali kendali diskusi.

 

Arie segera mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari tasnya. "Saya sudah survei awal secara informal minggu lalu. Jumlah siswa yang putus sekolah di sana cukup tinggi karena harus membantu orang tua di kebun." Ia menyerahkan map itu kepada Ipung. "Ini bukan keputusan tiba-tiba. Saya sudah riset." Ipung menerima map itu dengan ragu. Ia membuka halamannya, melihat data yang rapi dan argumen yang matang. Ia tidak bisa memungkiri fakta di atas kertas. Kiyah menatap Arie dengan kagum. "Lo sudah menyiapkan ini semua sendirian?" tanya Kiyah.

"Bukan sendirian. Saya cuma ingin kita memilih tempat yang paling berdampak," jawab


Arie sambil menghindari kontak mata langsung dengan Kiyah, takut gadis itu membaca geLombang dalam hatinya. Ia memang ingin menunjukkan keberanian, bukan sekadar untuk pamer, tapi untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi pelindung bagi orang-orang di sekitarnya.

 

Suasana ruangan menjadi hening selama beberapa menit. Hanya terdengar suara kertas yang dibalik oleh Ipung. Rina melipat tangannya, mencoba menerima kenyataan bahwa usulannya akan kalah. "Kalau datanya sudah sekuat ini, saya tidak keberatan mundur," ujar Rina dengan berat hati. Ipung menutup map itu perlahan. Ia menatap Arie, lalu Kiyah, dan akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Keputusan akhirnya bulat: Kisaran." Mendengar kata-kata itu, Arie merasa ada kemenangan kecil, meski ia tahu perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.

 

Namun, saat Ipung mulai menunjuk tim kecil untuk persiapan administrasi, Arie merasakan ada yang tidak beres. "Saya akan ajak Ipung dan Rina untuk rapat lanjutan nanti sore," kata Ipung dengan nada yang sengaja dibuat santai. Arie menahan napas. Dadanya terasa sesak. Ia melihat Ipung mendahuluinya, meninggalkannya di dalam ruangan yang mulai kosong itu. Ia menunduk, menatap meja yang mulai dibersihkan oleh anggota lain. Kekecewaan mulai menggerogoti hatinya, mengingatkan kembali pada perasaan kecil yang sering ia coba sembunyikan.

 

Kiyah yang sedang membereskan kursinya mendekati Arie. Ia meletakkan tangannya di atas meja, tepat di depan Arie. "Jangan khawatir, Arie. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk persiapan ini." Senyum Kiyah di ujung rapat itu terasa seperti satu-satunya obat penawar yang mampu menjinakkan kekecewaan Arie. Keputusan itu jatuh begitu saja di akhir rapat, membelah suasana ruangan yang sudah pengap menjadi dua kubu. Ipung menutup map berwarna hijau dengan satu ketukan tepat di meja plastik yang mulai retak di sudutnya. Ia tidak menoleh, hanya melanjutkan kalimatnya dengan nada yang tidak terbantahkan.

"Oke, tim kecil berangkat besok pagi. Aku dan Arnas yang survei ke Kisaran dulu," kata Ipung. Suaranya datar, seolah membacakan jadwal kerja rutin, bukan sebuah pengumuman yang bisa menghancurkan harapan seseorang. Arnas mengangguk pelan di sampingnya, memainkan tutup bolpoin yang sudah Longgar.

 

Arie menegang di kursinya. Jari-jarinya menggenggam erat pinggiran meja hingga buku


kukunya memutih. Dalam hati, ia sudah menyusun skenario ikut serta, membayangkan bagaimana ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalam bus bersama Kiyah, membicarakan detail proyek, atau mungkin sekadar melihat pemandangan bersama. Ia menelan ludah yang terasa kering. Matanya melirik ke arah Kiyah yang duduk di barisan kursi paling belakang, dekat jendela yang kacanya berdebu. Gadis itu tampak sibuk menulis di buku catatannya, mungkin sedang merangkum poin-poin keputusan rapat, tak menyadari betapa beratnya udara yang baru saja didorong oleh ketua keLompok mereka.

 

Arie menarik napas panjang. Kekecewaan mengumpul di dasar tenggorokannya, terasa pahit dan mengganjal. Namun, ia adalah Arie, wakil ketua yang dikenal menjaga profesionalisme. Ia tidak bisa membuat ulah seperti anak kecil yang mainannya diambil teman sepermainannya. Ini soal tanggung jawab organisasi, katanya dalam hati, meski jiwanya sedang meronta.

"Baik, Ipung. Aman kalau kalian berdua yang ke sana," jawab Arie. Suaranya keluar lebih stabil dari yang ia sangka. Ia berhasil menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis, sebuah topeng yang sering ia pakai saat konflik batin sedang tinggi. Beberapa anggota keLompok lain mulai membereskan tas mereka, suasana cair kembali.

 

Ipung akhirnya berdiri dan melangkah keluar ruangan tanpa menunggu Arnas. Arnas sendiri terlihat sedang asyik berbisik dengan seseorang di dekat pintu. Kerumunan orang perlahan menyebar, meninggalkan ruangan yang kini hanya diisi suara kipas angin yang berderit pelan di plafon. Arie masih duduk, mematikan pulpennya dengan satu tangan. Rapat resmi bubar, tetapi ketegangan di dada Arie belum sepenuhnya hilang. Ia merasa ada yang janggal dengan cara Ipung memutuskan siapa yang berangkat. Sepertinya Ipung sengaja mengabaikan kehadiran Kiyah dalam tim survei itu, padahal Kiyah adalah bendahara yang seharusnya ikut mengecek kondisi riil di lapangan.

 

Kiyah mendekat setelah ruangan mulai sepi. Langkah kakinya pelan di atas lantai ubin yang dingin. Ia membawa selembar kertas folio yang terlipat rapi di tangannya. Wajahnya terlihat tenang, meskipun ada sedikit kerutan di dahinya yang menandakan ia juga sedang memikirkan sesuatu yang serius. "Rie, ini catatan rincian biaya perjalanan untuk tim survei nanti," ucap Kiyah. Ia meletakkan kertas itu di atas meja, tepat di depan Arie. Arie menatap kertas itu, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Kiyah. Ada bayangan lelah di mata gadis itu, mungkin akibat ruangan yang terlalu panas tadi.


Arie mengambil kertas itu dan membukanya perlahan. Matanya tidak benar-benar membaca angka-angka yang tertulis rapi di sana. Pikirannya melayang, membayangkan bagaimana seharusnya ia yang berdiri di posisi Ipung, memegang kepemimpinan itu untuk memastikan Kiyah ikut serta dalam perjalanan tersebut.

 

"Terima kasih, Kiyah. Ipung dan Arnas memang cukup tangguh untuk survei lapangan," kata Arie, mencoba menyembunyikan nada getirnya. Ia berharap Kiyah akan memprotes keputusan Ipung, atau setidaknya menunjukkan rasa kecewa karena tidak dilibatkan. Tapi Kiyah hanya mengangguk, seolah itu adalah takdir yang tidak bisa diubah lagi.

 

Kiyah tersenyum kecil, sebuah senyum yang tidak menyentuh matanya sepenuhnya. "Iya, semoga lancar saja. Kasihan juga mereka harus berangkat subuh-subuh," balasnya. Ia merapikan buku catatannya ke dalam tas kanvas yang sudah usang di bagian tepinya.

Gerakan tangannya teratur, menunjukkan ketenangan yang sering membuat Arie merasa damai.

 

"Hati-hati di jalan ya, Rie," kata Kiyah tiba-tiba. Kalimat itu pendek, sederhana, dan terdengar seperti pengantar tidur yang biasa. Namun, bagi Arie, kata-kata itu jatuh seperti embun di tengah padang pasir. Ada kehangatan yang menyelinap masuk ke dalam dadanya, merontokkan sedikit demi sedikit rasa kesal terhadap Ipung.

 

Arie mendongak, menatap langsung ke dalam mata Kiyah yang berwarna cokelat muda. "Lo juga hati-hati di sini. Jangan sampai terlalu capek mengurus administrasi sendiri," balasnya. Suaranya sedikit parau. Kiyah hanya tertawa kecil, sebuah suara yang lembut dan mengalun mengalahkan derit kipas angin di atas sana.

 

Mereka terdiam sesaat, bukan sebuah keheningan yang canggung, melainkan sebuah jeda yang penuh dengan pemahaman tanpa kata. Arie bisa melihat serat-serat halus di baju Kiyah yang berwarna krem, dan aroma parfum laundry yang tipis mulai tercium oleh hidungnya karena jarak mereka yang kini begitu dekat.

 

"Aku duluan ya, Rie. Masih harus print ini di warnet sebelum magrib," ujar Kiyah sambil menarik tali tasnya. Ia melangkah mundur satu langkah, lalu berbalik badan. Rambutnya yang diikat setengah itu menutupi sebagian leher putihnya saat ia berjalan menuju pintu. Arie hanya bisa menatap punggung gadis itu hingga hilang ditelan Lorong gelap di luar ruangan.

 

Arie menghela napas lega. Kekecewaannya karena tidak jadi pergi bersama Kiyah memudar, tergantikan oleh semangat baru yang muncul begitu saja. Ia merasa memiliki


alasan kuat untuk bekerja lebih keras, agar proyek ini sukses dan ia bisa memiliki lebih banyak waktu bersama Kiyah di kesempatan berikutnya.

 

Ia berdiri dari kursinya, merapikan beberapa kertas yang masih berserakan di meja. Ruangan itu kini sepi total, hanya ada bayangan dirinya sendiri yang memanjang di lantai karena cahaya matahari yang mulai berubah jingga di luar jendela. Ada perasaan ringan di dadanya, sebuah ledakan emosi positif yang datang dari sebuah kalimat pendek tadi.

 

Sepanjang perjalanan pulang menggunakan angkot yang bau bensin dan penuh sesak, Arie terus tersenyum sendiri. Bayangan Kiyah yang menyerahkan kertas tadi terus berputar di kepalanya, seolah-olah gadis itu masih berdiri di sampingnya, membisikkan kata-kata semangat yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

 

Ia tidak lagi merasakan lelah di punggungnya akibat duduk berjam-jam di ruangan yang panas itu. Keringat yang tadi membasahi kerah bajunya terasa sejuk, dan deru mesin angkot yang berisik terdengar seperti musik latar yang mengasyikkan. Dunia seolah berputar lebih lambat, memberinya ruang untuk menikmati getaran hatinya sendiri.

 

Sesampainya di depan rumah kontrakannya, Arie masih termangu di depan pagar. Bayangan Kiyah menemaninya sepanjang perjalanan pulang, hingga akhirnya memicu untaian rasa yang menggema di dalam diam. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tumbuh di sana, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa suka pada teman organisasi.

 

Suara denting kecil dari jam dinding di ruang tengah kos terdengar lebih keras dari biasanya. Arie duduk bersandar di kasur, punggungnya menyangga bantal yang mulai kempis. Di atas meja plastik di samping jendela, buku catatan harian kosong menantang tanpa dibuka. Matanya menatap ke arah lampu neon yang berkedip pelan, namun pikirannya tertuju pada sebuah suara yang didengarnya siang tadi.

 

Ia teringat bagaimana Kiyah menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi pagi. Gadis itu tidak langsung menimpali dengan argumen panjang, melainkan tersenyum kecil, menundukkan sedikit kepala, lalu memilih kata-kata yang tidak menyakitkan meski sedang dibantah halus. Arie menghela napas panjang, mencoba meniru ketenangan suara itu di dalam kepalanya, namun dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

 

"Kenapa harus grogi sekarang?" gumamnya pelan, jari-jarinya mulai mengetuk-ngetuk permukaan meja yang dingin.

 

Ia meraih bolpen yang tergeletak di antara tumpukan modul administrasi. Tutup bolpen itu


dimainkannya dengan jari telunjuk, berputar liar sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Arie membiarkannya tergeletak di sana. Ia membuka buku catatan itu di halaman baru, menemukan garis-garis kertas yang masih bersih. Ia ingin menuliskan sesuatu, tapi tangannya terasa kaku. Bukan karena tidak tahu apa yang dirasakan, tapi karena takut kalimat yang ia tulis tidak akan cukup untuk menggambarkan sosok Kiyah.

 

Arie mulai menuliskan satu kata: Sabar . Ia terhenti. Kata itu terlalu umum. Ia mencoretnya dengan kasar hingga kertasnya berlubang. Ia melirik ke arah jendela yang mulai dibasahi embun malam. Di luar sana, suara jangkrik mulai bersahutan dengan ritme yang tidak beraturan.

 

"Kiyah bukan sekadar teman satu tim," bisiknya pada ruangan yang sepi.

 

Pikiran Arie melayang ke masa lalu, pada kegagalan yang menyakitkan di semester tiga. Waktu itu, ia terlalu takut untuk mengatakan apa yang ia rasakan hingga orang lain mengambil kesempatan itu. Ia tidak ingin menjadi penonton lagi. Namun, melihat Kiyah yang begitu tenang dan dihormati banyak orang, Arie merasa dirinya seperti debu yang tidak layak menempel pada permata.

 

Ia menutup buku catatannya dengan satu ketukan keras. Suara itu memecah kesunyian kamar. Arie bangkit dari kasurnya, merasa gelisah. Ia berjalan menuju jendela, membuka kaca jendela itu lebih lebar agar udara malam yang dingin bisa masuk dan menyegarkan pikirannya yang mulai berasap.

 

Di halaman depan, lampu penerangan jalan yang redup menciptakan bayangan-bayangan panjang. Arie melihat sosok seseorang sedang duduk di teras rumah sebelah, mungkin sedang menikmati teh hangat. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berlari kencang. Ini bukan tentang memenangkan hati Kiyah malam ini, pikirnya. Ini tentang menjadi pribadi yang lebih baik, seperti apa yang selama ini ia doakan dalam sujudnya.

 

Ia kembali ke meja belajarnya, membuka kembali buku catatan itu. Kali ini, ia tidak menulis tentang Kiyah. Ia menuliskan daftar hal-hal kecil yang ingin ia perbaiki dalam dirinya: kesabaran dalam mendengar, ketenangan dalam berdebat, dan keberanian untuk tersenyum lebih dulu. Saat menulis, bahunya yang sebelumnya tegang mulai mengendur. Kegelisahan itu perlahan berubah menjadi keputusan kecil yang nyata.

 

Arie menutup matanya sejenak, merasakan denyut nadi di pelipisnya melambat. Malam memang memberikan ruang untuk keraguan, tapi juga memberikan waktu untuk


merencanakan langkah besok. Ia tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja hanya karena ia terlalu sibuk memikirkan apa kata orang lain. Besok pagi, saat matahari kembali menyinari desa ini, ia akan memulai dengan langkah yang lebih pasti.

 

Hari sudah mulai menanjak, tapi hawa dingin masih menyelimuti sudut koridor fakultas yang sempit. Arie menarik ritsleting jaketnya hingga leher, menyusuri barisan mahasiswa yang mulai memadati meja pelayanan. Matanya langsung menangkap sosok Kiyah di ujung baris, gadis itu tampak kewalahan menahan tumpukan map tebal yang nyaris tumpah dari pelukannya. Beberapa helai rambut Kiyah lepas menutupi kening yang sedikit berkerut karena fokus membaca daftar berkas di tangannya.

 

Tanpa berpikir panjang, Arie melangkah cepat mendekat sebelum kerumunan mahasiswa lain menghalangi jalannya. Ia menyenggol bahu seorang teman kelas yang sedang asyik menatap ponsel, lalu berhenti tepat di depan Kiyah. "Biar aku yang fotokopi ini, Kiyah," ucap Arie sambil mengulurkan tangan, mencoba mengambil setengah tumpukan map dari pelukan Kiyah agar beban gadis itu berkurang.

 

Kiyah mendongak, mata mereka bertemu sesaat sebelum ia mengalihkan pandangan ke map di tangan Arie. Wajahnya mengendur, meLontarkan senyum tipis yang membuat lesung pipit di pipinya muncul. "Terima kasih, Arie. Tumpukannya memang cukup banyak," jawab Kiyah. Suaranya terdengar lega, jauh lebih hangat daripada biasanya. Arie mengangguk singkat, lalu bergegas menuju sudut koridor di mana mesin fotokopi berdiri.

Di sela langkahnya, ia melirik ke arah sofa plastik di pojok ruangan.

 

Dari kejauhan, Ipung duduk dengan kaki disilangkan. Ia tidak memegang map atau formulir apa pun, hanya menatap tajam ke arah Arie dan Kiyah yang sedang berinteraksi. Jari-jari Ipung meremas plastik bungkus permen di tangannya hingga mengeluarkan bunyi kress yang cukup keras. Kerut di kening Ipung dalam, mengirimkan sinyal bahwa persaingan di antara mereka bertiga mulai memanas dan tidak bisa lagi disembunyikan di balik senyum sopan mahasiswa.

 

Arie bisa merasakan tatapan itu menusuk punggungnya saat ia memasukkan kertas ke mesin fotokopi. Ia menarik napas panjang, memilih untuk mengabaikan tekanan dari arah Ipung. Baginya, menyelesaikan tugas keLompok dan menjaga kedekatan dengan Kiyah jauh lebih penting daripada terjebak dalam konfrontasi dingin yang tidak perlu. Namun, keputusan itu membuat dadanya sesak, menyiapkan dirinya untuk ledakan konflik yang mungkin meledak kapan saja di antara mereka.


DEBAR DIRUANG BIMBINGAN

 

Sinar matahari sore menembus celah tirai berwarna krem di ruang dosen pembimbing. Cahayanya jatuh diagonal ke atas meja kayu yang penuh sesak dengan tumpukan proposal mahasiswa. Suasana di dalam ruangan jauh lebih hening dan formal dibandingkan rapat umum di aula fakultas. Arie melipat jarinya, merasakan ketegangan menjelang sesi pembekalan terakhir yang sangat menentukan ini.

 

Dia terburu-buru berjalan cepat di koridor yang panjang dan sepi. Lantai ubin marmer menciptakan gema langkah kaki yang terdengar sangat riuh di telinganya sendiri. Arie berharap sang dosen belum memulai sesi bimbingan, sehingga dia tidak terlihat seperti mahasiswa yang tidak disiplin. Tangannya mencengkeram erat tali tas selempang yang melintang di dadanya.

 

Sesampainya di depan pintu, Arie mendorong daun pintu jati yang berat dengan bahu kirinya. Napasnya tersengal-sengal karena tadi berlari kencang dari parkiran motor yang jauh. Saat pintu terbuka lebar, suara langkah kaki dan desiran kertas di dalam ruangan mendadak berhenti. Semua mata dari rekan-rekannya dan dosen pembimbing langsung tertuju ke arah dirinya.

 

Ruangan itu terasa pengap karena jumlah kursi yang ditambah melebihi kapasitas normal. Arie menarik kerah kemejanya yang terasa mendadak sempit dan panas di lehernya. Dia menundukkan wajah, berusaha menghindari kontak mata dengan dosen pembimbing yang sedang memegang pulpen di tangannya. Heningnya ruangan terasa menekan telinganya, membuat detak jantungnya semakin kencang.

 

Di sudut ruangan, tepat di sebelah pintu jendela, hanya tersisa satu kursi plastik kosong. Kursi itu tampak sangat kecil dan terisolasi di antara barisan kursi kayu yang rapi milik mahasiswa lainnya. Arie merasa seolah-olah kursi itu adalah sebuah panggung yang sengaja disiapkan untuk menguji ketenangannya. Dia melangkah maju dengan kaki yang terasa sedikit limbung.

 

Setiap langkah yang diambilnya terasa berat, seolah lantai kayu parket sedang menarik kakinya ke bawah tanah. Arie menarik napas panjang dan mencoba menenangkan pikirannya yang mulai kacau. Namun, tak ada jalan mundur lagi bagi dirinya karena semua orang sudah melihat kedatangannya. Dia harus segera duduk dan menghadapi konsekuensi dari keterlambatannya.


Arnas menunjuk ke arah kursi paling belakang di deretan kiri. "Duduk di sana, Arie!" suaranya menggelegar di tengah kelas yang mulai ramai. Arie menelan ludah yang

tiba-tiba terasa kental. Kakinya terasa berat saat melangkah melewati barisan meja, seolah semua mata tertuju pada kerah jaketnya yang sedikit naik, sisa dari kepanikan di koridor tadi.

 

Ia duduk dengan kaku di sebelah Kiyah. Udara di sela-sela mereka terasa tipis. Arie mencondongkan tubuh, berusaha menjauh sekaligus mendekat, tapi malah membuat sikunya nyaris menabrak buku catatan milik Kiyah. "Maaf," gumamnya cepat, suaranya serak.

 

Kiyah tidak menoleh. Gadis itu sibuk merapikan pulpennya, tapi Arie bisa melihat garis rahangnya yang tegang. Sebaliknya, wangi parfum Kiyah yang lembut--semacam bedak tabur dan air hangat--menyeruak, menusuk indra penciuman Arie dan membuat telinganya panas.

 

Arie mencoba fokus pada papan tulis yang kosong, tapi dadanya masih sesak. Ia merogoh saku jaket untuk mengambil pulpen, tangannya gemetar hebat karena sisa adrenalin. Saat ia menarik pulpen itu keluar, jarinya terlalu kaku sehingga benda itu terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi klik yang keras.

 

Kiyah memungutnya sebelum Arie sempat bergerak. Gadis itu memutar pulpen itu di jari telunjuknya sebentar, lalu memberikannya tanpa berkata apa-apa, hanya dengan sebuah senyum kecil yang tidak mencapai matanya. Arie merasa wajahnya memanas, takut jika Kiyah bisa mendengar detak jantungnya yang sangat berisik di tengah keheningan ruangan.

 

Di sudut pandang Arie, Arnas sudah berdiri di depan kelas, mengatur beberapa lembar kertas di mejanya. Arie buru-buru mencatat sesuatu yang tidak penting hanya untuk mengalihkan perhatian dari getaran di dadanya. Ia mencoba mengatur napas agar tidak terdengar seperti orang yang baru saja lari maraton.

 

Ketegangan di antara mereka berdua hampir terasa fisik. Arie menyadari bahwa keputusan rapat tadi tidak hanya mengubah susunan keLompok, tapi juga membawa beban baru yang ia tidak tahu harus dibuang ke mana. Ia menunggu dosen memulai kelas, berharap suara orang lain bisa menenggelamkan kebisingan di kepalanya.


Suara pak Dosen memenuhi ruang kelas dengan rincian teknis tentang Lokasi pengabdian di Kisaran. Arie duduk kaku di kursinya. Lengan kirinya menempel hampir tanpa celah pada lengan kanan Kiyah. Ruangan ber-AC ini terasa panas bagi leher Arie. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan telinga yang mendadak memanas, sementara aroma lembut parfum Kiyah terus mengganggu konsentrasinya.

 

Di depan sana, pak Dosen sedang memutar video profil desa. Cahaya proyektor yang redup membuat jarak mereka terasa semakin sempit. Arie mencoba fokus pada layar, namun matanya selalu tertarik kembali ke arah jari-jari Kiyah yang sedang memainkan ujung ballpoint. Cukup tiga sentimeter lagi, lengan kita akan benar-benar bersentuhan,pikir Arie panik. Ia buru-buru merapatkan buku tulisnya, berpura-pura sibuk mencatat.

 

Tiba-tiba, sebuah buku catatan bergaris biru menyela di antara tubuh mereka. Kiyah menyodorkannya ke tengah meja. Gerakan itu memaksa Arie untuk berhenti mencuri pandang. Kiyah lalu menunjuk bagian bawah paragraf dengan kuku yang tidak dicat.

 

"Tulis bagian ini, Rie. Poin-poin tentang kontak masyarakat itu penting untuk draf laporan nanti," bisik Kiyah pelan. Napas Kiyah menyapu pipi Arie yang terlalu dekat. Arie nyaris tidak mendengar kata-katanya karena sibuk menahan detak jantungnya yang berdegup kencang.

 

Arie mengulurkan tangan untuk mengambil pena yang terselip di buku Kiyah. Saat tangannya melintas, punggung tangannya secara tidak sengaja menyentuh punggung tangan Kiyah. Sentuhan itu sangat singkat, namun terasa seperti sengatan arus listrik yang membuat Arie membeku. Kiyah menarik tangannya sedikit, tapi tidak menjauh terlalu jauh.

 

"Iya, nanti aku tulis," jawab Arie dengan suara serak. Ia buru-buru menulis, tapi tulisan tangannya terlihat sangat berantakan malam itu. Tinta hitam membesar di beberapa bagian karena genggamannya yang terlalu kuat pada batang pena. Ia tidak berani menoleh, takut jika Kiyah melihat wajahnya yang merona merah karena hal sepele itu.

 

Pak Dosen tiba-tiba mematikan proyektor dan menyalakan lampu ruang kelas. Cahaya terang menyilaukan mata Arie sejenak. Ia mengedipkan mata perlahan, mencoba menyesuaikan penglihatannya. Di sampingnya, Kiyah sedang membereskan

buku-bukunya dengan tenang dan teratur, seolah tidak terjadi apa-apa.

 

Arie merasa ada yang aneh dalam ketenangan Kiyah. Gadis itu tidak pernah terlihat gugup, bahkan setelah kejadian kecil tadi. Arie mencuri pandang ke arah wajah Kiyah yang


sedang fokus merapikan kertas. Profil samping Kiyah terlihat sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja bersentuhan tangan secara intim di ruang kelas.

 

Di sudut meja, Arie melihat secarik kertas kecil jatuh dari buku catatan Kiyah saat dipindahkan. Arie hendak memungutnya, namun tangannya terhenti di udara. Matanya menangkap tulisan tangan Kiyah di atas kertas itu, yang bukan merupakan catatan kuliah, melainkan sebuah nama yang ia kenal sangat baik. Namanya sendiri tertulis di sana, dengan hati kecil yang tergambar di sampingnya.

 

Arie menelan ludah keras. Ketegangan di dadanya berubah menjadi kecurigaan yang tajam. Apakah ketenangan Kiyah tadi hanyalah sandiwara? Arie memandang sekeliling ruangan yang mulai kosong. Matanya terpaku pada sosok di depan pintu yang sedang menatapnya dengan sorot tajam. Ipung berdiri di sana, menunggu dengan tangan terlipat di dada.

 

Ruangan bimbingan terasa pengap oleh asap spidol dan aroma kopi saset yang sudah dingin. Ipung duduk di kursi paling depan, jemarinya mengetuk-ngetuk meja plastik mengikuti detak jam dinding. Sesekali ia menoleh ke barisan belakang, meLotot tajam ke arah Arie yang asyik bersandar santai sambil membalas senyum Kiyah. Napas Ipung mulai memendek, dadanya terasa sesak menahan amarah yang mulai menggeLora.

 

Ketegangan di ruangan itu tidak hanya terasa di hati Ipung, tapi juga terpancar dari bahu Arie yang sedikit meringkuk. Gadis di sebelah Arie terus berbisik tentang jadwal pemberangkatan, namun Arie sibuk mencoret-coret tepi kertas presentasi dengan gambar kecil yang tidak jelas. Ipung menggertakkan giginya, melihat Arie seolah lupa bahwa mereka sedang dalam rapat resmi. Udara di ruangan itu terasa makin tipis bagi Ipung yang mulai kehilangan kesabaran.

 

Begitu suara dosen pembimbing hilang di balik pintu, Ipung langsung berdiri dan menarik kerah jaket Arie dengan kasar. "Keluar," bisiknya singkat. Arie terbatuk kaget, tapi Ipung sudah menyeret kakinya menuju sudut ruangan yang gelap, jauh dari pandangan mahasiswa lain yang mulai membereskan tas mereka. Jantung Arie berdegup kencang, merasakan urat leher Ipung yang menegang di sampingnya.

 

"Fokus, Rie. Kita ke sana untuk kerja, bukan untuk main-main," suara Ipung dingin, matanya menatap tajam ke arah Arie yang sedang menunduk. Arie menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai kacau. Ia ingin membalas omongan Ipung, namun dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah dan amarah yang


bercampur aduk. Arie hanya bisa menatap lantai keramik yang retak, berusaha menjaga napas agar tidak memburu.

 

Ipung melangkah maju, menciutkan jarak di antara mereka berdua hingga Arie bisa mencium aroma sabun cuci piring di baju Ipung. "Lo pikir ini semua cuma lelucon? Lihat tim kita, mereka semua mulai memandang rendah kita karena sikapmu itu," desis Ipung. Arie mengepalkan tangannya di balik punggung, merasakan kuku-kukunya mencengkeram telapak tangannya sendiri. Suara napas Ipung yang memburu terdengar jelas di telinga Arie, membuat suasana jadi makin mencekam.

 

Tiba-tiba, suara tawa Kiyah terdengar dari sudut ruangan lain, seolah menambah tekanan di kepala Arie. Arie menatap ke arah gadis itu, melihatnya sedang tertawa bersama teman lain, tak sadar bahwa di sudut gelap ini hubungan persahabatan mereka mulai merenggang. Arie merasakan perih di ulu hatinya, sebuah konflik batin yang sangat menyakitkan. Ia tidak ingin kehilangan sahabatnya, tapi hatinya tidak bisa berbohong tentang apa yang ia rasakan untuk Kiyah.

 

"Maafkan aku, Pun. Aku... aku cuma bingung," suara Arie akhirnya keluar, parau dan tertatih. Ipung mendengus keras, melepaskan cengkeramannya di kerah jaket Arie dan meludah ke lantai sebagai bentuk kekecewaan. Suasana hening mencekam menguasai sudut ruangan itu, hanya diselingi oleh suara sirine mobil jauh di luar gedung. Arie merasakan kepalanya berdenyut, stres yang menumpuk mulai memengaruhi pikirannya tentang pemberangkatan besok.

 

Malam itu, Arie duduk sendirian di kamar kos, menatap langit-langit yang mulai memunculkan bercak kelembapan. Ia merasa terisolasi, jauh dari keramaian kampus yang biasanya menenangkannya. Pikirannya terus tertuju pada tatapan tajam Ipung dan senyum Kiyah yang menghantui. Ia memegang dadanya, merasakan jantungnya berdetak tidak beraturan, tanda bahwa tekanan mental yang ia alami sudah mencapai batas psikoLogis yang membahayakan.

 

Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, menutup mata dan membayangkan dirinya berada di tempat yang tenang. Namun, bayang-bayang amarah Ipung terus muncul, membuat napasnya tersengal-sengal kembali. Arie menyadari bahwa ia harus segera mengambil keputusan besar sebelum keberangkatan tim tiba. Ia tidak bisa membiarkan konflik ini menghancurkan segalanya, tapi hatinya enggan untuk menyerah begitu saja pada perasaannya.

 

Akhirnya, Arie memutuskan untuk keluar kamar, berjalan kaki menuju stasiun kereta


terdekat meski hari sudah sangat larut. Udara malam yang dingin menerpa wajahnya, menyejukkan luka di hatinya untuk sesaat. Ia duduk di bangku kosong stasiun yang sepi, menunggu kereta pertama yang akan lewat di pagi hari. Dalam keheningan itu, ia bertekad untuk membalas senyum Kiyah, sekaligus mencari cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Ipung.

 

Di teras gedung fakultas yang mulai remang, sekeLompok mahasiswa berkerumun di sekitar meja kayu yang berantakan. Suara denting botol minum dan gesekan ritsleting tas menjadi latar musik malam itu. Beberapa orang sibuk mengecek nomor kursi di aplikasi kereta, sementara Arnas hanya menyilangkan tangan, menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.

 

"Kereta malam ini sudah fix, kan? Aku nggak mau kalau sampai stasiun terus ternyata mundur tiga jam." suara Ipung pecah di tengah kerumunan, mencoba menegaskan rasa percaya diri yang sebenarnya rapuh. Ia menunjukkan tangkapan layar tiket di ponselnya kepada Arie yang duduk di sebelahnya. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar, Arie hanya mengangguk singkat, jari telunjuknya mengusap bibir bawah yang kering.

 

Kiyah berdiri agak di pinggir, mencoba mengangkat koper ukuran sedang yang beratnya seolah menandingi beban pikirannya. Kain batik yang melilit di tangannya tersangkut di ritsleting tas. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam kepanikan kecil yang mulai merayap di dadanya. Tas ransel di punggungnya tampak melar ke belakang, penuh dengan pakaian dan buku yang mungkin tidak akan pernah dibuka selama di sana.

 

"Astaga, Kiyah. Lo mau pindah rumah apa bawa apa sampai segitu banyaknya?" tanya Arie tiba-tiba. Ia berdiri dan melangkah mendekat, suaranya terdengar santai namun ada sedikit ketegangan yang menggelitik di ujung kalimatnya. Ia melihat betapa payahnya Kiyah mencoba menyeimbangkan tumpukan barang itu.

 

Kiyah tidak menjawab langsung. Ia membuang muka ke arah parkiran motor yang gelap, mencoba menyembunyikan rona malu di pipinya. "Ini kan pertama kalinya ke sana. Lama lagi baru pulang. Kalau kurang barang di tengah jalan, repot nanti cari di Kisaran," gumamnya setengah membela diri, meski suaranya makin kecil di akhir kalimat.

 

Arie menghela napas pendek. Ia melihat ke arah Arnas yang masih asyik dengan ponselnya, seolah masalah Logistik ini bukan urusannya. Sesuatu dalam diri Arie mendadak ingin menonjol, ingin menjadi sosok yang bisa diandalkan di mata Kiyah, terutama saat melihat keraguan di mata gadis itu. "Nanti pas di stasiun, kasih aku tas


jinjingmu. Aku bantu bawa sampai ke gerbong," ujarnya tiba-tiba.

 

Kiyah menoleh cepat, matanya sedikit melebar menatap Arie. Ada kebingungan yang bercampur kelegaan, tapi juga rasa tidak enak karena membebani orang lain. "Lo yakin? Tasnya berat lho, Arie. Nanti lo pegal semua," jawabnya ragu, meski tangannya sudah mulai meLonggarkan cengkeraman pada tali tas tersebut.

 

"Nggak apa-apa. Daripada lo kesandung bawa sendiri terus jatuh di rel kereta, gimana?" seLoroh Arie. Ia mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana, namun tawanya terdengar sedikit dipaksakan. Ia mengulurkan tangan, membiarkan jemarinya menyentuh tali tas kulit Rinatasi itu. Sentuhan itu terasa hangat, berbeda dengan udara malam yang mulai menusuk.

 

Kiyah mengangguk pelan, akhirnya menyerahkan beban itu dengan senyum tipis yang membuat lesung pipitnya muncul sebentar. "Terima kasih ya, Arie. Lo baik sekali." ucapnya pelan. Kalimat itu sederhana, tapi bagi Arie, pujian itu terasa seperti medali yang baru saja disematkan di dada. Dadanya sedikit membusung, merasa berhasil memenangkan perhatian Kiyah di depan teman-teman lain yang mulai bubar satu per satu.

 

Kegembiraan Arie mendadak menguap saat ia merasa ada tatapan tajam dari arah parkiran. Arnas berdiri di samping sepeda motornya, helm sudah tergantung di tangan. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, tapi matanya menancapkan pandangan lurus ke arah Arie dan Kiyah. "Arie, cepat pulang sana. Jangan ngelamun di sini, nanti kehabisan tiket keretanya," ucap Arnas dingin sebelum menancapkan kakinya ke tanah dan menyalakan mesin.

 

Arie terdiam, tangannya masih menggenggam tali tas Kiyah. Ia melihat punggung Arnas yang mulai menjauh, knalpot motornya berasap biru di kegelapan. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan Arie. Bantuan yang tadi terasa mulia, kini terasa sedikit membebani karena tatapan Arnas tadi. Ia menoleh ke Kiyah yang tampak tidak menyadari ketegangan di antara kedua lelaki itu.

 

"Lo nggak bawa motor malam ini?" tanya Kiyah, mencoba memulai obrolan lagi saat mereka mulai berjalan menuju halte angkot yang jaraknya agak jauh dari gedung. Ia menarik lengan jaketnya menutupi bagian leher yang mulai merinding. "Aku titip di bengkel tadi siang. Katanya remnya bermasalah," sahut Arie, berusaha menormalkan kembali nadinya yang sedikit meninggi karena interaksi sebelumnya.

 

Mereka berjalan berdampingan di trotoar yang retak-retak. Suara musik dari warung kopi di


sudut jalan terdengar samar, bercampur dengan suara klakson kendaraan yang mulai jarang. Arie ingin sekali meraih tangan Kiyah saat gadis itu sedikit tersandung di bagian trotoar yang tidak rata, tapi ia menahan diri. Ia hanya mempercepat langkahnya sedikit agar bisa berjalan di sisi luar, melindungi Kiyah dari genangan air kotor di pinggir jalan.

 

"Arie," panggil Kiyah tiba-tiba saat mereka menunggu lampu merah berubah hijau. "Selama di Kisaran nanti... lo janji ya buat jagain aku?" Suaranya serius, tanpa beban candaan seperti sebelumnya. Matanya menatap tajam ke arah Arie, menuntut jaminan yang nyata. "Desa perkebunan itu kan asing banget buat kita. Aku agak takut kalau-kalau ada

apa-apa."

 

Arie menelan ludah. Janji adalah beban yang berat jika tidak didukung oleh kemampuan, tapi melihat ketergantungan di mata Kiyah, ia tidak sanggup menolak. "Ya, aku jaga. Habis itu kan tugas kita sebagai mahasiswa, harus saling menjaga," jawabnya mantap. Ia bahkan menepuk dadanya sendiri dengan kepalan tangan, isyarat klasik yang membuat Kiyah sedikit tertawa dan meredakan ketegangan di wajahnya.

 

Malam itu, Arie pulang ke kosannya dengan perasaan yang campur aduk. Tas Kiyah yang tadi ia bantu bawa masih terasa berat di ingatannya, bukan karena fisik, tapi karena tanggung jawab yang baru saja ia ambil. Ia melempar ranselnya ke atas kasur yang kasar, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menatap lantai keramik yang dingin.

 

Ia teringat pada tatapan Arnas tadi. Itu bukan sekadar tatapan biasa; itu adalah peringatan. Arie meraba permen karet di saku celananya, memilin-milin bungkusnya dengan gelisah.

Persahabatannya dengan Arnas sudah terjalin lama, tapi sejak Kiyah muncul, segalanya mulai retak. Membantu Kiyah berarti ia harus siap kehilangan posisinya di mata Arnas, atau mungkin lebih buruk lagi.

 

Sementara itu, di kosan yang berbeda, Kiyah membuka kopernya kembali. Ia memutuskan untuk mengurangi barang bawaan, mengingat Arie sudah bersedia membantu. Namun, saat memegang sebuah kotak kecil berwarna hitam di dasar tasnya, tangannya berhenti.

Ia menatap foto kecil yang terselip di sampul buku hariannya. Ada keraguan yang mengunyah hatinya--apakah memang benar Arie peduli, atau hanya ingin menunjukkan diri di depan orang lain?

 

Di sudut kota yang lain, Arnas baru saja memarkir motornya. Ia tidak langsung masuk ke rumah, melainkan duduk di teras gelap, menatap asap rokoknya yang mengepul ke udara malam. Ponselnya berbunyi, menampilkan pesan masuk dari grup keLompok. Namun, ia mengabaikannya. Pikirannya tertuju pada janji yang baru saja diucapkan Arie tadi. Itu


adalah kesalahan besar, dan Arnas tahu persis bahwa janji di atas kereta malam seringkali berakhir di stasiun berikutnya.

 

Suasana di dalam kamar Arie mendadak terasa pengap. Ia bangkit, membuka jendela lebar-lebar hingga engselnya berderit. Angin malam masuk membawa aroma tanah basah dan asap knalpot. Ia melihat ke arah jalan raya yang sepi, membayangkan perjalanan panjang esok hari. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun strategi bagaimana menjaga Kiyah tanpa membuat Arnas semakin menjauh.

 

"Aku nggak boleh bodoh," gumamnya pada dirinya sendiri, suaranya hancur ditelan kebisingan jalan raya. Ia meraih botol air mineral di meja belajar, meminum setengahnya dalam satu tegukan. Keputusan sudah diambil, dan besok adalah hari yang menentukan. Entah dia akan kembali sebagai pahlawan di mata Kiyah, atau sebagai pengkhianat di mata Arnas.

 

Cahaya lampu jalan dari luar menyinari sebagian wajah Arie yang muram. Bayangan kelelahan mulai terlihat di bawah matanya. Ia mendekat ke cermin di atas wastafel, menatap pantulannya sendiri. Wajah itu terlihat asing, terjepit di antara dua keinginan yang saling bertentangan. Namun, ada satu hal yang pasti: ia tidak akan membiarkan Kiyah turun dari kereta itu sendirian besok pagi.

 

Ia mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan kecil itu. Namun, pikirannya masih terjaga, terus berputar-putar pada detik-detik saat ia menawarkan bantuan tadi. Senyum Kiyah adalah imbalan yang nyata, tapi tatapan Arnas adalah harga yang harus segera dibayar. Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya, penuh dengan harapan sekaligus ancaman yang belum nyata wujudnya.

 

Kipas angin di sudut kamar berputar malas, tak mampu mengusir kelembapan udara malam. Arie menarik selimut tipis hingga ke dagu, tapi matanya tetap terbuka lebar menatap langit-langit yang mulai retak di pojokan. Jam dinding di ruang tengah baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi pikirannya sudah berada di stasiun besok pagi.

 

Ponsel di atas meja plastik tiba-tiba bergetar, membuat botol minyak kayu putih ikut bergeser. Arie menyambarnya dengan gerakan cepat, hampir menjatuhkan kacamata yang bertumpuk di sampingnya. Nama "Kiyah" muncul di layar dengan ikon pesan pendek yang menandakan ada kabar baru.

 

Ia membuka pesan itu dengan jari yang sedikit gemetar karena terlalu banyak kafein di


sore hari. "Besok jangan terlambat lagi ya, kereta berangkat jam tujuh tepat," tulis Kiyah. Arie menarik napas panjang, menahan keinginan untuk segera membalas dengan seribu kata pujian.

 

Ia membaca ulang pesan itu, menatap setiap huruf seolah sedang memecahkan kode rahasia. Ada tanda seru di akhir kalimat yang biasanya tidak pernah dipakai Kiyah. Arie tersenyum sendiri, memasukkan wajahnya ke dalam bantal untuk meredam suara tawa kecil yang hampir meledak.

 

"Dia ingat jadwal kereta," bisik Arie pada kegelapan kamar. Perhatian kecil seperti ini yang membuat dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang hangat. Ia membayangkan Kiyah sedang duduk di teras rumahnya, mungkin sambil membalut buku-buku kuliah, memikirkan kepastian jadwal mereka.

 

Arie duduk tegak, menyandarkan punggung ke dinding yang dingin. Jari-jarinya menari di atas layar ponsel, menghapus dan mengubah kata-kata untuk membalas pesan Kiyah. Ia tidak ingin terdengar terlalu bersemangat, tapi juga tidak boleh terlihat cuek.

 

"Siap, Ki. Aku janji akan datang lebih awal. Sudah menyiapkan tas sejak tadi sore," balas Arie. Ia menekan tombol kirim sebelum keraguan sempat menghantuinya. Ponselnya kembali diletakkan di meja, tapi matanya terus mencuri pandang ke arah layar yang tetap gelap.

 

Keheningan kamar kembali menyelimuti, hanya diselingi suara krek-krek kayu rumah kos yang mulai berubah bentuk karena cuaca. Arie menutup matanya, mencoba memaksakan kantuk yang enggan datang. Bayangan peron stasiun yang ramai dan wajah Kiyah yang menyambutnya mulai mengaburkan batas antara khayalan dan kenyataan.



PERJALANAN MENUJU KISARAN

 

Udara panas di Stasiun Medan terasa menyengat meski atap seng di atas kepala sebenarnya sudah menahan terik matahari. Arie memeluk tali ranselnya yang mulai sobek di ujung, berusaha menahan langkah kaki agar tidak terlihat terlalu tergesa-gesa di depan mahasiswa lain. Bau asap kereta dan keringat menyengat bercampur dengan aroma nasi bungkus yang dibawa rombongan.

 

Ia merasa kemeja almamaternya yang hijau tua itu lengket di punggung. Saat melangkah melewati pintu masuk utama, kerumunan mahasiswa yang membawa kardus Logistik besar menciptakan kemacetan di koridor sempit. Suara pengumuman keberangkatan dari pengeras suara yang serak terdengar memecah keramaian, menandakan kereta tujuan Kota Jambi akan segera berangkat.

 

"Arie! Sini! Cepat!"

 

Arnas meLompat-Lompat kecil sambil melambaikan bendera kecil berwarna merah putih yang bertuliskan nama keLompok mereka. Laki-laki berkacamata itu berdiri tepat di depan pintu gerbong tiga, wajahnya tampak merah karena panas dan usaha mengangkat koper besar. Arie mengangguk cepat, meLonggarkan langkahnya agar tidak terlihat seperti orang yang baru saja tertidur pulas di kos.

 

Saat Arie semakin dekat ke arah gerbong tiga, matanya secara otomatis menyapu area sekitar Arnas. Di sanalah ia melihat Kiyah. Gadis itu berdiri sedikit di belakang Arnas, memegang erat tali tas selempangnya. Kiyah tidak melambaikan tangan, tapi matanya terus tertuju pada ujung peron tempat Arie berdiri.

 

Ekspresi Kiyah berubah drastis saat pandangan mereka bertemu. Kerutan di dahinya mengendur, dan napasnya yang sebelumnya tertahan tampak dihembuskan perlahan. Ia bahkan mengangkat sebelah alisnya, seolah menanyakan kenapa Arie bisa sampai sekarang. Arie merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, bukan karena lari, tapi karena melihat senyum tipis yang mulai mengembang di bibir Kiyah.

 

"Kupikir lo sudah berangkat duluan tadi," ucap Kiyah saat Arie berhenti di depannya, sedikit membungkuk karena napas yang belum teratur.

 

"Jam wekerku mati, Ki. Aku baru sadar pas suara adzan Maghrib," jawab Arie, mencoba terdengar santai sambil merapikan kerah bajunya yang kusut.

 

Arnas mendekat dan menepuk bahu Arie keras-keras. "Untung lo lari. Kalau lima menit lagi, kita tinggal pesan tiket besok."


Arie hanya bisa tertawa kaku. Ia melihat sekeliling, melihat mahasiswa lain yang sudah mulai naik ke kereta. Suasana perpisahan di peron terasa nyata; ada yang berpelukan, ada yang menitikkan air mata, dan ada juga yang sibuk memfoto-fotoi momen terakhir sebelum petualangan kuliah lapangannya dimulai. Bagi Arie, momen ini terasa berat karena ia harus meninggalkan rutinitas biasanya untuk sesuatu yang belum pasti.

 

"Ayo masuk, gerbongnya mulai penuh," kata Kiyah. Ia berjalan lebih dulu menaiki anak tangga kereta, memberi jalan bagi Arie yang membawa ransel berat. Arie mengikutinya dari belakang, matanya menangkap cara Kiyah menyematkan kartu identitas di dada bajunya agar tidak tertukar.

 

Mereka berhasil menemukan kursi di dekat jendela. Arie meletakkan tas ranselnya di bagasi atas dengan sedikit kesulitan karena ruang yang sempit. Saat kembali duduk, ia melihat Kiyah sedang menata buku catatannya di meja lipat kecil di antara mereka.

Keheningan di antara mereka tidak terasa canggung, hanya saja ada ketegangan halus yang biasanya muncul saat mereka berdua sendirian.

 

"Lo bawa obat sakit perut nggak?" tanya Kiyah tiba-tiba, tidak memandang Arie. Arie mengerutkan kening. "Bawa. Kenapa?"

"Cuma jaga-jaga. Logistik kita kan isinya mie instan dan roti kadaluwarsa," canda Kiyah, barulah ia menoleh dan memberi Arie senyum yang lebih lebar.

 

Arie merasa pipinya panas. Ia memilih untuk menatap ke luar jendela, melihat orang-orang yang masih berlarian di peron. Ada seorang ibu yang menangis histeris karena melepas anaknya, kontras dengan keadaan Arie yang justru merasa mulai nyaman setelah melihat wajah Kiyah. Kecemasan akan tugas kuliah lapangan mulai memudar, tergantikan oleh rasa ingin tahu apa yang akan terjadi selama perjalanan ini.

 

Tiba-tiba, dentuman peluit stasiun menggema sangat keras, memecah lamunan Arie. Suara mendesis dari rem kereta terdengar di bawah kaki mereka, getarannya terasa hingga ke tulang punggung. Kereta mulai berderit perlahan, menggeser roda baja di atas rel yang basah oleh keringat dan debu.

 

Arnas yang berada di kursi seberang langsung berdiri. "Kok sudah jalan? Tunggu, ada barang Arnas di bawah!"

 

Tapi kereta terus bergerak. Peron yang tadinya ramai mulai menjauh, dan wajah-wajah orang asing di jendela mulai berubah menjadi garis-garis blur coklat dan abu-abu. Arie


melirik Kiyah, yang kini mencengkeram sandaran tangannya dengan kuat. Ada sesuatu yang hilang dari ekspresi tenang Kiyah, digantikan oleh ketegangan yang aneh.

 

"Kiyah, lo nggak bawa kardus Logistik keLompok?" tanya Arie pelan, meskipun ia sudah menduga jawabannya.

 

Kiyah tidak menjawab. Ia justru menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan buku. Di luar sana, stasiun semakin jauh, tapi di dalam gerbong, jarak antara Arie dan Kiyah justru terasa semakin dekat, membawa serta rahasia kecil yang akan mengikuti mereka sepanjang perjalanan.

 

Udara panas di peron berdesing bersama peluit panjang petugas stasiun. Arie menundukkan kepala, meLompati celah sempit antara beton dan besi. Ia berlari timpang karena ransel berisi pakaian KKN menarik bahunya ke belakang. Gerbong di depannya sudah mulai menggelinding, roda besi mengeluarkan bunyi gesekan kasar yang membuat jantungnya berdegup kencang. Keringat mengalir di pelipisnya, bukan hanya karena cuaca, tapi karena bayang-bayang ditinggalkan kereta di tengah hutan warga yang akan dikunjungi.

 

Arnas berdiri di ambang pintu, kakinya agak meregang menahan ayunan kereta. Ia tidak memarahi Arie. Ia hanya menjulurkan tangan, menjepit tali ransel Arie yang tergantung di bahu temannya itu. "Tarik, Ari!" teriak Arnas menembus deru mesin. Arie merasakan tumpuan kaki di pijakan besi yang sempit, lalu tubuhnya tersentak ke depan saat Arnas menarik tasnya sekaligus mengangkat lengannya. Beban berat di punggungnya berkurang seketika.

 

Kaki Arie akhirnya menginjak lantai gerbong dengan bunyi gedebuk keras. Ia tidak peduli dengan pandangan penumpang lain yang menyingkirkan kaki mereka. Arie langsung menjatuhkan diri, duduk bersandar pada dinding Logam yang bergetar. Dadanya naik-turun cepat, mulutnya ternganga menarik udara yang terasa tipis. Napasnya memburu, tertahan di tenggorokan, membuat kepalanya sedikit berdenyut. Ia menutup mata, mencoba menenangkan detak jantung yang terasa ingin meledak.

 

Sebotol air mineral ditaruhkan di atas pahanya dengan bunyi kecil. Arie membuka matanya perlahan. Kiyah berdiri di depannya, alisnya sedikit berkerut. Wajahnya tidak terlihat kesal, tapi ada kelegaan yang memudar di sudut bibirnya. "Hampir saja ditinggal," ucap Kiyah. Ia merapikan jilbabnya yang sedikit kusut terkena angin kereta tadi. "Aku kira lo berubah pikiran dan memilih pulang."


Arie menerima botol itu, jemarinya menyentuh plastik dingin. Ia memutar tutupnya, namun tidak langsung minum. "Cuma kereta yang lambat, Ki," jawab Arie, suaranya serak. Ia meneguk air seteguk besar, merasakan cairan dingin itu melewati kerongkongan yang kering. Kelelahan dari berlari itu mulai digantikan oleh rasa aman yang menyebar di dadanya. Ia melirik Kiyah yang duduk di kursi di depannya, lalu kembali menatap lantai yang berguncang.

 

Ia menyandarkan kepalanya ke jendela yang bergetar. Pemandangan stasiun kecil mulai memudar di balik kaca, digantikan oleh barisan pohon kelapa dan semak belukar yang melaju cepat. Dalam kepalanya, bayangan tentang desa Kisaran mulai terbentuk. Ia membayangkan malam-malam tanpa sinyal ponsel dan pagi-pagi yang hanya diisi oleh suara ayam. Napasnya melambat, mengikuti irama ayunan kereta yang mulai stabil.

Ketegangan di bahunya perlahan mengendur.

 

Arnas sudah duduk di bangku seberang, membuka earphone dan membiarkan musik mengalir pelan. Suasana di dalam gerbong menjadi riuh rendah, bercampur antara tawa mahasiswa dan dentuman musik dari pengeras suara kereta. Namun bagi Arie, semua suara itu menjadi latar belakang yang menenangkan. Ia merasa berada di tempat yang tepat, bersama orang-orang yang akan menjalaninya bersamanya. Keraguan yang muncul saat ia berlari tadi perlahan menghilang, ditelan oleh kelelahan yang menyenangkan.

 

Saat kereta memasuki terowongan pendek, cahaya di dalam gerbong meredup menjadi remang-remang. Arie menarik selimut tipis yang dibawanya, menutupinya hingga ke pinggang. Ia melirik Kiyah yang kini asyik mengetik sesuatu di ponselnya, mungkin mengabari keluarga. Ada ketenangan kecil yang ia rasakan saat melihat Kiyah tidak lagi memasang wajah tegang. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, menikmati getaran mesin di bawah kakinya yang mulai terasa kesemutan.

 

Kereta akhirnya melaju kencang meninggalkan stasiun. Setelah napasnya meLonggar, Arie bangkit dan mencari tempat duduk. Ia segera duduk menghadap Kiyah, bersiap menikmati perjalanan panjang menuju Lokasi KKN mereka.

 

Suara denting tajam dari rel kereta bercampur dengan obrolan riuh puluhan mahasiswa yang memadati gerbong. Udara di dalam terasa pengap oleh aroma bau keringat dan sisa parfum yang menyengat, namun tidak ada yang mengeluh. Hari ini, ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas resmi diberangkatkan untuk Kuliah Kerja Nyata. Ada yang menuju ke Limapuluh, Tanjung Balai, hingga Batubara. Semua membawa koper besar dan ransel tebal, berdesakan di Lorong sempit kereta ekonomi yang disewa khusus untuk rombongan


kampus.

 

Arie menarik ritsleting jaketnya yang sedikit Longgar, lalu duduk di kursi plastik yang agak keras. Di seberangnya, Kiyah sedang merapikan kerudung biru muda yang sering ia kenakan. Angin dari jendela yang terbuka setengah meniupkan ujung jilbab Kiyah, membuat Arie sedikit menahan napas. Ia mencoba terlihat sibuk dengan ponselnya, padahal matanya sering melirik ke arah wanita itu. Di sudut gerbong yang agak gelap, Ipung duduk menyender ke jendela dengan wajah yang sangat masam.

 

"Lo kemarin benar-benar telat, Arie. Kalau bukan karena aku yang nutupin, mungkin lo ditinggal kereta tadi pagi," ucap Arnas yang tiba-tiba menyodok bahu Arie.

 

Arie hanya menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tidak tulus. "Bukan telat, Nas. Kereta memang jadwalnya moLor. Lo saja yang terlalu kaku sama jadwal."

 

"Kaku atau tidak, lo harusnya lebih siap. KKN ini bukan jalan-jalan. Apalagi lo satu keLompok sama dia," balas Arnas sambil melirik Kiyah yang sedang asyik mendengarkan musik lewat earphone putihnya.

 

Arie mendengus pelan. "Sudahlah, jangan dibesar-besarkan. Aku cuma kurang tidur."

 

Obrolan mereka terhenti ketika seorang dosen pendamping masuk ke gerbong sambil memegang megafon. Suara petugas stasiun yang mengumumkan keberangkatan mulai terdengar samar di luar. Arie merasakan getaran mesin diesel kereta yang mulai hidup, membuat lantai di bawah kakinya sedikit bergetar. Ia melirik ke arah Ipung yang masih memeluk ranselnya dengan erat, seolah sedang menyimpan amarah yang besar.

 

"KeLompok Arie dan Kiyah, pastikan kalian tidak berpisah di lapangan nanti," teriak Arnas sebelum akhirnya ia pindah tempat duduk karena kursi di sebelah Arie sudah diisi oleh mahasiswa lain yang membawa kardus berisi peralatan masak.

 

Arie menghela napas panjang. Keributan di dalam kereta semakin menjadi-jadi, mahasiswa dari keLompok lain mulai bernyanyi dan tertawa keras. Namun, di dalam kepalanya, Arie mulai memikirkan tugas besar yang menantinya di desa sana. Ia menatap Kiyah yang tiba-tiba menoleh ke arahnya dan memberikan senyum kecil yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Arie buru-buru memalingkan muka, mencoba menenangkan diri sebelum kereta benar-benar melaju meninggalkan stasiun.


Gedung berangkat Stasiun Medan mulai riuh dengan pengumuman keberangkatan. Arie menarik tali ranselnya, berjalan di antara barisan mahasiswa yang membawa koper berdebu. Asap knalpot bus pariwisata menyengat hidung, bercampur dengan aroma kopi instan dari gelas-gelas plastik di tangan mahasiswa.

 

"Kita dapet gerbong yang sama, kan?" tanya Kiyah. Ia mengatur posisi tas selempangnya yang meLorot ke siku. Arie mengangguk sambil menunjuk ke arah papan jadwal di dinding.

 

"Gerbong tujuh, paling belakang. Katanya sih pemandangannya lebih bagus dari sana," jawab Arie. Mereka mulai berjalan menyusuri peron yang mulai dipadati penumpang.

 

Kipas angin di sudut ruang tunggu berputar malas, tak mampu mengusir kelembapan udara malam. Arie melihat ke arah Kiyah yang sedang menatap keluar jendela, sibuk dengan ponselnya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan.

 

"Lama perjalanannya?" tanya Arie, duduk di sebelah Kiyah. Kiyah mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada layar ponsel.

 

"Lima jam lebih. Aku baru sadar kalau Kisaran itu sejauh ini," jawab Kiyah. Ia menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Arie mencoba mencari topik pembicaraan yang lebih dalam.

 

"Lo gugup nggak sih?" tanya Arie. Kiyah memainkan ritsleting jaketnya, menghindari kontak mata.

 

"Agak. Aku nggak pernah tinggal di desa yang bener-bener pedalaman. Takutnya nanti susah sinyal, nggak bisa kabar ke keluarga," ucap Kiyah. Arie bisa melihat kerutan halus di kening Kiyah.

 

"Tenang aja, nanti kita saling jaga kok. Lagipula, ini pengalaman yang kita cari, kan?" hibur Arie. Kiyah menoleh, menatap mata Arie cukup lama.

 

"Lo tuh kerasa tua kalau ngomong gitu. Kita kan seumuran," ucap Kiyah dengan sedikit tawa. Arie merasa udara di sekitar mereka mendadak menjadi lebih ringan.

 

"Aku cuma nyoba positif thinking. Masa iya kita takut terus?" jawab Arie. Kiyah tersenyum,


lalu meletakkan kepalanya di sandaran kursi.

 

"Bener juga sih. Eh, tapi jujur dong, lo nggak takut sama keadaan di sana? Aku denger banyak ular di kebun sawit," bisik Kiyah. Arie tertawa kecil mendengar kekhawatiran itu.

 

"Ular pasti ada di mana-mana. Yang penting jangan pakai baju warna-warni pas malam hari, nanti dikira kembang," seLoroh Arie. Kiyah mendelik, lalu ikut tertawa.

 

"Lo tuh! Aku lagi serius nih," ucap Kiyah sambil menggelitik lengan Arie. Arie mengibas-ngibaskan tangannya, menahan geli.

 

"Oke, serius. Aku juga takut sih. Takutnya nanti aku nggak bisa jadi teladan buat warga sana. Takutnya aku malah jadi beban," ucap Arie lirih. Kiyah menoleh, menatap Arie dengan sorot mata yang berbeda.

 

"Dari kapan lo jadi setRinas itu? Biasanya kan lo yang paling optRinas di kelas," tanya Kiyah. Arie menghela napas, menatap langit-langit kereta yang mulai bergetar.

 

"Orang berubah, Kiyah. Apalagi kalau udah deket sama hari H. Tapi, dengan lo di sebelah, kayaknya aku bisa lewati apa pun itu," ucap Arie. Kiyah terdiam, jemarinya menarik-narik tepian rok.

 

"Jangan sok romantis, Arie. Nanti orang-orang di sana ngira kita pacaran," ucap Kiyah. Pipinya memerah, tapi matanya tak berpaling dari wajah Arie.

 

"Emangnya kenapa kalau mereka ngira begitu? Bukannya malah mempermudah urusan?" goda Arie. Kiyah menggeleng, lalu berdiri ketika kereta mulai berjalan perlahan keluar dari stasiun.

 

"Aku mau ke toilet sebentar. Lo jagain tas-tas kita ya?" pinta Kiyah. Arie mengangguk, merapikan barang-barang mereka di bawah kursi.

 

Beberapa menit kemudian, Kiyah kembali dengan membawa dua bungkus mie instan yang sudah disiram air panas. Arie menerimanya dengan senang hati, meskipun kereta sedang berjalan agak oleng.

 

"Makasih ya, ini pas banget laper-lapernya," ucap Arie. Kiyah duduk kembali, membuka plastik sambal dari dalam tasnya.

 

"Makanlah. Nanti kalau sampai di Kisaran, belum tentu kita bisa makan enak kayak gini,"


ucap Kiyah. Arie menyesap kuah mie, merasakan kehangatan yang menjalar di tubuhnya.

 

"Lo tuh kayak ibu-ibu kalau lagi jagain anaknya makan. Santai dong, Kiyah," canda Arie. Kiyah memukul pelan lengan Arie dengan sendok plastik.

 

"Aku cuma peduli sama teman satu tim. Jangan salah paham," ucap Kiyah. Namun, senyum yang mengembang di bibirnya menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar kepedulian biasa.

 

Malam semakin larut, lampu di dalam gerbong pun mulai diredupkan. Arie melihat Kiyah yang mulai memejamkan mata, kepalanya miring ke arah jendela. Ia merapikan jaketnya, lalu menutupi bahu Kiyah yang telanjang karena kedinginan.

 

"Selamat tinggal Medan. HaLo Kisaran," bisik Arie dalam hati. Ia melihat pemandangan kota yang perlahan memudar di kejauhan, digantikan oleh gelapnya pepohonan dan keheningan desa.

 

Getaran mesin kereta terasa lebih kencang, seolah menandakan bahwa mereka semakin mendekat ke tujuan. Arie menatap tangannya sendiri yang masih memegang sisi jaket Kiyah, merasakan detak jantung yang mulai berpacu.

 

"Besok kita bakal jadi orang asing di sana. Tapi, setidaknya kita nggak sendirian," ucap Arie pelan. Ia berharap Kiyah bisa mendengarnya, meskipun gadis itu sudah terlelap.

 

Kereta melaju terus membelah kegelapan malam, membawa serta segudang harapan dan ketakutan dari puluhan mahasiswa di dalamnya. Arie hanya bisa berdoa agar perjalanan ini menjadi awal dari cerita indah yang mereka impikan berdua.

 

Udara panas di peron Stasiun Kisaran langsung menempel di kulit Arie begitu pintu kereta ditarik manual oleh petugas. Asap knalpot dari becak kayuh dan debu jalanan bercampur jadi satu, membuat tenggorokannya sedikit gatal. Ia menarik tali ranselnya lebih erat, melindungi kotak makanan di dalamnya dari remasan penumpang yang berebut keluar.

 

Suara deru kereta yang perlahan melambat memudar, digantikan oleh teriakan para porter dan pedagang asongan yang sudah menunggu di bibir pintu. Arie melangkah hati-hati menuruni tangga kereta, mencoba menghindari celah besi yang berkarat. Di belakangnya, suara riuh rekan-rekannya mulai terdengar, sibuk mengatur koper dan kardus Logistik yang berat.


Kiyah berdiri agak terpisah dari kerumunan, memegangi kerudungnya agar tidak tertiup angin kencang dari arah rel. Ia terlihat sedikit gelisah, jari-jarinya memainkan ritsleting jaket yang tidak pernah dia tutup sempurna. Saat Arie mendekat membawa dua tas besar, Kiyah langsung menarik lengan bajunya.

 

"Rie, nanti temani aku ke rumah Vivie ya? Aku nggak berani naik ojek sendirian ke sana," pintanya dengan suara yang sedikit parau. Matanya menatap tajam ke arah parkiran sepeda motor yang tampak semrawut, seolah sudah membayangkan dirinya

terombang-ambing di jalan yang belum ia kenal.

 

Arie menurunkan tasnya ke lantai semen yang hangat. "Ojek ke mana? Rumah Vivie itu di dalam kota, kan? Nggak usah naik ojek lah, nanti aku antar pakai motor," jawabnya cepat. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena beratnya barang, tapi karena bayangan bisa mengendarai motornya sendiri dengan Kiyah sebagai penumpang.

 

"Beneran lo bisa? Aku nggak mau kalau nanti motornya mogok di tengah jalan," Kiyah mencibir kecil, meski senyumnya sedikit mengembang. Ia melangkah mendekat, suaranya kini hanya terdengar oleh Arie karena para mahasiswa lain mulai berhamburan menuju kendaraan masing-masing.

 

"Tenang saja, aku sudah biasa bawa barang ke gudang. Lo pegang pinggang aku saja nanti, biar seimbang," ujar Arie sambil mengatur letak helm di rak bagasi. Ia membayangkan tangan Kiyah yang akan melingkar di pinggangnya selama perjalanan nanti, sebuah kedekatan yang selama ini hanya ada dalam pikirannya.

 

Mereka akhirnya berhasil mengeluarkan semua barang dari gerbong. Keringat mulai membasahi bagian belakang baju Arie, namun ia terus bergerak lincah. Kiyah berdiri di dekat pilar stasiun, mengawasi koper miliknya agar tidak tertukar dengan milik orang lain. Beberapa menit kemudian, Arie melambai ke arahnya.

 

"Ayo, kita keluar dulu. Motorku parkir di luar area stasiun, agak jauh sedikit," teriak Arie dari kejauhan. Ia merasa tugasnya sebagai pelindung Kiyah sudah dimulai sejak detik ini. Ada semangat baru yang menyala di dadanya untuk memastikan gadis itu tiba di tujuan dengan selamat dan nyaman.


Kerah jaket Arie terasa berat ditarik angin, tapi ia justru menikmati hambatan itu. Ia mencondongkan badan sedikit ke depan, membiarkan getaran mesin motor yang dikirim melalui kargo itu terasa sampai ke tulang punggungnya. Udara sore mulai menyisakan dingin yang menusuk, berbeda dengan panas terik saat mereka berangkat tadi pagi.

 

Kiyah duduk di belakangnya dengan posisi tegak. Tangan perempuan itu masih ragu-ragu, hanya mencengkeram ujung kain jaket Arie yang tipis. "Pegangan ya, jalannya mungkin bergeLombang," ucap Arie tanpa menoleh, suaranya tertelan angin namun masih terdengar jelas oleh Kiyah.

 

Kiyah tidak menjawab, tapi cengkeramannya menguat. Jari-jari itu perlahan meLorot dari ujung jaket hingga menyentuh bagian pinggang jaket Arie. Sentuhan itu kecil, tapi Arie merasakan hawa panas menjalar dari titik kontak tersebut. Ia menarik napas panjang, menahan keinginan untuk memacu motor sekencang mungkin agar Kiyah semakin memeluknya erat.

 

Di belakang mereka, suara knalpot motor lain menderu kasar. Ipung menyalip mereka dengan tubuh membungkuk menempel pada tangki motor. Ketua keLompok itu melirik tajam ke arah Arie, seolah sedang mengingatkan siapa yang seharusnya memimpin rombongan. Arie membiarkannya pergi, memilih berkendara dengan kecepatan stabil.

 

Jalanan desa yang mereka lalui mulai rusak. Lubang-lubang kecil menghiasi aspal, membuat motor mereka sedikit terLonjak. Setiap kali roda belakang melewati guncangan, tubuh Kiyah akan terdorong maju dan bahu mereka akan bersentuhan. Arie bisa merasakan napas Kiyah yang kadang memburu ketika jalanan terlalu berbatu.

 

Ia memperlambat laju motornya saat memasuki area yang lebih sepi. Pohon-pohon besar di kiri kanan jalan menutupi cahaya matahari yang mulai redup. Suasana ini membuat Arie merasa berada di dunia lain, jauh dari keriuhan kampus dan tugas kuliah yang menumpuk. Ia ingin momen ini berjalan sangat lambat.

 

"Mas, sebentar lagi sampai kan?" tanya Kiyah. Suaranya pelan, hampir tertelan deru mesin, tapi Arie mendengarnya dengan jelas. "Belum," jawab Arie singkat. Ia tidak ingin memberitahu bahwa rumah Vivie sebenarnya sudah sangat dekat. Ada kepuasan tersendiri melihat Kiyah bertanya, seolah perempuan itu juga tidak ingin perjalanan ini segera berakhir.


Mereka melewati sebuah jembatan kayu yang sudah lapuk. Bunyi 'krek-ek' dari papan jembatan terdengar jelas, bercampur dengan suara air sungai di bawahnya yang mengalir tenang. Arie melirik ke kaca spion, melihat Kiyah menoleh ke kanan dan ke kiri, menikmati pemandangan sawah yang mulai menguning di kejauhan.

 

Ketika mereka keluar dari area persawahan, siluet rumah panggung khas Batak mulai terlihat di atas bukit kecil. Asap tipis mengepul dari atapnya, menandakan tuan rumah sedang menyiapkan sesuatu. Arie mengerem pelan, memberi jarak yang cukup dengan motor Ipung yang sudah terparkir di depan pagar. "Kita sudah sampai," bisik Arie, meski hatinya berharap ia bisa terus mengendarai motor ini bersama Kiyah, menembus malam yang mulai turun.

 

Udara panas dan sesak di dalam kereta perlahan memudar digantikan oleh angin malam yang sedikit lebih dingin begitu mereka turun di Stasiun Kisaran. Arie menarik tali ranselnya erat-erat, berjalan di antara barisan mahasiswa yang membawa koper berdebup di atas peron. Di luar pagar stasiun, sebuah mobil pick-up tua milik perangkat desa sudah menunggu dengan mesin yang masih bergetar. Kabut tipis mulai turun menyelimuti jalanan aspal yang membelah perkebunan kelapa sawit.

 

Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah panggung kayu yang cukup luas, milik Vivie. Rumah itu menjadi titik kumpul sementara sebelum tim benar-benar disebar ke Lokasi KKN. Di teras yang beralas ubin tak rata, Arie menyandarkan ranselnya ke dinding, mengusap keringat di dahi dengan lengan baju yang basah. Suasana di dalam rumah terasa pengap namun hangat, penuh dengan suara obrolan dan denting sendok dari dapur kecil di sudut ruangan.

 

Vivie adalah sepupu Ainun, dia tuan rumah yang ramah, segera melayani mereka dengan cangkir-cangkir keramik yang sudah usang. "Ini teh hangat, cocok buat hilangin pegal," ujarnya sambil meletakkan piring berisi gorengan pisang di atas meja plastik. Arie menganggukkan kepala, menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Uap teh yang mengepul langsung mengusir dingin di ujung hidungnya. Ia menyesap pelan, merasakan rasa manis yang sedikit berlebihan namun menenangkan.

 

Di sudut dapur yang remang, Arie melihat Kiyah. Gadis itu tampak sangat lelah, bahunya sedikit membungkuk, namun ia tetap berdiri membantu Vivie menyiapkan makanan tambahan. Arie memperhatikan dari sudut ruangan, melihat betapa cekatannya Kiyah bekerja meski kakinya pasti sudah lumpuh karena perjalanan jauh. Tanpa banyak bicara, Kiyah mengambil gelas jatuh yang pecah di pinggir meja dan membersihkannya dengan


lap. Ia menyadari bahwa kekagumannya bukan sekadar fisik, melainkan pada karakter Kiyah yang rendah hati itu.

 

Tiba-tiba, suasana cair itu pecah oleh suara ketua keLompok yang berdiri di depan pintu. "Semua barang sudah di mobil?" tanyanya tajam, matanya menyapu ruangan dengan curiga. Beberapa mahasiswa saling berpandangan, mencari sosok yang merasa bersalah. Arie melihat Kiyah membeku sejenak, jemarinya terhenti di atas piring kotor. Ada ketegangan mendadak yang membuat udara di ruang tamu itu seolah berhenti berputar. Ini bukan lagi soal lelah, tapi soal tanggung jawab yang akan segera mereka hadapi di desa ini.

 

Di rumah sederhana itu, di sela-sela obrolan ringan yang kini menjadi agak tegang, Arie menatap Kiyah yang sedang membalikan gorengan. Ia melihat ketenangan dalam keriuhan itu, sebuah kualitas yang jarang ia temui pada orang lain. Di tengah ancaman tugas berat dan konflik kecil yang mulai mengintai, Arie semakin yakin bahwa ia telah menemukan sosok permata yang sesungguhnya. Setelah segelas teh hangat menghangatkan tenggorokannya, perjalanan ke desa akhirnya dimulai.


 


PEMILU 2009

Pemilu 2009 para mahasiswa KKN dikampung sawit kisaran tidak menggunakan hak suaranya karena tidak terdaftar sebagai pemilih tetap,tidak juga di libatkan dalam urusan KPPS atau semacamnya yang artinya bisa bersantai karena kerja KKN hari itu di liburkan.ini dimanfaatkan mahasiswa bersilaturrahim ke posko mahasiswa KKN lain yang dekat dengan Kisaran.

Shari dan Kiyah pergi ke kisaran ke rumah Lidyana dan Nizwa kawan mereka satu jurusan. Lely dan Ayla pergi ke rumah Vivie di kisaran juga, tempat posko kami yang pertama sebelum ke lokasi KKN.Ayah Vivie Pak Rahman sangatlah baik,selalu memperhatikan dan mengawasi semua kerja kami, ibunya seorang guru di SD negeri dekat rumahnya.setiap datang ke lokasi KKN ayah Vivie selalu bawa sate padang, mereka punya warung sate padang yang menurutku sate terenak yang pernah aku rasakan.

Imran yang semula katanya mau berdiam diri di posko akhirnya pergi juga dengan pacarnya si Ifath.Akhirnya tinggal Aku(Arie)Arnas, Ipung juga Ainun, Rina dan Hayati di posko.mereka mengajakku jalan-jalan ke bendungan sigura-gura.sebenarnya aku tidak mau karena ingin menjaga komitmen dengan Kiyah, tapi waktu itu Ainun bilang aku jamin tak akan ada apa-apa.dan juga aku tidak enak dengan Arnas kalau tiadak ikut. Akhirnya kami berangkat tiga motor, Arnas dengan Ainun, Ipung dengan Hayati dan aku dengan Rina.

Setelah seharian di bendungan dan air terjun sigura-gura, kami pun pulang ke posko, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 wib malam.Vivie dan kawan-kawan lain menangis segugukan karena kecewa dengan ulah kami ber enam, kami minta maaf dan membuat perjanjian kepada teman-teman KKN.Ainun juga sibuk membuat alasan, sementara Ipung dengan otoritas dia sebagai ketua dan dominasinya di kelompok ini menerang dengan alasan yang sekan masuk akal tapi dibuat-buat. Akhirnya kami semua saling memaafkan dan berkomitmen fokus ke kerja dan program KKN.

 

DINAMIKA DIDESA SAWIT

 

Kabut pagi yang dingin menempel di kaca jendela angkutan desa. Arie mengusap embun itu dengan punggung tangan, melihat barisan pohon sawit yang basah. Daun-daun palm itu bergoyang tertiup angin, seolah memberi salam pada mereka yang melintas. Jalanan tanah merah mulai menyisakan kubangan lumpur sejak hujan semalam. Supir angkot meringis saat ban mobilnya tergelincir sedikit di tikungan.

 

"Pegangan, semuanya," teriak pak Supir. Suaranya parau, tertelan suara mesin yang batuk-batuk. Di kursi paling belakang, Arie merasakan bahu Kiyah menyenggol lengannya. Gadis itu tidak meminta maaf, hanya menatap keluar jendela dengan mata yang sangat jelas. Kiyah sedang menghitung hari sebelum mereka benar-benar diterjunkan ke masyarakat.

 

Mereka tiba di depan sekolah dasar yang pagarnya sudah berkarat parah. Beberapa anak berkaus obLong kusam berlarian di lapangan tanah. Arie turun lebih dulu, kakinya langsung menginjak genangan air keruh. Ia mengerutkan kening, melihat sepatu sekolahnya yang putih kini berubah warna menjadi cokelat lumpur. Keheningan pagi itu pecah oleh teriakan ceria anak-anak yang menyapa Kiyah.

 

"Kak Kiyah! Kak Kiyah!" teriak mereka. Seorang anak laki-laki berlari memeluk kaki Kiyah. Gadis itu tertawa, lalu membungkuk untuk menyusahkan rambut anak tersebut. Arie berdiri mematung, melihat transformasi wajah Kiyah. Kerutan khawatir di dahi Kiyah menghilang, digantikan oleh senyum yang sangat lebar. Di tempat ini, Kiyah tampak seperti orang yang paling berkuasa dan paling bahagia.

 

Mereka masuk ke ruang guru yang sempit. Atap sengnya berderit-derit tertiup angin. Papan tulis di kelas masih penuh dengan coretan kapur yang tak dihapus sejak jaman kemerdekaan. Arie membuka tasnya, mencari buku panduan mengajar yang tebal. Ia merasa canggung memegang buku mahal itu di tengah ruangan yang temboknya mulai retak. Kiyah duduk di kursi kayu yang goyah, lalu menatap Arie.

 

"Kita mulai dari kelas empat, Arie," kata Kiyah. Suaranya tenang, tanpa beban. "Listrik di sini sering mati, jadi jangan kaget kalau nanti gerah. Kipas angin cuma hiasan." Arie mengangguk paham. Ia melangkah keluar ruang guru, merasakan denyut nadi di lehernya. Ini bukan sekadar tugas akhir semester. Ini adalah ujian kesabaran yang nyata.

 

Siang hari, panas matahari menerobos celah atap seng. Arie mengipas-ngipas bajunya sendiri karena keringat mulai membasahi punggungnya. Ia sedang menjelaskan Matematika kepada anak-anak yang tampak mengantuk. Kapur di tangannya patah menjadi dua saat ia menulis angka pecahan. Beberapa murid tertawa, lalu Arie ikut tertawa


canggung. Ketegangan di dadanya mulai meLonggar.

 

Setelah kelas usai, Arie pergi ke belakang gedung untuk minum air. Sumur pompa tangan di sana sudah berkarat. Ia memompa air beberapa kali hingga keluar air keruh yang akhirnya mengalir jernih. Saat ia sedang minum, ia melihat Kiyah sedang duduk bersandar di dinding kayu. Gadis itu memegangi kakinya yang telanjang. Sepatu Kiyah yang ukurannya agak kekecil ternyata membuat tumitnya lecet parah.

 

"Kaki lo kenapa?" tanya Arie. Ia berjalan mendekat, meletakkan botol minumnya di tanah. Kiyah dengan cepat menarik kakinya, lalu memasukkan kaki itu ke dalam sepatu dengan wajah yang sedikit meringis. Gadis itu menolak untuk menunjukkan rasa sakitnya. Kiyah selalu ingin terlihat kuat di depan orang lain, terutama di depan orang yang baru mengenalnya.

 

"Tidak apa-apa, cuma lecet sedikit," jawab Kiyah. Ia berusaha berdiri, tapi tubuhnya sedikit goyah. Arie refleks meraih lengan Kiyah agar gadis itu tidak terjatuh. Sentuhan tangan mereka terasa sangat hangat. Arie bisa melihat bulu mata Kiyah yang basah, mungkin karena keringat atau mungkin karena rasa sakit yang ia tahan. Mereka saling menatap dalam diam selama beberapa detik.

 

"Terima kasih," bisik Kiyah. Suaranya parau, berbeda dengan nada tegasnya saat mengajar tadi. Arie melepaskan genggamannya perlahan. Ia merasa ada sesuatu yang bergetar di dadanya, sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan Logika. Melihat Kiyah yang biasanya lincah kini terduduk lemas membuat hatinya miris. Ia ingin melakukan sesuatu, tapi ia tidak tahu apa.

 

Malam harinya, mereka berkumpul di balai desa untuk membantu administrasi. Lampu minyak tanah dinyalakan karena genset desa sedang rusak. Bayangan mereka menari-nari di dinding bambu yang tipis. Arie sedang menghitung data kependudukan, angka-angka itu memusingkannya. Tinta di bolpoinnya mulai macet, membuat tulisannya berantakan. Kiyah duduk di seberangnya, sibuk menyusun berkas-berkas tua.

 

"Arie, toLong ambilkan kertas lipat di lemari itu," pinta Kiyah. Arie berdiri, berjalan memilih jalan di antara tumpukan kursus plastik yang berserakan. Saat ia membuka lemari kayu yang berbau kapur itu, ia menemukan sebuah kotak kecil berwarna biru. Kotak itu tertutup rapat, tapi sebuah surat keluar dari celahnya. Tanpa sengaja, matanya membaca salah satu baris kalimat di surat tersebut.

 

Arie membeku. Hatinya mulai berdetak kencang. Surat itu bertuliskan tentang sebuah


keputusan besar yang bertentangan dengan apa yang selama ini ia yakini tentang Kiyah. Gadis itu tidak pernah menceritakan masa lalunya yang kelam. Arie menutup lemari itu dengan tangan yang gemetar. Ia kembali ke meja, meletakkan kertas yang dRinanta Kiyah dengan wajah yang sangat pucat.

 

"Lo kenapa? Wajahmu pucat sekali," tanya Kiyah. Gadis itu menatap wajah Arie yang tiba-tiba tegang. Arie menggelengkan kepalanya, mencoba tersenyum namun hasilnya sangat kaku. Ia tidak bisa memandang mata Kiyah secara langsung sekarang.

Kepercayaan yang baru saja tumbuh itu tiba-tiba terguncang oleh sepotong kertas kecil di dalam lemari.

 

Hari demi hari terus berlalu dengan keheningan yang canggung. Arie mulai menjaga jarak, ia tidak lagi duduk berdampingan saat makan malam bersama warga desa. Kiyah memperhatikan perubahan sikap Arie, namun ia tidak tahu alasannya. Ketegangan di antara mereka berdua semakin memuncak saat mereka harus berjalan pulang melewati kebun sawit yang gelap gulita. Suara serangga malam terdengar sangat keras.

 

"Arie, kenapa kamu diam saja sejak tadi?" suara Kiyah memecah keheningan. Mereka berhenti di bawah pohon kelapa. Arie menoleh, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit ditebak. "Aku tahu lo bukan orang yang pendiam, pasti ada yang mengganggu pikiranmu." Arie menghela napas berat, lalu menunjuk ke arah sekolah yang letaknya tidak jauh dari sana.

 

"Besok kita mulai program mengajar yang sebenarnya, Kiyah," ucap Arie. Suaranya rendah, menahan emosi yang campur aduk. Ia ingin mengonfrontasi Kiyah tentang surat itu, tapi ia takut akan kebenaran yang mungkin menghancurkan segalanya. "Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik, tanpa ada rahasia di antara kita." Arie menatap tajam, menunggu reaksi Kiyah, namun gadis itu hanya membalas dengan tatapan poLos.

 

Sinar matahari agak kemerahan menembus dedaunan karet di pinggir lapangan, menandakan hari telah beranjak sore. Arie menyandarkan pantatnya di tepi bangku kayu yang agak goyah di depan ruang guru. Ia mengamati Kiyah yang sedang berjongkok di tengah halaman sekolah, membersihkan tinta di jari seorang murid kelas dua sambil tertawa kecil.

 

"Kak, ini sulit dicuci," keluh anak itu sambil menyodorkan tangannya yang berlumuran tinta biru.

 

"Sabar, ya. Nanti kita pakai sabun colek," jawab Kiyah pelan. Ia tidak terlihat jengkel sedikit


pun meski bajunya juga terkena cipratan tinta. Arie memperhatikan betapa tenangnya perempuan itu menangani kekacauan sehari-hari tanpa sedikit pun mengeluh.

 

Ia sering melihat Kiyah menghabiskan waktu sepulang sekolah hanya untuk mengulang materi bagi murid yang agak lambat menangkap pelajaran. Terkadang, Arie ikut duduk di bangku paling belakang, membantu menyiapkan alat peraga dari benda bekas. Interaksi mereka tidak pernah dibicarakan secara serius, tapi terasa sangat alami.

 

Saat mereka sedang menata lembar kerja di atas meja kayu, sebuah suara nyaring pecah dari arah belakang.

 

"Kak Arie, Kak Kiyah!" teriak Banyu sambil berlari mendekat. "Kak Arie itu kakaknya Kak Kiyah, kan? Mirip banget kalau lagi senyum."

 

Arie menoleh ke arah Kiyah, ingin melihat reaksinya. Kiyah hanya menunduk, jarinya menyusuri tepi kertas yang rapi. Ujung bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum malu yang tidak segera ia bantah. Arie merasakan ada denyut hangat di dadanya saat melihat betapa nyaman Kiyah membiarkan anggapan itu menyebar di antara anak-anak.

 

"Aku bukan kakaknya, Banyu. Tapi kita satu tim," jawab Arie setengah bercanda. Ia melirik Kiyah, mencari konfirmasi, namun perempuan itu justru sibuk merapikan buku di sudut ruangan. Ada ketegangan yang menyenangkan di udara, seolah kata-kata Banyu tadi membuka celah baru yang tidak ingin mereka tutup secepat itu.

 

Malam itu, mereka berjalan pulang bersama menyusuri jalan setapak di tengah perkebunan karet. Daun-daun karet tampak berdesir pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan asap kayu bakar dari rumah penduduk. Keduanya berjalan berdampingan tanpa perlu terburu-buru, menikmati hembusan udara yang sejuk di wajah.

 

"Tadi Banyu bilang apa ya, Arie?" tanya Kiyah tiba-tiba. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara kodok di kejauhan.

 

"Dia bilang kita mirip kalau lagi senyum," jawab Arie, berusaha terdengar santai. Ia melangkah hati-hati di atas tanah yang agak berlumpur karena hujan sore tadi. "Tapi lo nggak bantah, Yah. Aku pikir lo bakal langsung jelasin kalau kita cuma teman satu sekolah."

 

Kiyah berhenti sejenak, menggeser tali tasnya yang melintang di dada. "Emangnya kalau nggak dibantah, berarti aku setuju?"


"Bukan gitu," sahut Arie cepat. Ia merasa pipinya mulai panas. "Cuma... rasanya menyenangkan kalau ada yang melihat kita dekat begini."

 

Kiyah tidak menjawab, tapi ia mulai melangkah lagi, kali ini jarak bahu mereka terasa lebih dekat. Mereka meneruskan obrolan tentang tingkah polah murid-murid yang sering memancing tawa. Arie merasa beban tugas di desa ini terasa jauh lebih ringan karena ada Kiyah di sampingnya.

 

Sesampainya di persimpangan jalan menuju posko, Arie melihat sosok Ipung berdiri di bawah pohon jati dengan tangan menyilang. Wajah temannya itu terlihat datar, jauh berbeda dari senyum yang biasa ia tunjukkan. Arie menahan langkahnya, merasakan ada perubahan mendadak di udara malam itu.

 

"Kau berdua pulang bareng lagi?" tanya Ipung. Suaranya datar, tapi ada gesekan kasar di sana. "Kapan lagi waktunya buat istirahat kalau tiap hari kalian habiskan buat ngobrol receh di kebun?"

 

Arie menatap Ipung dengan bingung. "Ini cuma jalan pulang, Pun. Nggak semua hal harus terkait jadwal kerja."

 

Kiyah menarik napas panjang, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan mereka berdua tanpa menoleh. Ipung menatap punggung Kiyah hingga hilang di balik tikungan jalan. Ia kemudian berbalik ke arah Arie, matanya menyipit seolah sedang memikirkan cara untuk memutus hubungan yang baru saja tumbuh di antara Arie dan Kiyah.

 

Suaranya pecah di antara meja-meja kayu yang berderit. Ipung berdiri tegak, jari telunjuknya nyaris menempel di dada Arie yang sedang duduk bersila di atas tikar. Ruangan itu tiba-tiba terasa panas, meski kipas angin berdecit keras di sudut atap.

 

"Kau jangan terlalu dekat dengan dia, Rie. Fokus pada laporanmu!"

 

Arie mendongak perlahan. Matanya tidak langsung menatap Ipung, melainkan tertuju pada secangkir kopi yang sudah dingin di meja. Tangannya mencengkeram papan tulis kecil hingga buku jarinya memutih. Nada bicara Ipung tadi terdengar seperti perintah, bukan sekadar saran teman satu tim.

 

Ipung melangkah maju, menabrak kursi kayu yang berderit keras. "Kau pikir ini kampung halamanmu? Kau datang ke sini cuma untuk main mata dengan Kiyah, bukan untuk bekerja?"


Beberapa mahasiswa lain di pojok ruangan saling bertukar pandang. Ainun menunduk, sibuk menyusun lembaran laporan seolah tak ingin terlibat, sementara Imran memilih keluar dengan dalih mengambil air. Arie akhirnya berdiri. Tingginya nyaris sama dengan Ipung, tapi bahunya terlihat lebih sempit karena ketegangan.

 

"Apa maksudmu 'berebut perhatian', Pun? Aku cuma bantu dia karena kalian semua sibuk dengan urusan sendiri," jawab Arie. Suaranya datar, tapi nadanya meninggi di akhir kalimat.

 

"Membantu? Sejak kapan membantu butuh waktu tiga jam di depan kelas sambil

ketawa-tawa? Itu namanya mengganggu jadwal," sahut Ipung. Ia melempar buku catatan ke atas meja hingga beberapa pulpen jatuh ke lantai.

 

Arie menghela napas panjang. Ia merasa ada sesuatu yang salah dengan cara Ipung memandangnya, seolah ia adalah ancaman bagi otoritas Ipung di desa ini. "Aku tidak mengganggu jadwal siapa pun. Kau yang terlalu sensitif."

 

"Sensitif? Kau pikir aku tidak tahu caramu menatap dia? Jangan bawa-bawa gaya kota ke sini kalau kau tidak sanggup kerja keras!" bentak Ipung. Wajahnya memerah, urat lehernya menonjol.

 

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari teras. Arnas berdiri di ambang pintu dengan tangan terkepal di pinggul. "Cukup!"

 

Semua orang terdiam. Arnas melangkah masuk, menepis lengan Ipung yang masih menunjuk ke arah Arie. "Kalian pikir ini posko pementasan drama? Di luar sana, warga menunggu laporan akhir kita. Apa yang akan mereka katakan kalau melihat kalian seperti ini?"

 

Ipung mendengus, tapi ia mundur selangkah. Arie merapikan bajunya yang sedikit kusut. Ketegangan di udara belum sepenuhnya hilang, tapi volume suara mereka telah turun drastis. Arnas mengambil alih papan tulis dan mulai membagi tugas kembali dengan nada yang tegas namun terkendali.

 

Namun, saat Arnas sibuk menjelaskan jadwal, Arie menangkap pandangan Ipung dari balik punggung Arnas. Ada kilatan dingin di mata Ipung yang membuat Arie merasa ini bukan sekadar masalah laporan KKN.

 

Arie kembali duduk di kursinya. Ia mencoba fokus pada angka-angka di lembaran laporan, namun matanya terus melirik ke arah pintu. Ada perasaan tidak enak di perutnya, seolah


ada sesuatu yang buruk akan terjadi sebelum matahari terbenam nanti.

 

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih sedikit tidak teratur. Pikirannya mulai beralih pada tugas yang harus diselesaikan, mencoba menepis emosi yang sempat memuncak hanya beberapa menit lalu. Lingkungan sekitar mulai terasa lebih tenang, meski ketegangan di udara belum sepenuhnya hilang.

 

Ponselnya bergetar di atas meja, menarik perhatiannya untuk sesaat. Ia melirik layar yang menampilkan notifikasi dari grup koordinasi, lalu dengan cepat mengabaikannya. Fokusnya harus tetap terjaga pada pekerjaan di depannya, terutama karena hal-hal kecil bisa berubah menjadi masalah besar jika ia lengah.

 

Suasana di ruangan itu mulai kembali seperti semula, dengan suara gesekan pulpen dan ketukan jari di atas keyboard. Arie mencoba menyelaraskan ritmenya dengan

rekan-rekannya, menepis sisa-sisa ketegangan yang masih mengendap di pikirannya. Ia tahu bahwa menjaga ketenangan adalah kunci agar semuanya berjalan lancar.

 

Tiba-tiba, sebuah suara pelan terdengar dari arah pintu yang tidak sepenuhnya tertutup. Arie mengalihkan pandangannya ke sana, melihat sosok yang belum dikenalnya berdiri dengan ragu. Orang itu membawa sesuatu yang tertutup daun pisang, menciptakan sedikit rasa penasaran di tengah kesibukan mereka yang baru saja reda.

 

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, mencoba melihat lebih jelas siapa yang datang. Ada perasaan lega yang samar muncul dalam hatinya, berpikir mungkin kedatangan orang itu bisa mengalihkan pikirannya dari konflik yang baru saja terjadi. Namun, keraguan masih menyelimuti benaknya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

Ketegangan yang sempat memudar mulai muncul kembali, namun kali ini dalam bentuk rasa ingin tahu yang mendalam. Arie menunggu dengan sabar, meski ada bagian dalam dirinya yang merasa ada sesuatu yang berbeda akan segera terjadi. Ia hanya bisa berharap hal itu tidak akan mengganggu konsentrasinya lebih jauh lagi.

 

Panas matahari kian menyengat tengkuk Arie, namun ia tetap bertahan di bawah atap posko yang reyot. Pekerjaan pendataan warga desa menumpuk di atas meja kayu.

Tiba-tiba, bayangan seseorang menghalangi cahaya yang masuk dari pintu. Khairani(gadis desa saawit)berdiri dengan senyum lebar, membawa sebuah kotak makanan berwarna hijau yang masih mengepulkan asap tipis. Gadis itu tidak meminta izin sebelumnya, hanya meletakkan bekal itu tepat di samping tumpukan kertas kerja Arie.


"Ini khan belum waktunya istirahat, Khairani?" tanya Arie, suaranya datar namun terdengar lelah.

 

Khairani mengibas-ngibaskan tangannya sendiri, mencoba mengusir keringat yang mengalir di pelipisnya. "Bukan untuk istirahat, Bang. Cuma takut nanti lupa makan kalau lagi sibuk. Lagipula, ibu saya sempat masak berlebih hari ini." Alasan itu terdengar sangat klise, namun ekspresi poLos di wajah Khairani sulit untuk didebat. Arie melirik ke arah sudut ruangan, di mana Arnas dan beberapa teman lainnya mulai saling berbisik.

 

Arnas memicingkan mata, melipat tangan di depan dada dengan senyum nakal yang menyebalkan. "Wah, sudah level kirim makanan ke posko begini. Arie, jangan bilang lo nggak punya cadangan pulsa untuk telepon malam-malam?"

 

Imran dan salah satu teman yang lain tertawa kecil, menutup mulutnya dengan buku catatan. Arie menarik napas panjang, merasakan otot rahangnya mengeras karena kesal. Godaan itu sebenarnya hanya bercandaan ringan antar teman, tapi bagi Arie, hal itu terasa sangat berat. Setiap kali Khairani datang membawa perhatian, bayangan wajah Kiyah langsung muncul di benaknya. Ia takut jika kabar ini sampai ke telinga Kiyah, meski jarak mereka kini terpisah desa.

 

Khairani tetap berdiri di dekat meja, menunggu respons yang tidak kunjung datang. Gadis itu memainkan ujung kerudungnya, jari-jarinya terlihat sedikit gemetar karena gugup. "Masakannya enak, Bang. Coba cicipi sedikit saja."

 

Arie menutup map yang sedang dibacanya dengan agak keras, suara itu membuat Khairani sedikit tersentak. "Terima kasih, Khairani. Tapi toLong jangan repot-repot bawa makanan lagi. Kami sudah punya jadwal makan yang teratur di sini." Arie berusaha memastikan nadanya tetap sopan, namun ada jarak tegas yang ingin ia pasang.

 

Khairani sedikit merapatkan kerudungnya, wajahnya memerah karena rasa malu yang bercampur bingung. "Oh, iya kalau begitu. Maaf kalau saya mengganggu pekerjaan." Ia membalikkan tubuhnya, melangkah keluar dari posko dengan langkah kaki yang terasa berat. Suasana di dalam posko menjadi hening sesaat setelah pintu kayu itu tertutup kembali.

 

Arnas mendekat ke meja Arie, mencondongkan tubuh hingga wajahnya hampir menempel ke arah kotak makanan yang masih utuh. "Lo benar-benar tahan uji, Arie. Gadis secantik itu, masakannya enak, dan rajin mengurusmu. Lo pikir Kiyah akan tahu kalau lo menolak orang dengan cara sekejam itu?"


Arie mendongak, menatap langsung ke arah mata Arnas. "Ini bukan soal kekejaman, Arnas. Ini soal tanggung jawab. Aku tidak ingin Kiyah berpikir aku main mata di sini hanya karena ada yang bawa-bawa makanan."

 

"kau terlalu kaku," sahut Arnas sambil menggelengkan kepala. "Kiyah juga manusia, dia pasti tahu kau bukan tipe laki-laki brengsek. Tapi kalau lo terus begini, nanti malah lo yang stres sendiri."

 

Arie bangkit dari kursinya, merasa ruangan posko yang sempit itu mendadak terasa pengap. Ia ingin mencari udara segar, namun kakinya terasa terpaku ke lantai. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa hari lalu saat Ipung mengancamnya di depan warga.

Sekarang, masalah perasaan justru datang dari arah yang tidak ia duga. Khairani bukanlah orang jahat, tapi perhatiannya justru menjadi beban moral yang mencekik lehernya.

 

Ia melangkah keluar, berharap bisa menenangkan pikiran sejenak di bawah pohon besar di depan sekolah. Namun, Khairani belum benar-benar pergi. Gadis itu duduk di atas bangku kayu di teras sekolah, menundukkan wajah seolah sedang menahan isak tangis. Arie menghentikan langkahnya, merasa hati nuraninya mulai diserang rasa bersalah yang luar biasa.

 

"Kenapa lo belum pulang?" tanya Arie, nada suaranya mendingin sedikit untuk menjaga jarak.

 

Khairani mengusap sudut matanya dengan punggung tangan kasar. "Saya cuma ingin membantu, Bang. Di desa ini, kami biasa saling membantu dengan cara memberi makanan. Tidak selalu ada maksud lain."

 

Arie merasa tertampar oleh kata-kata jujur itu. Mungkin ia terlalu membawa masalah hatinya ke dalam budaya desa yang berbeda. "Maafkan aku kalau tadi bicaraku kasar. Aku sedang banyak pikiran."

 

"Masalah dengan Ipung?" tanya Khairani pelan. "Semua orang di sini tahu dia pemarah. Tapi Bang Arie tenang saja, dia tidak akan berani ganggu posko ini kalau perangkat desa menjaganya."

 

Arie terkejut mendengar Khairani menyebut nama Ipung dengan begitu santai. Rupanya, masalah yang ia bawa dari kota hingga ke desa ini sudah menjadi konsumsi umum warga. Ia merasa kesabarannya benar-benar diuji. Ia ingin menjaga nama baik, tapi ia juga tidak ingin Khairani memiliki perasaan lebih yang akan memperumit keadaan.


"Khairani, dengar baik-baik," kata Arie, menarik napas panjang untuk mengatur nada bicaranya. "Lo gadis yang baik. Tapi saat ini, hatiku sudah terikat pada orang lain. Aku tidak ingin lo menunggu sesuatu yang tidak mungkin terjadi."

 

Khairani terdiam cukup lama, menatap ke arah dedaunan yang bergoyang ditiup angin sore. "Saya mengerti, Bang. Tapi toLong jangan anggap perhatian saya sebagai beban. Saya hanya ingin membantu teman seperjuangan."

 

Arie tidak bisa membalas kata-kata itu. Ia hanya mengangguk pelan, merasakan beban di bahunya tidak juga berkurang. Malam itu, saat ia kembali ke barak dan berbaring di atas kasur tipis, pikirannya kacau. Ia membayangkan wajah Kiyah yang mungkin sedang menunggu kabar darinya, sementara di sisi lain, ia baru saja menyakiti hati seorang gadis desa yang tidak bersalah.

 

Ia menutup matanya erat-erat, mencoba bernapas perlahan untuk menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Konflik dengan Ipung belum selesai, masalah dengan Khairani baru saja memanas, dan kerinduan pada Kiyah mulai menggerogoti ketenangannya. Ia meraba saku celananya, mengambil sebuah gantungan kunci kecil yang diberikan Kiyah sebelum berangkat.

 

Besok pagi, ia harus menghadapi semua orang lagi. Ia harus menjaga jarak dengan Khairani tanpa membuat gadis itu benci, menyelesaikan masalah dengan Ipung tanpa harus berkelahi fisik, dan yang terpenting, ia harus menjaga hatinya agar tetap setia pada satu nama yang selalu membuat dadanya bergetar setiap kali terkenang. Tantangan di desa ini ternyata tidak hanya soal pengabdian, tapi juga soal menjaga hatiku dari badai godaan yang datang tiba-tiba.

 

Arnas meLompat turun dari bak pick-up, senyumnya mengembang saat melihat Ainun sudah berdiri di bawah rindangnya pohon jati. Gadis itu membawa dua kantong plastik berisi pisang goreng hangat. Tanpa canggung, Arnas meraih tangan Ainun dan mengepalkannya erat. Arie yang berjalan di belakang mereka hanya bisa memandangi kebahagiaan yang begitu mudah didapat temannya itu, sebuah pemandangan yang membuat dadanya sesak.

 

"Lihat, Rie! Ini namanya istirahat yang sempurna," teriak Arnas sambil memakan pisang goreng. "Ainun bilang nanti malam kita bisa jalan-jalan ke pasar malam di kecamatan. Lo harus ikut, biar nggak ketemu terus sama Ipung atau kerjaan pendataan itu."

 

Arie tidak menjawab. Ia justru teringat pada Kiyah yang pagi tadi terlihat membereskan


buku diraksa di ruang tengah. Saat ia hendak menawarkan bantuan, Ipung tiba-tiba muncul dari dapur dan langsung menarik lengan Kiyah, membawanya pergi dengan alasan ada pekerjaan rumah tangga mendadak. Arie merasa seolah-olah ia sedang berada di dalam sangkar kaca; ia bisa melihat Kiyah, namun terhalang oleh kehadiran Ipung yang protektif secara berlebihan.

 

"Aku nggak bisa ikut," jawab Arie datar. "Masih ada laporan keLompok yang harus dirapikan sebelum besok pagi."

 

Arnas mendengus, meletakkan tangan di bahu Arie. "Lo terlalu serius, Teman. Nasihatku kali ini: nyatakan saja perasaanmu sebelum diambil orang lain. Kiyah kan nggak punya hubungan resmi sama Ipung, kan? Coba dekati lagi. Jangan cuma diam dan menghela napas seperti orang yang habis kena tilang."

 

Ketegangan di antara mereka mulai terasa saat Arie menepis tangan Arnas. "Lo nggak mengerti situasinya di sini, Arnas. Ipung bukan cuma warga biasa. Dia punya pengaruh di sini, dan aku nggak mau KKN ini berakhir rusuh hanya karena aku nggak bisa jaga jarak."

 

Suasana hening sejenak. Ainun melirik Arnas dengan ragu, seolah mencoba membaca emosi di ruangan itu. Namun, Arnas malah tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sedikit menyakitkan bagi Arie. "Lo terlalu takut, Rie. Kalau terus kayak gini, lo cuma bakal jadi penonton di cerita orang lain."

 

Arie menarik napas panjang, mencoba menahan amarah yang mulai membubung. Di saat itulah, Ipung masuk ke halaman dengan membawa sebilah parang di tangan kirinya.

Matanya menatap tajam ke arah Arie, menangkap percakapan terakhir mereka. "Ada masalah apa di sini?" tanya Ipung dengan suara berat yang menggetarkan dada.

 

Arnas tersenyum canggung, mencoba mencairkan suasana dengan menyodorkan pisang goreng ke arah Ipung. "Nggak ada, Kami cuma diskusi soal laporan keLompok. Arie agak capek, makanya emosinya lagi nggak stabil."

 

Arie mendengus pelan, menatap lurus ke arah Ipung. Ia sadar, nasihat Arnas mungkin benar soal keberanian, tapi melawan Ipung sekarang bukanlah pilihan bijak. Ia harus menunggu waktu yang tepat, saat pengawasan Ipung lengah, dan saat itulah ia akan berbicara pada Kiyah.


Hujan turun deras menggedor atap seng posko, memaksa semua anggota tim berkumpul di ruang tengah. Suasana di dalam ruangan terasa pengap namun hangat, dipenuhi suara tawa dan gelindingan kartu di atas meja kayu. Beberapa mahasiswa asyik bermain remi, berteriak setiap kali kartu joker muncul. Arnas bersandar santai di kursi, sesekali meLontar lelucon kering yang membuat Ainun menutup telinga sambil geleng-geleng kepala.

 

Di sudut ruangan yang agak redup, Kiyah duduk menunduk di dekat lampu minyak. Cahaya kuning temaram itu menyorot jemarinya yang lincah merajut benang wol berwarna biru. Arie memperhatikan gadis itu dari kejauhan, melihat betapa tenangnya ekspresi wajah Kiyah saat fokus pada rajutannya. Ada ketenangan yang menular dari sosok Kiyah di tengah keributan para mahasiswa lainnya.

 

Arie akhirnya berdiri dan mendekat, berjongkok di sebelah Kiyah. Ia mencoba membantu dengan memegang gulungan benang agar tidak menggelinding jatuh ke lantai tanah.

Benang wol itu terasa kasar di telapak tangannya, tapi Arie sengaja membiarkannya terulur perlahan mengikuti gerak jarum Kiyah. Gadis itu melirik sebentar, lalu kembali fokus merajut tanpa banyak bicara.

 

"Ini untuk siapa?" tanya Arie pelan, berusaha mengalahkan suara hujan yang tetap saja terdengar nyaring di atap.

 

Kiyah tidak mengalihkan pandangan dari jarumnya. "Buat ibu di rumah. Dia selalu kedinginan kalau malam."

 

Arie mengangguk pelan, meski yakin Kiyah tidak melihatnya. Cara gadis itu memikirkan orang tuanya membuat dada Arie terasa sesak, tapi dengan rasa hangat yang aneh. Di bawah cahaya lampu minyak yang berpendar lembut, wajah Kiyah tampak sangat cantik dan damai. Pipinya yang sedikit kemerahan karena pantulan api membuat Arie sulit memalingkan muka.

 

Mereka terdiam cukup lama, hanya diselingi suara gesekan kartu di meja sebelah dan deru hujan di luar. Arie merasa ada keberanian yang perlahan tumbuh di dadanya. Ia ingin mengatakan banyak hal, tapi kata-kata selalu saja macet di tenggorokan setiap kali menatap mata Kiyah yang bulat dan jujur itu.

 

"Kiyah," panggil Arie, suaranya sedikit serak.


Gadis itu akhirnya berhenti merajut dan menoleh. "Hmm?"

 

"Lo sudah kepikiran mau ngapain setelah lulus nanti?" Arie memutar gulungan benang di jarinya, mencoba terlihat santai.

 

Kiyah menghela napas pendek, matanya menerawang ke arah jendela yang basah oleh air hujan. "Aku ingin jadi guru yang hebat. Pengen balik ke desa, ngajar anak-anak di sini yang nggak semuanya punya kesempatan buat sekolah jauh."

 

Arie menatap Kiyah dengan kagum yang tak tersembunyikan. Impian gadis itu begitu besar dan tulus, sangat kontras dengan keraguan yang sering ia rasakan sendiri tentang masa depannya. Mendengar Kiyah berbicara tentang dedikasinya, Arie merasa dunianya seolah mengecil hanya pada gadis di depannya itu.

 

Malam itu, saat hujan mulai mereda menjadi rintik-rintik halus, Arie berjanji dalam hati bahwa ia ingin menjadi bagian dari masa depan impian Kiyah. Ia akan menemani perjalanan gadis itu, apa pun yang terjadi ke depannya. Semangat baru mulai menyala di dadanya, menyadari bahwa hari esok adalah kesempatan baru untuk berada di dekat Kiyah.

 

Sore itu terik matahari menyengat punggung para mahasiswa yang sedang mengerjakan kerja bakti di pelataran balai desa. Suara arit menggesek dahan kering bercampur dengan debu yang beterbangan di antara kayu-kayu jati yang besar. Arie mendorong lengan bajunya yang basah oleh keringat, berusaha memfokuskan tenaganya pada sebatang baLok bekas renovasi yang cukup berat.

 

Ia menghela napas panjang, otot lengannya menegang saat ia mengangkat baLok itu dari tumpukan rongsokan. Niatnya sederhana: ia ingin terlihat kuat di depan Kiyah. Setiap kali ia merasa pandangan Kiyah tertuju padanya, ia akan mengerahkan tenaga lebih keras, seolah-olah beban berat itu hanyalah ranting kecil.

 

"Hati-hati, Arie. Jangan sampai kena tanganmu," teriak seorang warga, namun Arie hanya balas mengangguk sambil terus bekerja.

 

Di tengah kepayahan itu, Arie merasakan ada bayangan yang mendekat. Kiyah berjalan pelan membawa sebotol air mineral dan selembar handuk kecil yang agak usang. Tanpa banyak bicara, Kiyah menyodorkan handuk itu ke arah wajah Arie yang basah oleh peluh.

 

"Keringkan dulu mulo. Jangan paksakan diri kalau sudah lelah," kata Kiyah pelan.


Suaranya hampir tak terdengar karena deru mesin pemotong rumput di kejauhan.

 

Arie menerima handuk itu dengan kedua tangan yang agak gemetar, bukan karena berat angkutan tadi, melainkan karena jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. Perhatian sepele itu terasa seperti beban berat yang mengikat hatinya, membuatnya semakin yakin bahwa ia harus segera mengatakan sesuatu.

 

Ia melirik ke kiri dan ke kanan, mencari saat yang tepat ketika kerumunan orang sedang sibuk. Saat melihat Arnas dan Ipung sedang asyik memindahkan pot tanaman, Arie memberanikan diri untuk mendekat ke arah Kiyah yang sedang menyapu halaman.

 

"Kiyah, sebentar lagi kita selesai. Nanti kalau sudah sore, aku ingin ngobrol sebentar," bisik Arie cepat, berharap nada suaranya tidak bergetar.

 

Namun, sebelum Kiyah sempat menjawab, suara Pak Lurah tiba-tiba menggelegar dari teras balai. "Anak-anak KKN! Sini semua, ada yang perlu dibicarakan soal jadwal penyuluhan besok!"

 

Arie mengatupkan rahangnya, menahan kekesalan yang membubung. Ia melihat Kiyah langsung berlari menghampiri warga lain, meninggalkan Arie yang masih terpaku dengan handuk kecil di tangannya. Gangguan itu selalu datang pada saat yang paling tepat, seolah-olah ada kekuatan yang sengaja menghalangi mereka untuk bicara empat mata.

 

Sore mulai beranjak, dan bayangan pepohonan mulai memanjang di atas tanah yang sudah agak bersih. Arie meletakkan cangkulnya dengan pelan, matanya terus mengikuti langkah Kiyah yang tampak sibuk menata dokumen di dalam balai. Ia mulai merasa waktu tidak berpihak padanya.

 

Setiap hari yang berlalu di desa ini terasa seperti detik yang dihitung mundur. Arie takut masa KKN ini akan berakhir dalam sekejap, dan ia akan kembali ke kota dengan tangan kosong serta hati yang penuh penyesalan. Ia harus menemukan cara, entah bagaimana caranya, untuk menemui Kiyah sebelum malam tiba.

 

Lampu minyak tanah di sudut meja belajar Arie mengepaskan bayangan yang bergetar di dinding bilik kos. Aroma minyak yang menyengat bercampur dengan bau sampah dari sungai di belakang rumah. Arie menarik kursi kayu yang berderit hingga menyentuh meja. Ia membuka laci meja dan mengambil sebuah buku tulis kecil bergambar pemandangan gunung yang sampulnya sudah kusam.


Ia mencelupkan pena ballpoint ke dalam tinta yang hampir habis. Ujung pena itu menari di atas kertas, meninggalkan goresan tinta biru yang pucat. Arie tidak menuliskan jadwal kuliah atau daftar belanja seperti biasanya. Ia justru menuliskan tentang betapa sulitnya tidur jika memikirkan senyum Kiyah yang selalu muncul saat mereka bertemu di depan balai desa.

 

Ia menulis tentang keheningan malam di desa ini yang terasa berbeda jika mengenang suara tawa Kiyah. Setiap baris kata yang dibuatnya adalah pelarian dari rasa grogi yang sering menghantuinya. Arie sering memotong-motong kertas jika tulisannya terasa terlalu berlebihan atau tidak pada tempatnya. Ia tidak ingin terlihat seperti pria yang terlalu romantis di depan warga desa.

 

Di luar sana, suara jangkrik bersahutan dengan deru motor yang melintas di jalan desa yang masih berbatu. Arie sesekali mengusap wajahnya yang terasa panas. Ia membayangkan Kiyah bukan sekadar gadis desa biasa. Bagi Arie, kehadiran Kiyah di tengah rutinitas mereka ibarat permata yang tersembunyi di tengah hamparan pohon sawit yang membosankan.

 

"Dasar bodoh, nggak mungkin dia suka sama puisi semacam ini," gerutu Arie pelan. Ia melirik ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Angin malam menerpa kain tirai itu, membuat bayangan Arie di dinding semakin tak menentu. Ia merasa puisi itu hanya miliknya sendiri, sebuah pengakuan jujur yang tidak berani diucapkan secara langsung karena takut mendapat tamparan atau ejekan dari rekan-rekannya.

 

Ia menutup buku harian itu dengan pelan agar tidak mengejutkan penghuni kos lainnya. Arie menyandarkan punggung ke kursi dan menatap langit-langit yang mulai retak. Ia memutuskan untuk tidak buru-buru. Momen yang tepat harus datang tanpa paksaan, mungkin saat acara panen raya nanti atau saat Kiyah sendirian di perpustakaan desa. Ia ingin menyerahkan semua bait rindu itu di saat yang tenang, tanpa gangguan suara mesin atau teriakan anak-anak.

 

Namun, malam ini terasa lebih berat dari biasanya. Arie menyadari bahwa waktu terus berjalan dan ia belum melakukan langkah berani. Ia hanya bisa menatap buku harian itu di atas meja, berharap suatu hari nanti Kiyah akan membaca setiap baris dan mengerti betapa tulusnya perasaan yang selama ini ia pendam di balik senyum canggungnya.


 


RAHASIA DIBALIK LAYAR

 

Udara di dusun itu terasa makin panas dan lengang. Hari-hari di minggu ketiga KKN ini berbeda secara nyata. Semangat awal yang dulu menyala-nyala kini surut. Ruang tengah penginapan yang dulu selalu riuh kini sering dihiasi keheningan yang menyesakkan dada.

 

Imran menghempaskan badannya ke kursi. "Laporan ini bikin kepala pusing. Lo belum tidur?" tanyanya. Arie hanya mengangguk sambil membalas, "Sebentar lagi." Ia memaksakan mata untuk tetap terbuka. Tangannya terus memegang pena tanpa menulis apa-apa. Ia justru mengamati sudut ruangan tempat Kiyah duduk.

 

Kiyah tampak asyik menatap layar ponselnya. Gadis itu lupa dengan tugasnya. Matanya menatap tajam ke arah bawah. Sesekali bibirnya berkedut membentuk senyum tipis.

Namun, senyum itu sering menghilang dan digantikan raut sedih. Arie menelan ludahnya dengan susah payah. Ia merasa ada dinding besar yang mulai memisahkan mereka.

 

Arie mendekat dan meletakkan gelas air. "Kiyah, lo kenapa? Sejak tadi aku perhatikan lo seperti ada masalah," ucap Arie hati-hati. Kiyah tersentak kaget dan buru-buru mematikan layar ponselnya. Gadis itu menatap Arie dengan mata yang masih

berkaca-kaca.

 

"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya lelah dan pikiran sedang kacau. Ini pasti karena tugas," jawab Kiyah singkat. Ia membalikkan badannya agar tidak berhadapan langsung. Arie merasakan kejanggalan yang sangat dalam. Penjelasan Kiyah terdengar seperti alasan yang dibuat-buat agar ia tidak bertanya lebih jauh.

 

Beberapa saat kemudian, Arie memutuskan untuk pergi ke dapur. Ia butuh udara segar dan waktu untuk berpikir. Di sana, ia melihat Ainun sedang membereskan piring. Ainun mendekat saat melihat wajah Arie yang tampak sangat murung. "Lo dan Kiyah bertengkar?" tanya Ainun.

 

"Tidak juga. Aku hanya merasa dia menjauh. Dia punya rahasia yang aku tidak tahu. Aku takut kalau aku bertanya, dia akan menganggap aku terlalu ikut campur," ucap Arie pelan. Ainun menghela napas dan meletakkan kain pel di meja. "Mungkin lo hanya butuh waktu. Tapi, kalau lo terus mendiamkan perasaan, nanti malah jadi masalah besar," saran Ainun.

 

Arie mengangguk dan berjalan kembali ke ruang kerja. Di sana, suasana makin panas dan tegang. Suara ketikan keyboard terdengar sangat keras. Beberapa anggota keLompok lain mulai bersitegang karena beda pendapat soal data. Di tengah keributan itu, Arie melihat Kiyah kembali memegang ponselnya.


Kali ini, Kiyah tidak sedang menatap layar, melainkan menatap ke arah jendela. Wajahnya terlihat sangat pucat dan ada keraguan di matanya. Arie ingin sekali merebut ponsel itu dan melihat apa yang sedang dilihat Kiyah. Namun, rasa hormat dan cintanya masih menahannya.

 

Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Angin bertiup kencang dan merusak atap rumah. Semua orang sibuk membereskan barang. Arie melihat Kiyah berdiri di teras dengan ponsel di tangan. Gadis itu mengetik sesuatu dengan sangat cepat.

 

"Kiyah, masuklah! Lo bisa kedinginan!" teriak Arie. Kiyah menoleh sebentar dan memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Namun, saat Arie melangkah maju, ia melihat ada notifikasi pesan masuk. Layar ponsel Kiyah menyala dan menampilkan sebuah nama yang tidak dikenal. Hati Arie langsung berkecamuk dengan rasa cemburu.

 

Arie tidak bisa membaca isi pesan itu. Namun, ia melihat reaksi Kiyah yang sangat berlebihan. Gadis itu memeluk ponselnya ke dada dan menundukkan kepala. Air mata mulai jatuh dari pelupuk matanya. Arie merasa hancur. Ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

 

Keesokan paginya, keadaan makin tidak menentu. Arie sengaja duduk di sebelah Kiyah saat sarapan. "Kiyah, aku tidak suka dengan keadaan ini. Kita harus bicara dengan jujur," kata Arie dengan suara yang bergetar. Kiyah hanya memainkan jemarinya dan tidak berani menatap mata Arie.

 

"Arie, toLong beri aku waktu. Aku sedang menghadapi masalah yang sangat rumit. Aku tidak ingin menarikmu ke dalam masalahku," jawab Kiyah tertunduk. Arie merasakan dadanya sesak. Ia merasa dikhianati oleh diam kekasihnya. Rahasia-rahasia kecil itu mulai terkuak dan mengancam ketenangan batinnya.

 

Mereka kembali bekerja dalam diam. Ruangan itu terasa sangat pengap dan dingin. Arie mulai memikirkan kemungkinan terburuk. Apakah Kiyah menyimpan masa lalu yang belum selesai? Atau, apakah ada orang lain yang masih berhubungan dengan Kiyah?

Pikiran-pikiran itu terus menghantui benak Arie.

 

Di tengah kesibukan menyusun laporan akhir, ketegangan antar anggota makin menjadi. Ainun tanpa sengaja menjatuhkan tumpukan kertas. Kiyah yang sedang melamun tersentak dan berdiri dengan kasar. Ponselnya yang tadi diletakkan di meja hampir jatuh ke lantai.

 

Arie refleks mengambil ponsel itu sebelum jatuh. Saat itu, ponsel Kiyah menyala lagi. Arie


melihat sekilas foto profil yang tidak biasa. Di foto itu, Kiyah tampak sangat akrab dengan seseorang. Hatinya mulai bergetar hebat. Ia ingin memastikan kebenarannya, namun Kiyah dengan cepat merampas ponselnya.

 

"Jangan sentuh ponselku!" teriak Kiyah dengan nada yang sangat tinggi. Semua orang di ruangan itu menoleh dan terdiam. Suasana menjadi sangat mencekam. Arie melangkah mundur dengan perasaan yang sangat terpukul. Ini adalah konfrontasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

 

Kiyah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Gadis itu menangis tersedu-sedu di depan semua orang. "Maafkan aku, Arie. Aku tidak bermaksud berteriak. Aku hanya sedang tidak kuat menanggung beban ini," ucap Kiyah lirih. Arie ingin menghiburnya, tapi rasa sakit di hatinya masih sangat mendalam.

 

Malam itu, Arie memilih untuk duduk sendirian di depan rumah. Ia menatap langit yang gelap tanpa bintang. Keheningan malam terasa sangat berat. Ia menyadari bahwa hubungan mereka sedang di ujung tanduk. Cintanya pada Kiyah sangat besar, tapi kepercayaan adalah hal yang sangat sulit untuk dikembalikan.

 

Sementara itu, di dalam rumah, Kiyah masih duduk termenung di meja kerjanya. Ponsel itu kembali berada di genggamannya. Gadis itu menatap layar ponselnya yang perlahan menyala. Kiyah menarik napas panjang dan menunggu sesuatu yang ia takuti akan segera terjadi. Ketidaktenangan mulai memuncak di dalam dirinya.

 

Lampu gantung di ruang makan memancarkan cahaya kuning yang redup, membuat layar ponsel Kiyah yang tersisa di atas meja kayu itu tampak sangat mencoLok. Arie awalnya hanya menunduk, sibuk mengaduk kopi yang mulai dingin di cangkirnya. Ia menunggu Kiyah kembali dari kamar mandi, namun tiba-tiba sebuah bunyi 'ting' yang tajam memecah keheningan di antara mereka.

 

Sebuah notifikasi muncul dengan cahaya biru yang menyilaukan mata. Arie secara refleks menoleh, melihat nama pengirim yang sama sekali tidak ia kenal terpampang jelas di baris paling atas. Rasa penasaran bercampur dengan kecemasan mendadak mengalir di nadinya. Tanpa sengaja, matanya terlanjur menangkap isi pesan singkat yang tertulis di layar itu.

 

Pesan tersebut berisi baris demi baris bait puisi romantis dalam bahasa Inggris yang sangat puitis dan menyentuh hati. Arie menatap kosong pada kata-kata asing itu, namun ia paham betul maknanya. Ada rasa memiliki yang sangat intim di sana. Dadanya terasa


sesak, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba tersedot habis sehingga ia kesulitan bernapas dengan normal.

 

Ia buru-buru memejamkan mata dan menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang mulai berdegup kencang. Napasnya memburu, namun ia berusaha mengatur ritme pernapasan dengan menghitung dalam hati. Ia tidak ingin Kiyah melihatnya dalam keadaan panik jika gadis itu keluar sekarang juga. Namun tangannya mulai gemetar hebat.

 

"Siapa dia? Apa aku tidak cukup baik untuk Kiyah?"

 

Pertanyaan itu terus berkelebat di dalam benaknya, menciptakan jarak emosional yang tiba-tiba terasa sangat jauh. Arie merasa dunianya runtuh seketika, seolah semua harapan yang selama ini ia simpan hancur berkeping-keping. Ia menunduk, menarik napas berat, dan mencoba meredam perasaan cemburu yang mulai membakar dadanya.

 

Ia melirik ke arah kamar mandi yang pintunya masih tertutup rapat. Arie menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum Kiyah kembali duduk di hadapannya.

Namun, pikiran negatif terus bermunculan, membuat rasa percaya diri yang selama ini ia bangun hancur dalam sekejap. Ia harus memutuskan apa yang akan ia lakukan setelah ini.

 

Awan Mendung di Pagi Hari

 

Embusan angin pagi membawa bau tanah basah dan sisa hujan semalam, tapi udara di beranda kos Arie terasa lebih dingin dari biasanya. Ia berdiri di depan jendela, menatap tajam ke arah halaman yang mulai diinjak sinar matahari. Di tangannya, secangkir kopi sudah dingin dan mengendap di dasar gelas. Arie tidak menyentuhnya sama sekali.

Pikirannya masih terpaku pada layar ponsel yang sempat ia lihat semalam, saat ponsel Kiyah tersandar tak sengaja di meja kerja mereka.

 

"Arie, kita berangkat sekarang?" suara Kiyah terdengar dari balik pintu kamar. Langkah kaki perempuan itu memecah kesunyian, membawa aroma sabun mandi yang biasanya membuat Arie menoleh. Namun pagi ini, Arie hanya menarik napas panjang dan membalikkan tubuh menjauh dari pintu.

 

"Lo kenapa, Rie? Ada salahku?" tanya Kiyah lembut, wajahnya mendekat saat ia menyampingkan tas kerja. Arie dapat melihat kerutan halus di dahi Kiyah, tanda kebingungan yang tulus. Namun, Arie memilih menunduk, jari-jarinya menarik ujung kemeja yang masih kusut. Ia membuka lemari, mengambil tas, dan meletakkannya di lantai


dengan bunyi gedebuk yang keras.

 

"Aku nggak enak badan. Kepala rasanya berat," jawab Arie, suaranya datar dan kaku. Ia tidak berani menatap mata Kiyah karena takut perempuan itu akan membaca kebohongan di balik rasa sakit yang ia sembunyikan. Kiyah mundur selangkah, bibirnya mengerucut, namun ia tidak memaksa.

 

Langkah yang Menjauh

 

Siang hari di posko desa terasa panas dan pengap. Biasanya, Arie akan berada di sudut ruangan, duduk di kursi kayu yang goyah, membantu Kiyah menata berkas-berkas pendataan. Mereka akan bertukar lelucon kecil atau berbagi snack di sela-sela pekerjaan. Hari ini, Arie memilih duduk di teras belakang, di bawah naungan pohon jati yang rindang. Ia sengaja menjauh, memberi jarak fisik yang mencoLok.

 

Kiyah beberapa kali menoleh ke arah teras, melihat punggung Arie yang kaku. "Arie, toLong ambilkan meteran di dalam ya," teriak Kiyah, mencoba mencairkan suasana. Arie hanya mengangguk singkat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan masuk, mengambil alat itu, dan menyerahkannya dengan tangan yang terjulur kaku, tanpa menyentuh tangan Kiyah.

 

Rasa sakit itu seperti duri yang menancap di dada Arie setiap kali melihat senyum Kiyah yang kini terasa asing. Ia merasa dikhianati oleh bayangan laki-laki misterius yang mengirimkan puisi-puisi indah di layar ponsel Kiyah. Bagi Arie, puisi-puisi itu adalah bukti adanya seseorang yang memiliki tempat di hati Kiyah, tempat yang belum sempat Arie gapai sebelum rasa itu tumbuh.

 

Di dalam hatinya, Arie mengutuk diri sendiri karena terlalu berharap. "Lebih baik aku menjauh sekarang sebelum semuanya menjadi lebih menyakitkan," gumamnya pelan, suara yang hampir tenggelam oleh deru angin. Ia melihat Kiyah tertawa kecil dengan salah satu warga desa yang datang membawa dokumen. Tawa itu seperti pisau yang membelah kesunyian di dalam dadanya.

 

Sebuah Pesan yang Tak Terkirim

 

Menjelang sore, hujan rintik-rintik mulai turun, memaksa semua orang di posko untuk berkumpul di ruang utama. Arie terpojok di antara tumpukan kardus berisi obat-obatan, sementara Kiyah duduk di depan meja, membalas pesan singkat di ponselnya. Arie bisa melihat bagaimana jari-jari Kiyah bergerak cepat, sesekali matanya menatap layar dengan


sorot hangat yang tidak pernah ia tujukan pada Arie.

 

Kiyah menghela napas, lalu menyandarkan ponselnya di atas meja kayu yang kasar. Ponsel itu menyala, menampilkan nama yang membuat darah Arie berdesir dingin. "Ihsan: 'Malam ini baca puisi baruku ya, Sayang. Rindu peluk hangatmu.'"Arie menutup telapak tangannya, menahan napas yang tiba-tiba sesak. Ia merasa seperti orang luar yang mengintip kehidupan yang tidak memiliki tempat untuknya.

 

"Arie, lo pucat. Mau minum air hangat?" tanya Kiyah, suaranya kembali lembut, namun kali ini terasa seperti beban bagi Arie. Arie menggeleng cepat, bangkit dari duduknya dengan gerakan yang sedikit tertatih. Kursi kayu itu terjatuh ke lantai, menciptakan suara keras yang membuat semua orang menoleh, termasuk Kiyah yang terkejut.

 

"Aku keluar sebentar. Butuh udara," ucap Arie singkat. Ia melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban. Dingin hujan mulai menyentuh kulitnya, tapi ia tidak peduli. Ia berlari kecil menuju gudang penyimpanan di belakang posko, menutup pintu dengan keras di belakangnya. Di dalam gelap gudang, ia merosotkan tubuh, menahan isak yang mulai naik di tenggorokan.

 

Keheningan yang Membeku

 

Malam hari di balai desa terasa sangat berbeda tanpa kehadiran Arie yang biasanya menjadi penghangat suasana. Kiyah duduk sendirian di bangku kayu, menatap piring makan malam yang tidak tersentuh. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Keheningan di antara mereka bukan lagi sekadar kesunyian, melainkan tembok tebal yang mulai dibangun Arie dengan sangat sengaja.

 

"Arie, kita harus bicara," ucap Kiyah saat melihat Arie kembali ke ruang utama dengan wajah basah oleh air hujan. Arie berhenti di ambang pintu, menatap Kiyah dengan mata yang merah dan kapas mata yang berat. Namun, ia hanya menggeleng pelan, menarik baju basahnya, dan berjalan menuju sudut ruangan untuk mengambil tasnya.

 

"Besok aku akan fokus di pendataan wilayah utara. Lo bisa urus wilayah selatan sendiri, kan?" kata Arie, suaranya parau namun tegas. Ia tidak menunggu persetujuan Kiyah. Setiap langkah yang diambil Arie terasa berat, seolah ia sedang menggali lubang untuk mengubur semua harapan yang sempat ia simpan. Kiyah hanya bisa menatap punggung Arie yang semakin menjauh, merasakan dinginnya udara malam yang mulai menyusup ke dalam hati.


Di luar sana, hujan mulai turun lebih deras, menyamarkan suara isak tangis Arie yang akhirnya pecah di tengah kegelapan halaman. Ia tidak ingin menjadi pengganggu di antara Kiyah dan laki-laki yang bisa menuliskan puisi indah untuknya. Arie merasa hancur, namun ia memilih untuk memendam semua rasa sakit itu dalam diam, membiarkan jarak menjadi pelindung terakhir bagi hatinya yang rapuh.

 

Satu minggu penuh sudah berlalu sejak kata-kata terakhir mereka menggantung tak jelas di udara. Di dalam posko yang dindingnya mulai lapuk dimakan cuaca, suasana itu berubah drastis. Ruang tengah yang biasanya riuh dengan tawa dan ledekan kecil antara Arie dan Kiyah, kini terasa menyesakkan dan dingin. Beberapa anggota tim lain berusaha mengabaikan ketegangan ini, memilih untuk sibuk dengan tugas masing-masing agar tidak harus memecah kesunyian yang canggung.

 

Arie duduk menunduk di mejanya, jari-jarinya menari cepat di atas tombol laptop yang mulai usang. Layar itu menampilkan baris demi baris angka statistik KKN yang sebenarnya tidak terlalu mendesak. Namun, ia sengaja membiarkan matanya terpaku pada grafik-grafik tersebut. Ia menggunakan layar laptopnya sebagai perisai, agar tidak perlu menatap ke arah dapur kecil di dalam posko, di mana Kiyah biasanya mulai sibuk mencek daging yang sedang direbus untuk makan malam mereka.

 

Di sudasana lain ruangan, Kiyah berdiri menyusun gelas di rak piring. Gerakannya terhenti sejenak setiap kali matanya melirik ke arah punggung Arie yang kaku. Gadis itu menghela napas pelan, menyesuaikan letak sekelumit tisu di atas meja, berharap pria itu akan mengalihkan pandangannya dan akhirnya berbicara. Namun, Arie tetap tidak bergerak.

Hanya suara kipas laptop yang berdengung pelan, seolah menenggelamkan segala usaha Kiyah untuk mencari celah berkomunikasi.

 

Ainun, salah satu rekan satu tim mereka, melangkah hati-hati membawa botol minyak goreng menuju dapur. Ia mengamati punggung Arie yang tegak kaku, lalu beralih menatap Kiyah yang tiba-tiba sangat tertarik pada noda di meja kayu. Ainun ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Namun, melihat garis rahang Arie yang mengeras dan tatapan kosong Kiyah, Ainun akhirnya memilih untuk membungkam mulutnya. Ia meletakkan minyak di sudut dapur dan segera kembali ke dipannya tanpa suara.

 

Arie menekan tombol enter dengan keras tanpa melihat hasil di layar. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremasnya perlahan. Pikirannya terus berputar pada bayangan Kiyah yang tertawa bersama pria lain di depan warung kopi


minggu lalu. Pria itu tidak tahu persis hubungan mereka, tapi tatapan pria itu terasa memiliki. Arie merasa dirinya bodoh karena terlalu cepat berharap, terlalu cepat jatuh, dan kini ia harus menelan pil pahit bahwa perasaannya mungkin tidak akan pernah tersampaikan.

 

Ia menarik tangannya dari keyboard dan memijat pelipisnya yang berdenyut. Bagi Arie, mundur adalah satu-satunya cara untuk menjaga harga dirinya. Ia tidak sanggup membayangkan rasa malu jika kelak ia mengungkapkan perasaan, hanya untuk diberitahu bahwa Kiyah sudah memiliki orang lain. Lebih baik ia menjadi orang asing yang sopan di dalam posko ini, daripada harus menanggung hati yang hancur karena mencintai seseorang yang mungkin sudah milik orang lain. Ia harus mematikan rasa itu, sekarang juga.

 

Di meja makan, Kiyah akhirnya duduk. Ia melihat punggung Arie yang begitu asing baginya. Gadis itu merapatkan jaketnya, mencoba menahan hawa dingin yang datang bukan dari udara malam, melainkan dari jarak yang tiba-tiba menganga di antara mereka. Ia ingin sekali berjalan mendekat, meletakkan tangannya di bahu Arie, dan bertanya mengapa mereka harus berakhir seperti ini. Namun, kebisuan Arie terasa seperti tembok tebal yang tidak bisa ia tembus hanya dengan kata-kata maaf yang tidak ia mengerti alasannya.

 

Arie menutup laptopnya dengan bunyi klik yang keras, memutus keheningan. Ia berdiri, merapikan beberapa lembar kertas di tangannya, dan berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kiyah. Langkah kaki mereka nyaris berselisih di depan pintu dapur, namun Arie dengan sengaja merapat ke kusen pintu, menghindari sengatan listrik yang biasa ia rasakan jika bahu mereka bersentuhan. Kiyah menunduk, menatap lantai yang dingin, merasakan kekalahan pertama dalam minggu yang panjang ini.

 

Malam itu, saat semua lampu di posko sudah dimatikan dan hanya menyisakan lampu minyak di sudut ruang tengah, Arie tetap terjaga di dipannya. Ia menatap ke gelapnya langit-langit, merasakan kehampaan yang luar biasa. Ia hampir menyerah pada perasaannya sendiri, berpikir bahwa mungkin jarak ini adalah takdir yang harus ia terima. Namun, di dalam keheningan itu, ada satu pertanyaan kecil yang mulai menggerogoti keputusasaannya: apakah ia benar-benar yakin dengan apa yang ia lihat, ataukah ia hanya sedang lari dari ketakutan untuk benar-benar terluka?


Kiyah menekan ujung jari ke matanya yang perih, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan dokumen di meja kerja. Udara ruangan terasa sesak, bukan karena sempitnya ruangan, melainkan karena keheningan telepon genggamnya yang tak kunjung berdering. Setiap notifikasi palsu membuat jantungnya berdetak kencang, hanya untuk kembali hancur saat melihat itu bukan dari Arie.

 

Ia meraba permukaan meja yang dingin, mencari pegangan pensil yang biasanya selalu tersedia di sana. Ketiadaan benda kecil itu terasa seperti lubang besar di dadanya. Arie selalu mengisi hari-harinya dengan tawa dan sokongan tanpa pamrih, namun kini sosok itu berubah menjadi asing. Tatapan sang kekasih kini kosong, seolah mengenang kegagalan yang tak terucap.

 

Kiyah melangkah keluar ruangan, mencari sosok Arnas yang sedang menata kabel di sudut gudang. Ia menarik lengan baju Arnas dengan lembut agar pria itu berhenti bekerja. Napas Kiyah memburu, menahan isak yang mulai naik ke tenggorokan. "Arnas, apa Arie bercerita sesuatu padamu? Kenapa dia mendiamkanku seminggu ini?" tanya Kiyah dengan mata berkaca-kaca.

 

Arnas menoleh perlahan, meletakkan tang obeng di atas meja kayu yang berdebu. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat, menatap Kiyah dengan sorot mata yang sulit diterka. Ada beban berat di bahu Arnas, sebuah rahasia yang mulai menggerogotinya dari dalam. Ia melangkah maju, namun kembali mengurungkan niatnya untuk bicara.

 

"Kiyah, kau harus lebih kuat," ucap Arnas pelan, suaranya parau tertelan debu. Ia melirik ke arah jendela, melihat bayangan Arie yang sedang duduk termenung di teras depan.

Konflik batin Arnas mencapai puncaknya; ia adalah saksi hidup kehancuran yang dialami sahabatnya, namun ia terikat janji untuk diam.

 

Kiyah merapatkan jaketnya, merasa dingin menusuk tulang meski cuaca tidaklah dingin. Ia menunduk, menatap ujung sepatu yang mulai kusam. "Aku tidak tahan melihatnya seperti itu, Arnas. Aku takut kehilangan dia, tapi aku lebih takut jika dia memutuskan pergi tanpa alasan yang jelas." Kiyah memaksakan diri menatap lurus ke mata Arnas.

 

Arnas menghela napas panjang, jemarinya mengepal di saku celana. Ia tahu ini adalah masalah komunikasi yang fatal. Jika ia terus diam, Kiyah akan hancur, namun jika ia bicara, Arie mungkin akan membenci keberadaannya selamanya. Suara dentuman


jantungnya terasa nyaring di telinga, menandingi riuhnya mesin generator di belakang mereka.

 

"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang," jawab Arnas terbata-bata, suaranya hampir tak terdengar. Ia melangkah pergi, meninggalkan Kiyah yang masih terpaku di tempat yang sama. Keraguan itu mulai berubah menjadi tekad saat ia melihat air mata yang mulai mengalir di pipi Kiyah.

 

Arnas berhenti di sudut ruangan, menatap tangannya sendiri yang sedang gemetar. Ia harus melakukan sesuatu agar sahabatnya tidak kehilangan kesempatan untuk bahagia. Melihat Kiyah yang bersedih membuat hatinya menciut, memutus rantai keheningan yang menyakitkan itu sebelum semuanya terlambat.

 

Bau asap bekas pembakaran sampah dari kebun sebelah menempel di baju Arnas saat ia berdiri di depan kamar Kiyah. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang terasa lebih kencang dari biasanya. Di dalam saku celana, ujung jarinya meremas bungkusan rokok kosong. Ia tidak merokok, tapi benda itu memberinya alasan untuk tidak memasukkan tangan ke dalam saku dan terlihat gugup. Kiyah duduk di kursi plastik, matanya masih merah karena kurang tidur seminggu terakhir.

 

"Kiyah, kita harus bicara sekarang. Kalau tidak, besok lusa kalian berdua akan menyesal seumur hidup," ucap Arnas tanpa basa-basi. Suaranya sedikit serak karena debu jalanan yang ia hirup dalam perjalanan ke sini. Kiyah mendongak, menatap wajah Arnas yang tampak serius, bukan wajah santai teman yang biasa bercanda. Arnas duduk di anak tangga teras, tidak ingin terlalu dekat namun tetap ingin kontak mata terjaga.

 

Ia meraba tengkuknya yang basah oleh keringat. "Dia diam karena dia mencintaimu, Kiyah. Dan dia melihat sesuatu yang membuatnya berpikir kau sudah punya orang lain." Kiyah mengerutkan kening, bibirnya sedikit terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Arnas melanjutkan dengan nada lebih rendah, "Aku melihat sendiri dia membaca pesan di ponselmu minggu lalu. Dia pikir itu dari kekasihmu."

 

Kiyah terkejut mendengar pengakuan itu. Tubuhnya menegang, jari-jemarinya mencengkeram erat lengan kursi plastik hingga buku jarinya memutih. "Pesan apa? Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darinya selain..." Suaranya terputus saat ingatannya kembali ke beberapa minggu lalu. Ia baru menyadari bahwa puisi-puisi dari Ihsan yang memang mencintainya tapi sekarang sudah putus hubungan.


"Itu Ihsan, Arnas! Dia memang suka samaku! Dia sering kirim puisi buat tugas kuliah, minta pendapatku. Arie lihat itu dan diam saja?" Kiyah bangkit dari kursinya, langkah kakinya terburu-buru di lantai semen yang kasar. Tangannya gemetar mencari ponsel di dalam rumah yang tergeletak di atas meja makan. Asap dari dapur tetangga mulai masuk ke pekarangan, tapi mereka berdua tidak peduli dengan iritasi di mata.

 

Kiyah meminta Arnas menyampaikan pesan pada Arie bahwa ia ingin bicara. "ToLong temui dia sekarang, Arnas. Bilang aku yang minta. Aku imgin hilangkan prasangka dia tentang diriku." Suara Kiyah mulai pecah, menahan tangis yang mulai naik ke tenggorokan. Harapan mulai muncul kembali, meski tipis, di tengah luka yang sempat menganga di hati mereka masing-masing selama satu minggu terakhir.

 

Arnas melihat jam dinding di dinding ruang tamu yang catnya sudah mengelupas. Matahari mulai condong ke barat, sinarnya berubah menjadi jingga redup yang menembus dedaunan jati di depan rumah. "Aku segera pergi sekarang juga. Tapi Kiyah, lo harus siap. Dia tidak mudah diajak bicara setelah dia memutuskan untuk menjauh." Kiyah mengangguk cepat, mengusap air mata yang belum tumpah dengan punggung tangan kasar.

 

Sebelum Arnas beranjak pergi, Kiyah meraih sehelai kertas dari buku catatannya dan menuliskan satu kalimat pendek. "Berikan ini padanya jika dia tidak mau mendengar penjelasanmu." Arnas mengambil kertas itu, melipatnya rapi dan menyelipkannya di balik jam tangannya. Angin sore bertiup kencang, membawa debu tanah merah yang membuat mereka berdua harus menyipitkan mata sesaat.


 


JEMBATAN KOMUNIKASI

 

Sore di perkebunan itu memang terasa berbeda. Bukan karena angin musim hujan yang biasanya mulai masuk, tapi lebih ke suasana hening yang terasa berat di antara dedaunan sawit. Arie duduk bersandar di akar pohon besar, tanah di bawahnya masih agak lembap karena hujan semalam. Ia menyilangkan tangan, menunjukkan sikap tertutup yang tak perlu diucapkan.

 

Arnas berjalan mendekat dengan langkah hati-hati di atas tanah yang tak rata. Ia membawa dua botol air minum kemasan yang sudah tak terlalu dingin. Ia melihat punggung Arie yang kaku, seolah sedang menahan amarah yang besar. Arnas menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai pembicaraan yang mungkin saja akan berakhir dengan keributan.

 

"Arie," panggil Arnas pelan, suaranya sedikit serak karena debu perkebunan.

 

Arie tidak menoleh. Matanya terus tertuju pada barisan pohon sawit yang terjajar rapi sampai ke batas pandang. Daun-daun palm itu berdesir pelan, tapi baginya suara itu justru menambah kegaduhan pikirannya. Ia sedang memikirkan pesan-pesan di ponsel Kiyah yang sempat ia lihat tempo hari.

 

Arnas akhirnya duduk di sebelah Arie, menyisakan jarak satu meter agar tidak terlalu mendekat. Ia meletakkan satu botol air di antara mereka, sebuah isyarat damai yang biasa mereka lakukan sejak kecil. Namun, Arie tetap membisu. Hening di antara mereka menjadi sangat menyesakkan, jauh lebih buruk daripada debat sengit sekalipun.

 

"Kau masih kesal soal pesan itu, kan?" tanya Arnas langsung. Ia tidak mau berputar-putar lagi. Waktunya semakin sore dan mereka harus segera memperjelas masalah ini sebelum kecurigaan menggerogoti persahabatan mereka.

 

Arie akhirnya bergerak. Ia merapatkan jaketnya, lalu menoleh setengah badan. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena kurang tidur dan emosi yang tidak stabil. "Apa yang harus kusikapi, Arnas? Semuanya jelas di layar ponsel itu. Kiyah... dia bukan orang yang kukira selama ini."

 

Arnas menghela napas kasar. Ia membuka tutup botol air dan menyesapnya, memberi jeda sebelum menjawab. "Layar ponsel itu bohong, Arie. Kau hanya melihat potongan cerita, bukan keseluruhannya. Kau tahu Kiyah sedang dalam tekanan keluarga sekarang."

 

"Tekanan apa? Mencari pengganti di belakangku?" suara Arie meninggi sedikit, namun langsung ditelan keheningan perkebunan. "Aku melihat namanya di aplikasi pesan, Arnas.


Ada percakapan yang tidak seharusnya dia lakukan."

 

Arnas merasa dadanya sesak. Ia tahu betul apa yang dilihat Arie, tapi dia juga tahu alasan di balik itu. Kiyah memang ceroboh menyimpan ponsel, tapi niatnya tidak jahat. "Itu masalah keluarga Kiyah. Dia dipaksa tunangan oleh pamannya. Dia butuh saran, bukan dihakRina."

 

Arie mendengus pelan, pandangannya beralih ke arah posko yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka duduk. "Saran dari siapa? Dari lelaki lain? Kau melindunginya karena kau kenal dia lebih lama, tapi kau tidak melihat apa yang kurasakan sekarang."

 

Ketegangan mulai terasa di udara. Arnas mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi agar tidak meledak. Ia tidak ingin Arie melakukan hal bodoh karena salah paham ini. "Aku melindungimu dari tindakan yang kau akan sesali. Kalau kau mendatangi Kiyah dengan amarah ini, kau hanya akan menyakitinya tanpa mendengar penjelasannya."

 

Tiba-tiba, suara mesin berat terdengar dari kejauhan, salah satu ekskavator yang sedang memperbaiki saluran irigasi. Suara bising itu seperti latar belakang yang cocok dengan kondisi hati mereka yang sedang bergejolak. Arie akhirnya mengambil botol air yang ditawarkan Arnas, tangannya sedikit gemetar.

 

"Aku tidak bisa membiarkan ini terus berlarut," ucap Arie, suaranya lebih tenang namun terdengar sangat lelah. "Setiap kali aku melihat dia, aku teringat pesan itu. Rasanya seperti ada duri di tenggorokan yang tidak bisa dikeluarkan."

 

Arnas melihat keraguan di mata sahabatnya itu. Ini saat yang tepat. Jika dia tidak mengatakan kebenaran sekarang, kebencian akan tumbuh subur dan menghancurkan segalanya. Ia harus mengambil risiko untuk membuka rahasia yang selama ini dia simpan demi menjaga privasi Kiyah.

 

"Aku yang menyuruhnya berkomunikasi dengan lelaki itu," kata Arnas tiba-tiba. Kalimat itu meluncur keluar sebelum dia sempat berpikir panjang. Arie menoleh tajam, keningnya berkerut dalam.

"Apa maksudmu?" tanya Arie tidak percaya.

Arnas menatap lurus ke mata Arie. "Lelaki di ponsel itu memang suka sama Kiyah dan mau ditunangkan dengannya oleh pakciknya kiyah. Dia juga yang dRinanta pamannya untuk mengawasi Kiyah. Aku menyuruh Kiyah untuk tetap sopan dan membalas pesannya supaya pakciknya tidak curiga dan membatalkan pertunangan paksa itu. Aku yang mengatur semua kata-katanya." Dan  satu hal yang perlu kau tahu rie.... kiyah tidak mencintai lelaki itu.


Arie terdiam, Informasi itu seperti ledakan kecil di kepalanya. Selama ini dia mengira Kiyah berpura-pura, ternyata ada skenario yang jauh lebih rumit di baliknya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya. "Kenapa kau tidak bilang apa-apa sejak awal? Kenapa harus kuselidiki sendiri sampai aku hampir memutuskan hubungan?"

 

"Karena Kiyah memintaku untuk diam. Dia malu, Arie. Dia merasa tidak layak untukmu jika keluarganya terlibat masalah seperti ini," jelas Arnas. "Tapi sekarang, diam sudah tidak memungkinkan lagi. Kebencian di matamu semakin dalam dan aku tidak tahan melihat kalian berdua menderita karena kesalahpahaman ini."

 

Angin malam mulai bertiup lebih kencang, menerpa wajah mereka berdua. Arie menunduk, menatap tanah. Dia merasa bodoh karena telah membiarkan egonya menguasai akal sehat. Namun, rasa sakit hati itu tidak langsung hilang begitu saja hanya dengan penjelasan Arnas.

 

"Aku harus bicara dengannya," bisik Arie. "Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana setelah semua yang telah kupikirkan tentang dia."

 

Arnas menepuk bahu Arie, kali ini dengan sentuhan yang lebih kuat dan meyakinkan. "Kita akan bicara bersama dia nanti. Tapi sekarang, kau harus tenang. Jangan biarkan amarah ini menghalangi kebenaran yang sesungguhnya.

 

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Arie. Ia menatap lurus ke arah lantai, berusaha mencerna setiap kata yang baru saja tadi diucapkan oleh Arnas. Suara bising dari jalanan di luar posko seolah tiba-tiba memudar, tertelan oleh detak jantungnya yang sangat kencang. Ia menghela napas panjang, namun dadanya terasa sesak sekali.

 

"Kau yakin?" tanya Arie dengan suara parau. Keraguan masih menyelimuti benaknya, meski rasa lega perlahan mulai merayap masuk. Arnas mengangguk cepat sambil menyeruput minuman kaleng di meja. "Yakin, Rie." jawab Arnas santai.

 

Arie menundukkan kepala, menatap lantai ubin yang retak di sudut. Malu bercampur jijik menyergap perasaannya. Selama seminggu penuh, ia justru membuang waktu berharga untuk marah dan mendiamkan Kiyah tanpa alasan yang jelas. Ia bahkan sempat memutuskan hubungan hanya karena buku kumpulan puisi itu.

 

Rasa bersalah kini menghantui pikirannya. Betapa mudahnya ia menyerah pada ego dan rasa cemburu yang semu. Kiyah pasti merasa bingung dan terluka oleh sikap dinginnya


belakangan ini. Ia mengepalkan tangan di atas meja, bertekad untuk segera memperbaiki kesalahan besar tersebut.

 

Tanpa menunggu lama, Arie melangkah keluar dari kamar posko. Udara malam yang cukup dingin langsung menyambut tubuhnya, namun ia tak peduli sama sekali. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini adalah wajah Kiyah yang harus segera ia temui dan minta maaf.

 

Ia berjalan dengan langkah cepat menyusuri gang sempit yang sepi. Beberapa anjing kampung saling menyalak di kejauhan, namun hal itu tak mampu mengalihkan fokusnya. Arie ingin sekali berlari kencang, namun jalanan yang cukup gelap dan berbatu membuatnya harus tetap waspada agar tidak tersandung.

 

Setelah menempuh perjalanan singkat, posko wanita dimana Kiyah tinggak bersama anaj KKN lain akhirnya terlihat di ujung jalan. Pagar rumah kayu yang sedikit lapuk itu tampak kokoh dalam kegelapan. Ada sebuah lampu teras yang menyala redup, menciptakan siluet bayangan di dinding. Arie berhenti sejenak tepat di depan gerbang besi yang tertutup.

 

Jantungnya kembali berdebar kencang, namun kali ini karena rasa rindu yang sangat mendalam dan juga gugup. Berbagai skenario tentang bagaimana reaksi Kiyah nanti mulai bermunculan di kepalanya. Namun, ia tahu bahwa ia tidak boleh mundur lagi. Ia harus mengambil langkah pertama ini sekarang juga.

 

Kepalan tangan Arie menggantung di udara, tepat beberapa sentimeter dari daun pintu kayu yang sudah mulai mengelupas catnya. Suara denting jam dinding di ruang tengah terdengar sangat keras, seolah mengejar detak jantungnya yang tidak menentu. Ia menarik napas panjang, menahan rasa perih di ulu hati sejak sore tadi, lalu mengetuk pintu itu tiga kali dengan ritme yang ragu.

 

Langkah kaki berat terdengar dari balik pintu sebelum gagangnya diputar perlahan. Kiyah muncul dengan jilbab yang gak karuan menutupi sebagian wajahnya. Matanya sembab dan merah, tanda ia baru saja menangis cukup lama di depan cermin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kiyah menunduk dan mulai berjalan menuju tangga belakang yang gelap, menghindari kontak mata dengan Arie.

 

"Kau marah padaku, kan?" tanya Arie pelan, mengejar langkah Kiyah yang sudah memasuki teras belakang yang sepi. Hanya suara jangkrik malam dan deru kendaraan jauh di jalan raya yang memecah kesunyian. Angin malam membawa dingin yang


membuat Kiyah memeluk tubuhnya sendiri, menahan rasa dingin yang sebenarnya bersumber dari dalam diri.

 

Arie berhenti tepat di belakang Kiyah, melihat punggung gadis itu yang sedikit bergetar. "Maafkan aku, Kiyah. Aku sudah kekanak-kanakan. Aku terlalu cepat berprasangka buruk soal itu," sesal Arie, suaranya sedikit serak karena menahan emosi. Ia ingin menyentuh bahu Kiyah, tapi tangannya kembali dirapatkan di depan dada, takut jika sentuhannya justru akan membuat Kiyah menjauh lagi.

 

Kiyah masih menunduk, jari-jari tangannya meremas ujung baju kaos yang ia kenakan hingga kusut. "Aku pikir lo membenciku, Rie. Caramu menatap aku tadi pagi... rasanya seperti aku orang asing yang menyusahkan hidupmu," bisiknya lirih, suaranya hampir tertelan oleh embusan angin. Setitik air mata kembali jatuh dari keLopak matanya, jatuh ke tanah yang kering di depan kakinya.

 

Arie melangkah maju, memutar tubuh Kiyah agar menghadapnya, meskipun gadis itu tetap menundukkan kepala. "Tidak pernah, Kiyah. Aku hanya bingung dan merasa gagal karena tidak bisa menjaga rahasia kecil kita. Tapi itu tidak berarti aku membenci keberadaanmu di sini," jawab Arie, mencoba menyakinkan diri sendiri selain Kiyah. Ia melihat bagaimana dagu Kiyah mulai bergetar menahan tangis yang kedua.

 

Di bawah cahaya bulan yang remang-remang dan tersaring oleh dedaunan pohon jati di halaman, ketegangan yang membayangi mereka selama seminggu perlahan menguap. Arie menghela napas lega saat Kiyah akhirnya mengangkat wajah, menunjukkan senyum tipis yang pahit namun tulus. Kebekuan itu mencair, digantikan oleh rasa rindu yang mendalam dan kelelahan setelah membawa beban prasangka sepanjang hari.

 

Mereka akhirnya duduk berdampingan di anak tangga teras yang dingin. Arie merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil yang rusak."Aku menemukan ini di saku jaketmu. Maaf sudah membongkar tanpa izin. Aku berjanji mulai sekarang kita tidak akan lagi menyimpan rahasia atau berprasangka buruk tanpa bertanya terlebih dahulu," kata Arie, menyerahkan gantungan kunci itu kembali ke tangan Kiyah.

 

Kiyah menerima benda itu dengan hati-hati, mengusap permukaannya yang tergores. "Terima kasih sudah jujur. Aku juga minta maaf sudah terlalu sensitif. Mari kita akhiri malam ini dengan damai dan kembali ke posko sebelum kawan-kawan yang lain mencarimu," ujar Kiyah. Suara tawa kecil mereka akhirnya pecah di kegelapan, menandakan bahwa badai kecil di antara mereka telah benar-benar berlalu untuk sementara waktu.


Arie menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang agak goyah. Diskusi untuk kegiatan penutupan KKN sudah berjalan selama satu jam. Di atas meja berdebu itu, tumpukan kertas berisi draf acara berserakan. Dia merasa lega karena hari-hari tegang selama ini mulai mencair. Kehadiran Kiyah di sebelahnya membuat pikirannya tenang. Gadis itu sesekali mencatat di buku kecilnya sambil mengangguk setuju pada usulan teman lain.

 

Tiba-tiba, Arnas meletakkan gelas plastik berisi kopi di atas meja dengan bunyi gedebuk yang cukup keras. Cairan cokelat itu sedikit tumpah mengenai draf acara di depan Arie. Ucapannya terdengar datar, tapi matanya menatap tajam ke arah Arie. "Arie, lo yakin pengumuman ini harus disebar malam ini? Laptop-mu kan sempat rusak kemarin. Apa datanya sudah benar-benar aman?"

 

Arie mengernyit. Dia merasa pertanyaan Arnas terdengar seperti tuduhan terselubung. "Sudah kuperbaiki, Arnas. Semuanya aman. Aku sudah cek berkali-kali," jawab Arie sambil mengusap tumpahan kopi dengan tisu. Dia mencoba menjaga nada suaranya agar tidak memicu keributan baru di tengah suasana yang baru saja membaik.

 

Kiyah meletakkan pulpennya perlahan. Dia meliak ke arah Arie, lalu beralih menatap Arnas yang sedang bersandar di kusen jendela. "Ada masalah apa dengan data itu? Arie kan sudah bekerja keras menyusunnya sampai larut malam," kata Kiyah. Nadanya tenang, tapi ada penekanan kata yang seolah membela Arie di depan semua orang.

 

Arnas mendengus pelan. Dia melangkah maju dan membuka sebuah file di ponselnya, lalu meletakkannya di tengah meja. "Masalahnya bukan di susunannya, Kiyah. Tapi di keamanannya. Coba lihat ini. Tadi pagi, ada yang kirim tangkapan layar dari grup luar.

Isinya persis sama dengan format acara kita yang belum dirilis ini."

 

Udara di ruangan itu langsung terasa panas. Ipung yang dari tadi diam di sudut, mendekat untuk melihat layar ponsel Arnas. Dia melihat daftar acara yang identik, lengkap dengan kesalahan pengetikan yang hanya ada di draf internal mereka. "Ini... ini beneran bocor?" tanya Ipung pelan, hampir tak percaya.

 

Arie merasakan detak jantungnya meningkat. Dia menatap tajam pada layar ponsel Arnas, lalu beralih ke arah tas laptopnya yang tergeletak di bawah meja. "Itu tidak mungkin.

Laptopku memang sempat diperbaiki kemarin, tapi teknisinya terpercaya. Aku kenal dia." Arie mencoba mempertahankan Logikanya, tapi keraguan mulai merayap di kepalanya.

 

Kiyah menggeleng perlahan. Dia melihat ke arah Arie dengan sorot mata yang mulai


berubah, bukan lagi tajam membela, tapi penuh kekecewaan yang dalam. "Arie, kalau benar ada yang bocor, berarti ada yang salah dengan cara kita menyimpan data. Aku ingat lo sempat pinjam flash disk Ipung kemarin untuk mencetak banner, kan?"

 

Arie menoleh ke arah Ipung. Teman itu terlihat menunduk, menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. Ipung tidak mengelak, tapi dia juga tidak memberikan penjelasan.

Keheningan Ipung terasa lebih berisik daripada debat kusir tadi. Arie merasa jebakan baru saja terbuka di depan kakinya sendiri.

 

Dia menghela napas panjang dan menatap ke luar jendela. Malam sudah mulai larut, tapi Arie tidak peduli. Dia harus segera memeriksa kembali perangkatnya sekarang juga. Ada sesuatu yang harus diklarifikasi sebelum kepercayaan Kiyah benar-benar hilang karena masalah manipulasi data ini. Dia harus bertindak cepat sebelum semuanya runtuh.

 

Lampu penerangan di teras utama posko KKN hanya menyisakan satu yang berfungsi penuh, sementara tiga lainnya berkedip enggan memerangi kegelapan malam. Udara dingin dataran tinggi mulai merayap, membawa serta aroma basah dari rerumputan yang baru disiram hujan sore tadi. Suasana di sekitar mereka terasa hening, hanya diselingi oleh suara gesekan daun rambutan yang saling beradu diiringi embusan angin malam.

 

Arie berdiri menyandarkan bahu di tiang kayu yang sudah mulai lapuk, jemarinya sibuk memainkan ritsleting jaket yang mulai aus di bagian ujungnya. Ia menatap punggung Kiyah yang sedang membereskan dokumen di atas meja kayu, memastikan setiap lembar surat tersusun rapi di dalam map berwarna cokelat. Tangannya bergerak perlahan, seolah membiarkan waktu berjalan lebih lambat agar momen kebersamaan ini tidak segera berakhir.

 

Kiyah menutup map tersebut dengan suara klik kecil, lalu membalikkan tubuhnya menghadap arah Arie dengan membawa dua cangkir berisi air putih hangat. Uap tipis masih mengepul dari permukaan gelas itu, membelah pandangan antara mereka berdua. Ia menyerahkan satu cangkir kepada Arie, jari mereka nyaris bersentuhan, namun keduanya memilih membiarkan jarak itu tetap ada.

 

"Lo kelihatan sangat tenang malam ini," ucap Kiyah sambil menghembuskan napas perlahan, menatap langsung ke arah mata Arie yang tampak berkaca-kaca karena pantulan lampu penerangan. "Padahal kemarin lo masih gelisah memikirkan laporan akhir kita." Ia menyesap air hangatnya, menunggu jawaban yang keluar dari lubuk hati lelaki di depannya itu.


Arie menerima cangkir itu dan meletakkannya di atas meja kosong di sampingnya, ia melangkah selangkah lebih dekat mendekati Kiyah. "Laporan bisa diselesaikan nanti, tapi ada hal lain yang sudah terlalu lama mengendap di pikiranku," jawab Arie dengan suara bergetar pelan, berusaha mengumpulkan keberanian yang selama ini terpendam dalam diam.

 

Ia menunduk sejenak, menatap lantai tanah yang tidak rata di antara mereka, lalu menghela napas panjang yang terasa berat di dadanya. Arie mengangkat wajahnya kembali, menatap langsung ke dalam mata Kiyah yang tampak teduh dan menenangkan di tengah kegelisahan yang mulai mengganas dalam batinnya. "Besok, sebelum kita kembali ke rutinitas masing-masing, aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat."

 

Kiyah mengerutkan keningnya sedikit, bibirnya membentuk senyum kecil yang tidak bisa disembunyikan. "Ke mana? Apa kita harus membawa peta atau perbekalan tambahan lagi?" tanyanya setengah bercanda, mencoba mencairkan ketegangan yang tiba-tiba menyelimuti ruang terbuka di depan posko tersebut. Ia merapatkan jaketnya, merasa angin malam mulai semakin kencang bertiup.

 

"Tidak perlu persiapan ribet," bisik Arie mendekat, suaranya hampir tertelan oleh suara dedaunan yang tertiup angin. "Aku sudah menyiapkan semuanya. Hanya kita berdua, ke tempat yang tenang di perbatasan kampung sebelah. Aku ingin menjadikan hari esok sebagai momen paling bersejarah dalam hidupku, dan aku ingin lo berada di sana."

 

Kiyah menatap wajah Arie yang serius, melihat kerut halus di kening lelaki itu yang menandakan betapa beratnya beban pikiran yang selama ini ia pendam. Tidak ada keraguan sedikit pun di mata Kiyah saat ia mengangguk mantap, seolah ia sudah menunggu momen ini sejak pertama kali mereka bertemu di perpustakaan kampus. "Tentu, aku akan ikut. Aku tidak akan melewatkan apa pun jika itu berasal dari dirimu."

 

Arie merasakan beban di bahunya perlahan memudar, seolah batu besar yang selama berbulan-bulan menekan dadanya akhirnya terangkat. Ia menarik napas lega, merasakan udara malam yang tadinya terasa sesak kini menjadi segar dan penuh harapan. "Terima kasih, Kiyah. Lo adalah jawaban dari segala pencarianku selama ini, dan aku berjanji tidak akan membiarkan permata itu lepas lagi dari genggamanku."

 

Malam semakin larut, suara burung hantu mulai terdengar dari balik pepohonan lebat di sekitar posko. Arie dan Kiyah tetap berdiri di sana, membicarakan hal-hal kecil tentang masa depan yang tiba-tiba tampak lebih jelas dan lebih terang dari sebelumnya. Mereka tidak lagi merasa takut akan hari esok, karena mereka tahu mereka akan menghadapinya


bersama.

 

Kiyah berpaling ke arah kamar mandi umum yang letaknya agak jauh di belakang posko, "Aku akan ke sana sebentar, menyiapkan diri untuk istirahat." Ia melangkah pergi, namun sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, ia menoleh kembali dan memberikan senyum yang membuat dada Arie berdebar kencang. "Jangan lupa bangunkan aku sebelum fajar, ya. Aku ingin melihat matahari terbit bersamamu."

 

Arie hanya bisa mengangguk kaku, matanya terpaku pada sosok Kiyah yang semakin memudar di kegelapan malam. Ia meraba saku celananya, memastikan sebuah kotak kecil yang disembunyikannya masih ada di sana. Benda itu terasa berat, bukan karena fisiknya, melainkan karena arti yang dibawanya bagi masa depan hubungan mereka berdua.

 

Ia berjalan menuju beranda kamarnya, melihat ke arah langit yang mulai dihiasi oleh bintang-bintang yang jarang terlihat di kota besar. Keraguan yang selama ini menghantuinya mulai memudar, digantikan oleh keyakinan yang teguh bahwa besok adalah hari yang akan mengubah segalanya. Ia tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja tanpa sebuah kepastian.

 

Di dalam kamar yang pengap dan hanya diterangi oleh lampu minyak tanah, Arie duduk di tepi kasurnya yang keras. Ia membuka kotak kecil itu, melihat sepasang cincin sederhana yang sudah ia beli dengan menabung uang saku selama tiga bulan terakhir. Logam itu berkilau redup, memantulkan tekad yang sudah bulat di dalam hatinya.

 

Ia menutup kotak itu kembali dengan hati-hati, lalu berbaring di atas kasur dan menatap langit-langit kamar yang mulai retak. Bayangan wajah Kiyah terus menghantui pikirannya, membayangkan bagaimana reaksi perempuan itu saat ia melafalkan kalimat yang sudah beribu kali ia hafalkan. Tidurnya malam itu sangat gelisah, namun penuh dengan senyum yang mengembang.

 

Sementara itu, di kamar sebelah, Kiyah duduk di depan jendela kecil yang menghadap ke halaman kosong. Ia menatap bulan purnama yang bulat sempurna, merasakan getaran di dalam dadanya yang tidak bisa ia jelaskan secara Logika. Sesuatu tentang cara Arie memandangnya malam itu terasa berbeda, lebih dalam dan lebih membara dari biasanya.

 

Ia menarik selimut tipis menutupi kakinya yang mulai terasa dingin, memejamkan mata dan membiarkan angan tentang masa depan bersama Arie membawanya ke alam mimpi yang indah. Ada perasaan damai yang menyelimutinya, seolah semua potongan teka-teki dalam hidupnya akhirnya menemukan bentuk yang tepat di samping lelaki itu.


Esok hari, semuanya pasti akan berubah. Angin malam bertiup lebih kencang, membawa serta debu-debu halus yang menari di depan jendela, namun di dalam hati mereka berdua, hanya ada satu keyakinan yang sama: bahwa besok adalah awal dari babak baru yang tidak akan pernah mereka sesali.

 

Cahaya lampu penerangan di kamar kos yang sempit itu hampir mati sepenuhnya, menyisakan pendar redup dari bohlam yang sudah berumur. Udara malam terasa lembap, tetapi Arnas dan Arie masih terjaga di atas kasur tipis mereka. Suara deru kendaraan dari jalan raya di kejauhan hanya menjadi latar yang membosankan bagi keheningan ruangan.

 

Arnas merentangkan tangan kanannya ke atas, mengarahkan ibu jempol ke arah Arie yang sedang merapikan selimutnya. Gerakan tangan itu terlihat kaku namun penuh makna di tengah kegelapan. Ia menarik napas melalui sela gigi, mencoba merapikan baris kalimat yang akan keluar agar tidak terdengar terlalu berat.

 

"Jangan gagal lagi, kawan," bisik Arnas. Suaranya serak dan parau, sengaja ditahan agar tidak mengganggu tetangga kamar sebelah yang sudah tidur pulas. Matanya menatap tajam ke arah Arie, mengamati setiap kerutan di dahi sahabatnya itu, memastikan pesan tersebut benar-benar masuk.

 

Arie menghentikan gerakannya merapikan bantal. Ia mendongak, menatap sosok Arnas yang berbaring di ranjang sebelah. Bibirnya mengerucut sejenak, menahan sebuah tawa kecil yang muncul dari rasa geli dan haru bercampur menjadi satu. Ada beban yang terangkat dari pundaknya, menggantikannya dengan rasa percaya diri yang membuncah.

 

Ia merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Arnas yang selalu mendukungnya, bahkan di saat dia sendiri hampir menyerah pada keputusasaan. Setiap lelah yang dirasakannya selama ini seolah terbayar lunas oleh satu kali jempol tadi. Pikirannya mulai melayang, mencoba memilah ribuan kata yang berputar di dalam kepala.

 

Arie memejamkan mata sejenak, mencoba memikirkan kata-kata yang pas untuk diucapkan besok. Ia tidak ingin terbata-bata seperti pertemuan mereka yang pertama di aula kampus. Semua puisi yang pernah ia tulis di atas kertas bergaris, yang biasanya teronggok di laci meja, seolah menari-nari di kepalanya, menanti untuk dibacakan.

 

Matanya terbuka kembali, menatap noda di langit-langit kamar yang gelap. Sesuatu yang berat mulai mengganjal di tenggorokannya, sebuah rasa takut yang sudah lama bersarang. Ia teringat akan masa lalu yang kelam, hari-hari ketika ia berpikir cinta hanyalah ilusi


belaka dan semua usahanya akan berakhir dengan kehancuran.

 

Namun, bayangan wajah Kiyah tiba-tiba muncul di dalam bayang-bayang kamarnya. Senyum gadis itu terasa begitu nyata, seolah bisa membersihkan debu-debu luka yang masih menempel di jiwanya. Kepahitan masa lalu yang pernah menghancurkan hatinya sebelum ia bertemu dengan gadis itu di aula IAIN perlahan memudar, tergantikan oleh cahaya harapan.

 

Tanpa sadar, napas Arie mulai melambat dan ritme detak jantungnya melunak. Ia membiarkan dirinya terbawa dalam lamunan indah tentang masa depan bersama Kiyah, membayangkan sebuah rumah kecil dengan taman yang tertata rapi. Malam itu, tidur Arie sangat nyenyak, tanpa mimpi buruk yang biasanya datang menghantui.

 

Di balik keLopak matanya yang mulai terkulai, ia mulai merencanakan langkah besok dengan lebih matang. Ada sebuah benda kecil yang terselip di dalam saku celananya, tersembunyi di balik tumpukan pakaian kotor di sudut kamar. Benda itu harus diberikan di waktu yang tepat, sebuah kejutan yang mungkin akan mengubah segalanya.

 

Matahari mulai menyingsing di ufuk timur, membawa harapan baru bagi orang-orang yang masih punya semangat untuk bertahan. Di dalam kamar yang mulai diterpa cahaya keemasan itu, Arie tersentak bangun, menyadari hari yang dinanti akhirnya tiba. Tanpa membuang waktu, ia segera bersiap, memastikan setiap detail penampilannya sempurna demi Kiyah.

 

Udara pagi terasa sejuk menembus sela-sela tirai kamar kos yang belum sepenuhnya disingkap. Arie sudah berdiri di depan wastafel sejak fajar, menyiramkan air dingin ke wajahnya berkali-kali agar benar-benar terbangun. Hari ini terasa berbeda. Ada degup yang tidak biasa di telinganya, seolah hari ini menuntut persiapan yang jauh lebih matang daripada sekadar mandi dan menyikat gigi.

 

Dia berjalan menuju halaman depan di mana motornya terparkir. Embun pagi masih mengelupak di atas bodi cat merah itu. Arie mencarikannya kain lap yang bersih, lalu mulai mengelap setiap sudut dengan gerakan memutar yang teliti. Tangannya bergerak hati-hati, memastikan tidak ada setitik kotoran pun yang tersisa, seolah dia sedang merawat mahkota raja, bukan sekadar kendaraan roda dua.

 

Setelah motor mengilap tertimpa sinar matahari, Arie kembali ke kamar. Dia membuka lemari yang isinya hampir seragam--semua berwarna gelap dan kasual. Jari-jarinya


menyentuh kain jaket denim kesukaannya. Jaket itu masih bersih, tapi dia tetap menyemprotkannya dengan sedikit pewangi pakaian. Dia ingin terlihat rapi, tapi tetap terasa diri sendiri, bukan seperti orang yang berpura-pura menjadi orang lain.

 

Saat mengenakan jaket, dia merasa ada sesuatu yang kurang. Arie meraba saku kiri, lalu saku kanan. Dia mengeluarkan isinya: sebuah helm pelindung, sebuah kotak obat kecil, dan uang kembalian receh. Dia mengeluarkan semuanya, mengatur ulang, lalu memasukkannya kembali dengan urutan yang lebih rapi. Dia ingin memastikan tidak ada barang yang berbunyi-bunyi saat dia berjalan nanti.

 

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah. Arie menoleh ke arah cermin, meluruskan kerah jaketnya dengan gugup. Dia melihat siluet Kiyah di ambang pintu. Gadis itu mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan gamis ala arabi sederhana, bukan dengan aksesori mewah, tapi justru kesederhanaan itulah yang membuat Arie menahan napas sesaat.

 

Kiyah tersenyum kecil saat melihat Arie yang sudah siap. "Lo kelihatan sangat rapi pagi ini," ucapnya pelan, suaranya sedikit parau karena baru bangun. Arie hanya bisa mengangguk kaku, tangannya tersembunyi di saku celana, meremas kain dalamnya. Dia ingin menjawab sesuatu yang pintar, tapi yang keluar hanya sebuah senyum bodoh yang dia coba tahan di sudut bibir.

 

Mereka berjalan keluar dari  posko menuju halaman. Beberapa teman KKN yang sudah bangun terlihat duduk di beranda. Saat melihat pasangan itu berjalan berdampingan menuju motor, salah satu dari mereka bersiul nyaring. "Wah, jangan lama-lama pulang ya! Bawa oleh-oleh bakso yang banyak!" teriak seseorang dari dalam rumah. Arie menunduk malu, tapi dia bisa merasakan tangan Kiyah menyentuh lengannya sebentar, seolah mengatakan bahwa semua ini wajar.

 

Arie menarik kunci kontak dari saku jaketnya. Getaran mesin motor saat dinyalakan terasa familiar, tapi detak jantungnya saat ini jauh lebih keras dari suara knalpot. Dia menoleh ke arah Kiyah yang sudah memakai helm pelindung di belakangnya. "Siap?" tanya Arie, suaranya sedikit bergetar. Kiyah mengangguk, tangannya melingkar di pinggang Arie dengan pelan, dan mereka pun mulai meluncur meninggalkan keriuhan teman-teman.


 


PUNCAK PENGAKUAN

 

Perjalanan menuju perbatasan kampung terasa sangat singkat bagi Arie. Angin

sepoi-sepoi membawa aroma tanah perkebunan yang khas, menemani deru motor yang melaju stabil di atas aspal yang mulai retak di sisi-sisinya. Pohon-pohon karet yang tinggi berdiri diam di kiri dan kanan jalan, seolah sengaja memagari mereka dari dunia luar yang penuh dengan tugas-tugas organisasi yang melelahkan. Arie mencoba bernapas mengikuti irama mesin, menahan gumpalan kata-kata yang sejak tadi mengganjal di tenggorokannya.

 

Kiyah duduk di belakang dengan tenang, tangannya melingkar di pinggang Arie namun tidak terlalu erat, memberi jarak yang cukup untuk udara tetap beredar di antara mereka. Sesekali ia membisikkan komentar tentang pemandangan kebun sawit yang membosankan, daun-daunnya yang hijau tua terlihat sama sejak kiLometer pertama, namun hari ini semua terasa istimewa. Ada kegembiraan kecil yang sulit ia sembunyikan, terutama ketika melihat punggung Arie yang sedikit membungkuk menahan angin.

 

"Lo yakin mau makan bakso di sana? Tempatnya jauh banget, Arie," tanya Kiyah, suaranya hampir tertelan suara knalpot motor.

 

Arie tidak menoleh, hanya mengangguk kecil sambil fokus menatap jalan yang mulai menanjak pelan. "Lagian lo yang bilang bosan makan di posko terus. Ini mumpung hari libur, kita cari yang original dikit."

 

Kiyah terkekeh pendek, bahunya sedikit menyentuh punggung Arie. "Bukan libur kalau masih bawa-bawa laptop dan proposal acara sampai malam."

 

"Nanti urusan proposal kita lupakan dulu. Yang penting sekarang perut kenyang," jawab Arie cepat. Ia mengerem pelan saat sebuah angkot tua melintas di depan mereka, mengeluarkan asap hitam pekat. Bau bensin angkot itu langsung bercampur dengan aroma tanah basah, menciptakan kontras yang aneh tapi akrab bagi penduduk pinggiran.

 

Beberapa menit kemudian, pemandangan mulai berubah. Rumah-rumah penduduk yang tadinya rapat mulai jarang, digantikan oleh lapak-lapak kayu kecil yang sepi. Arie melirik ke kaca spion, melihat wajah Kiyah yang mulai cerah. Gadis itu sedang sibuk merapikan jilbabnya yang agak rusuh tertiup angin, jarinya terampil menyematkan peniti dengan cepat tanpa meminta motor berhenti.

 

"Lo gak mau aku berhenti dulu biar lo beresin jilbab?" tanya Arie, suaranya sedikit parau karena angin.

 

"Nggak usah, nanti sampai aja. Lagian ini udah mau sampai kan?" Kiyah menunjuk ke arah


depan, di mana sebuah papan nama catur dari kayu mulai terlihat mencuat di balik pepohonan. Tulisan 'Bakso Urat Pak Slamet' terbaca agak miring, cat merahnya sudah mengelupas dimakan cuaca.

 

Arie mengangguk, tapi dalam hatinya ada rasa cemas yang mulai menggelitik. Ia tidak hanya membawa Kiyah untuk makan bakso. Ada undangan rapat dadakan malam ini yang sebenarnya ingin ia sampaikan, tapi ia takut momentumnya rusak. Ia ingin sekadar berdua, tanpa gangguan radio komunikasi atau pesan singkat dari koordinator lapangan.

 

"Arie," panggil Kiyah tiba-tiba, nadanya berubah sedikit lebih serius. "Ya?"

"Makasih ya sudah diajak jalan. Aku butuh banget suasana kayak gini. Di posko kemarin, aku hampir stres urus data peserta." Kiyah menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan kelegaan yang nyata saat motor mereka memasuki area parkir tanah yang agak berdebu di depan kedai.

 

Kedai itu tampak lebih ramai dari perkiraan Arie. Asap putih mengepul tebal dari panci raksasa di pojok warung, membawa aroma bawang putih dan kemiri yang sanggup membuat perut siapa saja langsung keroncongan. Meja-meja plastik berjejer rapi, sebagian besar sudah diduduki oleh warga Lokal yang tampak akrab satu sama lain.

 

Arie mematikan mesin motor dan menurunkan standar tengah. Suara deru mesin yang tadinya memekakkan telinga berhenti seketika, digantikan oleh suara obrolan warga dan denting sendok beradu mangkuk. Kedamaian pura-pura ini adalah yang ia cari. Ia menoleh ke belakang, melihat Kiyah sudah turun lebih dulu dan sedang menepuk-nepuk debu di rok panjangnya.

 

"Bagus kan di sini? Tempatnya sepi, jauh dari gangguan posko," kata Arie sambil meletakkan helm di jok motor. Ia berusaha terdengar santai, padahal telapak tangannya sedikit berkeringat.

 

Kiyah mengangguk antusias, matanya menyapu seluruh area kedai. "Ini pas banget. Aku pesan yang pedas ya, Arie. Jangan lupa minta tambah kuah."

 

Mereka berjalan berdampingan menuju bangku kosong di sudut paling ujung, dekat jendela yang terbuka lebar. Dari sini, mereka bisa melihat jalan raya yang sepi, namun tetap merasa terlindungi oleh dinding kayu kedai yang berwarna kusam. Arie menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang mulai berlari kencang.


Ia harus mengatakan sesuatu. Tentang rapat malam ini, atau mungkin tentang perasaannya yang sudah terlalu lama ia pendam sejak masa orientasi kemah kemarin. Namun saat ia melihat Kiyah yang sedang sibuk membaca menu tempel di dinding, ia memutuskan untuk menunda semuanya. Malam masih panjang, dan bakso di depan mereka masih mengepulkan asap hangat.

 

"Duduk sini aja, Ki. Posisinya enak, bisa lihat pemandangan tapi nggak ketiban matahari langsung," ajak Arie sambil menepuk kursi plastik di hadapannya.

 

Kiyah tersenyum dan duduk dengan patuh. Ada keheningan sesaat antara mereka, bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang penuh dengan harapan. Arie tahu, setelah mereka selesai makan, ia harus mengajak Kiyah masuk ke percakapan yang lebih dalam. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati detik-detik sebelum badai tugas itu datang menyapa.

 

Ia menatap ke arah parkiran, memastikan tidak ada kendaraan dinas atau anggota tim lain yang menyusul. Untungnya, hanya motor tua warga sekitar yang terparkir di sana. Ini adalah dunianya sendiri, sebuah gelembung kecil di perbatasan kampung yang tidak akan ia biarkan pecah oleh rutinitas organisasi. Arie akhirnya mengajak Kiyah masuk lebih jauh ke dalam ruangan, mencari tempat duduk yang paling strategis untuk memulai obrolan mereka.

 

Kedai bakso itu sepi, hanya ada satu pelanggan lewat yang sedang menyeruput kuah panas. Arie berjalan sedikit membungkuk di bawah lampu neon yang berkedip pelan, mencari meja yang paling jauh dari keramaian jalanan. Ia menarik kursi Logam yang berderit untuk Kiyah, lalu duduk menyilang tangan di atas meja yang masih lengket bekas sisa sambal. Udara malam cukup dingin, tapi punggung kemeja Arie sudah mulai lembap oleh keringat gugup yang tak tertahankan.

 

"Kok sepi banget, ya?" tanya Kiyah sambil meletakkan tas kanvasnya di lantai. Ia melihat ke arah persawangan yang gelap, di mana gemerlap lampu-lampu rumah penduduk terlihat samar di kejauhan. "Enak juga sih kalau makan tidak berisik begini."

 

Arie mengangguk cepat, matanya menatap tajam ke arah piring kosong di antara mereka. Ia mencoba bernapas pelan, tapi dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang ingin sekali meLompat keluar dari tenggorokannya. Ia menepuk-nepuk jari di atas meja, mengatur ritme agar tidak terlihat terlalu tegang di depan Kiyah.

 

Pelayan datang membawa dua mangkuk besar beruap. Kuah berlemak mengapung di atas


bakso yang bulat sempurna, namun Arie hanya menatapnya tanpa selera. Ia menyendokkan kuah itu ke mulut, mencoba menelan ludah yang tiba-tiba mengental. Setiap kali ia menoleh ke arah Kiyah, ia merasa seolah-olah ada dinding kaca tebal yang memisahkan mereka berdua.

 

"Rie, lo nggak mau nambah es teh?" tanya Kiyah, menyadari gelas Arie sudah kosong sejak lima menit lalu. Ia menyipitkan mata, melihat ada sesuatu yang aneh pada rahang Arie yang mengeras. Biasanya Arie akan langsung memesan dua gelas sekaligus dan bercanda soal kantuk setelah minum teh manis.

 

Arie menggeleng pelan, jarinya mengusap layar ponsel yang tidak pernah dilihatnya sejak tadi. Di dalam saku celananya, sebuah notifikasi pesan masuk bergetar, namun ia mengabaikannya dengan paksa. Ia tahu jika ia membuka ponsel sekarang, wajahnya akan berubah pucat dan rahasia yang ia simpan sejak siang tadi akan terbongkar sebelum waktunya.

 

"Sebenarnya..." Arie mulai bicara, suaranya sedikit serak. Ia berdehem, memaksakan senyum yang terasa kaku di wajahnya. "Aku cuma lagi mikir, apakah kita benar-benar sudah siap buat selesai KKN minggu depan? Kayaknya banyak banget yang harus diberesin, Yah."

 

Kiyah meletakkan sendoknya dengan pelan. Ia menatap mata Arie yang tampak gelisah menatap ke arah beranda kedai. Ada kecurigaan kecil yang mulai tumbuh di benaknya, sebuah firasat bahwa pria di depannya sedang menyembunyikan sesuatu yang berat.

Namun melihat tangan Arie yang sedikit gemetar memegang gelas, Kiyah memilih untuk tidak menekannya lebih jauh.

 

Makan malam itu berlalu dengan santai, namun ada ketegangan manis yang mengudara. Saat piring bersih dan es teh habis, Arie akhirnya merasa saat yang tepat telah tiba.

 

Uap nasi bakso masih mengepul di antara mereka, tapi mangkuk di meja itu sudah kosong. Arie meletakkan sendok plastiknya tepat di tepi meja. Suara bising dari jalanan di luar kedai seolah tertahan, membentuk gelembung hening di sekitar meja mereka. Ia menarik napas panjang, menahan detak jantung yang terasa semakin kencang. Tanpa ragu lagi, tangannya merangkak di atas meja dan menggenggam tangan Kiyah yang dingin.

 

Kiyah menatap Arie tanpa berkedip. Arie memandang lurus ke dalam bola mata


kekasihnya, mengumpulkan segala keberanian yang tersisa. "Kiyah, aku ingin mengatakan sesuatu yang sudah lama kupendam," ucapnya. Suaranya agak bergetar, tertelan oleh kebisingan knalpot motor yang melaju kencang di jalan raya.

 

Kiyah terdiam, jemarinya sedikit mengendur di dalam genggaman Arie. Gadis itu menatap Arie dengan mata yang mulai berkaca-kaca, memancing Arie untuk bicara lebih jauh. Arie menarik napas pendek. Ia mulai menceritakan bagaimana ia terpesona sejak pertemuan pertama mereka di aula kampus yang pengap. Ia ingat persis bagaimana kala itu matanya terpaku pada senyum Kiyah yang menembus kerumunan mahasiswa.

 

"Aku iri, Kiyah. Saat Ipung mendekatimu,walaupun kau tak pernah meresponnya dadaku rasanya sesak sekali," kata Arie. Suaranya parau, menahan amarah yang sudah lama mengendap. Ia menceritakan bagaimana Ipung cemburu padanya bahkan pernah suatu ketika Ipung suka dengan gadis (satu kelas dengan Arie) dan dia minta aku membantunya untuk mendapatkan perempuan itu malah gadis itu suka samaku.namanya Anggraini orang galang itu. Kemarahan itu berubah menjadi kehancuran saat ia salah paham mengenai puisi yang terbaca di ponselmu Ki.

 

Kiyah mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Aku tidak pernah menyangka kau berpikir seperti itu, Arie," bisiknya pelan. Arie menggeleng cepat. Kejujuran itu kini mengalir begitu saja, tanpa ada lagi rahasia yang ditutupi di antara mereka berdua. Ia menumpahkan semua keraguan dan rasa sakit yang selama ini menggerogotinya dari dalam.

 

Tiba-tiba, sebuah suara denting keras menggelegar dari arah dapur, memecah keheningan di antara mereka. Arie menghentikan ceritanya sejenak, meLonggarkan sedikit genggaman tangannya. Namun, Kiyah justru semakin memperkuat cengkeramannya, seolah tidak ingin kejujuran ini terputus oleh suara apa pun dari luar.

 

"Teruskan, Arie. Jangan berhenti sekarang," ucap Kiyah, suaranya sedikit lebih tegas. Arie menatap gadis itu dengan kagum. Selama ini ia mengira kejujuran akan memutus hubungan mereka, tapi justru sebaliknya. Membuka hati secara total membuat

dinding-dinding tebal yang selama ini memisahkan mereka akhirnya runtuh sepenuhnya.

 

Suasana di kedai bakso itu terasa semakin pengap, namun di dalam hati mereka justru terasa sejuk. Arie merasa beban di bahunya perlahan memudar. Ia menatap Kiyah dengan tulus, membiarkan keheningan setelah pengakuan itu menguatkan ikatan yang sempat retak. Malam itu, di bawah lampu neon yang redup, mereka berdua akhirnya menemukan kembali kepercayaan yang nyaris hilang.


Arie menarik napas panjang. Udara malam di kedai itu terasa berat, bercampur dengan aroma kuah bakso yang sudah mendingin. Jari-jarinya yang dingin meraba kotak beludru kecil di saku celana. Kini saatnya. Ia menatap mata Kiyah yang tertunduk di seberang meja.

 

"Lo adalah permata yang sesungguhnya bagiku, Kiyah. Maukah lo menjadi pendamping hidupku?" tanya Arie. Suaranya sedikit serak, menahan rasa gugup yang menggelitik tenggorokannya.

 

Kiyah terdiam sejenak. Sendok di tangannya jatuh ke atas meja dengan bunyi pelan. Ia mengangkat wajah, menatap Arie tanpa berkedip. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

 

Air mata itu akhirnya mengalir membasahi pipinya. Tetesan bening itu jatuh ke atas piring kotor yang masih tersisa di antara mereka. Bukan karena sedih, melainkan kebahagiaan yang meluap.

 

Ia mengangguk pelan namun pasti. Bahunya sedikit bergetar menahan isakan yang mulai pecah. Senyum tipis akhirnya mengembang di bibirnya yang basah oleh air mata.

 

"Aku juga mencintaimu, Arie. Aku sudah menunggumu mengatakan ini sejak lama," jawab Kiyah di sela isakannya. Ia menyeka hidung dengan punggung tangan karena tidak memegang tisu.”kenapa lama sekali, kenapa kemana saja kau selama ini, ternyata lolah yang aku cari,tempatku untuk berlabuh dan engkau tambatan hatiku”balas Arie.itu potongan puisi yang dipersiapkannya untuk Kiyah

 

Suasana di kedai bakso itu seolah berhenti berputar. Suara denting piring dari dapur tiba-tiba terdengar sangat jauh. Hanya ada mereka berdua dan janji suci yang baru saja terucap.

 

Arie menghela napas lega. Dadanya yang sebelumnya terasa sesak kini mengembang penuh. Semua keraguan dan pencarian panjangnya selama ini akhirnya menemukan ujungnya di sini.

 

Malam mulai bertambah larut. Arie mulai membereskan meja sambil memandang ke arah luar kedai. Rasa penasaran mulai menyelinap di benaknya tentang apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya di bawah rindangnya pohon rimbun nanti.


Kiyah menekan tisu tipis ke sudut matanya, namun lengkungan senyumnya tetap bertahan. Di hadapannya, Arie menghela napas panjang hingga bahunya yang tegang sejak sore mulai mengendur. Beban yang tadinya mengimpit dadanya seolah menguap entah ke mana. Ia menatap wajah Kiyah yang remang oleh cahaya lampu jalan masuk lewat jendela, merasa seperti baru saja menemukan kembali sesuatu yang lama hilang.

 

"Rie, lo nggak perlu nahan terus, kok," ucap Kiyah pelan. Suaranya sedikit serak, namun tetap terdengar hangat di telinga Arie. Gadis itu meletakkan tisu di atas meja kayu kecil yang sudah berbekas goresan. Arie menggeleng cepat, jarinya menyusup ke

sela-sela jemari Kiyah, mencari kepastian bahwa gadis itu benar-benar ada di depannya sekarang.

 

"Bukan nahan, Yah. Cuma lega," jawab Arie. Ia mengusap punggung tangan Kiyah dengan ibu jarinya, mengikuti alur garis halus di kulitnya. "aku ngerasa kayak orang buta yang baru ketemu lampu. Aku muter-muter sendirian bertahun-tahun, nyari sosok kayak gini.

Ternyata ketemunya pas KKN, pas Aku lagi kotor-kotornya bantu warga."

 

Kiyah tertawa kecil, napasnya sedikit tersengal karena tangis yang baru reda. "Itu mah gara-gara Lo yang suka ngilang, Rie. Aku pikir Lo benci Aku waktu itu." Tatapan Kiyah menerawang ke sudut ruangan yang gelap, mengenang hari-hari saat Arie sengaja menghindari kontak mata dengannya. "Aku sempat ngerasa putus asa. Aku nanya terus ke diri sendiri, salah Aku di mana sampai Lo cuekin Aku?"

 

Arie mengatupkan rahangnya. Penyesalan menghantamnya pelan-pelan. Memang benar ia sengaja menjaga jarak karena takut kehilangan fokus, tapi ia lupa bahwa Kiyah bukanlah rintangan, melainkan alasan mengapa ia harus bertahan. Ia melangkah mundur justru saat Kiyah paling butuh kejelasan.

 

"Maaf, Yah. Aku bodoh," gumam Arie. Ia tidak mencari alasan lagi. Tangannya yang menggenggam Kiyah mulai berkeringat dingin, namun ia tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia menarik tangan itu mendekat ke dadanya sendiri, membiarkan Kiyah merasakan detak jantungnya yang mulai tak beraturan karena emosi.

 

Kiyah mendekatkan wajahnya, menatap langsung ke bola mata Arie. "Jangan pernah pergi lagi ya, Rie." Permintaan itu keluar bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai harapan kecil yang rapuh. Lampu neon di atas wastafel kedai itu berkedip pelan, memercikkan


bayangan yang membuat suasana terasa lebih privat, seolah dunia di luar sana ikut menahan napas.

 

Arie menggenggam tangan Kiyah lebih erat, jemarinya menyatu dengan kuat. "Aku janji. Apa pun rintangannya nanti, Aku bakal ada di sini. Aku nggak bakal ninggalin Lo lagi." Ia menundukkan kepala, menyandarkan keningnya ke kening Kiyah untuk sesaat sebelum akhirnya ia menyadari ada perasaan yang membuncah di dalam dadanya.

 

Udara di dalam kedai bakso itu terasa kian lembap, bercampu dengan aroma kuah sapi yang kian mengental seiring berjalannya waktu. Arie menyandarkan punggungnya ke kursi plastik yang agak goyah, lalu melirik jam tangan kasonya yang sabuknya sudah mulai terkelupas. Ia mencatat tanggal hari itu di dalam hati dan pikirannya: 30 Juli 2009. Hari di mana ia secara resmi menemukan tambatan hatinya.

 

Kiyah duduk di seberang meja, memainkan sedotan plastik di jari-jarinya. Gadis itu tidak lagi menunduk malu seperti saat mereka pertama kali duduk. Matanya yang bulat dan jeli kini menatap langsung ke arah Arie, mencari kepastian di balik kacamata tebal yang sedikit meLorot di hidung Arie.

 

"Lo yakin orang tua di kampung tidak akan protes kalau aku pulang membawa

oleh-oleh bukan oleh-oleh khas daerah, melainkan calon istri?" tanya Arie dengan nada rendah, sengaja menahan tawa agar tidak memecah kesunyian kedai yang mulai sepi pengunjung itu.

 

Kiyah mengerutkan hidungnya, sebuah kebiasaan kecil yang mulai disukai Arie. "Yang penting lo berani bilang duluan ke ibu lo. Ibu saya di Pasar delapan Langkat orangnya sederhana, tapi kalau urusan adat, dia paling tegas. Jangan sampai nanti lo lari takut duluan," jawab Kiyah sambil menyipitkan mata, menantang.

 

Mereka menghabiskan waktu lebih lama di kedai itu, tentu mereka tak melupakan waktu sholat Ashar yang tinggal sedikit lagi. Obrolan mereka mengalir dari topik ringan tentang jenis bakso yang enak, hingga pembicaraan serius mengenai rencana setelah KKN berakhir. Arie menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berlari kencang.

 

"Setelah laporan ini selesai, aku akan pulang ke Medan dulu. Hari raya aku pulang kampung ke hutabargot melapor ke Ayahku bahwa aku suadah punya calon dan rencana aku tetap di medan dan mengajar di sekolah dekat mesjid al -ishlah, tapi kalau aku jujur, aku ingin mencari kerja wira usaha sendiri supaya aku bisa segera kirim lamaran ke rumahmu," ucap Arie, suaranya sedikit serak karena terlalu banyak berbicara sekaligus menahan haru.


Kiyah mengangguk perlahan, jemarinya mengusap permukaan meja yang sedikit lengket. "Jangan terburu-buru, Arie. Yang penting lo sehat dan ridho orang tua lo dapat.

Saya juga masih harus menyelesaikan kuliah semester depan. Kita punya waktu, kan?" suaranya pelan, namun memiliki beban berat di dalamnya.

 

Dunia terasa jauh lebih indah sekarang bagi Arie. Lampu neon di atas meja mereka berkedip pelan, namun bagi Arie, cahayanya terasa seterang pelangi. Ia menghela napas lega, merasakan beban kesepian yang biasa ia bawa selama di posko KKN seolah menguap bersama asap tipis dari panci bakso di sudut ruangan.

 

Arie merasa perjalanannya mencari separuh jiwa telah mencapai tujuannya di tempat yang sama sekali tidak terduga. Tidak di ruang kuliah yang dingin, tidak di perpustakaan yang sunyi, melainkan di sebuah desa perkebunan sawit yang panas di Kisaran, bersama seorang gadis yang sangat sederhana namun luar biasa berharga.

 

Tiba-tiba, sebuah motor bebek tua berhenti dengan bunyi knalpot yang keras di depan kedai. Pak Lik, pemilik kedai yang juga guru pamong Arie di sekolah prakteknya, menarik selang bensin dan berteriak dari balik asap, "Mas Arie! Ada telepon dari posko! Teman-teman bilang ada rapat dadakan soal evaluasi KKN!" suaranya parau, memecah keheningan mereka berdua.

 

Arie mendongak, keningnya berkerut menahan rasa kesal yang tiba-tiba muncul. Sebelum ia sempat menjawab, sebuah mobil pick-up milik penyuluh pertanian melaju kencang di jalan aspal di depan kedai, menghempaskan debu merah yang masuk melalui jendela kedai yang terbuka lebar.

 

Kiyah langsung menutup hidungnya dengan sapu tangan kecil, matanya sedikit perih karena debu. "Kelihatannya tanda alam kalau kita harus segera berangkat juga ya?" ucapnya setengah batuk, mencoba menutupi kekecewaan karena waktu mereka berdua harus terpotong oleh urusan tiba-tiba itu.

 

Arie mengeluarkan beberapa lembar uang seribuan dari dompetnya dan meletakkannya di bawah piring kosong. Ia menatap Kiyah dengan tekad yang mendadak mengkristal. "Kita selesaikan ini sekarang. Aku tidak mau ada yang menghalangi obrolan kita hari ini. Coba telepon Pak Lik, bilang kita mau bayar dan minta waktu sebentar lagi," katanya cepat.

 

Kiyah menggeleng, tangannya menggenggam tas kecilnya. "Sudahlah, Arie. Senja mulai turun. Jalan pulang ke posko itu jauh kalau kita jalan kaki, dan ojek sudah jarang lewat sini kalau sudah mendekati Maghrib. Kita harus mikir realistis sedikit," jawab Kiyah, nada suaranya mulai menunjukkan ketegangan yang nyata.


Konflik kecil itu menggantung di udara antara mereka. Arie menatap keluar jendela, melihat matahari yang mulai bersembunyi di balik barisan pohon sawit yang tak berujung.

Bayangan panjang mulai menyelimuti lantai kedai, membuat suasana menjadi lebih dingin dan penuh dengan pilihan-pilihan sulit.

 

Kiyah meraih tangan Arie di atas meja, jemarinya yang dingin menyentuh punggung tangan Arie yang hangat. "Kita bisa lanjutkan obrolan ini nanti di posko. Lagipula, ada yang ingin aku tunjukkan di kebun belakang posko, sesuatu yang tidak akan bisa dilihat di kedai bakso ini," bisiknya, mencoba meredakan ketegangan dengan rencana baru.

 

Arie menatap tangan mereka yang bertautan, lalu menatap mata Kiyah yang berkaca-kaca karena debu, namun berkilau karena semangat. Ia mengangguk pelan, menerima kekalahan sementara dari waktu dan tugas. "Baiklah. Tapi janji, kita bicara serius malam ini. Aku tidak mau ini cuma mimpi siang yang lewat begitu saja," ucap Arie.

 

Mereka berdiri hampir bersamaan, kursi plastik itu berderit keras di lantai semen. Pak Lik membawa kembalian uang mereka, namun mereka hanya menyeringai sebentar sebelum melangkah keluar dari kedai yang pengap. Angin senja mulai bertiup, membawa harapan baru dan sedikit rasa dingin di ujung hari.

 

Di depan kedai, jalanan tanah merah mulai sepi. Arie melihat ke arah jalan setapak yang menuju ke posko KKN, lalu menoleh ke arah Kiyah yang sedang merapikan jilbabnya yang tertiup angin. Ada keputusan kecil yang mulai tumbuh di benak Arie, sebuah tekad untuk melindungi momen ini sampai akhir.

 

"Ayo, kita jalan kaki pelan-pelan. Aku ingin mendengar suara cicak dan burung gereja di pinggir jalan ini. Aku ingin menghapus suara bising knalpot tadi dengan suaramu," kata Arie pada dirinya sendiri, namun cukup keras untuk didengar Kiyah.

 

Embusan angin sore membawa aroma tanah yang baru saja disiram hujan, menyambut perjalanan pulang mereka yang berjalan perlahan. Arie menarik stang motor, merasa setiap aspal yang dilalui seolah terasa lebih mulus dari biasanya. Di belakangnya, ia bisa merasakan beban jaketnya sedikit tertarik ke arah belakang, sebuah isyarat kehadiran yang tidak lagi menjaga jarak.

 

"Jangan ngebut, Arie. Masih basah jalannya," suara Kiyah terdengar di telinganya, tidak lagi setengah berteriak karena takut seperti biasanya. Tangan perempuan itu yang tadinya hanya mencengkeram ujung jaket, kini melingkar dengan mantap di pinggang Arie.


Kepalan tangan Arie yang memegang stang sedikit mengendur, digantikan oleh kehangatan yang menjalar dari punggungnya.

 

Mereka berhenti sejenak di sebuah warung kecil untuk membeli minuman penghangat. Arie menyandarkan helm di atas meja plastik yang agak goyah, lalu melirik jam tangan kasonya yang sabuknya sudah mulai terkelupas. "Kita telat sampai posko," katanya setengah bergumam, namun matanya tidak beralih dari wajah Kiyah yang sedang sibuk merapikan jilbabnya di kaca spion motor.

 

Kiyah mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Arie. "Nggak apa-apa. Lagipula, tadi kan lo yang minta mampir sebentar," jawabnya dengan nada yang sedikit lebih rendah, mencoba menyembunyikan senyum yang mengembang di pipinya. Arie hanya bisa mengangguk, merasa detak jantungnya berpacu lebih kencang meski mereka sedang tidak berpacu dengan waktu.

 

Sesampainya di halaman posko, suara keributan dari dalam rumah sudah terdengar sejak jauh. Begitu Arie mematikan mesin motor, pandangan mata mereka langsung menyapu keadaan sekitar. Ada sebuah ketegangan yang berbeda di udara hari itu, bukan sekadar kelelahan setelah seharian bekerja, melainkan sesuatu yang mengendap di balik senyum teman-teman satu tim mereka.

 

Ainun, salah satu rekan satu tim, menghampiri mereka dengan langkah cepat. "Arie, Kiyah, ada surat buat kalian. Tadi diantar orang desa," ucapnya sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat yang sudutnya sudah sedikit basah. Arie mengambil amplop tersebut, merasakan tekstur kertas yang agak kasar. Di dalamnya, terdapat selembar kertas yang mengubah seluruh rencana perayaan malam itu.

 

"Apa isinya?" tanya Kiyah pelan, melihat perubahan ekspresi di wajah Arie yang tiba-tiba memucat. Arie menatap mata Kiyah yang tertunduk di seberang meja, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kebenaran yang selama ini ia pendam. Ini bukan sekadar masalah program kerja, melainkan sebuah keputusan akhir yang harus ia ambil sebelum semua menjadi lebih rumit.

 

Arie menghela napas panjang hingga bahunya yang tegang sejak sore mulai mengendur. "Ini surat dari kampus. KKN kita diperpanjang dua minggu lagi, tapi Lokasinya dipindah," katanya dengan suara parau. Ruang tengah posko mendadak hening, hanya diselingi oleh suara detak jarum jam dinding yang seolah berdentang lebih keras dari biasanya.

 

Kiyah menekan tisu tipis ke sudut matanya, namun lengkungan senyumnya tetap bertahan


meski air mata mulai menggenang. "Berarti kita nggak bisa pulang bersamaan minggu depan?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. Arie meraih tangan Kiyah di atas meja, merasakan dinginnya ujung jari perempuan itu. Ini adalah konsekuensi yang harus mereka tanggung, sebuah ujian kesetiaan di awal kisah mereka.

 

Malam itu berlalu tanpa ada syukuran seperti yang mereka bayangkan. Arie duduk di teras posko, menatap kegelapan malam yang mulai menyelimuti desa. Ia tahu, keputusan untuk tetap tinggal atau mengikuti perpindahan Lokasi akan menentukan arah hubungan mereka selanjutnya. Esok pagi, ketika matahari terbit, jawaban atas pilihan sulit itu harus sudah bulat diambil.


 


AKHIR YANG INDAH

 

Udara pagi di Kisaran terasa berat, membawa kelembapan tanah yang baru disiram embun dan aroma gosong dari dapur umum yang masih membara. Arie menghempaskan karung goni ke atas bak truk, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor. Di pelataran posko, ibu-ibu PKK sibuk membalutkan plastik di atas tumpukan piring

dan panci sumbangan warga. Tawa dan isak tangis bercampur aduk di antara debu jalanan yang mulai menggeliat.

 

"Arie, kardus buku tabungan itu jangan ditaruh di bawah, nanti kena oli," ujar Kiyah. Ia berjalan mendekat sambil menggendong dua dus berisi dokumentasi kegiatan posyandu. Jilbabnya yang panjang dan sederhana berkibar seperti bendera, membuat helaian kain jilbab menempel di pipinya yang merona karena panas. Arie segera meraih dus itu, jemarinya secara tak sengaja menyentuh punggung tangan Kiyah yang basah oleh peluh. Keduanya terdiam sesaat, membiarkan hangatnya sentuhan itu meredam keributan di sekitar mereka.

 

Melihat mereka, Ibu Sum, ketua keLompok PKK, mendekat sambil membawa nampan berisi potongan kelapa muda. "Makanlah dulu, Nak. Ini terakhir kalinya Ibu bisa menyuguhhi kalian sebelum pulang ke Medan," katanya dengan suara yang sedikit bergetar. Matanya yang menyipit karena sering terkena asap dapur tampak berkaca-kaca. Arie menerima tawaran itu, merasakan dinginnya air kelapa yang kontras dengan hawa panas di pipinya. Kelembutan warga ini yang akan paling sulit untuk ditinggalkan.

 

Di sudut lain, beberapa pemuda desa sedang mengikatkan tali tambang di atas muatan truk. Mereka bercanda, namun sesekali saling berpandangan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kapan lagi kita bisa main futsal sampai tengah malam tanpa ditegur Pak Lurah?" tanya Imran, teman satu keLompok Arie, sambil melempar botol air ke arah Arie. Arie hanya tertawa kecil, merasa hatinya semakin sesak. Persahabatan yang dibangun selama berbulan-bulan di tengah keterbatasan ini memberikan pelajaran tentang keikhlasan yang tidak akan ditemukannya di ruang kuliah.

 

Kiyah kemudian duduk di atas baLok kayu di bawah pohon jambu depan posko. Ia membuka catatan kecil yang selalu dibawanya, mengecek daftar inventaris terakhir. Arie duduk di sebelahnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk mencium aroma sampo jeruk yang biasa digunakan Kiyah. "Masih banyak yang harus dibereskan, Kiyah. Tapi entah kenapa, aku jadi malas mengangkat koper ini," ucap Arie pelan, menatap asap rokok warga yang mengepul jauh di sana. Kiyah menutup bukunya, menoleh dengan senyum yang meneduhkan.

 

"Kalau kita buru-buru pergi, kita tidak akan sempat pamitan dengan Pak Tua yang di ujung desa sana," jawab Kiyah. Ia menunjuk ke arah bukit kecil di seberang sungai. "Dia tadi pagi


datang membawakan ikan asin untuk kita. Katanya, anak-anak kost di kota pasti rindu masakan sederhana." Arie mengangguk, merasa teringat kembali pada masa-masa sulit awal KKN ketika mereka harus beradaptasi dengan air sumur yang keruh dan listrik yang sering mati total.

 

Suasana di posko perlahan berubah menjadi seperti pasar malam. Anak-anak kecil mulai berkerumun, menarik-narik ujung jaket mahasiswa yang akan berangkat. Ada yang menangis karena kakak asuhnya akan pergi, ada pula yang meminta janji untuk dikirRina foto saat sudah berada di Medan. Arie merunduk, mengusap kepala seorang bocah yang sedang tersedu. "Kakak pasti balik lagi, ya? Atau kalau tidak, nanti kalian yang ke Medan ke rumah Kakak," ucapnya, berusaha menenangkan meski ia sendiri tidak yakin kapan bisa kembali.

Ibu-ibu dan anak-anak berkumpul saling peluk cium dengan teman-teman mahasiswi deraian air mata perpisahan yang menyesakkan tak terbendung, selama kami KKN di kampung itu ternyata kami sangat di hargai, di senangi dab mereka pengen kami lebih lama lagi disana tapi waktu juga lah yang memisahkan.hadir disana pak kadus, pak sudarsono pemilik kedai yang sering menggratiskan sayurnya ke anak KKN.nenek tempat posko kami, Pak Lubis P3N kadhi dengan ibu dan anaknya yang cantik bernama adek wawa, Pak Thairan pendukung kami selama KKN, Ibu Ponijem.kalian semua takkan bisa kami lupakan.suatub saat nanti akan aku kutuliskan semua kisah ini biar cerita ini abadi.kata hatiku, sebelum berangkat kami semua berfoto bersama dengan awarga dan kelompok kami juga.sangat berkesan subhanallah gumamku.

kelompok kami laki-laki: Arnas, Ipung,Imran, Arie.

Yang perempuan: Ainun, Vivie, Hayati, Lely, Ayla, Shari, Kiyah dan Rina

 

Sementara itu, suara mesin truk mulai panas, menandakan waktu keberangkatan semakin dekat. Sopir truk, seorang pria paruh baya dengan topi caping, mulai memeriksa tekanan ban. "Kita berangkat jam sebelas, ya, Adik-adik. Jalan menuju ke jalur utama mulai macet kalau siang," teriaknya dari balik kaca yang buram. Kiyah berdiri, merapikan kerah bajunya yang agak meLorot. Ia terlihat sangat tenang, sebuah sikap yang selalu membuat Arie kagum sekaligus merasa kecil.

 

"Arie, kau masih ingat saat pertama kali kita datang ke sini?" tanya Kiyah tiba-tiba. Ia menatap bangunan posko yang dindingnya masih dipenuhi coretan spidol dari anak-anak desa. "Waktu itu kau bilang, 'Gimana kita bisa tidur di tempat sekelam ini?'" Arie tertawa mengejek dirinya sendiri. "Aku bodoh sekali waktu itu. Aku tidak tahu kalau kegelapan di sini justru akan membawaku pada cahaya yang paling terang dalam hidupku." Mendengar itu, Kiyah menunduk, mencoba menyembunyikan senyum lebar yang mengembang di wajahnya.

 

Perpisahan ini bukan sekadar tentang jarak, tapi tentang transisi dari dunia idealisme mahasiswa ke dunia nyata yang menunggu di depan mata. Arie merasa ada beban baru di pundaknya. Ia tidak lagi hanya memikirkan jadwal kuliah atau skripsi, tapi juga nasib warga yang telah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. "Kita harus janji untuk tidak berubah, Kiyah. Janji untuk tetap seperti di sini, saling mendukung meski tidak lagi di bawah atap yang sama," bisik Arie, menatap mata Kiyah yang dalam.

 

Kiyah mengangkat dagunya, menatap langsung ke mata Arie tanpa rasa takut. "Tidak ada yang bisa berubah kecuali kita membiarkannya. Kita sudah melewati masa sulit di aula IAIN, melewati KKN ini bersama. Medan mungkin berisik dan sibuk, tapi hatiku sudah terkunci di sini, bersamamu." Ucapan itu meluncur begitu saja, natural dan tanpa beban,


seolah-olah mereka memang ditakdirkan untuk mengucapkannya di momen ini. Angin siang mulai bertiup, membawa debu halus yang membuat mereka sedikit memicingkan mata.

 

Sopir truk mulai membunyikan klakson pendek sebagai tanda peringatan. Mahasiswa lain mulai naik ke bak truk, saling berpelukan dengan warga yang mengantar. Namun, Arie dan Kiyah masih terdiam di tanah, enggan menginjakkan kaki di atas pijakan besi yang dingin. Di kejauhan, terdengar suara adzan zuhur dari musala desa, menggema pelan membawa ketenangan di tengah keramaian. Arie meraih tas ransel Kiyah yang tergeletak di tanah, menggantungkannya di bahunya sendiri.

 

"Biar aku yang bawa, biar tidak berat buat lo nanti saat naik ke truk," kata Arie. Kiyah tidak membantah, hanya memberikan senyumnya lagi, senyum yang dulu di aula IAIN membuat Arie merasa ada harapan di tengah tumpukan tugas kuliah. Senyum itu kini telah bertransformasi menjadi sebuah jaminan bahwa masa depan, betapapun samarnya dulu, kini memiliki wajah yang jelas. Mereka melangkah bersama menuju barisan mahasiswa yang sudah mulai berdiri rapi.

 

Warga desa mulai bertepuk tangan, menciptakan ritme yang selaras dengan detak jantung Arie yang berdegup kencang. Tepuk tangan itu bukan sekadar salam perpisahan, tapi juga sebuah aplaus untuk perjuangan mereka selama ini. Kiyah menggenggam tangan Arie, jemarinya erat melingkari telapak tangan Arie yang kasar karena sering mengangkut kayu dan batu. Mereka berdiri di samping truk, siap melangkah maju namun hati masih terpaku pada debu jalanan Kisaran yang akan segera ditinggalkan.

 

Halaman depan balai desa dipenuhi warga yang membawa berbagai hasil kebun dalam keranjang anyaman. Suasana itu terasa hangat, meski ada rasa sesak di dada karena harus berpisah. Arie berdiri di pinggir teras, memperhatikan kerumunan warga yang tertawa dan berpelukan. Ia menarik napas panjang, mencium aroma khas daun kelapa yang mulai mengering di udara pagi. Hari ini adalah hari kepulangan mereka, namun suasana desa ini terasa jauh lebih berat daripada saat mereka pertama kali datang.

 

Khairani, Icha dan Ifath tiba-tiba muncul dari arah dapur umum, mereka membawa sebuah bungkusan kecil yang dibungkus daun pisang. Icha mendekati arnas sedangkan ifath menjumpai Imran mereka memberikan sesuatu sebagai kenag-kenangan.(Icha adalah gadis desa yang suka sama Arnas sedang Ifath pacar Imran di desa waktu KKN ini), Khairani mendekati arie, Dia tersenyum, namun matanya terlihat sedikit berkaca-kaca saat melangkah mendekati Arie. "Ini buat kamu, Arie," katanya pelan, menyodorkan bungkusan itu dengan kedua tangan. Arie menyambutnya dengan sopan, merasakan kehangatan bungkusan itu di telapak tangannya. Ia membuka sedikit lapisan daunnya dan melihat beberapa potong kue tradisional yang masih beruap tipis.


"Terima kasih, Khairani. Aku akan sangat merindukan masakanmu," jawab Arie, suaranya terdengar tulus. Kiyah yang berdiri tak jauh dari situ hanya memperhatikan dengan tenang. Dia tidak lagi merasakan sesak di dada seperti dulu saat melihat Khairani dan Arie berinteraksi. Kepercayaan yang mereka bangun selama berbulan-bulan di desa ini telah mengubah segalanya. Kiyah justru merasa bersyukur memiliki teman seperjuangan yang peduli pada Arie, karena dia tahu itu tulus.

 

Khairani lalu menoleh ke arah Kiyah, melambai kecil sebelum kembali ke tengah kerumunan warga. Tidak ada lagi ketegangan di antara mereka bertiga. Hubungan itu kini jernih, seperti air sungai kecil yang mengalir di pinggiran kebun sawit. Arie menyimpan bungkusan kue itu ke dalam tas ranselnya dengan hati-hati. Dia tahu bungkusan itu bukan sekadar makanan, melainkan simbol dari pertemanan yang tulus tanpa pamrih. Mereka telah melewati banyak hal bersama di desa terpencil ini.

 

Di sudut lain balai desa, Kiyah sedang dikerubuti oleh murid-muridnya. Anak-anak itu menarik ujung kain desain baju KKN yang sedang mereka pakai. Ada yang memeluk pinggang Kiyah, ada yang memegang tangannya erat-erat. "Bu Kiyah, jangan pulang dong. Ajarin kami baca lagi," rengek salah satu anak kecil dengan hidung yang kemerahan. Kiyah membungkuk sedikit, mengusap pipi anak itu dengan ibu jarinya yang masih terasa kasar karena sering mencuci pakaian di sungai.

 

"Ibu harus kembali ke kota, nak. Tapi Ibu sudah mengajar kakak-kakakmu supaya bisa mengajar kalian lagi nanti," kata Kiyah, berusaha menguatkan suaranya. Namun, saat melihat air mata yang mulai menetes dari pipi muridnya, emosinya ikut tergerak. Dia memeluk anak-anak itu bergantian, mencium bau sabun batangan murah yang biasa mereka gunakan. Kepergian ini terasa seperti meninggalkan bagian dari jiwanya di dalam kelas darurat berdinding papan itu.

 

Arie mendekat ke arah kerumunan anak-anak, mencoba menyela dengan candaannya yang khas. Dia mengangkat satu anak kecil ke pundaknya, membuat anak-anak lain tertawa sebentar meski masih isak tangis. "Ayo, jangan sedih. Nanti kalau sudah jadi orang pintar, datanglah ke kota. Arie dan Kiyah akan menjemput kalian," ujarnya sambil tertawa kecil. Tawa itu menyebar, mencairkan ketegangan perpisahan yang hampir membuat mereka semua patah semangat. Namun, bayang-bayang perpisahan tetap menyelimuti.

 

Saat matahari mulai naik tinggi, Pak Lurah datang membawa sebuah kotak kayu kecil. Dia menepuk bahu Arie dan Kiyah bergantian dengan tangan yang kasar karena bekerja di ladang. "Ini bukan sekadar oleh-oleh. Ini tanda bahwa kalian berdua adalah bagian dari sejarah desa ini," ucap Pak Lurah dengan suara berat. Arie membuka kotak itu dan melihat


sebuah surat keterangan penghargaan dari warga, lengkap dengan sidik jari mereka sebagai tanda tangan. Hatinya bergetar membaca setiap nama di atas kertas itu.

 

Arie menatap Kiyah, mencari persetujuan untuk sebuah keputusan kecil yang tiba-tiba muncul di benaknya. "Kita harus membawa ini pulang, Kah. Bukan sebagai

kenang-kenangan, tapi sebagai janji," bisik Arie. Kiyah mengangguk perlahan, mengusap air mata yang hampir jatuh dengan punggung tangannya. Dia merasa ada beban baru yang justru terasa sangat ringan di pundaknya. Kepergian ini bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab baru yang lebih besar di luar desa.

 

Mereka berjalan menuju kendaraan yang akan membawa mereka pergi. Langkah kaki mereka terasa berat di atas tanah yang sedikit berdebu. Di sepanjang jalan menuju kendaraan, warga desa berbaris memberi hormat dengan senyum yang penuh haru. Arie melirik ke arah perkebunan sawit yang terbentang luas di kejauhan. Pohon-pohon itu kini tampak berbeda, tidak lagi terasa asing atau menyeramkan, melainkan seperti saksi bisu perjuangan mereka selama ini. Ada rasa bangga yang bercampur dengan rindu yang menyakitkan.

 

Ketika mereka sudah duduk di kursi belakang mobil, Arie menarik ritsleting tasnya. Dia mengeluarkan buku catatan kecil yang penuh dengan coretan rencana pengembangan desa. "Masih banyak yang harus dilakukan di sini, Kah. Nilai KKN kami mungkin sudah selesai, tapi ini..." katanya sambil menunjuk buku itu. Kiyah meletakkan kepalanya di bahu Arie, mendengarkan detak jantung pria itu yang terdengar tenang. Dia tahu, meski mereka pergi, hati mereka akan selalu kembali ke tempat ini.

 

Mobil mulai bergerak pelan, meninggalkan balai desa yang perlahan mengecil di kaca spion. Tidak ada yang berbicara di dalam mobil selama beberapa menit. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, memproses semua kejadian selama berbulan-bulan di tengah perkebunan. Ketegangan yang selama ini membayangi hubungan mereka, termasuk masalah dengan keluarga Arie, seolah memudar sejenak. Yang tersisa hanyalah kebersamaan yang telah diuji oleh kerasnya kehidupan di peLosok.

 

Tiba-tiba, Arie merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebutir biji sawit yang sudah mengering. Dia memutar-mutar biji itu di atas meja kayu di depannya. "Tahukah kamu, Kiyah? Biji ini dulu terasa sangat berat dan tajam saat pertama kali aku pegang. Sekarang, setelah aku tahu betapa berharganya hasil ini bagi warga, biji ini terasa seperti permata," katanya dengan suara lirih. Kiyah tersenyum, merasakan kehangatan di dadanya. Pria di sebelahnya telah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa dan peduli.


Mobil terus melaju melewati jalan desa yang berliku. Di luar jendela, anak-anak yang tadi menangis kini berlari kecil mengikuti mobil hingga batas pagar desa. Arie membuka jendela sedikit, melambaikan tangannya hingga tangannya mulai terasa pegal. Dia melihat Khairani yang masih berdiri di depan balai desa, melambai dengan satu tangan di kening. Adegan itu mengingatkannya pada betapa luasnya kasih sayang yang mereka terima di tempat yang awalnya mereka anggap asing ini.

 

Kiyah menghela napas panjang, lalu meraih tangan Arie yang dingin karena angin malam mulai masuk dari celah jendela. "Arie, aku sadar sesuatu hari ini," ucapnya pelan, menatap lurus ke depan. Arie menoleh, menunggu kata-kata selanjutnya dengan rasa penasaran. "KKN ini bukan tentang nilai di kertas. Ini tentang bagaimana kita bisa tumbuh bersama orang-orang yang bahkan tidak seharusnya kita temui dalam hidup kita," lanjut Kiyah. Arie mengangguk, menggenggam tangan Kiyah lebih erat.

 

Malam mulai benar-benar turun saat mobil mereka memasuki jalur utama menuju kota. Lampu-lampu di kejauhan mulai terlihat, menandakan bahwa mereka semakin dekat dengan kehidupan nyata mereka yang sesungguhnya. Namun, di dalam mobil itu, suasana desa masih terasa sangat kental. Arie menutup matanya sejenak, membayangkan masa depan mereka berdua di tengah kota yang sibuk. Dia bertekad untuk menjaga kemurnian cinta mereka yang tumbuh di tengah kebun sawit yang keras ini.

 

Mobil berhenti sejenak di sebuah perempatan sepi untuk menurunkan seorang warga desa yang ikut menumpang. Saat pintu terbuka, angin malam yang dingin langsung masuk, membawa serta aroma hutan yang masih basah. Arie merapatkan jaketnya, lalu menoleh ke arah Kiyah yang tampak mulai mengantuk. Dia merapikan selendang di bahu Kiyah, memastikan wanita itu tetap hangat. Tindakan kecil itu dilakukan dengan sangat hati-hati, seolah Kiyah adalah benda paling berharga yang pernah dia miliki dalam hidupnya.

 

Beberapa saat kemudian, ponsel Arie bergetar di saku celananya. Dia mengabaikannya pada awalnya, tidak ingin mengganggu momen keheningan yang indah bersama Kiyah. Namun, getaran itu terus berulang dengan pola yang tidak biasa. Arie menghela napas, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia melirik layar ponselnya dan melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak dia kenal. Hatinya mulai berdetak kencang, merasakan firasat buruk yang tiba-tiba muncul di tengah kebahagiaan mereka.

 

"Arie, ada apa? Wajahmu tiba-tiba pucat," tanya Kiyah yang terbangun karena merasakan ketegangan pada tubuh Arie. Arie tidak menjawab langsung, jari-jarinya sibuk mengetik balasan pesan singkat dengan sangat cepat. "Tunggu sebentar, Kah. Ada sesuatu yang harus aku pastikan," katanya singkat. Suasana hangat di dalam mobil mendadak berubah


menjadi dingin. Kebersamaan yang mereka bangun dengan susah payah tiba-tiba terancam oleh sesuatu yang datang dari luar lingkaran kecil kebahagiaan mereka.

 

Arie mematikan layar ponselnya dengan kasar, lalu menatap ke luar jendela yang gelap. Cermin mata Arie memantulkan lampu-lampu jalan yang melintas cepat. Dia merasa ada beban berat yang kembali menghantui pikirannya. Kepergian dari desa membawa mereka pada kenyataan baru, di mana masalah-masalah lama yang mereka tinggalkan di kota mungkin masih menunggu untuk diselesaikan. Dia tidak ingin masalah itu merusak apa yang sudah mereka bangun di desa bersama Kiyah.

 

Mobil terus melaju, namun keheningan di dalamnya kini terasa menyesakkan. Kiyah tidak mencoba untuk bertanya lebih jauh, dia hanya meremas tangan Arie dengan lembut, berusaha memberikan dukungan tanpa kata. Dia tahu Arie akan berbicara jika dia sudah siap. Hubungan mereka telah melalui terlalu banyak badai untuk dirusak oleh keheningan sesaat. Namun, Kiyah tidak bisa menghentikan rasa gelisah yang mulai tumbuh di dalam hatinya tentang apa yang menanti di akhir perjalanan nanti.

 

Akhirnya, Arie berbisik pelan, suaranya hampir tidak terdengar karena suara mesin mobil. "Sepertinya perjalanan kita belum benar-benar selesai, Kah. Ada masalah di rumah yang harus segera aku selesaikan begitu kita tiba." Kiyah menarik tangannya perlahan, menatap wajah Arie dengan ekspresi yang sulit dibaca. Dia tidak marah, hanya merasa sangat lelah membayangkan harus kembali berhadapan dengan konflik yang sama. Namun, dia berjanji dalam hati untuk tetap berada di sisi Arie, apa pun yang terjadi di masa depan mereka nanti.

 

Keretanya masih bergetar pelan, tapi di dalam gerbong kelas ekonomi itu, suasana terasa jauh lebih tenang daripada saat mereka berangkat dulu. Arie merapatkan bahunya ke jendela, lalu menyesuaikan posisi duduknya agar lebih dekat dengan Kiyah. Tidak ada lagi jarak fisik di antara mereka. Punggung Kiyah menempel hangat di lengan Arie, sementara kepala gadis itu bersandar lembut di bahunya.

 

Arie menarik napas panjang, mencium aroma sampo campur sedikit wangi kemenyan dari pakaian Kiyah. Dia merasa lega, tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak tadi pagi. Dia menggeser pandangannya ke luar jendela, melihat pohon kelapa di pinggir rel yang melaju cepat tertinggal.

 

"Kiyah," panggil Arie pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh bunyi mesin kereta. Gadis itu mendongak sedikit, alisnya terangkat menunggu lanjutan kalimat Arie. "Nanti kalau sudah


sampai di Medan, setelah wisuda selesai, aku mau ngomong sama orang tuamu. Aku sudah mantap."

 

Kiyah menoleh cepat, matanya membulat. Dia mendorong bahu Arie pelan, wajahnya langsung memerah. "Lo serius? Jangan bercanda, Arie. Aku belum siap ketemu mertua kalau lo bilangnya cuma gitu aja."

 

"Bukan cuma ngomong, Ya. Aku mau lamar kamu. Resmi," jawab Arie serius. Dia menangkup kedua tangan Kiyah yang dingin karena pendingin kereta. "Aku sudah siapkan cincin simpel di tas ranselku. Tapi aku mau lakukan ini setelah semua urusan kampus beres. Biar mereka terima karena nilai KKN kita bagus."

 

Kiyah terdiam. Dia menunduk, jari-jarinya meremas ujung hijab yang menutupi dadanya. Ada senyum yang sulit dia sembunyikan, tapi matanya berkaca-kaca. "Tapi aku takut, Arie. Takut mereka tidak setuju karena kita beda jurusan, atau karena masalah Ipung kemarin."

 

Seolah mendengar namanya disebut, Ipung yang duduk di kursi seberang Lorong--sebelumnya asyik melipat jaket--mendadak berdiri dan berjalan mendekat.

Langkah kakinya terdengar berat di lantai kereta yang bergetar. Wajahnya terlihat tegang, tidak seperti biasanya yang selalu bercanda.

 

Arie langsung melepaskan tangan Kiyah dan menegakkan badan. Dia menatap Ipung dengan waspada, bersiap jika pria itu ingin membuat ulah lagi di tengah perjalanan pulang mereka. "Ada apa, Pun? Mau pinjam charger lagi?"

 

Ipung menggeleng. Dia berhenti tepat di depan sandaran kursi Arie, lalu menghela napas panjang hingga dadanya mengembang penuh. "Bukan, Rie. Aku mau ngomong seserius ini." Dia melirik Kiyah sebentar, lalu menatap langsung ke mata Arie. "Aku minta maaf.baik-baiklah kau bilang dia dua pribadi yang kau suka dan kau cari dari dulu ada padanya. Arie terdiam. Dia tidak menyangka Ipung akan berbicara sejujur itu. Biasanya pria itu selalu menutupi rasa malunya dengan jokes yang tidak lucu. "Sudah lah, Pun. Kita semua lelah. Itu sudah berlalu," sahut Arie cepat, berusaha merendahkan egonya.

 

"Tidak, ini harus aku sampaikan sekarang," potong Ipung tegas. Dia mengulurkan tangan kanannya, telapak tangan terbuka lebar di antara mereka. "Selamat ya, Rie. Dia bukan cuma teman satu tim lagi buatku, tapi dia juga alasan lo bisa bertahan selama ini. Aku sadar itu sekarang."

Sebelumnya Arnas bercerita kalau Ipung sudah dekat dengan  Hayati dan sepertinya mereka cocok.bahkan dari intensitas pertemuanya yang selalu bersama Ipung sudah jadian dengan Hayati.Aku hanya bisa doakan semoga mereka bahagian sampai kepernikahan.


Arie menatap tangan Ipung yang menggantung di udara. Ada kekakuan di rahangnya, sisa dari amarah yang dia pendam selama berminggu-minggu. Tapi melihat ketulusan di mata sahabatnya itu, dia perlahan mengulurkan tangan dan menggenggam jabat tangan itu erat. "Terima kasih, Pun. Aku juga minta maaf kalau aku terlalu kaku jadi ketua keLompoknya."

 

Kedua pria itu saling berjabat tangan, melepaskan rasa sesal yang membebani dada sejak hari pertama mereka tiba di desa itu. Kiyah mengusap sudut matanya yang basah dengan punggung tangan, lalu tersenyum tipis melihat mereka berdua. "Akhirnya," gumamnya pelan.

 

Arie melepaskan genggamannya, merasa ada beban berat yang baru saja tercabut dari punggungnya. Dia menyandarkan kembali kepalanya ke jok, merasakan getaran rel yang sekarang terasa menenangkan. Dia menyadari bahwa konflik selama KKN bukanlah

sia-sia; semua itu memaksa mereka untuk tumbuh, belajar memahami arti persahabatan, dan mencari keberanian untuk mencintai dengan tulus.

 

Ipung sudah kembali ke kursinya dan disebelahnya da Hayati memakai earphone dan menutup matanya. Arie melirik tas ranselnya di bagasi kabin atas, memikirkan janji yang harus dia tepati segera setelah upacara wisuda selesai di aula kampus IAIN nanti.

 

Arie menarik napas panjang saat memasuki kembali aula utama IAIN Medan. Lantai marmer yang dingin di bawah sepatunya terasa asing, padahal baru beberapa bulan lalu ia berdiri di tempat yang sama dengan ragu-ragu. Udara di dalam ruangan itu terasa lebih panas hari ini, bercampur dengan aroma kertas fotokopi yang masih hangat dan keringat mahasiswa yang menunggu giliran.

 

Ia menggeser tumpukan dokumen di tangannya, merasa berat kertas itu bukan lagi sekadar beban fisik, melainkan bukti dari kerja keras selama berbulan-bulan. Di sudut ruangan, barisan kursi plastik yang dulu kosong kini penuh sesak dengan mahasiswa lain yang tertawa dan berbicara. Arie menatap ke arah barisan kursi di belakang, tempat di mana ia dulu duduk menyendiri dan mencuri pandang ke arah Kiyah.

 

Kini, Kiyah berdiri di depan meja panitia, bahunya tegak dan gerakannya terukur Jilbabnya rapi denga  bros mawar rapi sedikit bergeser saat ia menyerahkan map tebal berwarna hijau. Arie memperhatikan bagaimana jari-jari Kiyah yang lincah itu menyusun berkas laporan bendahara, memastikan setiap lembar tidak ada yang lecek sebelum diserahkan


kepada dosen pembimbing.

 

"Laporan keuangan sudah lengkap, Bu. Termasuk bukti pengeluaran untuk kegiatan penyuluhan kemarin," ucap Kiyah dengan suara yang jelas, meski sedikit parau karena kelelahan.

 

Dosen di seberang meja itu mengangguk, lalu menyerahkan tanda terima. Kiyah menatap secarik kertas itu sejenak sebelum menyelipkannya ke dalam tas selempangnya. Saat ia berbalik, tatapan mereka bertemu. Arie tidak lagi melihat gadis yang canggung di depan kelas, tapi seorang rekan yang tangguh, yang mampu mengeLola dana desa dengan transparan dan presisi.

 

Arie melangkah maju, menyusul giliran keLompoknya untuk menyerahkan laporan akhir. Tangannya terulur, menyerahkan dokumen itu dengan percaya diri yang tidak ia miliki saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini. Setelah semua proses selesai, ia merasakan beban di bahunya luruh. Tantangan lapangan yang dulu terasa mustahil kini hanya menjadi memoar di balik sampul laporan yang mereka pegang.

 

Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keluar, melewati barisan pohon ketapang yang rindang. Sinar matahari sore menembus celah daun, menciptakan bayangan panjang di atas trotoar. Arie merasakan sisa kelelahan di otot kakinya, namun ada kepuasan yang mendalam karena mereka berhasil melalui semua ini tanpa cela.

 

"Kita berhasil, Kan?" tanya Kiyah pelan, suaranya hampir tertelan oleh suara knalpot bus kota di luar pagar kampus.

 

Arie mengangguk, lalu menepuk punggung tas Kiyah dengan ringan. "Laporannya rapi. Dosen tadi bilang ini salah satu yang terbaik."

 

Mereka berhenti sejenak di bawah pohon yang rindang, membiarkan angin sore menerpa wajah. Langkah kaki mereka seolah menuntun ke arah halaman kampus yang mulai sepi, meninggalkan aula yang kini mulai dipadati keLompok berikutnya. Hari ini, mereka resmi meninggalkan status sebagai peserta KKN, namun ada janji yang belum terucap yang terasa lebih berat dari segala laporan yang baru saja mereka kumpulkan.


Sinar kuning dari lampu taman kampus menembus dedaunan pohon beringin yang mulai rontok. Arie mengusap permukaan kotak beludru di sakunya. Udara sore yang lembap membekukan keringat di telapak tangannya saat ia menatap punggung Kiyah yang sedang merapikan selembar kertas di bangku taman.

 

Ia menghirup udara malam yang mulai dingin. Arie melangkah mendekat, lalu duduk di sebelah Kiyah tanpa mengeluarkan suara. Suara knalpot motor dari jalan raya terdengar samar, tertutup oleh detak jantungnya yang berdegup kencang. "Kiyah," panggilnya pelan, suaranya sedikit serak karena gugup.

 

Kiyah menoleh, alisnya sedikit berkerut melihat wajah Arie yang serius. Arie mengeluarkan kotak kecil itu, membukanya perlahan untuk menunjukkan sebuah kalung dengan liontin permata biru yang memantulkan cahaya lampu taman. "Ini bukan berlian atau emas mahal," ucap Arie, matanya menatap lurus ke mata Kiyah. "Tapi ini pengingat bahwa kau adalah permata sesungguhnya yang kutemukan di antara ribuan pohon sawit."

 

Kiyah menutup mulutnya, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia meraih liontin itu dengan jari yang sedikit gemetar, merasakan tekstur dingin Logam itu menyentuh kulitnya. Tidak ada kata-kata yang keluar, hanya isak kecil yang tertahan di sudut bibirnya yang mulai bergetar. Arie mengalungkan kalung itu sendiri, jemarinya menyentuh leher Kiyah yang hangat.

 

Malam itu terasa lebih tenang setelah badai komunikasi yang hampir memisahkan mereka bulan lalu. Ponsel Kiyah berbunyi, menampilkan nama seorang rekan satu organisasi yang sering mengirim pesan ambigu. Arie menatap layar itu sejenak, namun Kiyah langsung mematikan layar ponselnya dan menaruhnya di tas tanpa membaca pesan tersebut. "Sudah tidak ada lagi keraguan soal laki-laki pengirim puisi itu," ucap Kiyah tegas, suaranya jernih tanpa beban.

 

Mereka berjanji untuk terus berjuang bersama hingga pelaminan, melewati sisa kuliah dan perbedaan jarak yang akan segera menyapa. Arie merasa beban di bahunya mengendur, seolah ujian komunikasi yang paling berat telah berakhir dan mereka keluar sebagai pemenang. Mereka siap merajut hari-hari baru dengan landasan cinta dan saling pengertian yang kuat.

 

Angin malam bertiup kencang, membawa aroma daun basah yang menyegarkan


paru-paru. Arie menyandarkan kepalanya ke bahu Kiyah, menutup mata sejenak untuk menikmati ketenangan ini. Namun, di balik ketenangan itu, awan kelabu mulai terlihat di ufuk timur, membawa janji perubahan yang akan menguji kesetiaan mereka di masa depan.

 

HARI WISUDA

 

Hari itu, Arie berdiri di pelataran kampus dengan toga yang sedikit sesak di leher. Dia menarik lembaran ijazah di dalam map merah, merasakan tekstur kertas yang kaku itu dengan ujung jari. Senyum lebar terukir di wajahnya, bukan hanya karena nilai yang memuaskan, melainkan karena bayangan Kiyah yang berdiri di antara kerumunan orang tua dan mahasiswa. Napasnya terasa lebih ringan, beban tugas akhir yang bertumpuk sudah lenyap sepenuhnya.

Orang tua Arnas ayah(Pak Naja) dan ibunya(Ibu Nur) lengkap dengan saudara laki dan saudara perempuannya hadir dalam acara wisuda itu, begitu juga dengan orang tuaku Ayah dan ibuku Pak Alim dan Ibu Hanum begitu orang kampungku memanggil ayah dan ibuku yang sejak dua hari lalu sudah di Medan dan ikut berbagi kebahagiaan anaknya.Ayah berjalan mencari orang tua Kiyah (Pak Saif&ibu Idah) dan  mereka bersalaman dan bercanda basa-basi. Ayahku juga bercengkrama dengan ayah Arnas.begitulah kebahagiaan menyelimuti hari wisuda waktu itu.

 

Di seberang jalan, Kiyah menekan tisu tipis ke sudut mata karena angin kampus yang cukup kencang membawa debu. Dia melihat Arie yang sedang bercanda dengan teman-temannya, lalu melambai kecil ketika mata mereka bertemu. Ada rasa lega yang mendalam terpancar dari tatapan mereka berdua. Arie berjalan mendekat, meletakkan

tangannya di bahu Kiyah dengan santai, seolah tak ada lagi rasa canggung yang pernah menghantui hubungan mereka selama masa kuliah.

 

"Semua sudah beres," ucap Arie pelan, suaranya parau tertutup kebisingan knalpot motor di parkiran. Dia menatap langsung ke mata Kiyah, mencoba menyampaikan janji yang sudah lama digantung di ujung lidah. "Aku sudah bicara dengan orang tuamu minggu lalu. Mereka setuju kalau kita nikah sesudah aku dapat kontrak kerja tetap."

 

Kiyah hanya mengangguk, pipinya memerah saat mata Arie tak berpaling. Dia memainkan ritsleting jaketnya yang sedikit macet. "Ibu sudah cerita. Tapi kamu yakin tidak mau fokus kerja dulu? Banyak temanmu yang masih menunda nikah."

 

Arie menggeleng cepat, jarinya menyentuh jemari Kiyah sebentar sebelum ada mahasiswa lain yang lewat membawa kamera. "Tidak ada gunanya menunggu. Aku sudah punya rencana matang. Lagipula, aku tidak sabar ingin pulang ke rumah yang ada kamu di dalamnya."

 

Obrolan mereka terhenti sejenak ketika seorang gadis datang dan memanggil Arie dengan sebutan Ustadz....aku pengen berfoto ajaknya. Perempuan itu membawa kamera dan memanggil sesorang Mas...tolong fotoin kami dong. Arie mengerutkan kening, mengenali wajah itu oh....ternyata dia persinggahan itu Asty dan yang di panggilnya Mas itu kawan sekelasku Rizal. Arie melihat ke Kiyah seakan tidak rela berfoto dengan gadis itu tapi aku tidak pernah menyangka sosok tersebut adalah orang yang selama ini menjadi mimpi burukku, dia tidak bertegur atau memberi salam ke Kiyah, habis berfoto dia pergi begitu saja dan menghilang.


 

 

Malam harinya, mereka berkumpul di sebuah warung kopi sederhana. Ipung duduk di sudut dengan wajah yang tampak sangat berbinar, berbeda dari biasanya yang sering cemberut karena lembur. Dia menepuk meja kayu hingga cangkir kopinya sedikit bergoyang, menatap ke arah Arnas dan Ainun yang sedang saling berbisik pelan.

 

"Aku mau ngomong sesuatu," kata Ipung, suaranya meninggi menarik perhatian seluruh meja. Dia menghela napas, merapikan kerah kemejanya yang agak kusut. "Aku dapet proyek baru di kantor pusat, dan ada senior satu divisi yang orangnya sabar banget.

Dan satu lagi aku dan Hayati sudak oke kayaknya dia yang jodoh Aku."

 

Arie mendengus tertawa, menuang air ke gelas Ipung yang sudah kosong. "Lama juga prosesnya. Aku kira kau bakal jombLo sampai tua karena terlalu sibuk sama lembaran gaji."

 

Ipung mendorong bahu Arie dengan ringan. "Banyak omong lo. Yang penting, hubungan Aku aman. Kalau Arnas sama Ainun mah sudah kayak suami istri sejak semester dua, nggak ada yang perlu diragukan lagi."

 

Masing-masing kawan-kawanku itu menjalani hidup mereka sendiri dengan harapan, ada yang melanjutkan pasca sarjana, ada yang langsung bekerja di instansi dan perusahaan, ada yang kembali berbisnis dan tak sedikit yang lulus CPNS. Arnas melanjutkan kursus Pendidikan dan pelatihan bagian engineering perkapalan di Jakarta, Imran menjadi guru, Ipung memilih jalan profesi penceramah dan enterprener. Ainun lulus PNS, Lely melanjutkan S2 dan menjadi dosen, Vivie lulus PNS dan membuka perguruan sekolah. Ayla menikah dan mengajar di sekolah suaminya,

Rina Kembali ke kampungnya di Aceh dan lulus PNS, Hayati mendampingi Ipung dan mendukung semua cita-citanya. Shari menjadi Dosen dan melanjutkan S2, sedangkan aku awalnya memulai usaha pendistribusian gula merah dan penjualan rokok tapi setelah 3 bulan modal habis dan semuanya pailit, akhirnya aku terima untuk mengajar disalah satu SMK kota Medan selama 3 tahun. Berkat pengalaman itu aku bersama ayah angkatku mendirikan perguruan yang mempunyai unit TK-SD dan SMP dan aku dipercayakan mengurusi semua unit itu, tidak perlu menunggu lama untuk berkembang, alhamdulillah perguruan kami salah satu yang terbaik di kota medan.

Kiyah sejak awal orangtua-nya menghendaki kerja dahulu dan dia diterima di perusahaan RAPP pekan baru, selama itu pula kami LDR-an, setelah itu pada tahun 2014 aku menikahi pujaan hatiku, permataku yang sesungguhnya pada bulan Oktober. Begitulah kami jalani perjalanan ini dengan bersyukur.

Setahunpun berlalu, Arie menarik tuas perseneling mobilnya pelan saat melintasi jalanan Kisaran yang mulai sepi oleh kabut tipis. Dia melirik ke kursi penumpang di mana Kiyah sedang asyik memandangi luar jendela dengan buah hati mereka yang lucu dan manis Alesha Ufaira itulah nama putri kecil mereka berdua  , sesekali menyusuri garis wajah Arie dengan tatapan sayang. Hari ini tanggal 30 Juli, tanggal yang selalu mereka tandai dengan pulang ke tempat ini. Mobil berhenti di depan kedai bakso yang catnya sudah mulai mengelupas. Arie


mematikan mesin, namun dia tidak langsung turun. Dia memutar tubuhnya, menatap Kiyah yang kini sudah membalas pandangannya dengan senyum tipis yang menghangatkan dada.

 

"Tiap tahun kita ke sini, rasanya makin berkesan," ucap Arie, jemarinya menyentuh cincin kawin di jari manis Kiyah. "Di sinilah aku sadar kalau kamu bukan cuma teman kuliah, tapi orang yang bakal aku temani sampai tua." Kiyah merapatkan bahunya ke jendela, lalu membuka pintu mobil tanpa melepaskan senyumnya. "Ayo masuk, Arie.

 

Tamat


Posting Komentar

0 Komentar