PERMATA SESUNGGUHNYA -kutemukan tambatan hati-
PERTEMUAN DI AULA
Aula IAIN Medan terasa pengap sore itu, namun
semangat mahasiswa dari berbagai jurusan tidak surut untuk membahas rencana KKN mandiri. Arie
duduk di barisan belakang, memperhatikan satu per satu wajah yang akan menjadi
rekan setimnya selama sebulan ke depan. Di sana ada Arnas
yang santai, Imran yang serius, serta para mahasiswi yang sibuk mencatat.
Namun, perhatian Arie tertuju pada seorang gadis yang sedang merapikan
jilbabnya, tampak tenang di tengah hiruk-pikuk perdebatan Lokasi pengabdian
mereka nantinya.dalam rapat itu hadir anggota kelompok mandiri
kelompok kami laki-laki: Arnas,
Ipung,Imran, Arie.
yang perempuan: Ainun, Vivie, Hayati, Lely, Ayla, Shari, Kiyah dan
Rina
Kipas angin berputar kencang di langit-langit,
namun aliran udaranya tak cukup kuat menembus barisan kursi yang padat. Bau
menyengat dari spidol penanda papan tulis bercampur dengan aroma kopi instan
yang dibawa beberapa mahasiswa. Arie menyandarkan punggungnya, mencoba fokus pada dosen yang berdiri
di depan, namun matanya terus saja melirik ke arah
baris tengah di sebelah kiri.
Gadis itu tidak ikut dalam perdebatan sengit
mengenai pemilihan desa antara Kecamatan Sunggal atau Deli Serdang.
Ia hanya duduk
dengan posisi tegak,
jemarinya teliti menyusun kembali ujung jilbabnya yang
sempat bergeser saat menulis di buku kecil. Gerakan itu terlihat begitu tenang,
seolah-olah keributan di sekelilingnya hanyalah suara latar yang tak berarti.
"Kita butuh Lokasi
yang aksesnya mudah,
Arnas. Jangan cuma mikirin enaknya
saja," suara Imran terdengar tegas, memecah keheningan sesaat di
sudut ruangan.
Arnas bersandar santai
sambil tersenyum. "Akses gampang bukan berarti
harus di tengah kota, Ad. Kita kan KKN, bukan
study tour."
Beberapa mahasiswa tertawa
mendengar celetukan Arnas. Arie ikut menyeringai kecil, tapi tawanya
langsung menguap saat gadis di baris tengah itu akhirnya angkat bicara. Suaranya tidak
keras, tapi cukup jelas untuk membuat kepala Arie menoleh sepenuhnya.
"Kalau
kita pilih desa yang terlalu
jauh dari jalan
raya, paket data kita habis
percuma. Nanti susah
koordinasi sama warga kalau sinyal mati total," ucapnya datar, tanpa
mendongak dari bukunya.
Arie tertegun. Pandangan gadis itu tajam,
jauh melebihi usianya
yang masih terlihat
muda. Ia mengamati cara gadis itu mencatat sesuatu
lagi setelah selesai
bicara, seolah tugasnya memberi masukan sudah selesai
dan ia tak butuh pujian atas argumennya. Arie merasa ada ketertarikan
yang aneh, sebuah rasa kagum yang mulai tumbuh dari kejauhan.
Ia menunduk, menatap
buku catatannya sendiri
yang masih bersih.
Rasa kagum itu terasa
mengganggu, seperti gatal di tenggorokan yang sulit ditelan. Arie
menarik napas panjang, mencoba mengusir perasaan itu jauh-jauh sebelum rapat
benar-benar dimulai. Ia harus menyatukan fokusnya sekarang, karena tim ini akan
segera resmi terbentuk dan ada tanggung jawab besar yang menunggu.
Papan tulis di depan ruangan
masih berbelek tulisan
spidol yang terhapus
setengah. Arnas
memutar bolpoin di jarinya, matanya menyapu wajah-wajah yang duduk melingkar di
kursi plastik yang mulai kendur. "Siapa yang mau jadi ketua?" tanya Arnas
memecah keheningan yang mulai terasa pengap. Suara sirine jauh di luar gedung
terdengar samar, mengingatkan mereka bahwa hari sudah menjelang sore.
Ipung langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan percaya diri, dagunya terangkat sedikit ke depan. Arie
hanya mengangguk pelan saat Arnas menunjuk namanya sebagai wakil ketua.
Tangannya sibuk merapikan tumpukan dokumen di atas meja, menghindari kontak
mata dengan orang-orang di sekitarnya. Ada kegelisahan yang ia coba sembunyikan
di balik ketenangan pura-pura itu.
Di sisi lain, Kiyah terpilih
menjadi bendahara karena ketelitiannya yang sudah teruji di tugas-tugas
sebelumnya. Arie mencuri pandang ke arah Kiyah yang sedang
mencatat anggaran awal dengan teliti. Ujung pulpennya digigit pelan, kebiasaan
yang Arie perhatikan baru pertama
kali ini. Meja di sebelah
Kiyah tampak berantakan dengan kabel charger
yang melilit gelas minum.
suara lembut Kiyah saat membacakan hasil rapat
membuat Arie terpaku sepenuhnya. "Total biaya akomodasi ini kurang dari perkiraan awal," kata Kiyah tanpa
mendongak. Arie
merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, sebuah sensasi fisik yang tidak
biasa. Ada getaran aneh yang belum pernah
ia rasakan sebelumnya, sebuah ketertarikan instan
yang mengganggu konsentrasinya.
Ketertarikan
itu membuat Arie mendadak gugup saat Kiyah menatapnya untuk meminta
persetujuan jadwal survei.
"Arie, lo setuju
untuk survei Lokasi
minggu depan?" tanya Kiyah. Arie membuka
mulut, namun hanya udara kosong yang keluar. Ia meraih botol minum di
sampingnya, mencoba menenangkan tangan yang sedikit gemetar karena tekanan
emosi yang tiba-tiba muncul. ketegangan di ruangan itu meningkat saat Ipung
mulai mendesak soal target Lokasi KKN yang sulit. "Kita butuh tempat yang
benar-benar terpencil, bukan cuma sekadar desa pinggiran," sela Ipung dengan
nada tinggi. Arie melirik Kiyah lagi,
melihat kerutan halus
di
kening gadis itu saat mendengarkan argumen Ipung. Konflik
soal Lokasi mulai
memecah suasana yang tadinya cair. Arie merasa terjepit
di antara ambisi Ipung dan kehati-hatian Kiyah yang mulai
terlihat khawatir. Ia harus
mengambil sikap sebelum
rapat malam itu bubar tanpa
keputusan. "Kita bahas
opsi Lokasinya satu per satu," ucap Arie, suaranya sedikit serak
karena kekeringan di tenggorokan. Ia berusaha mengalihkan perhatian agar
diskusi tidak berlarut-larut dan emosinya tetap terkendali.
Begitu rapat dimulai lagi, perhatian mereka segera
beralih sepenuhnya ke pemilihan Lokasi KKN yang sulit.
Arie menyetujui jadwal
itu dengan suara
serak, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang
kencang. Ia mencatat beberapa poin penting sambil sesekali mencuri pandang ke
arah Kiyah yang masih asyik menghitung anggaran dengan tenang di sampingnya. Keputusan rapat
hari itu berjalan
cepat, mungkin terlalu
cepat. Begitu nama Ipung diketuk sebagai ketua keLompok, suasana
ruangan yang tadinya tegang sedikit mengendur.
Namun, Arie tahu masalah utama
baru saja dimulai.
Papan tulis masih
penuh coretan tinta merah dan biru, menandai peta
Lokasi yang menjadi rebutan sejak tadi pagi. Rina berdiri dan menunjuk ke arah garis pantai di peta. "Kita harus
ambil daerah pesisir, teman-teman. Akses air bersih di sana masih jadi masalah
utama. Kita bisa fokus ke sanitasi," ujarnya dengan nada meyakinkan. Beberapa anggota lain mengangguk setuju. Ide itu memang terdengar aman dan
terstruktur.
Namun, Kiyah yang duduk di sudut meja
tidak langsung setuju. Ia merapikan tumpukan dokumen di depannya sebelum
akhirnya angkat suara.
"Kalau kita lihat
dari sisi kebutuhan mendesak, daerah pesisir sudah
sering jadi sasaran program pemerintah." Ia menatap Ipung, lalu
beralih ke Arie. "Saya lebih condong ke desa perkebunan di
Kisaran."
Arie menoleh ke
arah Kiyah. Ia memperhatikan nada suara Kiyah yang tenang namun tetap tegas. "Kenapa Kisaran?" tanya Arie, meski sebenarnya ia sudah memiliki
jawaban di kepalanya. Ia
ingin mendengar argumen itu langsung dari mulut Kiyah, ingin melihat betapa seriusnya gadis itu saat
mengeluarkan pendapat. Kiyah menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Di sana aksesnya sulit, jalannya rusak
parah kalau musim
hujan. Tapi yang paling menyedihkan adalah fasilitas pendidikan mereka. Anak-anak di sana
butuh bimbingan belajar dan motivasi, bukan cuma fisik
bangunan." Suara Kiyah tidak meninggi, tapi setiap kata
terasa memiliki beban yang berat.
Arie merasakan degup jantungnya sedikit
meningkat. Bukan karena tekanan rapat, tapi
karena cara Kiyah memandang masalah itu. Ia melihat ini sebagai
kesempatan. "Saya setuju dengan Kiyah," ujar Arie
tiba-tiba. Suaranya sedikit lebih keras dari biasanya, memecah keheningan
setelah penjelasan Kiyah. Ipung yang duduk di
depan sedikit mengernyit. Ia menatap Arie, lalu Kiyah, seolah
mencoba membaca situasi. "Arie, kita belum mendengar pendapat semua
anggota. Rina sudah punya argumen
kuat soal Logistik," kata Ipung mencoba
menahan laju dukungan terhadap Kiyah.
"Ini bukan soal Logistik yang mudah, Ipung," potong
Arie. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan,
menatap langsung ke arah ketua keLompok yang baru saja terpilih itu. "Ini
soal di mana kehadiran kita benar-benar dibutuhkan. Kisaran itu menantang, tapi
di situlah letak strategi kita sebenarnya." Ia sengaja menekankan kata
'strategi' untuk menunjukkan bahwa ia berpikir secara objektif.
Kiyah menoleh ke
arah Arie, matanya sedikit melebar karena terkejut melihat dukungan yang
begitu bersemangat. Namun, di balik tatapan itu, ada sedikit rasa malu karena
menjadi pusat perhatian dalam perdebatan tersebut. "Terima kasih,
Arie. Tapi kita harus
lihat juga kemampuan kita," bisik Kiyah pelan, hanya Arie
yang mendengarnya. Ipung mendengus pelan. Ia merasa sedikit
tergeser sejak awal rapat. Sebagai
ketua, seharusnya ia yang mengarahkan diskusi, tapi Arie dan Kiyah
seolah memiliki bahasa rahasia sendiri. "Oke, kalau begitu kita lihat data lapangannya. Siapa
yang punya data tentang kondisi sekolah di
Kisaran?" tanya Ipung, mencoba merebut kembali kendali diskusi.
Arie segera
mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari tasnya. "Saya sudah survei awal
secara informal minggu lalu. Jumlah siswa yang putus sekolah di sana cukup
tinggi karena harus membantu
orang tua di kebun." Ia menyerahkan map itu kepada
Ipung. "Ini bukan
keputusan tiba-tiba. Saya sudah riset." Ipung menerima map itu dengan
ragu. Ia membuka
halamannya, melihat data yang rapi dan argumen yang matang. Ia tidak
bisa memungkiri fakta di atas kertas. Kiyah menatap Arie dengan
kagum. "Lo sudah menyiapkan ini semua sendirian?" tanya Kiyah.
"Bukan sendirian. Saya cuma ingin kita memilih tempat yang paling
berdampak," jawab
Arie sambil
menghindari kontak mata langsung dengan Kiyah, takut gadis itu membaca
geLombang dalam hatinya. Ia memang ingin menunjukkan keberanian, bukan sekadar
untuk pamer, tapi untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi pelindung bagi orang-orang di sekitarnya.
Suasana ruangan menjadi
hening selama beberapa
menit. Hanya terdengar
suara kertas yang dibalik oleh
Ipung. Rina melipat tangannya, mencoba menerima kenyataan bahwa
usulannya akan kalah. "Kalau datanya sudah sekuat ini, saya tidak
keberatan mundur," ujar Rina dengan berat hati. Ipung menutup map itu perlahan. Ia menatap Arie, lalu Kiyah,
dan akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Keputusan
akhirnya bulat: Kisaran." Mendengar kata-kata itu, Arie merasa ada kemenangan kecil, meski ia tahu
perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.
Namun, saat Ipung mulai menunjuk tim
kecil untuk persiapan administrasi, Arie merasakan ada yang tidak
beres. "Saya akan ajak Ipung dan Rina untuk
rapat lanjutan nanti
sore," kata Ipung dengan nada yang sengaja dibuat santai. Arie menahan napas. Dadanya terasa sesak. Ia melihat Ipung
mendahuluinya, meninggalkannya di dalam
ruangan yang mulai
kosong itu. Ia menunduk, menatap
meja yang mulai dibersihkan oleh anggota lain. Kekecewaan mulai
menggerogoti hatinya, mengingatkan kembali pada perasaan kecil yang sering ia
coba sembunyikan.
Kiyah yang sedang
membereskan kursinya mendekati Arie. Ia meletakkan tangannya di atas
meja, tepat di depan Arie. "Jangan khawatir, Arie. Masih
banyak hal yang bisa kita lakukan untuk persiapan ini." Senyum Kiyah di ujung rapat
itu terasa seperti
satu-satunya obat penawar yang mampu menjinakkan kekecewaan Arie. Keputusan itu
jatuh begitu saja di akhir rapat, membelah suasana ruangan yang sudah pengap
menjadi dua kubu. Ipung menutup map berwarna hijau dengan satu ketukan
tepat di meja plastik yang mulai retak
di sudutnya. Ia tidak menoleh,
hanya melanjutkan kalimatnya
dengan nada yang tidak terbantahkan.
"Oke, tim kecil berangkat besok pagi. Aku
dan Arnas yang survei ke Kisaran dulu," kata Ipung. Suaranya
datar, seolah membacakan jadwal kerja rutin, bukan sebuah pengumuman yang bisa menghancurkan harapan seseorang. Arnas mengangguk pelan di sampingnya, memainkan tutup bolpoin
yang sudah Longgar.
Arie menegang di kursinya. Jari-jarinya
menggenggam erat pinggiran meja hingga buku
kukunya memutih. Dalam hati, ia sudah menyusun
skenario ikut serta, membayangkan
bagaimana ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalam bus bersama Kiyah,
membicarakan detail proyek, atau mungkin sekadar melihat pemandangan bersama. Ia menelan
ludah yang terasa
kering. Matanya melirik
ke arah Kiyah yang duduk di barisan
kursi paling belakang, dekat jendela yang kacanya berdebu. Gadis itu tampak
sibuk menulis di buku catatannya, mungkin sedang merangkum poin-poin keputusan
rapat, tak menyadari betapa beratnya udara yang baru saja didorong oleh ketua
keLompok mereka.
Arie menarik napas panjang. Kekecewaan mengumpul di dasar tenggorokannya, terasa pahit dan mengganjal. Namun, ia
adalah Arie, wakil ketua yang dikenal menjaga profesionalisme. Ia tidak
bisa membuat ulah seperti anak kecil yang mainannya diambil teman
sepermainannya. Ini soal tanggung jawab organisasi, katanya dalam hati, meski
jiwanya sedang meronta.
"Baik,
Ipung. Aman kalau
kalian berdua yang ke sana," jawab Arie. Suaranya
keluar lebih stabil dari yang
ia sangka. Ia berhasil menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis, sebuah
topeng yang sering ia pakai saat konflik batin sedang tinggi. Beberapa anggota
keLompok lain mulai membereskan tas mereka, suasana cair kembali.
Ipung akhirnya
berdiri dan melangkah keluar ruangan tanpa menunggu Arnas. Arnas
sendiri terlihat sedang
asyik berbisik dengan
seseorang di dekat
pintu. Kerumunan orang perlahan menyebar, meninggalkan
ruangan yang kini hanya diisi suara kipas angin yang berderit pelan di plafon. Arie
masih duduk, mematikan pulpennya dengan satu tangan. Rapat resmi bubar, tetapi
ketegangan di dada Arie belum sepenuhnya hilang. Ia merasa ada yang
janggal dengan cara Ipung memutuskan siapa yang berangkat. Sepertinya Ipung sengaja
mengabaikan kehadiran Kiyah dalam tim survei
itu, padahal Kiyah adalah bendahara yang seharusnya ikut mengecek kondisi riil di
lapangan.
Kiyah mendekat
setelah ruangan mulai sepi. Langkah kakinya pelan di atas lantai ubin yang
dingin. Ia membawa selembar kertas folio yang terlipat rapi di tangannya.
Wajahnya terlihat tenang, meskipun
ada sedikit kerutan
di dahinya yang menandakan ia juga sedang memikirkan sesuatu yang serius. "Rie, ini catatan rincian
biaya perjalanan untuk
tim survei nanti," ucap Kiyah. Ia meletakkan
kertas itu di atas meja, tepat di depan Arie. Arie menatap kertas
itu, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Kiyah. Ada bayangan lelah di
mata gadis itu, mungkin akibat ruangan yang terlalu panas tadi.
Arie mengambil
kertas itu dan membukanya perlahan. Matanya tidak benar-benar membaca angka-angka yang tertulis rapi di sana. Pikirannya melayang,
membayangkan bagaimana seharusnya ia yang berdiri di posisi Ipung,
memegang kepemimpinan itu untuk memastikan Kiyah ikut serta dalam
perjalanan tersebut.
"Terima kasih, Kiyah. Ipung
dan Arnas memang cukup tangguh untuk survei lapangan," kata Arie,
mencoba menyembunyikan nada getirnya. Ia berharap Kiyah akan memprotes
keputusan Ipung, atau setidaknya menunjukkan rasa kecewa karena tidak dilibatkan. Tapi Kiyah hanya mengangguk, seolah itu adalah takdir
yang tidak bisa diubah lagi.
Kiyah tersenyum kecil, sebuah senyum yang tidak menyentuh matanya
sepenuhnya. "Iya, semoga
lancar saja. Kasihan juga mereka harus berangkat subuh-subuh," balasnya.
Ia merapikan buku catatannya ke dalam tas kanvas yang sudah usang di bagian
tepinya.
Gerakan tangannya teratur,
menunjukkan ketenangan yang sering membuat
Arie merasa damai.
"Hati-hati di jalan ya, Rie," kata Kiyah
tiba-tiba. Kalimat itu pendek, sederhana, dan terdengar seperti pengantar tidur
yang biasa. Namun,
bagi Arie, kata-kata itu jatuh seperti embun di tengah padang pasir. Ada
kehangatan yang menyelinap masuk ke dalam dadanya, merontokkan sedikit demi
sedikit rasa kesal terhadap Ipung.
Arie mendongak,
menatap langsung ke dalam mata Kiyah yang berwarna cokelat muda.
"Lo juga hati-hati di sini.
Jangan sampai terlalu
capek mengurus administrasi sendiri," balasnya. Suaranya sedikit parau. Kiyah
hanya tertawa kecil, sebuah suara yang lembut dan mengalun mengalahkan derit
kipas angin di atas sana.
Mereka terdiam sesaat,
bukan sebuah keheningan yang canggung, melainkan
sebuah jeda yang penuh dengan
pemahaman tanpa kata. Arie bisa melihat serat-serat halus di baju Kiyah
yang berwarna krem, dan aroma parfum laundry yang tipis mulai tercium oleh
hidungnya karena jarak mereka yang kini begitu dekat.
"Aku duluan ya, Rie. Masih harus print ini
di warnet sebelum magrib," ujar Kiyah sambil menarik tali tasnya. Ia melangkah mundur
satu langkah, lalu berbalik badan.
Rambutnya yang diikat setengah
itu menutupi sebagian
leher putihnya saat ia berjalan
menuju pintu. Arie
hanya bisa menatap punggung gadis itu hingga hilang ditelan Lorong gelap di
luar ruangan.
Arie menghela napas
lega. Kekecewaannya karena tidak jadi pergi bersama Kiyah memudar, tergantikan oleh semangat baru yang muncul
begitu saja. Ia merasa memiliki
alasan kuat untuk
bekerja lebih keras,
agar proyek ini sukses dan ia bisa memiliki lebih banyak waktu bersama Kiyah
di kesempatan berikutnya.
Ia berdiri dari kursinya, merapikan beberapa
kertas yang masih berserakan di meja. Ruangan itu kini sepi total, hanya ada
bayangan dirinya sendiri yang memanjang di lantai karena cahaya matahari yang mulai berubah
jingga di luar jendela. Ada perasaan ringan
di dadanya, sebuah ledakan emosi positif yang datang dari sebuah kalimat
pendek tadi.
Sepanjang perjalanan pulang menggunakan angkot yang bau bensin dan penuh sesak, Arie terus tersenyum
sendiri. Bayangan Kiyah yang menyerahkan kertas tadi terus berputar di
kepalanya, seolah-olah gadis itu masih berdiri di sampingnya, membisikkan
kata-kata semangat yang tidak pernah benar-benar diucapkan.
Ia tidak lagi merasakan lelah
di punggungnya akibat
duduk berjam-jam di ruangan yang panas itu. Keringat yang tadi
membasahi kerah bajunya terasa sejuk, dan deru mesin angkot yang berisik
terdengar seperti musik latar yang mengasyikkan. Dunia seolah berputar lebih
lambat, memberinya ruang untuk menikmati getaran hatinya sendiri.
Sesampainya di depan rumah kontrakannya, Arie
masih termangu di depan pagar. Bayangan Kiyah menemaninya sepanjang
perjalanan pulang, hingga akhirnya memicu untaian rasa yang menggema di dalam
diam. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tumbuh di sana, sesuatu
yang lebih dalam
dari sekadar rasa suka pada teman organisasi.
Suara denting kecil dari jam dinding di ruang
tengah kos terdengar lebih keras dari biasanya. Arie duduk bersandar di
kasur, punggungnya menyangga bantal yang mulai kempis. Di atas meja plastik di samping jendela,
buku catatan harian
kosong menantang tanpa
dibuka. Matanya menatap ke arah lampu neon yang berkedip pelan, namun
pikirannya tertuju pada sebuah suara yang didengarnya siang tadi.
Ia teringat bagaimana Kiyah menjawab
pertanyaan-pertanyaan tadi pagi. Gadis itu tidak langsung menimpali dengan argumen panjang,
melainkan tersenyum kecil,
menundukkan sedikit kepala, lalu memilih kata-kata yang tidak
menyakitkan meski sedang dibantah halus. Arie menghela napas panjang,
mencoba meniru ketenangan suara itu di dalam kepalanya, namun dadanya terasa
sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Kenapa
harus grogi sekarang?" gumamnya pelan, jari-jarinya mulai mengetuk-ngetuk
permukaan meja yang dingin.
Ia meraih bolpen yang tergeletak di antara tumpukan modul administrasi.
Tutup bolpen itu
dimainkannya dengan jari telunjuk, berputar
liar sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Arie membiarkannya tergeletak di
sana. Ia membuka buku catatan itu di halaman baru, menemukan garis-garis kertas
yang masih bersih. Ia ingin menuliskan sesuatu, tapi tangannya terasa
kaku. Bukan karena
tidak tahu apa yang dirasakan, tapi karena takut kalimat yang ia tulis tidak akan
cukup untuk menggambarkan sosok Kiyah.
Arie mulai menuliskan satu kata: Sabar . Ia terhenti. Kata itu terlalu
umum. Ia mencoretnya dengan kasar hingga kertasnya
berlubang. Ia melirik ke arah jendela yang mulai dibasahi embun malam. Di luar
sana, suara jangkrik mulai bersahutan dengan ritme yang tidak beraturan.
"Kiyah bukan sekadar teman satu tim," bisiknya pada
ruangan yang sepi.
Pikiran Arie melayang
ke masa lalu,
pada kegagalan yang menyakitkan di semester tiga. Waktu itu, ia terlalu takut untuk
mengatakan apa yang ia rasakan hingga orang lain mengambil kesempatan itu. Ia
tidak ingin menjadi penonton lagi. Namun, melihat Kiyah yang begitu
tenang dan dihormati banyak orang, Arie merasa dirinya seperti debu yang
tidak layak menempel pada permata.
Ia menutup buku catatannya dengan satu ketukan
keras. Suara itu memecah kesunyian kamar. Arie bangkit
dari kasurnya, merasa
gelisah. Ia berjalan
menuju jendela, membuka kaca jendela itu lebih lebar agar
udara malam yang dingin bisa masuk dan menyegarkan pikirannya yang mulai
berasap.
Di halaman depan, lampu penerangan jalan yang
redup menciptakan bayangan-bayangan panjang. Arie melihat sosok
seseorang sedang duduk di teras rumah sebelah, mungkin sedang menikmati teh
hangat. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang
mulai berlari kencang. Ini bukan tentang memenangkan hati Kiyah malam ini, pikirnya. Ini tentang menjadi
pribadi yang lebih
baik, seperti apa yang selama
ini ia doakan dalam sujudnya.
Ia kembali ke meja belajarnya, membuka kembali buku catatan itu. Kali ini, ia tidak
menulis tentang Kiyah. Ia menuliskan daftar hal-hal kecil yang
ingin ia perbaiki dalam dirinya: kesabaran dalam mendengar, ketenangan dalam
berdebat, dan keberanian untuk tersenyum lebih dulu. Saat menulis, bahunya yang
sebelumnya tegang mulai mengendur. Kegelisahan itu perlahan berubah menjadi
keputusan kecil yang nyata.
Arie menutup matanya
sejenak, merasakan denyut nadi di pelipisnya melambat.
Malam memang memberikan ruang untuk keraguan, tapi juga memberikan waktu
untuk
merencanakan
langkah besok. Ia tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja hanya karena ia terlalu sibuk
memikirkan apa kata orang lain. Besok pagi, saat matahari kembali menyinari
desa ini, ia akan memulai dengan langkah yang lebih pasti.
Hari sudah mulai menanjak, tapi hawa dingin
masih menyelimuti sudut koridor fakultas yang sempit. Arie menarik
ritsleting jaketnya hingga leher, menyusuri barisan mahasiswa yang mulai
memadati meja pelayanan. Matanya langsung menangkap sosok Kiyah di ujung
baris, gadis itu tampak kewalahan menahan tumpukan map tebal yang nyaris tumpah dari pelukannya. Beberapa
helai rambut Kiyah lepas menutupi kening
yang sedikit berkerut karena
fokus membaca daftar berkas di tangannya.
Tanpa berpikir panjang,
Arie melangkah cepat
mendekat sebelum kerumunan mahasiswa lain menghalangi jalannya. Ia menyenggol bahu seorang
teman kelas yang sedang asyik menatap ponsel, lalu berhenti tepat di depan Kiyah.
"Biar aku yang fotokopi ini, Kiyah," ucap Arie sambil mengulurkan tangan,
mencoba mengambil setengah
tumpukan map dari pelukan Kiyah agar beban gadis
itu berkurang.
Kiyah mendongak,
mata mereka bertemu sesaat sebelum ia mengalihkan pandangan ke map di tangan Arie.
Wajahnya mengendur, meLontarkan senyum tipis yang membuat lesung pipit
di pipinya muncul.
"Terima kasih, Arie. Tumpukannya memang cukup
banyak," jawab Kiyah. Suaranya terdengar lega, jauh lebih
hangat daripada biasanya. Arie mengangguk singkat, lalu bergegas menuju
sudut koridor di mana mesin fotokopi berdiri.
Di sela langkahnya, ia melirik ke arah sofa plastik di pojok ruangan.
Dari kejauhan, Ipung duduk dengan kaki
disilangkan. Ia tidak memegang map atau formulir apa pun, hanya menatap tajam
ke arah Arie dan Kiyah yang sedang berinteraksi. Jari-jari Ipung
meremas plastik bungkus permen di tangannya hingga mengeluarkan bunyi kress
yang cukup keras. Kerut di kening Ipung dalam, mengirimkan sinyal bahwa
persaingan di antara mereka bertiga
mulai memanas dan tidak bisa lagi disembunyikan di balik senyum sopan mahasiswa.
Arie bisa merasakan
tatapan itu menusuk punggungnya saat ia memasukkan kertas ke mesin fotokopi. Ia menarik napas
panjang, memilih untuk
mengabaikan tekanan dari arah
Ipung. Baginya, menyelesaikan tugas keLompok dan menjaga kedekatan
dengan Kiyah jauh lebih penting daripada terjebak dalam konfrontasi
dingin yang tidak perlu. Namun, keputusan itu membuat dadanya sesak, menyiapkan
dirinya untuk ledakan konflik yang mungkin meledak kapan saja di antara mereka.
Sinar matahari sore menembus celah tirai
berwarna krem di ruang dosen pembimbing. Cahayanya jatuh diagonal ke atas meja
kayu yang penuh sesak dengan tumpukan proposal mahasiswa. Suasana di dalam
ruangan jauh lebih hening dan formal dibandingkan rapat umum di aula fakultas.
Arie melipat jarinya,
merasakan ketegangan menjelang
sesi pembekalan terakhir yang sangat menentukan ini.
Dia terburu-buru berjalan cepat di koridor yang
panjang dan sepi. Lantai ubin marmer menciptakan gema langkah kaki yang
terdengar sangat riuh di telinganya sendiri. Arie berharap sang dosen belum memulai sesi bimbingan, sehingga
dia tidak terlihat
seperti mahasiswa yang tidak disiplin. Tangannya
mencengkeram erat tali tas selempang
yang melintang di dadanya.
Sesampainya di depan pintu, Arie
mendorong daun pintu jati yang berat dengan bahu kirinya. Napasnya
tersengal-sengal karena tadi berlari kencang
dari parkiran motor yang
jauh. Saat pintu terbuka lebar, suara langkah kaki dan desiran kertas di dalam
ruangan mendadak berhenti. Semua
mata dari rekan-rekannya dan dosen pembimbing langsung tertuju ke arah dirinya.
Ruangan itu terasa pengap karena jumlah kursi
yang ditambah melebihi kapasitas normal. Arie menarik kerah kemejanya
yang terasa mendadak sempit dan panas di lehernya. Dia menundukkan wajah, berusaha menghindari kontak mata dengan dosen pembimbing yang sedang memegang pulpen di tangannya. Heningnya ruangan
terasa menekan telinganya, membuat detak jantungnya semakin kencang.
Di sudut ruangan, tepat di sebelah pintu
jendela, hanya tersisa satu kursi plastik kosong. Kursi itu tampak sangat kecil
dan terisolasi di antara barisan kursi kayu yang rapi milik mahasiswa lainnya. Arie
merasa seolah-olah kursi itu adalah sebuah panggung yang sengaja disiapkan
untuk menguji ketenangannya. Dia melangkah maju dengan kaki yang
terasa sedikit limbung.
Setiap langkah yang diambilnya terasa berat,
seolah lantai kayu parket sedang menarik kakinya ke bawah tanah. Arie
menarik napas panjang dan mencoba menenangkan pikirannya yang mulai kacau.
Namun, tak ada jalan mundur
lagi bagi dirinya
karena semua orang sudah
melihat kedatangannya. Dia harus segera duduk dan menghadapi konsekuensi dari
keterlambatannya.
Arnas menunjuk ke arah kursi
paling belakang di deretan kiri.
"Duduk di sana,
Arie!" suaranya menggelegar di tengah kelas yang mulai
ramai. Arie menelan ludah yang
tiba-tiba terasa kental.
Kakinya terasa berat
saat melangkah melewati
barisan meja, seolah semua mata tertuju pada kerah
jaketnya yang sedikit naik, sisa dari kepanikan di koridor tadi.
Ia duduk dengan kaku di sebelah Kiyah.
Udara di sela-sela mereka terasa tipis. Arie mencondongkan tubuh,
berusaha menjauh sekaligus mendekat, tapi malah membuat sikunya nyaris menabrak buku catatan milik Kiyah. "Maaf," gumamnya cepat, suaranya serak.
Kiyah tidak
menoleh. Gadis itu sibuk merapikan pulpennya, tapi Arie bisa melihat
garis rahangnya yang tegang. Sebaliknya, wangi parfum Kiyah yang
lembut--semacam bedak tabur dan air hangat--menyeruak, menusuk
indra penciuman Arie dan membuat telinganya panas.
Arie mencoba fokus
pada papan tulis
yang kosong, tapi dadanya masih
sesak. Ia merogoh saku jaket untuk mengambil pulpen, tangannya gemetar
hebat karena sisa adrenalin. Saat ia menarik pulpen itu keluar,
jarinya terlalu kaku sehingga benda itu terlepas dan jatuh ke lantai dengan
bunyi klik yang keras.
Kiyah memungutnya
sebelum Arie sempat bergerak. Gadis itu memutar pulpen itu di jari
telunjuknya sebentar, lalu memberikannya tanpa berkata apa-apa,
hanya dengan sebuah senyum kecil yang tidak mencapai
matanya. Arie merasa wajahnya memanas, takut jika Kiyah bisa
mendengar detak jantungnya yang sangat berisik di tengah keheningan ruangan.
Di sudut pandang Arie, Arnas
sudah berdiri di depan kelas, mengatur beberapa lembar kertas di mejanya. Arie
buru-buru mencatat sesuatu yang tidak penting hanya untuk mengalihkan perhatian dari getaran di dadanya. Ia mencoba mengatur
napas agar tidak terdengar seperti orang yang baru
saja lari maraton.
Ketegangan di antara
mereka berdua hampir
terasa fisik. Arie menyadari bahwa keputusan rapat tadi tidak hanya mengubah
susunan keLompok, tapi juga membawa beban baru yang ia tidak tahu harus dibuang
ke mana. Ia menunggu dosen memulai kelas, berharap suara orang lain bisa
menenggelamkan kebisingan di kepalanya.
Suara pak Dosen memenuhi ruang kelas dengan
rincian teknis tentang Lokasi pengabdian di Kisaran. Arie duduk kaku di
kursinya. Lengan kirinya menempel hampir tanpa celah pada lengan
kanan Kiyah. Ruangan
ber-AC ini terasa
panas bagi leher
Arie. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan telinga
yang mendadak memanas, sementara aroma lembut parfum Kiyah terus
mengganggu konsentrasinya.
Di depan sana, pak Dosen sedang memutar video
profil desa. Cahaya proyektor yang redup membuat jarak mereka terasa semakin
sempit. Arie mencoba fokus pada layar, namun matanya selalu tertarik
kembali ke arah jari-jari Kiyah yang sedang memainkan ujung ballpoint. Cukup tiga sentimeter lagi, lengan kita akan benar-benar bersentuhan,pikir Arie panik. Ia
buru-buru merapatkan buku tulisnya, berpura-pura sibuk mencatat.
Tiba-tiba, sebuah buku catatan bergaris biru
menyela di antara tubuh mereka. Kiyah menyodorkannya ke tengah meja. Gerakan itu memaksa Arie untuk berhenti mencuri pandang. Kiyah lalu
menunjuk bagian bawah paragraf dengan kuku yang tidak dicat.
"Tulis
bagian ini, Rie. Poin-poin tentang
kontak masyarakat itu penting untuk
draf laporan nanti,"
bisik Kiyah pelan. Napas Kiyah menyapu pipi Arie yang
terlalu dekat. Arie nyaris tidak mendengar kata-katanya karena sibuk
menahan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Arie mengulurkan
tangan untuk mengambil pena yang terselip di buku Kiyah. Saat tangannya
melintas, punggung tangannya secara tidak sengaja menyentuh punggung tangan Kiyah. Sentuhan itu sangat
singkat, namun terasa
seperti sengatan arus listrik yang membuat Arie membeku. Kiyah
menarik tangannya sedikit, tapi tidak menjauh terlalu jauh.
"Iya, nanti aku tulis," jawab
Arie dengan suara
serak. Ia buru-buru menulis, tapi tulisan tangannya terlihat sangat
berantakan malam itu. Tinta hitam membesar di beberapa bagian karena
genggamannya yang terlalu kuat pada batang pena. Ia tidak berani menoleh, takut
jika Kiyah melihat wajahnya yang merona merah karena hal sepele itu.
Pak Dosen tiba-tiba
mematikan proyektor dan menyalakan lampu ruang kelas. Cahaya
terang menyilaukan mata Arie sejenak. Ia mengedipkan mata perlahan,
mencoba menyesuaikan penglihatannya. Di sampingnya, Kiyah sedang
membereskan
buku-bukunya dengan tenang dan teratur, seolah tidak terjadi apa-apa.
Arie merasa ada
yang aneh dalam ketenangan Kiyah. Gadis itu tidak pernah terlihat gugup,
bahkan setelah kejadian
kecil tadi. Arie mencuri pandang ke arah wajah
Kiyah yang
sedang fokus merapikan kertas. Profil samping
Kiyah terlihat sangat
tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja
bersentuhan tangan secara intim di ruang kelas.
Di sudut meja, Arie melihat secarik
kertas kecil jatuh dari buku catatan Kiyah saat dipindahkan. Arie
hendak memungutnya, namun tangannya terhenti di udara. Matanya menangkap tulisan
tangan Kiyah di atas kertas
itu, yang bukan
merupakan catatan kuliah, melainkan sebuah nama yang ia
kenal sangat baik. Namanya sendiri tertulis di sana, dengan hati kecil yang
tergambar di sampingnya.
Arie menelan ludah
keras. Ketegangan di dadanya berubah menjadi kecurigaan yang tajam. Apakah
ketenangan Kiyah tadi hanyalah sandiwara? Arie memandang
sekeliling ruangan yang mulai kosong. Matanya terpaku pada sosok di depan pintu
yang sedang menatapnya dengan sorot
tajam. Ipung berdiri
di sana, menunggu
dengan tangan terlipat di dada.
Ruangan bimbingan terasa pengap oleh asap
spidol dan aroma kopi saset yang sudah dingin. Ipung duduk di kursi
paling depan, jemarinya mengetuk-ngetuk meja plastik mengikuti detak
jam dinding. Sesekali
ia menoleh ke barisan belakang, meLotot tajam ke arah Arie yang asyik bersandar
santai sambil membalas senyum Kiyah. Napas Ipung mulai memendek,
dadanya terasa sesak menahan amarah yang mulai menggeLora.
Ketegangan di ruangan
itu tidak hanya terasa di hati Ipung, tapi juga terpancar
dari bahu Arie yang
sedikit meringkuk. Gadis di sebelah Arie terus berbisik tentang jadwal
pemberangkatan, namun Arie sibuk mencoret-coret tepi kertas presentasi dengan gambar kecil
yang tidak jelas. Ipung menggertakkan giginya, melihat Arie
seolah lupa bahwa mereka sedang dalam rapat resmi. Udara di ruangan itu terasa
makin tipis bagi Ipung yang mulai kehilangan kesabaran.
Begitu suara dosen
pembimbing hilang di balik pintu,
Ipung langsung berdiri
dan menarik kerah jaket Arie
dengan kasar. "Keluar," bisiknya singkat. Arie terbatuk kaget,
tapi Ipung sudah menyeret kakinya menuju sudut ruangan yang gelap, jauh
dari pandangan mahasiswa lain yang mulai membereskan tas mereka. Jantung Arie
berdegup kencang, merasakan urat leher Ipung yang menegang di
sampingnya.
"Fokus, Rie. Kita ke sana untuk kerja,
bukan untuk main-main," suara Ipung dingin, matanya menatap tajam
ke arah Arie yang sedang menunduk. Arie menarik napas panjang, mencoba
menenangkan detak jantungnya yang mulai kacau. Ia ingin membalas
omongan Ipung, namun dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah dan amarah
yang
bercampur aduk. Arie hanya bisa menatap
lantai keramik yang retak, berusaha
menjaga napas agar tidak memburu.
Ipung melangkah
maju, menciutkan jarak di antara mereka berdua hingga Arie bisa mencium
aroma sabun cuci piring di baju Ipung. "Lo pikir ini semua cuma
lelucon? Lihat tim kita, mereka semua mulai memandang rendah kita karena
sikapmu itu," desis Ipung. Arie mengepalkan tangannya di
balik punggung, merasakan kuku-kukunya mencengkeram telapak tangannya sendiri.
Suara napas Ipung yang memburu terdengar jelas di telinga Arie,
membuat suasana jadi makin mencekam.
Tiba-tiba, suara tawa Kiyah terdengar
dari sudut ruangan lain, seolah menambah tekanan di kepala Arie. Arie menatap ke arah gadis itu, melihatnya sedang
tertawa bersama teman lain, tak sadar bahwa di sudut
gelap ini hubungan persahabatan mereka mulai merenggang. Arie merasakan
perih di ulu hatinya, sebuah konflik batin yang sangat menyakitkan. Ia tidak
ingin kehilangan sahabatnya, tapi hatinya tidak bisa berbohong tentang apa yang
ia rasakan untuk Kiyah.
"Maafkan aku, Pun. Aku... aku cuma
bingung," suara Arie akhirnya keluar, parau dan tertatih. Ipung mendengus keras, melepaskan cengkeramannya di kerah jaket Arie dan meludah ke lantai sebagai bentuk kekecewaan. Suasana hening
mencekam menguasai sudut ruangan itu, hanya diselingi oleh suara sirine mobil
jauh di luar gedung. Arie merasakan kepalanya berdenyut, stres yang
menumpuk mulai memengaruhi pikirannya tentang pemberangkatan besok.
Malam itu, Arie duduk sendirian di kamar
kos, menatap langit-langit yang mulai memunculkan bercak kelembapan. Ia merasa terisolasi, jauh dari keramaian
kampus yang biasanya
menenangkannya. Pikirannya terus tertuju pada tatapan tajam Ipung dan
senyum Kiyah yang menghantui. Ia memegang dadanya, merasakan jantungnya
berdetak tidak beraturan, tanda bahwa tekanan mental yang ia alami sudah
mencapai batas psikoLogis yang membahayakan.
Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, menutup
mata dan membayangkan dirinya berada di tempat yang tenang. Namun,
bayang-bayang amarah Ipung terus muncul, membuat napasnya
tersengal-sengal kembali. Arie menyadari bahwa ia harus segera mengambil keputusan
besar sebelum keberangkatan tim tiba. Ia tidak bisa membiarkan
konflik ini menghancurkan segalanya, tapi hatinya enggan untuk menyerah begitu
saja pada perasaannya.
Akhirnya, Arie memutuskan untuk keluar kamar, berjalan kaki
menuju stasiun kereta
terdekat meski hari sudah sangat larut. Udara
malam yang dingin menerpa wajahnya, menyejukkan luka di hatinya untuk sesaat.
Ia duduk di bangku kosong stasiun yang sepi, menunggu kereta pertama yang akan lewat
di pagi hari.
Dalam keheningan itu, ia bertekad untuk membalas senyum Kiyah,
sekaligus mencari cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Ipung.
Di teras gedung fakultas yang mulai remang,
sekeLompok mahasiswa berkerumun di sekitar meja kayu yang berantakan. Suara denting botol
minum dan gesekan
ritsleting tas menjadi latar
musik malam itu. Beberapa orang sibuk mengecek nomor kursi di aplikasi kereta,
sementara Arnas hanya menyilangkan tangan, menatap layar ponselnya
dengan rahang mengeras.
"Kereta malam ini sudah fix, kan? Aku
nggak mau kalau sampai stasiun terus ternyata mundur tiga jam." suara
Ipung pecah di tengah kerumunan, mencoba menegaskan rasa percaya diri yang sebenarnya rapuh.
Ia menunjukkan tangkapan layar tiket di ponselnya kepada Arie yang duduk
di sebelahnya. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar, Arie hanya
mengangguk singkat, jari telunjuknya mengusap bibir bawah yang kering.
Kiyah berdiri agak di pinggir,
mencoba mengangkat koper
ukuran sedang yang beratnya
seolah menandingi beban pikirannya. Kain batik yang melilit di tangannya
tersangkut di ritsleting tas. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam
kepanikan kecil yang mulai merayap di dadanya. Tas ransel di punggungnya tampak
melar ke belakang, penuh dengan pakaian dan buku yang mungkin tidak akan pernah
dibuka selama di sana.
"Astaga,
Kiyah. Lo mau pindah rumah
apa bawa apa sampai segitu
banyaknya?" tanya Arie
tiba-tiba. Ia berdiri dan melangkah mendekat, suaranya terdengar santai namun
ada sedikit ketegangan yang menggelitik di ujung kalimatnya. Ia melihat betapa
payahnya Kiyah mencoba menyeimbangkan tumpukan barang itu.
Kiyah tidak
menjawab langsung. Ia membuang muka ke arah parkiran motor yang gelap, mencoba menyembunyikan rona malu di pipinya. "Ini kan pertama kalinya
ke sana. Lama lagi baru pulang. Kalau kurang
barang di tengah jalan, repot nanti cari di Kisaran," gumamnya setengah
membela diri, meski suaranya makin kecil di akhir kalimat.
Arie menghela napas
pendek. Ia melihat ke arah Arnas yang masih asyik dengan ponselnya,
seolah masalah Logistik ini bukan urusannya. Sesuatu dalam diri Arie
mendadak ingin menonjol, ingin menjadi sosok yang bisa diandalkan di mata Kiyah,
terutama saat melihat keraguan di mata gadis
itu. "Nanti pas di stasiun,
kasih aku tas
jinjingmu. Aku bantu bawa sampai ke gerbong," ujarnya tiba-tiba.
Kiyah menoleh
cepat, matanya sedikit melebar menatap Arie. Ada kebingungan yang
bercampur kelegaan, tapi juga rasa tidak enak karena membebani orang lain.
"Lo yakin? Tasnya berat
lho, Arie. Nanti
lo pegal semua," jawabnya ragu, meski
tangannya sudah mulai meLonggarkan cengkeraman pada tali tas tersebut.
"Nggak apa-apa. Daripada lo kesandung bawa
sendiri terus jatuh di rel kereta, gimana?" seLoroh Arie. Ia
mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana, namun tawanya terdengar sedikit dipaksakan. Ia mengulurkan tangan,
membiarkan jemarinya
menyentuh tali tas kulit Rinatasi itu. Sentuhan itu terasa hangat, berbeda
dengan udara malam yang mulai menusuk.
Kiyah mengangguk
pelan, akhirnya menyerahkan beban itu dengan senyum tipis yang membuat lesung
pipitnya muncul sebentar. "Terima kasih ya, Arie. Lo baik
sekali." ucapnya pelan. Kalimat itu sederhana, tapi bagi Arie,
pujian itu terasa seperti medali yang baru saja disematkan di dada. Dadanya
sedikit membusung, merasa berhasil memenangkan
perhatian Kiyah di depan teman-teman lain yang mulai
bubar satu per satu.
Kegembiraan Arie mendadak menguap saat
ia merasa ada tatapan tajam dari arah parkiran. Arnas berdiri di samping
sepeda motornya, helm sudah tergantung di tangan. Wajahnya datar,
tanpa ekspresi, tapi matanya menancapkan pandangan lurus ke arah Arie dan Kiyah. "Arie,
cepat pulang sana. Jangan ngelamun di sini, nanti kehabisan tiket
keretanya," ucap Arnas dingin sebelum menancapkan kakinya ke tanah
dan menyalakan mesin.
Arie terdiam,
tangannya masih menggenggam tali tas Kiyah. Ia melihat punggung Arnas
yang mulai menjauh, knalpot motornya berasap biru di kegelapan. Ada sesuatu
yang mengganjal di tenggorokan Arie. Bantuan yang tadi terasa mulia,
kini terasa sedikit membebani karena tatapan
Arnas tadi. Ia menoleh ke Kiyah yang tampak tidak
menyadari ketegangan di antara kedua lelaki itu.
"Lo nggak bawa motor malam ini?"
tanya Kiyah, mencoba memulai obrolan lagi saat mereka mulai berjalan
menuju halte angkot yang jaraknya agak jauh dari gedung. Ia menarik lengan
jaketnya menutupi bagian
leher yang mulai
merinding. "Aku titip
di bengkel tadi siang.
Katanya remnya bermasalah," sahut Arie, berusaha menormalkan
kembali nadinya yang sedikit meninggi karena interaksi sebelumnya.
Mereka berjalan berdampingan di trotoar yang retak-retak. Suara musik
dari warung kopi di
sudut jalan terdengar samar, bercampur dengan
suara klakson kendaraan yang mulai jarang. Arie ingin
sekali meraih tangan
Kiyah saat gadis
itu sedikit tersandung di bagian trotoar
yang tidak rata, tapi ia menahan diri. Ia hanya mempercepat langkahnya sedikit
agar bisa berjalan di sisi luar, melindungi Kiyah dari genangan air
kotor di pinggir jalan.
"Arie," panggil Kiyah tiba-tiba saat mereka menunggu
lampu merah berubah
hijau. "Selama di
Kisaran nanti... lo janji ya buat jagain aku?" Suaranya serius, tanpa
beban candaan seperti sebelumnya. Matanya menatap tajam ke arah Arie,
menuntut jaminan yang nyata. "Desa perkebunan itu kan asing banget buat kita.
Aku agak takut kalau-kalau ada
apa-apa."
Arie menelan ludah.
Janji adalah beban yang berat jika tidak didukung oleh kemampuan, tapi melihat
ketergantungan di mata Kiyah, ia tidak sanggup menolak. "Ya, aku
jaga. Habis itu kan tugas
kita sebagai mahasiswa, harus saling menjaga," jawabnya mantap. Ia bahkan
menepuk dadanya sendiri dengan kepalan tangan, isyarat klasik yang membuat Kiyah
sedikit tertawa dan meredakan ketegangan di wajahnya.
Malam itu, Arie pulang ke kosannya
dengan perasaan yang campur aduk. Tas Kiyah yang tadi ia bantu bawa
masih terasa berat di ingatannya, bukan karena fisik, tapi karena tanggung jawab
yang baru saja ia ambil.
Ia melempar ranselnya ke atas kasur
yang kasar, lalu duduk di
tepi tempat tidur sambil menatap lantai keramik yang dingin.
Ia teringat pada tatapan Arnas tadi. Itu bukan
sekadar tatapan biasa;
itu adalah peringatan. Arie meraba permen
karet di saku celananya, memilin-milin bungkusnya dengan gelisah.
Persahabatannya dengan Arnas sudah terjalin lama, tapi sejak Kiyah muncul,
segalanya mulai retak. Membantu Kiyah berarti ia harus siap
kehilangan posisinya di mata Arnas, atau mungkin lebih buruk lagi.
Sementara itu, di kosan yang berbeda, Kiyah membuka kopernya kembali.
Ia memutuskan untuk
mengurangi barang bawaan, mengingat Arie sudah bersedia membantu. Namun,
saat memegang sebuah kotak kecil berwarna hitam di dasar tasnya, tangannya
berhenti.
Ia menatap foto kecil yang terselip di sampul
buku hariannya. Ada keraguan yang mengunyah hatinya--apakah memang benar Arie peduli, atau hanya ingin menunjukkan diri di depan orang lain?
Di sudut kota yang lain, Arnas baru saja
memarkir motornya. Ia tidak langsung masuk ke rumah, melainkan duduk di teras gelap,
menatap asap rokoknya
yang mengepul ke udara
malam. Ponselnya berbunyi, menampilkan pesan masuk dari grup keLompok. Namun,
ia mengabaikannya. Pikirannya tertuju pada janji yang baru saja diucapkan Arie
tadi. Itu
adalah kesalahan besar,
dan Arnas tahu persis bahwa
janji di atas kereta malam
seringkali berakhir di stasiun berikutnya.
Suasana di dalam kamar Arie mendadak
terasa pengap. Ia bangkit, membuka jendela lebar-lebar hingga engselnya berderit.
Angin malam masuk membawa aroma tanah basah dan asap knalpot. Ia melihat ke arah
jalan raya yang sepi, membayangkan perjalanan panjang esok hari. Di dalam
kepalanya, ia mulai menyusun strategi bagaimana menjaga Kiyah tanpa
membuat Arnas semakin menjauh.
"Aku nggak boleh bodoh," gumamnya
pada dirinya sendiri, suaranya hancur ditelan kebisingan jalan raya. Ia meraih
botol air mineral di meja belajar, meminum setengahnya dalam satu tegukan. Keputusan sudah diambil, dan besok adalah
hari yang menentukan. Entah dia akan kembali
sebagai pahlawan di mata Kiyah, atau sebagai pengkhianat di mata Arnas.
Cahaya lampu jalan dari luar menyinari sebagian
wajah Arie yang muram. Bayangan kelelahan mulai terlihat di bawah
matanya. Ia mendekat ke cermin di atas wastafel, menatap pantulannya sendiri. Wajah
itu terlihat asing,
terjepit di antara
dua keinginan yang saling bertentangan. Namun, ada satu
hal yang pasti: ia tidak akan membiarkan Kiyah turun dari kereta itu
sendirian besok pagi.
Ia mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan
kecil itu. Namun, pikirannya masih terjaga, terus
berputar-putar pada detik-detik saat ia menawarkan bantuan tadi. Senyum Kiyah
adalah imbalan yang nyata, tapi tatapan Arnas adalah harga yang harus
segera dibayar. Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya, penuh dengan
harapan sekaligus ancaman yang belum nyata wujudnya.
Kipas angin di sudut kamar berputar malas, tak
mampu mengusir kelembapan udara malam. Arie menarik selimut tipis hingga
ke dagu, tapi matanya tetap terbuka lebar menatap langit-langit yang mulai
retak di pojokan.
Jam dinding di ruang tengah
baru saja menunjukkan pukul
sepuluh malam, tapi pikirannya sudah berada di stasiun besok pagi.
Ponsel di atas meja plastik tiba-tiba bergetar,
membuat botol minyak kayu putih ikut bergeser.
Arie menyambarnya dengan gerakan cepat, hampir menjatuhkan kacamata yang
bertumpuk di sampingnya. Nama "Kiyah" muncul di layar dengan
ikon pesan pendek yang menandakan ada kabar baru.
Ia membuka pesan itu dengan jari yang sedikit gemetar karena terlalu
banyak kafein di
sore hari. "Besok jangan terlambat lagi
ya, kereta berangkat jam tujuh tepat," tulis Kiyah. Arie menarik
napas panjang, menahan
keinginan untuk segera membalas dengan seribu
kata pujian.
Ia membaca ulang pesan itu, menatap setiap
huruf seolah sedang memecahkan kode rahasia.
Ada tanda seru di akhir
kalimat yang biasanya
tidak pernah dipakai
Kiyah. Arie
tersenyum sendiri, memasukkan wajahnya ke dalam bantal untuk meredam suara tawa
kecil yang hampir meledak.
"Dia ingat jadwal kereta," bisik Arie
pada kegelapan kamar. Perhatian kecil seperti ini yang membuat dadanya terasa
sesak oleh sesuatu yang hangat. Ia membayangkan Kiyah sedang duduk di teras rumahnya, mungkin
sambil membalut buku-buku
kuliah, memikirkan kepastian
jadwal mereka.
Arie duduk tegak,
menyandarkan punggung ke dinding yang dingin. Jari-jarinya menari di atas layar
ponsel, menghapus dan mengubah kata-kata untuk membalas pesan
Kiyah. Ia tidak ingin
terdengar terlalu bersemangat, tapi juga tidak boleh terlihat cuek.
"Siap,
Ki. Aku janji
akan datang lebih
awal. Sudah menyiapkan tas sejak tadi sore," balas Arie. Ia menekan tombol
kirim sebelum keraguan sempat menghantuinya. Ponselnya kembali diletakkan di meja, tapi matanya terus
mencuri pandang ke arah layar
yang tetap gelap.
Keheningan kamar kembali menyelimuti, hanya
diselingi suara krek-krek kayu rumah kos yang
mulai berubah bentuk karena cuaca. Arie menutup
matanya, mencoba memaksakan kantuk yang enggan datang.
Bayangan peron stasiun yang ramai dan wajah Kiyah yang menyambutnya
mulai mengaburkan batas antara khayalan dan kenyataan.
Udara panas di Stasiun Medan terasa menyengat
meski atap seng di atas kepala sebenarnya sudah menahan
terik matahari. Arie memeluk tali ranselnya yang mulai sobek di ujung, berusaha menahan langkah
kaki agar tidak terlihat terlalu tergesa-gesa di depan mahasiswa lain. Bau asap
kereta dan keringat menyengat bercampur dengan aroma nasi bungkus yang dibawa
rombongan.
Ia merasa kemeja almamaternya yang hijau tua
itu lengket di punggung. Saat melangkah melewati pintu masuk utama, kerumunan mahasiswa
yang membawa kardus Logistik besar menciptakan kemacetan di koridor
sempit. Suara pengumuman keberangkatan dari pengeras suara yang serak terdengar
memecah keramaian, menandakan kereta tujuan Kota Jambi akan segera berangkat.
"Arie! Sini! Cepat!"
Arnas
meLompat-Lompat kecil sambil melambaikan bendera kecil berwarna merah putih
yang bertuliskan nama keLompok mereka. Laki-laki berkacamata itu berdiri tepat
di depan pintu gerbong tiga, wajahnya tampak merah karena panas dan usaha
mengangkat koper besar. Arie mengangguk cepat, meLonggarkan langkahnya agar tidak terlihat
seperti orang yang baru saja
tertidur pulas di kos.
Saat Arie semakin
dekat ke arah gerbong tiga,
matanya secara otomatis
menyapu area sekitar Arnas.
Di sanalah ia melihat Kiyah. Gadis itu berdiri sedikit di belakang Arnas,
memegang erat tali tas selempangnya. Kiyah tidak melambaikan tangan,
tapi matanya terus tertuju pada ujung peron tempat Arie berdiri.
Ekspresi Kiyah berubah drastis saat
pandangan mereka bertemu. Kerutan di dahinya mengendur, dan napasnya yang sebelumnya tertahan
tampak dihembuskan perlahan.
Ia bahkan mengangkat sebelah alisnya, seolah menanyakan kenapa Arie
bisa sampai sekarang. Arie merasakan jantungnya berdetak lebih kencang,
bukan karena lari, tapi karena melihat senyum tipis yang mulai mengembang di
bibir Kiyah.
"Kupikir
lo sudah berangkat duluan tadi," ucap Kiyah saat Arie berhenti
di depannya, sedikit
membungkuk karena napas yang belum teratur.
"Jam wekerku mati,
Ki. Aku baru sadar pas suara adzan
Maghrib," jawab Arie, mencoba terdengar santai sambil merapikan kerah bajunya yang
kusut.
Arnas mendekat dan menepuk bahu Arie keras-keras. "Untung lo lari.
Kalau lima menit lagi, kita tinggal pesan tiket
besok."
Arie hanya bisa
tertawa kaku. Ia melihat sekeliling, melihat mahasiswa lain yang sudah mulai naik ke kereta.
Suasana perpisahan di peron terasa
nyata; ada yang berpelukan, ada yang menitikkan air mata, dan ada
juga yang sibuk memfoto-fotoi momen terakhir sebelum petualangan kuliah
lapangannya dimulai. Bagi Arie, momen
ini terasa berat
karena ia harus meninggalkan rutinitas biasanya
untuk sesuatu yang belum pasti.
"Ayo masuk, gerbongnya mulai penuh,"
kata Kiyah. Ia berjalan lebih dulu menaiki anak tangga kereta,
memberi jalan bagi Arie yang membawa ransel
berat. Arie mengikutinya dari belakang, matanya
menangkap cara Kiyah menyematkan kartu identitas di dada bajunya agar
tidak tertukar.
Mereka berhasil menemukan kursi di dekat
jendela. Arie meletakkan tas ranselnya di bagasi atas dengan sedikit
kesulitan karena ruang
yang sempit. Saat kembali duduk,
ia melihat Kiyah sedang menata buku catatannya di meja lipat
kecil di antara mereka.
Keheningan di antara
mereka tidak terasa
canggung, hanya saja ada ketegangan halus yang biasanya muncul saat mereka berdua sendirian.
"Lo bawa obat sakit perut
nggak?" tanya Kiyah tiba-tiba, tidak memandang Arie. Arie mengerutkan kening. "Bawa.
Kenapa?"
"Cuma jaga-jaga. Logistik
kita kan isinya
mie instan dan roti kadaluwarsa," canda Kiyah,
barulah ia menoleh dan memberi Arie senyum yang lebih lebar.
Arie merasa pipinya
panas. Ia memilih
untuk menatap ke luar jendela,
melihat orang-orang yang
masih berlarian di peron. Ada seorang ibu yang menangis histeris karena melepas
anaknya, kontras dengan keadaan Arie yang justru merasa mulai nyaman
setelah melihat wajah Kiyah. Kecemasan akan tugas kuliah lapangan mulai
memudar, tergantikan oleh rasa ingin tahu apa yang akan terjadi selama
perjalanan ini.
Tiba-tiba, dentuman peluit stasiun menggema
sangat keras, memecah lamunan Arie. Suara mendesis dari rem kereta
terdengar di bawah kaki mereka, getarannya terasa hingga ke tulang punggung. Kereta mulai berderit
perlahan, menggeser roda baja di atas
rel yang basah oleh keringat dan debu.
Arnas yang berada di kursi
seberang langsung berdiri.
"Kok sudah jalan?
Tunggu, ada barang Arnas
di bawah!"
Tapi kereta terus
bergerak. Peron yang tadinya ramai
mulai menjauh, dan wajah-wajah
orang asing di jendela mulai berubah menjadi garis-garis blur coklat dan
abu-abu. Arie
melirik Kiyah, yang kini mencengkeram sandaran tangannya dengan kuat. Ada sesuatu
yang hilang dari ekspresi tenang Kiyah, digantikan oleh ketegangan yang
aneh.
"Kiyah, lo nggak bawa kardus Logistik
keLompok?" tanya Arie pelan, meskipun ia sudah
menduga jawabannya.
Kiyah tidak menjawab. Ia justru menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan
buku. Di luar sana, stasiun semakin jauh, tapi di dalam gerbong, jarak antara Arie
dan Kiyah justru terasa semakin dekat, membawa serta rahasia kecil yang
akan mengikuti mereka sepanjang perjalanan.
Udara panas di peron berdesing bersama peluit
panjang petugas stasiun. Arie menundukkan kepala, meLompati celah sempit
antara beton dan besi. Ia berlari timpang karena ransel berisi pakaian KKN
menarik bahunya ke belakang. Gerbong di depannya sudah mulai menggelinding, roda besi mengeluarkan bunyi gesekan kasar yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Keringat mengalir di pelipisnya, bukan hanya karena cuaca, tapi karena
bayang-bayang ditinggalkan kereta di tengah hutan warga yang akan dikunjungi.
Arnas berdiri di
ambang pintu, kakinya agak meregang menahan ayunan kereta. Ia tidak memarahi Arie.
Ia hanya menjulurkan tangan, menjepit tali ransel Arie yang tergantung
di bahu temannya itu. "Tarik, Ari!" teriak Arnas menembus deru
mesin. Arie merasakan tumpuan kaki di pijakan besi yang sempit, lalu tubuhnya
tersentak ke depan saat Arnas menarik
tasnya sekaligus mengangkat lengannya. Beban berat di punggungnya berkurang seketika.
Kaki Arie akhirnya menginjak lantai
gerbong dengan bunyi gedebuk keras. Ia tidak peduli dengan pandangan penumpang
lain yang menyingkirkan kaki mereka. Arie langsung menjatuhkan diri, duduk bersandar
pada dinding Logam yang bergetar.
Dadanya naik-turun cepat,
mulutnya ternganga menarik udara yang terasa tipis. Napasnya memburu, tertahan
di tenggorokan, membuat kepalanya sedikit berdenyut. Ia menutup mata, mencoba
menenangkan detak jantung yang terasa ingin meledak.
Sebotol air mineral
ditaruhkan di atas pahanya dengan
bunyi kecil. Arie membuka matanya
perlahan. Kiyah berdiri di depannya, alisnya sedikit berkerut. Wajahnya
tidak terlihat kesal, tapi ada kelegaan yang memudar di sudut bibirnya.
"Hampir saja ditinggal," ucap Kiyah. Ia merapikan jilbabnya
yang sedikit kusut terkena angin kereta tadi. "Aku kira lo berubah pikiran
dan memilih pulang."
Arie menerima botol
itu, jemarinya menyentuh plastik dingin. Ia memutar tutupnya, namun tidak langsung minum. "Cuma kereta yang lambat,
Ki," jawab Arie, suaranya serak. Ia meneguk air seteguk besar,
merasakan cairan dingin itu melewati kerongkongan yang kering. Kelelahan dari
berlari itu mulai digantikan oleh rasa aman yang menyebar di dadanya. Ia
melirik Kiyah yang duduk di kursi di depannya, lalu kembali menatap
lantai yang berguncang.
Ia menyandarkan kepalanya
ke jendela yang bergetar. Pemandangan stasiun kecil mulai memudar di balik kaca, digantikan
oleh barisan pohon kelapa dan semak belukar yang melaju cepat. Dalam kepalanya,
bayangan tentang desa Kisaran mulai terbentuk. Ia membayangkan malam-malam
tanpa sinyal ponsel dan pagi-pagi yang hanya diisi oleh suara ayam. Napasnya
melambat, mengikuti irama ayunan kereta yang mulai stabil.
Ketegangan di bahunya perlahan mengendur.
Arnas sudah duduk
di bangku seberang, membuka earphone dan membiarkan musik mengalir pelan.
Suasana di dalam gerbong menjadi riuh rendah, bercampur antara tawa mahasiswa
dan dentuman musik dari pengeras suara kereta. Namun bagi Arie, semua
suara itu menjadi latar belakang yang menenangkan. Ia merasa berada di tempat
yang tepat, bersama orang-orang yang akan menjalaninya bersamanya. Keraguan yang muncul
saat ia berlari tadi perlahan menghilang, ditelan oleh kelelahan yang
menyenangkan.
Saat kereta memasuki terowongan pendek, cahaya
di dalam gerbong meredup menjadi remang-remang. Arie menarik selimut
tipis yang dibawanya, menutupinya hingga ke pinggang. Ia melirik Kiyah
yang kini asyik mengetik sesuatu di ponselnya, mungkin mengabari keluarga. Ada ketenangan kecil
yang ia rasakan
saat melihat Kiyah tidak lagi memasang
wajah tegang. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, menikmati
getaran mesin di bawah kakinya yang mulai terasa kesemutan.
Kereta akhirnya melaju kencang meninggalkan stasiun. Setelah napasnya
meLonggar, Arie bangkit dan mencari tempat duduk. Ia segera duduk menghadap Kiyah, bersiap menikmati
perjalanan panjang menuju Lokasi KKN mereka.
Suara denting tajam dari rel kereta bercampur
dengan obrolan riuh puluhan mahasiswa yang memadati gerbong. Udara di dalam
terasa pengap oleh aroma bau keringat dan sisa parfum yang menyengat, namun
tidak ada yang mengeluh. Hari ini, ratusan mahasiswa dari berbagai
fakultas resmi diberangkatkan untuk Kuliah Kerja
Nyata. Ada yang menuju ke Limapuluh, Tanjung Balai, hingga
Batubara. Semua membawa koper besar dan ransel tebal, berdesakan di Lorong
sempit kereta ekonomi yang disewa khusus untuk rombongan
kampus.
Arie menarik ritsleting jaketnya yang sedikit
Longgar, lalu duduk
di kursi plastik
yang agak keras. Di
seberangnya, Kiyah sedang merapikan kerudung biru muda yang sering ia
kenakan. Angin dari jendela yang terbuka setengah meniupkan ujung jilbab Kiyah,
membuat Arie sedikit menahan napas. Ia mencoba terlihat sibuk dengan
ponselnya, padahal matanya sering melirik ke arah wanita itu. Di sudut gerbong
yang agak gelap, Ipung duduk menyender ke jendela dengan wajah yang
sangat masam.
"Lo kemarin benar-benar telat, Arie. Kalau bukan karena aku yang nutupin, mungkin lo ditinggal kereta tadi
pagi," ucap Arnas yang tiba-tiba menyodok bahu Arie.
Arie hanya menarik
sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tidak tulus.
"Bukan telat, Nas.
Kereta memang jadwalnya moLor. Lo saja yang terlalu kaku sama jadwal."
"Kaku atau tidak,
lo harusnya lebih
siap. KKN ini bukan jalan-jalan. Apalagi lo satu keLompok sama dia," balas Arnas
sambil melirik Kiyah yang sedang asyik mendengarkan musik lewat earphone
putihnya.
Arie mendengus pelan. "Sudahlah, jangan
dibesar-besarkan. Aku cuma kurang tidur."
Obrolan mereka terhenti ketika seorang dosen
pendamping masuk ke gerbong sambil memegang
megafon. Suara petugas
stasiun yang mengumumkan keberangkatan mulai
terdengar samar di luar. Arie merasakan getaran mesin diesel kereta yang
mulai hidup, membuat lantai di bawah kakinya
sedikit bergetar. Ia melirik ke arah Ipung yang masih memeluk
ranselnya dengan erat, seolah sedang menyimpan amarah yang besar.
"KeLompok
Arie dan Kiyah, pastikan kalian tidak
berpisah di lapangan
nanti," teriak Arnas sebelum akhirnya ia pindah
tempat duduk karena kursi di sebelah Arie sudah diisi oleh mahasiswa
lain yang membawa kardus berisi peralatan masak.
Arie menghela napas
panjang. Keributan di dalam kereta semakin menjadi-jadi, mahasiswa dari
keLompok lain mulai bernyanyi dan tertawa keras. Namun, di dalam kepalanya, Arie mulai memikirkan tugas
besar yang menantinya di desa sana.
Ia menatap Kiyah yang
tiba-tiba menoleh ke arahnya dan memberikan senyum kecil yang membuat
jantungnya berdetak lebih cepat. Arie buru-buru memalingkan muka,
mencoba menenangkan diri sebelum kereta benar-benar melaju meninggalkan
stasiun.
Gedung berangkat Stasiun Medan mulai riuh
dengan pengumuman keberangkatan. Arie menarik tali ranselnya, berjalan
di antara barisan mahasiswa yang membawa koper berdebu. Asap knalpot bus pariwisata menyengat
hidung, bercampur dengan aroma kopi instan dari gelas-gelas plastik di
tangan mahasiswa.
"Kita dapet gerbong yang sama, kan?"
tanya Kiyah. Ia mengatur posisi tas selempangnya yang meLorot ke siku. Arie
mengangguk sambil menunjuk ke arah papan jadwal di dinding.
"Gerbong
tujuh, paling belakang.
Katanya sih pemandangannya lebih bagus dari sana,"
jawab Arie. Mereka mulai berjalan menyusuri peron yang mulai dipadati
penumpang.
Kipas angin di sudut ruang tunggu berputar
malas, tak mampu mengusir kelembapan udara malam. Arie melihat ke arah Kiyah
yang sedang menatap keluar jendela, sibuk dengan ponselnya. Ia menarik
napas panjang, mencoba
mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan.
"Lama perjalanannya?" tanya Arie, duduk di sebelah
Kiyah. Kiyah mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada layar ponsel.
"Lima jam lebih.
Aku baru sadar
kalau Kisaran itu sejauh ini," jawab Kiyah. Ia menyimpan
ponselnya ke dalam saku celana. Arie mencoba mencari topik pembicaraan
yang lebih dalam.
"Lo gugup nggak sih?" tanya Arie. Kiyah memainkan ritsleting jaketnya,
menghindari kontak mata.
"Agak. Aku nggak pernah tinggal di desa
yang bener-bener pedalaman. Takutnya nanti susah sinyal, nggak bisa kabar ke keluarga," ucap Kiyah. Arie bisa melihat kerutan
halus di kening Kiyah.
"Tenang
aja, nanti kita saling jaga kok. Lagipula, ini pengalaman yang kita cari,
kan?" hibur Arie.
Kiyah menoleh, menatap mata Arie cukup lama.
"Lo tuh kerasa
tua kalau ngomong
gitu. Kita kan seumuran," ucap Kiyah dengan
sedikit tawa. Arie merasa udara di sekitar mereka mendadak
menjadi lebih ringan.
"Aku cuma nyoba positif thinking. Masa iya kita takut terus?"
jawab Arie. Kiyah tersenyum,
lalu meletakkan kepalanya di sandaran kursi.
"Bener
juga sih. Eh, tapi jujur
dong, lo nggak
takut sama keadaan
di sana? Aku denger
banyak ular di kebun sawit," bisik Kiyah. Arie tertawa kecil
mendengar kekhawatiran itu.
"Ular pasti ada di mana-mana. Yang penting jangan
pakai baju warna-warni pas malam hari,
nanti dikira kembang," seLoroh Arie. Kiyah mendelik, lalu
ikut tertawa.
"Lo tuh! Aku lagi serius
nih," ucap Kiyah sambil menggelitik lengan
Arie. Arie
mengibas-ngibaskan tangannya, menahan geli.
"Oke, serius. Aku juga takut
sih. Takutnya nanti
aku nggak bisa jadi teladan
buat warga sana. Takutnya aku
malah jadi beban," ucap Arie lirih. Kiyah menoleh, menatap Arie
dengan sorot mata yang berbeda.
"Dari kapan lo jadi setRinas
itu? Biasanya kan lo yang paling optRinas
di kelas," tanya Kiyah. Arie menghela
napas, menatap langit-langit kereta yang mulai bergetar.
"Orang
berubah, Kiyah. Apalagi
kalau udah deket
sama hari H. Tapi, dengan
lo di sebelah, kayaknya aku
bisa lewati apa pun itu," ucap Arie. Kiyah terdiam,
jemarinya menarik-narik tepian rok.
"Jangan
sok romantis, Arie. Nanti orang-orang di sana ngira
kita pacaran," ucap Kiyah.
Pipinya memerah, tapi matanya tak berpaling dari wajah Arie.
"Emangnya
kenapa kalau mereka ngira begitu?
Bukannya malah mempermudah urusan?" goda Arie. Kiyah menggeleng, lalu
berdiri ketika kereta mulai berjalan perlahan keluar dari stasiun.
"Aku mau ke toilet sebentar. Lo jagain tas-tas
kita ya?" pinta
Kiyah. Arie mengangguk, merapikan barang-barang
mereka di bawah kursi.
Beberapa menit kemudian, Kiyah kembali dengan
membawa dua bungkus
mie instan yang sudah disiram air panas. Arie
menerimanya dengan senang hati, meskipun kereta sedang berjalan agak oleng.
"Makasih
ya, ini pas banget laper-lapernya," ucap Arie. Kiyah duduk kembali, membuka plastik sambal dari dalam tasnya.
"Makanlah. Nanti kalau sampai di Kisaran, belum tentu kita bisa
makan enak kayak gini,"
ucap Kiyah. Arie menyesap kuah mie, merasakan kehangatan
yang menjalar di tubuhnya.
"Lo tuh kayak
ibu-ibu kalau lagi jagain anaknya
makan. Santai dong,
Kiyah," canda Arie.
Kiyah memukul pelan lengan Arie dengan sendok plastik.
"Aku cuma peduli sama teman satu tim.
Jangan salah paham," ucap Kiyah. Namun, senyum yang mengembang di bibirnya menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar kepedulian biasa.
Malam semakin larut, lampu di dalam gerbong pun
mulai diredupkan. Arie melihat Kiyah yang mulai memejamkan mata,
kepalanya miring ke arah jendela.
Ia merapikan jaketnya, lalu menutupi bahu Kiyah
yang telanjang karena kedinginan.
"Selamat
tinggal Medan. HaLo Kisaran," bisik
Arie dalam hati.
Ia melihat pemandangan kota yang perlahan memudar di
kejauhan, digantikan oleh gelapnya pepohonan dan keheningan desa.
Getaran mesin kereta terasa lebih kencang, seolah menandakan bahwa mereka semakin mendekat ke tujuan. Arie
menatap tangannya sendiri yang masih memegang sisi jaket Kiyah,
merasakan detak jantung yang mulai berpacu.
"Besok
kita bakal jadi orang asing
di sana. Tapi,
setidaknya kita nggak
sendirian," ucap Arie
pelan. Ia berharap Kiyah bisa mendengarnya, meskipun gadis itu sudah
terlelap.
Kereta melaju terus membelah kegelapan malam,
membawa serta segudang harapan dan ketakutan
dari puluhan mahasiswa di dalamnya. Arie hanya bisa berdoa
agar perjalanan ini menjadi awal dari cerita indah yang
mereka impikan berdua.
Udara panas di peron Stasiun
Kisaran langsung menempel
di kulit Arie begitu pintu kereta ditarik manual oleh petugas. Asap
knalpot dari becak kayuh dan debu jalanan bercampur jadi satu, membuat tenggorokannya
sedikit gatal. Ia menarik tali ranselnya lebih erat, melindungi kotak makanan
di dalamnya dari remasan penumpang yang berebut keluar.
Suara deru kereta
yang perlahan melambat
memudar, digantikan oleh teriakan para porter
dan pedagang asongan yang sudah menunggu di bibir pintu. Arie melangkah
hati-hati menuruni tangga kereta, mencoba menghindari celah besi yang berkarat.
Di belakangnya, suara riuh rekan-rekannya mulai terdengar, sibuk
mengatur koper dan kardus Logistik
yang berat.
Kiyah berdiri agak
terpisah dari kerumunan, memegangi kerudungnya agar tidak tertiup angin kencang
dari arah rel. Ia terlihat
sedikit gelisah, jari-jarinya memainkan ritsleting jaket yang tidak pernah dia tutup sempurna. Saat Arie mendekat
membawa dua tas besar, Kiyah langsung menarik lengan
bajunya.
"Rie, nanti temani
aku ke rumah Vivie ya? Aku nggak
berani naik ojek sendirian ke sana,"
pintanya dengan suara yang sedikit parau. Matanya menatap tajam ke arah parkiran
sepeda motor yang tampak semrawut, seolah sudah membayangkan dirinya
terombang-ambing di jalan yang belum ia kenal.
Arie menurunkan tasnya
ke lantai semen
yang hangat. "Ojek ke mana? Rumah
Vivie itu di dalam
kota, kan? Nggak usah naik ojek lah, nanti aku antar pakai motor,"
jawabnya cepat. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena beratnya
barang, tapi karena bayangan bisa mengendarai motornya sendiri dengan Kiyah
sebagai penumpang.
"Beneran lo bisa? Aku nggak mau kalau
nanti motornya mogok di tengah jalan," Kiyah mencibir kecil, meski senyumnya
sedikit mengembang. Ia melangkah mendekat,
suaranya kini hanya terdengar oleh Arie karena para mahasiswa
lain mulai berhamburan menuju kendaraan masing-masing.
"Tenang
saja, aku sudah
biasa bawa barang
ke gudang. Lo pegang pinggang
aku saja nanti, biar
seimbang," ujar Arie sambil mengatur letak helm di rak bagasi. Ia
membayangkan tangan Kiyah yang akan melingkar di pinggangnya selama
perjalanan nanti, sebuah kedekatan yang selama ini hanya ada dalam pikirannya.
Mereka akhirnya berhasil mengeluarkan semua
barang dari gerbong. Keringat mulai membasahi bagian belakang baju Arie,
namun ia terus bergerak lincah. Kiyah berdiri di dekat pilar
stasiun, mengawasi koper
miliknya agar tidak
tertukar dengan milik
orang lain. Beberapa menit
kemudian, Arie melambai ke arahnya.
"Ayo, kita keluar
dulu. Motorku parkir
di luar area stasiun, agak jauh sedikit," teriak Arie dari kejauhan. Ia merasa tugasnya sebagai
pelindung Kiyah sudah dimulai sejak detik ini. Ada semangat baru yang menyala
di dadanya untuk
memastikan gadis itu tiba di tujuan dengan selamat dan nyaman.
Kerah jaket Arie terasa berat ditarik
angin, tapi ia justru menikmati hambatan itu. Ia mencondongkan badan sedikit ke depan, membiarkan getaran mesin motor yang dikirim melalui kargo itu terasa sampai ke
tulang punggungnya. Udara sore mulai menyisakan dingin yang menusuk, berbeda
dengan panas terik saat mereka berangkat tadi pagi.
Kiyah duduk di belakangnya dengan
posisi tegak. Tangan
perempuan itu masih
ragu-ragu, hanya mencengkeram ujung kain jaket Arie yang tipis.
"Pegangan ya, jalannya mungkin bergeLombang," ucap Arie tanpa menoleh, suaranya
tertelan angin namun masih terdengar jelas oleh Kiyah.
Kiyah tidak menjawab, tapi cengkeramannya menguat. Jari-jari itu perlahan meLorot
dari ujung jaket hingga menyentuh bagian pinggang jaket Arie.
Sentuhan itu kecil, tapi Arie merasakan hawa panas menjalar dari titik
kontak tersebut. Ia menarik napas panjang, menahan keinginan untuk memacu motor
sekencang mungkin agar Kiyah semakin memeluknya erat.
Di belakang mereka,
suara knalpot motor
lain menderu kasar.
Ipung menyalip mereka dengan tubuh membungkuk menempel
pada tangki motor. Ketua keLompok itu melirik tajam ke arah Arie, seolah
sedang mengingatkan siapa yang seharusnya memimpin rombongan. Arie
membiarkannya pergi, memilih berkendara dengan kecepatan stabil.
Jalanan desa yang mereka lalui mulai rusak.
Lubang-lubang kecil menghiasi aspal, membuat
motor mereka sedikit
terLonjak. Setiap kali roda belakang
melewati guncangan, tubuh Kiyah
akan terdorong maju dan bahu mereka akan bersentuhan. Arie bisa
merasakan napas Kiyah yang kadang memburu ketika jalanan terlalu
berbatu.
Ia memperlambat laju motornya saat memasuki
area yang lebih sepi. Pohon-pohon besar di kiri kanan
jalan menutupi cahaya
matahari yang mulai
redup. Suasana ini membuat Arie merasa berada di dunia
lain, jauh dari keriuhan kampus
dan tugas kuliah
yang menumpuk. Ia ingin momen
ini berjalan sangat lambat.
"Mas, sebentar lagi sampai kan?"
tanya Kiyah. Suaranya pelan, hampir tertelan deru mesin, tapi Arie mendengarnya dengan jelas. "Belum," jawab Arie singkat.
Ia tidak ingin memberitahu bahwa rumah Vivie
sebenarnya sudah sangat dekat. Ada kepuasan tersendiri melihat Kiyah
bertanya, seolah perempuan itu juga tidak ingin perjalanan ini segera berakhir.
Mereka melewati sebuah jembatan kayu yang sudah
lapuk. Bunyi 'krek-ek' dari papan jembatan terdengar jelas,
bercampur dengan suara
air sungai di bawahnya yang mengalir
tenang. Arie melirik
ke kaca spion,
melihat Kiyah menoleh
ke kanan dan ke kiri,
menikmati pemandangan sawah yang mulai menguning di kejauhan.
Ketika mereka keluar dari area persawahan,
siluet rumah panggung khas Batak mulai terlihat di atas bukit kecil. Asap tipis
mengepul dari atapnya, menandakan tuan rumah sedang menyiapkan sesuatu. Arie
mengerem pelan, memberi jarak yang cukup dengan motor Ipung yang sudah
terparkir di depan
pagar. "Kita sudah
sampai," bisik Arie, meski hatinya berharap ia bisa terus mengendarai motor ini
bersama Kiyah, menembus malam yang mulai turun.
Udara panas dan sesak di dalam kereta perlahan
memudar digantikan oleh angin malam yang sedikit lebih dingin begitu mereka
turun di Stasiun Kisaran. Arie menarik tali ranselnya erat-erat, berjalan di antara
barisan mahasiswa yang membawa koper
berdebup di atas peron. Di luar pagar stasiun, sebuah mobil pick-up tua
milik perangkat desa sudah menunggu dengan mesin
yang masih bergetar. Kabut tipis mulai
turun menyelimuti jalanan aspal yang membelah perkebunan
kelapa sawit.
Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah panggung
kayu yang cukup luas, milik Vivie. Rumah itu menjadi titik
kumpul sementara sebelum
tim benar-benar disebar
ke Lokasi KKN. Di teras yang beralas ubin tak rata,
Arie menyandarkan ranselnya ke dinding, mengusap keringat di dahi dengan
lengan baju yang basah. Suasana di dalam rumah terasa pengap namun hangat,
penuh dengan suara obrolan dan denting sendok dari dapur kecil di sudut ruangan.
Vivie adalah sepupu
Ainun, dia tuan rumah yang ramah, segera melayani mereka dengan cangkir-cangkir keramik yang sudah usang. "Ini teh hangat, cocok buat
hilangin pegal," ujarnya sambil meletakkan piring berisi gorengan pisang
di atas meja plastik. Arie menganggukkan kepala, menerima cangkir itu
dengan kedua tangan. Uap teh yang mengepul langsung mengusir dingin di ujung
hidungnya. Ia menyesap pelan, merasakan rasa manis yang sedikit berlebihan
namun menenangkan.
Di sudut dapur yang remang,
Arie melihat Kiyah. Gadis itu tampak sangat lelah, bahunya
sedikit membungkuk, namun ia tetap berdiri membantu Vivie menyiapkan
makanan tambahan. Arie memperhatikan dari sudut ruangan, melihat betapa
cekatannya Kiyah bekerja meski kakinya
pasti sudah lumpuh
karena perjalanan jauh.
Tanpa banyak bicara, Kiyah mengambil gelas
jatuh yang pecah di pinggir meja dan membersihkannya dengan
lap. Ia menyadari
bahwa kekagumannya bukan sekadar fisik, melainkan pada karakter
Kiyah yang rendah hati itu.
Tiba-tiba, suasana cair itu pecah oleh suara
ketua keLompok yang berdiri di depan pintu. "Semua barang sudah di
mobil?" tanyanya tajam, matanya menyapu ruangan dengan curiga. Beberapa
mahasiswa saling berpandangan, mencari sosok yang merasa bersalah. Arie melihat
Kiyah membeku sejenak, jemarinya terhenti di atas piring kotor. Ada
ketegangan mendadak yang membuat udara
di ruang tamu itu seolah
berhenti berputar. Ini bukan lagi soal lelah, tapi soal
tanggung jawab yang akan segera mereka hadapi di desa ini.
Di rumah sederhana itu, di sela-sela obrolan
ringan yang kini menjadi agak tegang, Arie menatap Kiyah yang sedang membalikan gorengan. Ia melihat
ketenangan dalam keriuhan itu, sebuah kualitas yang jarang
ia temui pada orang lain. Di tengah ancaman tugas berat dan konflik kecil yang
mulai mengintai, Arie semakin yakin bahwa ia telah menemukan sosok
permata yang sesungguhnya. Setelah segelas teh hangat menghangatkan
tenggorokannya, perjalanan ke desa akhirnya dimulai.
PEMILU
2009
Pemilu 2009 para mahasiswa KKN dikampung sawit
kisaran tidak menggunakan hak suaranya karena tidak terdaftar sebagai pemilih
tetap,tidak juga di libatkan dalam urusan KPPS atau semacamnya yang artinya
bisa bersantai karena kerja KKN hari itu di liburkan.ini dimanfaatkan mahasiswa
bersilaturrahim ke posko mahasiswa KKN lain yang dekat dengan Kisaran.
Shari dan Kiyah
pergi ke kisaran ke rumah Lidyana dan Nizwa kawan mereka satu
jurusan. Lely dan Ayla pergi ke rumah Vivie di kisaran
juga, tempat posko kami yang pertama sebelum ke lokasi KKN.Ayah Vivie
Pak Rahman sangatlah baik,selalu memperhatikan dan mengawasi semua kerja kami,
ibunya seorang guru di SD negeri dekat rumahnya.setiap datang ke lokasi KKN
ayah Vivie selalu bawa sate padang, mereka punya warung sate padang yang
menurutku sate terenak yang pernah aku rasakan.
Imran yang semula
katanya mau berdiam diri di posko akhirnya pergi juga dengan pacarnya si
Ifath.Akhirnya tinggal Aku(Arie)Arnas, Ipung juga Ainun, Rina dan
Hayati di posko.mereka mengajakku jalan-jalan ke bendungan
sigura-gura.sebenarnya aku tidak mau karena ingin menjaga komitmen dengan Kiyah,
tapi waktu itu Ainun bilang aku jamin tak akan ada apa-apa.dan juga
aku tidak enak dengan Arnas kalau tiadak ikut. Akhirnya kami berangkat
tiga motor, Arnas dengan Ainun, Ipung dengan Hayati
dan aku dengan Rina.
Setelah seharian di bendungan dan air terjun
sigura-gura, kami pun pulang ke posko, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 wib
malam.Vivie dan kawan-kawan lain menangis segugukan karena kecewa dengan
ulah kami ber enam, kami minta maaf dan membuat perjanjian kepada teman-teman
KKN.Ainun juga sibuk membuat alasan, sementara Ipung dengan
otoritas dia sebagai ketua dan dominasinya di kelompok ini menerang dengan
alasan yang sekan masuk akal tapi dibuat-buat. Akhirnya kami semua saling
memaafkan dan berkomitmen fokus ke kerja dan program KKN.
DINAMIKA
DIDESA SAWIT
Kabut pagi yang dingin menempel di kaca jendela
angkutan desa. Arie mengusap embun itu
dengan punggung tangan,
melihat barisan pohon
sawit yang basah.
Daun-daun palm itu bergoyang tertiup angin, seolah
memberi salam pada mereka yang melintas. Jalanan tanah merah mulai menyisakan kubangan lumpur sejak hujan
semalam. Supir angkot meringis saat ban mobilnya tergelincir sedikit di
tikungan.
"Pegangan, semuanya," teriak pak
Supir. Suaranya parau, tertelan suara mesin yang batuk-batuk. Di kursi paling belakang, Arie merasakan bahu Kiyah menyenggol lengannya.
Gadis itu tidak meminta maaf, hanya menatap keluar jendela dengan mata yang
sangat jelas. Kiyah sedang menghitung hari sebelum mereka benar-benar
diterjunkan ke masyarakat.
Mereka tiba di depan sekolah dasar yang
pagarnya sudah berkarat parah. Beberapa anak berkaus obLong kusam berlarian di lapangan tanah.
Arie turun lebih
dulu, kakinya langsung menginjak genangan air keruh. Ia
mengerutkan kening, melihat sepatu sekolahnya yang putih kini berubah warna
menjadi cokelat lumpur. Keheningan pagi itu pecah oleh teriakan ceria anak-anak
yang menyapa Kiyah.
"Kak Kiyah! Kak Kiyah!"
teriak mereka. Seorang anak laki-laki berlari memeluk kaki Kiyah. Gadis itu tertawa, lalu membungkuk untuk
menyusahkan rambut anak tersebut. Arie berdiri mematung, melihat transformasi wajah Kiyah.
Kerutan khawatir di dahi Kiyah menghilang, digantikan oleh senyum yang
sangat lebar. Di tempat ini, Kiyah tampak seperti orang yang paling
berkuasa dan paling bahagia.
Mereka masuk ke ruang guru yang sempit. Atap
sengnya berderit-derit tertiup angin. Papan tulis di kelas masih penuh dengan
coretan kapur yang tak dihapus sejak jaman kemerdekaan. Arie membuka
tasnya, mencari buku panduan mengajar yang tebal. Ia merasa canggung
memegang buku mahal
itu di tengah ruangan yang temboknya mulai retak. Kiyah duduk di kursi
kayu yang goyah, lalu menatap Arie.
"Kita mulai dari kelas empat, Arie,"
kata Kiyah. Suaranya tenang, tanpa beban. "Listrik di sini sering
mati, jadi jangan kaget kalau nanti gerah. Kipas angin cuma hiasan." Arie
mengangguk paham. Ia melangkah keluar
ruang guru, merasakan denyut nadi di lehernya.
Ini bukan sekadar tugas akhir semester. Ini adalah ujian kesabaran yang nyata.
Siang hari, panas matahari menerobos celah atap
seng. Arie mengipas-ngipas bajunya sendiri karena keringat mulai
membasahi punggungnya. Ia sedang menjelaskan Matematika kepada anak-anak yang
tampak mengantuk. Kapur di tangannya patah menjadi dua saat ia menulis angka
pecahan. Beberapa murid
tertawa, lalu Arie ikut tertawa
canggung. Ketegangan di dadanya mulai meLonggar.
Setelah kelas usai, Arie pergi ke
belakang gedung untuk minum air. Sumur pompa tangan di sana sudah berkarat. Ia
memompa air beberapa kali hingga keluar air keruh yang akhirnya mengalir
jernih. Saat ia sedang minum,
ia melihat Kiyah sedang duduk bersandar di dinding kayu. Gadis itu
memegangi kakinya yang telanjang. Sepatu Kiyah yang ukurannya agak
kekecil ternyata membuat tumitnya lecet parah.
"Kaki lo kenapa?" tanya Arie.
Ia berjalan mendekat, meletakkan botol minumnya di tanah. Kiyah dengan
cepat menarik kakinya, lalu memasukkan kaki itu ke dalam sepatu dengan wajah
yang sedikit meringis. Gadis itu menolak
untuk menunjukkan rasa sakitnya.
Kiyah selalu ingin terlihat kuat di depan orang lain, terutama di depan
orang yang baru mengenalnya.
"Tidak
apa-apa, cuma lecet
sedikit," jawab Kiyah. Ia berusaha berdiri,
tapi tubuhnya sedikit goyah. Arie refleks meraih
lengan Kiyah agar gadis itu tidak terjatuh. Sentuhan tangan mereka
terasa sangat hangat. Arie bisa melihat bulu mata Kiyah yang
basah, mungkin karena keringat atau mungkin karena rasa sakit yang ia tahan.
Mereka saling menatap dalam diam selama beberapa detik.
"Terima kasih," bisik Kiyah.
Suaranya parau, berbeda dengan nada tegasnya saat mengajar tadi. Arie
melepaskan genggamannya perlahan. Ia merasa ada sesuatu yang bergetar di
dadanya, sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan Logika. Melihat Kiyah yang biasanya lincah
kini terduduk lemas
membuat hatinya miris.
Ia ingin melakukan sesuatu, tapi ia tidak tahu
apa.
Malam harinya, mereka berkumpul di balai desa
untuk membantu administrasi. Lampu minyak tanah dinyalakan karena genset desa sedang rusak. Bayangan mereka menari-nari
di dinding bambu yang tipis.
Arie sedang menghitung data kependudukan, angka-angka itu memusingkannya. Tinta di bolpoinnya mulai
macet, membuat tulisannya berantakan. Kiyah
duduk di seberangnya, sibuk menyusun berkas-berkas tua.
"Arie, toLong ambilkan kertas lipat
di lemari itu," pinta Kiyah. Arie berdiri, berjalan memilih
jalan di antara tumpukan kursus plastik yang berserakan. Saat ia membuka lemari
kayu yang berbau kapur
itu, ia menemukan sebuah kotak kecil
berwarna biru. Kotak
itu tertutup rapat, tapi
sebuah surat keluar dari celahnya. Tanpa sengaja, matanya membaca salah satu
baris kalimat di surat tersebut.
Arie membeku. Hatinya mulai berdetak kencang.
Surat itu bertuliskan tentang sebuah
keputusan besar yang bertentangan dengan
apa yang selama
ini ia yakini tentang Kiyah. Gadis itu tidak pernah
menceritakan masa lalunya yang kelam. Arie menutup lemari itu dengan tangan
yang gemetar. Ia kembali ke meja, meletakkan kertas yang dRinanta
Kiyah dengan wajah yang sangat pucat.
"Lo kenapa? Wajahmu
pucat sekali," tanya
Kiyah. Gadis itu menatap wajah
Arie yang tiba-tiba
tegang. Arie menggelengkan kepalanya, mencoba tersenyum namun hasilnya
sangat kaku. Ia tidak bisa memandang mata Kiyah secara langsung
sekarang.
Kepercayaan
yang baru saja tumbuh itu tiba-tiba terguncang oleh sepotong kertas
kecil di dalam lemari.
Hari demi hari terus berlalu
dengan keheningan yang canggung. Arie mulai menjaga jarak, ia tidak lagi duduk berdampingan
saat makan malam bersama warga desa. Kiyah memperhatikan perubahan sikap
Arie, namun ia tidak tahu alasannya. Ketegangan di antara mereka berdua semakin
memuncak saat mereka harus berjalan pulang melewati kebun sawit yang gelap
gulita. Suara serangga malam terdengar sangat keras.
"Arie, kenapa kamu diam saja sejak
tadi?" suara Kiyah memecah keheningan. Mereka berhenti di bawah
pohon kelapa. Arie menoleh, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit
ditebak. "Aku tahu lo bukan orang yang pendiam, pasti ada yang mengganggu
pikiranmu." Arie menghela
napas berat, lalu menunjuk ke arah sekolah
yang letaknya tidak jauh dari sana.
"Besok kita mulai program mengajar yang
sebenarnya, Kiyah," ucap Arie. Suaranya rendah, menahan
emosi yang campur aduk. Ia ingin mengonfrontasi Kiyah tentang surat itu, tapi ia takut
akan kebenaran yang mungkin menghancurkan segalanya. "Aku harap
kita bisa bekerja sama dengan baik, tanpa ada rahasia di antara
kita." Arie menatap tajam, menunggu reaksi Kiyah, namun
gadis itu hanya membalas dengan tatapan poLos.
Sinar matahari agak kemerahan menembus dedaunan
karet di pinggir lapangan, menandakan hari telah
beranjak sore. Arie menyandarkan pantatnya di tepi bangku
kayu yang agak goyah di depan ruang guru. Ia mengamati Kiyah yang
sedang berjongkok di tengah halaman sekolah, membersihkan tinta di jari seorang
murid kelas dua sambil tertawa kecil.
"Kak, ini sulit
dicuci," keluh anak itu sambil
menyodorkan tangannya yang berlumuran tinta biru.
"Sabar, ya. Nanti kita pakai sabun colek," jawab Kiyah
pelan. Ia tidak terlihat jengkel sedikit
pun meski bajunya
juga terkena cipratan
tinta. Arie memperhatikan betapa tenangnya
perempuan itu menangani kekacauan sehari-hari tanpa sedikit pun mengeluh.
Ia sering melihat Kiyah menghabiskan
waktu sepulang sekolah hanya untuk mengulang materi bagi murid yang agak lambat
menangkap pelajaran. Terkadang, Arie ikut duduk
di bangku paling belakang, membantu menyiapkan alat peraga dari benda
bekas. Interaksi mereka tidak pernah dibicarakan secara serius, tapi terasa
sangat alami.
Saat mereka sedang
menata lembar kerja
di atas meja kayu, sebuah
suara nyaring pecah dari arah belakang.
"Kak Arie, Kak Kiyah!" teriak
Banyu sambil berlari
mendekat. "Kak Arie itu kakaknya Kak Kiyah, kan? Mirip banget kalau
lagi senyum."
Arie menoleh ke
arah Kiyah, ingin melihat reaksinya. Kiyah hanya menunduk,
jarinya menyusuri tepi kertas
yang rapi. Ujung
bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum malu yang tidak segera ia bantah. Arie
merasakan ada denyut hangat di dadanya saat melihat betapa nyaman Kiyah
membiarkan anggapan itu menyebar di antara anak-anak.
"Aku bukan kakaknya, Banyu. Tapi kita satu tim," jawab Arie setengah
bercanda. Ia melirik Kiyah, mencari konfirmasi,
namun perempuan itu justru sibuk merapikan buku di sudut ruangan. Ada
ketegangan yang menyenangkan di udara, seolah kata-kata Banyu tadi membuka
celah baru yang tidak ingin mereka tutup secepat itu.
Malam itu, mereka berjalan pulang bersama
menyusuri jalan setapak di tengah perkebunan karet. Daun-daun karet tampak
berdesir pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan asap kayu
bakar dari rumah penduduk. Keduanya berjalan
berdampingan tanpa perlu terburu-buru, menikmati
hembusan udara yang sejuk di wajah.
"Tadi Banyu bilang
apa ya, Arie?" tanya Kiyah tiba-tiba. Suaranya pelan, hampir
tenggelam oleh suara kodok di kejauhan.
"Dia bilang kita mirip kalau lagi
senyum," jawab Arie, berusaha terdengar santai. Ia melangkah hati-hati di atas tanah
yang agak berlumpur karena hujan sore tadi. "Tapi lo nggak bantah, Yah. Aku pikir lo bakal langsung jelasin kalau
kita cuma teman satu sekolah."
Kiyah berhenti sejenak,
menggeser tali tasnya
yang melintang di dada. "Emangnya kalau nggak dibantah, berarti aku setuju?"
"Bukan
gitu," sahut Arie cepat. Ia merasa
pipinya mulai panas.
"Cuma... rasanya menyenangkan
kalau ada yang melihat kita dekat begini."
Kiyah tidak menjawab, tapi ia mulai melangkah
lagi, kali ini jarak bahu mereka terasa lebih
dekat. Mereka meneruskan obrolan tentang tingkah polah murid-murid yang sering
memancing tawa. Arie merasa beban tugas
di desa ini terasa jauh lebih ringan
karena ada Kiyah di
sampingnya.
Sesampainya di persimpangan jalan menuju posko, Arie melihat
sosok Ipung berdiri di bawah pohon jati dengan tangan
menyilang. Wajah temannya itu terlihat datar, jauh berbeda dari senyum yang
biasa ia tunjukkan. Arie menahan langkahnya, merasakan ada perubahan
mendadak di udara malam itu.
"Kau berdua pulang
bareng lagi?" tanya
Ipung. Suaranya datar,
tapi ada gesekan
kasar di sana. "Kapan
lagi waktunya buat istirahat kalau tiap hari kalian habiskan buat ngobrol receh di kebun?"
Arie menatap Ipung dengan bingung. "Ini cuma jalan pulang,
Pun. Nggak semua
hal harus terkait jadwal kerja."
Kiyah menarik napas
panjang, lalu berjalan
lebih dulu meninggalkan mereka berdua tanpa menoleh. Ipung menatap
punggung Kiyah hingga hilang di balik tikungan jalan. Ia kemudian
berbalik ke arah Arie, matanya menyipit seolah sedang memikirkan cara
untuk memutus hubungan yang baru saja tumbuh di antara Arie dan Kiyah.
Suaranya pecah di antara meja-meja kayu yang
berderit. Ipung berdiri tegak, jari telunjuknya nyaris menempel di dada Arie
yang sedang duduk bersila di atas tikar. Ruangan itu tiba-tiba terasa panas,
meski kipas angin berdecit keras di sudut atap.
"Kau jangan terlalu dekat dengan dia, Rie. Fokus pada laporanmu!"
Arie mendongak
perlahan. Matanya tidak langsung menatap Ipung, melainkan tertuju pada secangkir kopi yang sudah
dingin di meja.
Tangannya mencengkeram papan
tulis kecil hingga buku jarinya memutih. Nada bicara Ipung tadi
terdengar seperti perintah, bukan sekadar saran teman satu tim.
Ipung melangkah maju,
menabrak kursi kayu yang berderit
keras. "Kau pikir
ini kampung halamanmu? Kau
datang ke sini cuma untuk main mata dengan Kiyah, bukan untuk bekerja?"
Beberapa mahasiswa lain di pojok ruangan saling
bertukar pandang. Ainun menunduk, sibuk
menyusun lembaran laporan
seolah tak ingin
terlibat, sementara Imran memilih keluar
dengan dalih mengambil air. Arie akhirnya berdiri. Tingginya nyaris sama
dengan Ipung, tapi bahunya terlihat lebih sempit karena ketegangan.
"Apa maksudmu 'berebut
perhatian', Pun? Aku cuma bantu
dia karena kalian
semua sibuk dengan urusan
sendiri," jawab Arie. Suaranya datar, tapi nadanya meninggi di
akhir kalimat.
"Membantu? Sejak kapan membantu butuh waktu tiga jam di depan
kelas sambil
ketawa-tawa?
Itu namanya mengganggu jadwal," sahut Ipung. Ia melempar buku catatan
ke atas meja hingga beberapa pulpen jatuh ke lantai.
Arie menghela napas
panjang. Ia merasa
ada sesuatu yang salah dengan
cara Ipung
memandangnya, seolah ia adalah ancaman
bagi otoritas Ipung di desa ini. "Aku tidak mengganggu jadwal siapa pun. Kau
yang terlalu sensitif."
"Sensitif? Kau pikir aku tidak tahu caramu menatap
dia? Jangan bawa-bawa gaya kota ke sini kalau kau tidak sanggup kerja
keras!" bentak Ipung. Wajahnya memerah, urat lehernya menonjol.
Tiba-tiba, suara langkah
kaki berat terdengar dari teras. Arnas berdiri di ambang
pintu dengan tangan terkepal di pinggul. "Cukup!"
Semua orang terdiam. Arnas melangkah
masuk, menepis lengan Ipung yang masih menunjuk ke arah Arie.
"Kalian pikir ini posko pementasan drama? Di luar sana, warga menunggu laporan
akhir kita. Apa yang akan mereka katakan
kalau melihat kalian
seperti ini?"
Ipung mendengus, tapi ia mundur
selangkah. Arie merapikan bajunya yang sedikit
kusut. Ketegangan di udara belum sepenuhnya hilang, tapi volume suara
mereka telah turun drastis. Arnas mengambil alih papan tulis
dan mulai membagi
tugas kembali dengan
nada yang tegas namun terkendali.
Namun, saat Arnas sibuk menjelaskan
jadwal, Arie menangkap pandangan Ipung dari balik punggung
Arnas. Ada kilatan
dingin di mata Ipung yang membuat Arie merasa ini bukan
sekadar masalah laporan KKN.
Arie kembali duduk
di kursinya. Ia mencoba fokus
pada angka-angka di lembaran laporan, namun matanya terus melirik ke
arah pintu. Ada perasaan tidak enak di perutnya, seolah
ada sesuatu yang buruk akan terjadi sebelum matahari terbenam nanti.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba
menenangkan detak jantungnya yang masih sedikit tidak teratur. Pikirannya mulai
beralih pada tugas yang harus diselesaikan, mencoba menepis emosi yang sempat memuncak
hanya beberapa menit lalu. Lingkungan sekitar mulai terasa lebih tenang,
meski ketegangan di udara belum sepenuhnya hilang.
Ponselnya bergetar di atas meja, menarik
perhatiannya untuk sesaat. Ia melirik layar yang menampilkan notifikasi dari grup koordinasi, lalu dengan cepat mengabaikannya. Fokusnya harus tetap terjaga pada
pekerjaan di depannya, terutama karena hal-hal kecil bisa berubah menjadi
masalah besar jika ia lengah.
Suasana di ruangan
itu mulai kembali
seperti semula, dengan
suara gesekan pulpen
dan ketukan jari di atas keyboard. Arie mencoba menyelaraskan
ritmenya dengan
rekan-rekannya, menepis sisa-sisa ketegangan yang masih mengendap
di pikirannya. Ia tahu bahwa menjaga ketenangan adalah
kunci agar semuanya berjalan lancar.
Tiba-tiba, sebuah suara pelan terdengar dari
arah pintu yang tidak sepenuhnya tertutup. Arie mengalihkan pandangannya
ke sana, melihat sosok yang belum dikenalnya berdiri dengan ragu.
Orang itu membawa
sesuatu yang tertutup
daun pisang, menciptakan sedikit rasa penasaran di tengah kesibukan mereka yang baru
saja reda.
Ia mencondongkan tubuh
sedikit ke depan,
mencoba melihat lebih
jelas siapa yang datang.
Ada perasaan lega yang samar muncul dalam hatinya, berpikir mungkin kedatangan
orang itu bisa mengalihkan pikirannya dari konflik
yang baru saja terjadi. Namun,
keraguan masih menyelimuti
benaknya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ketegangan yang sempat memudar mulai muncul
kembali, namun kali ini dalam bentuk rasa ingin tahu yang mendalam. Arie menunggu dengan
sabar, meski ada bagian dalam dirinya yang merasa ada sesuatu
yang berbeda akan segera terjadi. Ia hanya bisa berharap hal itu tidak akan
mengganggu konsentrasinya lebih jauh lagi.
Panas matahari kian menyengat tengkuk
Arie, namun ia tetap bertahan
di bawah atap posko yang reyot. Pekerjaan
pendataan warga desa menumpuk di atas meja kayu.
Tiba-tiba, bayangan seseorang menghalangi
cahaya yang masuk dari pintu. Khairani(gadis desa saawit)berdiri dengan senyum lebar, membawa sebuah kotak makanan
berwarna hijau yang masih mengepulkan asap tipis. Gadis
itu tidak meminta izin sebelumnya, hanya meletakkan bekal itu tepat di samping
tumpukan kertas kerja Arie.
"Ini khan belum
waktunya istirahat, Khairani?" tanya
Arie, suaranya datar
namun terdengar lelah.
Khairani
mengibas-ngibaskan tangannya sendiri, mencoba mengusir keringat yang mengalir
di pelipisnya. "Bukan untuk istirahat, Bang. Cuma takut nanti lupa makan
kalau lagi sibuk. Lagipula, ibu saya sempat masak berlebih hari ini."
Alasan itu terdengar sangat klise, namun ekspresi
poLos di wajah
Khairani sulit untuk
didebat. Arie melirik
ke arah sudut ruangan, di mana Arnas dan
beberapa teman lainnya mulai saling berbisik.
Arnas memicingkan
mata, melipat tangan di depan dada dengan senyum nakal yang menyebalkan. "Wah, sudah level kirim
makanan ke posko
begini. Arie, jangan
bilang lo nggak punya
cadangan pulsa untuk telepon malam-malam?"
Imran dan salah
satu teman yang lain tertawa kecil, menutup mulutnya dengan buku catatan. Arie
menarik napas panjang, merasakan otot rahangnya mengeras
karena kesal. Godaan itu
sebenarnya hanya bercandaan ringan antar teman, tapi bagi Arie, hal itu
terasa sangat berat. Setiap kali Khairani datang membawa perhatian, bayangan wajah Kiyah langsung muncul di benaknya. Ia takut jika kabar ini sampai ke
telinga Kiyah, meski jarak mereka kini terpisah desa.
Khairani tetap berdiri
di dekat meja,
menunggu respons yang tidak kunjung
datang. Gadis itu memainkan
ujung kerudungnya, jari-jarinya terlihat sedikit gemetar karena gugup.
"Masakannya enak, Bang. Coba cicipi sedikit saja."
Arie menutup map
yang sedang dibacanya dengan agak keras, suara itu membuat Khairani sedikit
tersentak. "Terima kasih, Khairani. Tapi toLong jangan repot-repot bawa makanan lagi. Kami sudah punya jadwal
makan yang teratur di sini." Arie berusaha memastikan nadanya tetap
sopan, namun ada jarak tegas yang ingin ia pasang.
Khairani sedikit
merapatkan kerudungnya, wajahnya memerah karena rasa malu yang bercampur bingung.
"Oh, iya kalau
begitu. Maaf kalau
saya mengganggu pekerjaan." Ia membalikkan tubuhnya, melangkah keluar dari posko dengan
langkah kaki yang terasa berat. Suasana di dalam posko menjadi hening sesaat
setelah pintu kayu itu tertutup kembali.
Arnas mendekat ke meja Arie, mencondongkan tubuh hingga wajahnya hampir menempel
ke arah kotak makanan yang masih utuh. "Lo benar-benar tahan uji, Arie.
Gadis secantik itu, masakannya enak, dan rajin mengurusmu. Lo pikir Kiyah
akan tahu kalau lo menolak orang dengan cara sekejam itu?"
Arie mendongak,
menatap langsung ke arah mata Arnas. "Ini bukan soal kekejaman, Arnas. Ini soal tanggung
jawab. Aku tidak
ingin Kiyah berpikir
aku main mata di sini hanya
karena ada yang bawa-bawa makanan."
"kau terlalu kaku," sahut Arnas sambil
menggelengkan kepala. "Kiyah juga manusia, dia pasti tahu kau bukan tipe laki-laki
brengsek. Tapi kalau lo terus begini, nanti malah lo yang stres sendiri."
Arie bangkit dari
kursinya, merasa ruangan posko yang sempit itu mendadak terasa pengap. Ia ingin mencari
udara segar, namun
kakinya terasa terpaku
ke lantai. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa
hari lalu saat Ipung mengancamnya di depan warga.
Sekarang, masalah perasaan
justru datang dari arah yang tidak ia duga. Khairani bukanlah orang jahat, tapi perhatiannya justru menjadi beban
moral yang mencekik lehernya.
Ia melangkah keluar,
berharap bisa menenangkan pikiran sejenak di bawah pohon
besar di depan sekolah.
Namun, Khairani belum benar-benar pergi. Gadis itu duduk di atas bangku
kayu di teras sekolah, menundukkan wajah seolah sedang menahan isak tangis. Arie
menghentikan langkahnya, merasa hati nuraninya mulai diserang rasa bersalah
yang luar biasa.
"Kenapa
lo belum pulang?" tanya Arie, nada suaranya mendingin
sedikit untuk menjaga jarak.
Khairani mengusap sudut matanya dengan punggung tangan kasar. "Saya cuma ingin membantu,
Bang. Di desa ini, kami biasa saling membantu dengan cara memberi makanan.
Tidak selalu ada maksud lain."
Arie merasa
tertampar oleh kata-kata jujur itu. Mungkin ia terlalu membawa masalah hatinya ke dalam budaya
desa yang berbeda.
"Maafkan aku kalau
tadi bicaraku kasar.
Aku sedang banyak pikiran."
"Masalah
dengan Ipung?" tanya
Khairani pelan. "Semua orang di sini tahu dia pemarah.
Tapi Bang Arie tenang saja,
dia tidak akan berani ganggu
posko ini kalau
perangkat desa menjaganya."
Arie terkejut
mendengar Khairani menyebut nama Ipung dengan begitu santai.
Rupanya, masalah yang ia bawa dari kota hingga
ke desa ini sudah menjadi
konsumsi umum warga. Ia merasa kesabarannya benar-benar
diuji. Ia ingin menjaga nama baik, tapi ia juga tidak ingin Khairani
memiliki perasaan lebih yang akan memperumit keadaan.
"Khairani, dengar baik-baik,"
kata Arie, menarik napas panjang untuk mengatur nada bicaranya. "Lo
gadis yang baik.
Tapi saat ini, hatiku sudah
terikat pada orang
lain. Aku tidak ingin lo
menunggu sesuatu yang tidak mungkin terjadi."
Khairani terdiam
cukup lama, menatap ke arah dedaunan yang bergoyang ditiup angin sore. "Saya mengerti, Bang. Tapi toLong jangan
anggap perhatian saya sebagai beban. Saya hanya ingin membantu teman
seperjuangan."
Arie tidak bisa membalas kata-kata itu. Ia hanya
mengangguk pelan, merasakan beban di bahunya
tidak juga berkurang. Malam itu, saat ia kembali ke barak dan berbaring di atas
kasur tipis, pikirannya kacau. Ia membayangkan wajah Kiyah yang mungkin
sedang menunggu kabar darinya,
sementara di sisi lain, ia baru saja menyakiti hati seorang gadis desa yang tidak bersalah.
Ia menutup matanya
erat-erat, mencoba bernapas
perlahan untuk menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Konflik dengan Ipung
belum selesai, masalah dengan Khairani baru saja memanas, dan kerinduan
pada Kiyah mulai menggerogoti ketenangannya. Ia meraba saku celananya,
mengambil sebuah gantungan kunci kecil yang diberikan Kiyah sebelum
berangkat.
Besok pagi, ia harus menghadapi semua orang
lagi. Ia harus menjaga jarak dengan Khairani tanpa membuat gadis itu
benci, menyelesaikan masalah dengan Ipung tanpa harus berkelahi fisik, dan yang terpenting, ia harus menjaga
hatinya agar tetap
setia pada satu nama yang
selalu membuat dadanya bergetar setiap kali terkenang. Tantangan di desa ini
ternyata tidak hanya soal pengabdian, tapi juga soal menjaga hatiku dari badai
godaan yang datang tiba-tiba.
Arnas meLompat
turun dari bak pick-up, senyumnya mengembang saat melihat Ainun sudah
berdiri di bawah rindangnya pohon jati. Gadis itu membawa dua kantong plastik
berisi pisang goreng hangat. Tanpa canggung, Arnas meraih tangan Ainun
dan mengepalkannya erat. Arie yang berjalan di belakang mereka hanya
bisa memandangi kebahagiaan yang begitu mudah didapat
temannya itu, sebuah pemandangan yang membuat dadanya
sesak.
"Lihat, Rie! Ini namanya istirahat yang
sempurna," teriak Arnas sambil memakan pisang goreng. "Ainun bilang nanti malam
kita bisa jalan-jalan ke pasar malam
di kecamatan. Lo harus ikut, biar nggak ketemu terus
sama Ipung atau kerjaan pendataan itu."
Arie tidak menjawab. Ia justru teringat pada Kiyah
yang pagi tadi terlihat membereskan
buku diraksa di ruang tengah. Saat ia hendak
menawarkan bantuan, Ipung tiba-tiba muncul dari dapur dan langsung menarik
lengan Kiyah, membawanya pergi dengan alasan ada pekerjaan rumah tangga
mendadak. Arie merasa seolah-olah ia sedang berada di dalam sangkar
kaca; ia bisa melihat Kiyah, namun terhalang oleh kehadiran Ipung
yang protektif secara berlebihan.
"Aku nggak bisa ikut," jawab
Arie datar. "Masih ada laporan keLompok
yang harus dirapikan sebelum besok pagi."
Arnas mendengus,
meletakkan tangan di bahu Arie. "Lo terlalu serius, Teman.
Nasihatku kali ini: nyatakan saja perasaanmu sebelum
diambil orang lain.
Kiyah kan nggak punya hubungan resmi sama Ipung,
kan? Coba dekati lagi. Jangan cuma diam dan menghela napas seperti orang yang
habis kena tilang."
Ketegangan di antara mereka mulai terasa saat Arie
menepis tangan Arnas. "Lo nggak mengerti situasinya di sini,
Arnas. Ipung bukan
cuma warga biasa.
Dia punya pengaruh
di sini, dan aku nggak mau KKN ini berakhir rusuh hanya karena aku nggak
bisa jaga jarak."
Suasana hening sejenak. Ainun melirik Arnas
dengan ragu, seolah mencoba membaca emosi di ruangan itu. Namun, Arnas
malah tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sedikit menyakitkan bagi Arie. "Lo terlalu takut,
Rie. Kalau terus
kayak gini, lo cuma
bakal jadi penonton di cerita orang lain."
Arie menarik napas
panjang, mencoba menahan
amarah yang mulai
membubung. Di saat itulah, Ipung masuk ke
halaman dengan membawa sebilah parang di tangan kirinya.
Matanya menatap tajam ke arah Arie, menangkap
percakapan terakhir mereka.
"Ada masalah apa di sini?" tanya Ipung dengan suara
berat yang menggetarkan dada.
Arnas tersenyum
canggung, mencoba mencairkan suasana dengan menyodorkan pisang goreng ke arah Ipung. "Nggak ada, Kami cuma diskusi
soal laporan keLompok. Arie agak capek, makanya emosinya lagi nggak
stabil."
Arie mendengus pelan,
menatap lurus ke arah Ipung. Ia sadar, nasihat
Arnas mungkin benar
soal keberanian, tapi melawan Ipung sekarang bukanlah pilihan bijak. Ia
harus menunggu waktu yang tepat, saat pengawasan Ipung lengah, dan saat
itulah ia akan berbicara pada Kiyah.
Hujan turun deras menggedor atap seng posko,
memaksa semua anggota tim berkumpul di ruang tengah.
Suasana di dalam
ruangan terasa pengap
namun hangat, dipenuhi
suara tawa dan gelindingan kartu di atas meja kayu. Beberapa mahasiswa
asyik bermain remi, berteriak setiap kali kartu joker muncul. Arnas
bersandar santai di kursi, sesekali meLontar lelucon kering yang membuat Ainun
menutup telinga sambil geleng-geleng kepala.
Di sudut ruangan yang agak redup, Kiyah
duduk menunduk di dekat lampu minyak. Cahaya
kuning temaram itu menyorot jemarinya yang lincah merajut benang wol berwarna
biru. Arie memperhatikan gadis itu dari kejauhan, melihat
betapa tenangnya ekspresi
wajah Kiyah saat fokus pada rajutannya. Ada ketenangan yang
menular dari sosok Kiyah di tengah keributan para mahasiswa lainnya.
Arie akhirnya berdiri
dan mendekat, berjongkok di sebelah Kiyah. Ia mencoba membantu dengan memegang gulungan benang
agar tidak menggelinding jatuh ke lantai tanah.
Benang wol itu terasa kasar
di telapak tangannya, tapi Arie sengaja
membiarkannya terulur
perlahan mengikuti gerak jarum Kiyah. Gadis itu melirik sebentar, lalu
kembali fokus merajut tanpa banyak bicara.
"Ini untuk siapa?" tanya Arie pelan,
berusaha mengalahkan suara
hujan yang tetap
saja terdengar nyaring di atap.
Kiyah tidak mengalihkan pandangan dari jarumnya. "Buat ibu di rumah. Dia selalu
kedinginan kalau malam."
Arie mengangguk
pelan, meski yakin Kiyah tidak melihatnya. Cara gadis itu memikirkan
orang tuanya membuat dada Arie terasa sesak, tapi dengan rasa hangat
yang aneh. Di bawah cahaya lampu
minyak yang berpendar lembut, wajah Kiyah tampak sangat cantik dan damai. Pipinya yang sedikit
kemerahan karena pantulan api membuat Arie sulit memalingkan muka.
Mereka terdiam cukup
lama, hanya diselingi suara gesekan kartu
di meja sebelah
dan deru hujan di luar. Arie
merasa ada keberanian yang perlahan tumbuh di dadanya. Ia ingin mengatakan
banyak hal, tapi kata-kata selalu saja macet di tenggorokan setiap kali menatap
mata Kiyah yang bulat dan jujur itu.
"Kiyah," panggil Arie, suaranya sedikit serak.
Gadis itu akhirnya berhenti merajut dan menoleh. "Hmm?"
"Lo sudah kepikiran mau ngapain setelah
lulus nanti?" Arie memutar gulungan benang di jarinya, mencoba terlihat
santai.
Kiyah menghela napas
pendek, matanya menerawang ke arah jendela
yang basah oleh air
hujan. "Aku ingin jadi guru yang hebat. Pengen balik ke desa, ngajar
anak-anak di sini yang nggak semuanya
punya kesempatan buat sekolah jauh."
Arie menatap Kiyah dengan kagum yang tak tersembunyikan. Impian gadis itu begitu besar dan tulus, sangat kontras dengan
keraguan yang sering ia rasakan sendiri tentang masa depannya. Mendengar Kiyah
berbicara tentang dedikasinya, Arie merasa dunianya seolah mengecil
hanya pada gadis di depannya itu.
Malam itu, saat hujan mulai mereda menjadi
rintik-rintik halus, Arie berjanji dalam hati bahwa ia ingin menjadi
bagian dari masa depan impian Kiyah. Ia akan menemani perjalanan gadis
itu, apa pun yang terjadi
ke depannya. Semangat
baru mulai menyala
di dadanya, menyadari bahwa hari esok adalah kesempatan baru untuk
berada di dekat Kiyah.
Sore itu terik matahari menyengat punggung para
mahasiswa yang sedang mengerjakan kerja bakti di pelataran balai
desa. Suara arit menggesek dahan
kering bercampur dengan debu yang beterbangan di antara
kayu-kayu jati yang besar. Arie mendorong lengan bajunya yang basah oleh
keringat, berusaha memfokuskan tenaganya pada sebatang baLok bekas renovasi
yang cukup berat.
Ia menghela napas
panjang, otot lengannya menegang saat ia mengangkat baLok
itu dari tumpukan rongsokan. Niatnya sederhana: ia ingin terlihat
kuat di depan
Kiyah. Setiap kali ia merasa pandangan Kiyah
tertuju padanya, ia akan mengerahkan tenaga lebih keras, seolah-olah beban
berat itu hanyalah ranting kecil.
"Hati-hati, Arie. Jangan sampai
kena tanganmu," teriak
seorang warga, namun
Arie hanya balas
mengangguk sambil terus bekerja.
Di tengah kepayahan itu, Arie merasakan
ada bayangan yang mendekat. Kiyah berjalan pelan membawa sebotol air
mineral dan selembar handuk kecil yang agak usang. Tanpa banyak bicara, Kiyah
menyodorkan handuk itu ke arah wajah Arie yang basah oleh peluh.
"Keringkan dulu mulo. Jangan paksakan diri kalau sudah
lelah," kata Kiyah pelan.
Suaranya hampir tak terdengar karena deru mesin pemotong rumput di kejauhan.
Arie menerima handuk
itu dengan kedua
tangan yang agak gemetar, bukan
karena berat angkutan tadi,
melainkan karena jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. Perhatian sepele itu terasa seperti
beban berat yang mengikat hatinya,
membuatnya semakin yakin bahwa ia harus segera mengatakan
sesuatu.
Ia melirik ke kiri dan ke kanan,
mencari saat yang tepat ketika
kerumunan orang sedang sibuk. Saat melihat Arnas
dan Ipung sedang asyik memindahkan pot tanaman, Arie memberanikan
diri untuk mendekat ke arah Kiyah yang sedang menyapu halaman.
"Kiyah, sebentar lagi kita selesai. Nanti
kalau sudah sore,
aku ingin ngobrol
sebentar," bisik Arie
cepat, berharap nada suaranya tidak bergetar.
Namun, sebelum Kiyah sempat menjawab, suara Pak Lurah tiba-tiba menggelegar dari teras balai. "Anak-anak KKN! Sini semua, ada yang
perlu dibicarakan soal jadwal penyuluhan besok!"
Arie mengatupkan
rahangnya, menahan kekesalan yang membubung. Ia melihat Kiyah langsung berlari
menghampiri warga lain, meninggalkan Arie yang masih terpaku
dengan handuk kecil di tangannya. Gangguan itu selalu datang pada saat
yang paling tepat, seolah-olah ada kekuatan yang sengaja menghalangi mereka
untuk bicara empat mata.
Sore mulai beranjak, dan bayangan pepohonan
mulai memanjang di atas tanah yang sudah agak bersih. Arie meletakkan
cangkulnya dengan pelan, matanya terus mengikuti langkah Kiyah yang tampak
sibuk menata dokumen
di dalam balai.
Ia mulai merasa
waktu tidak berpihak padanya.
Setiap hari yang berlalu di desa ini terasa
seperti detik yang dihitung mundur. Arie takut masa KKN ini akan berakhir dalam
sekejap, dan ia akan kembali
ke kota dengan
tangan kosong serta hati yang penuh penyesalan. Ia harus menemukan
cara, entah bagaimana caranya, untuk menemui Kiyah
sebelum malam tiba.
Lampu minyak tanah di sudut meja belajar Arie
mengepaskan bayangan yang bergetar di dinding bilik kos. Aroma minyak yang
menyengat bercampur dengan bau sampah dari sungai di belakang rumah.
Arie menarik kursi
kayu yang berderit
hingga menyentuh meja. Ia membuka laci meja dan mengambil
sebuah buku tulis kecil bergambar pemandangan gunung yang sampulnya sudah
kusam.
Ia mencelupkan pena ballpoint ke dalam tinta
yang hampir habis.
Ujung pena itu menari di atas kertas, meninggalkan goresan
tinta biru yang pucat. Arie tidak menuliskan jadwal kuliah atau daftar
belanja seperti biasanya. Ia justru menuliskan tentang betapa sulitnya tidur
jika memikirkan senyum Kiyah yang selalu muncul saat mereka bertemu di
depan balai desa.
Ia menulis tentang keheningan malam di desa ini
yang terasa berbeda jika mengenang suara tawa Kiyah. Setiap baris kata
yang dibuatnya adalah pelarian dari rasa grogi yang sering menghantuinya. Arie sering memotong-motong kertas jika tulisannya terasa terlalu
berlebihan atau tidak pada tempatnya. Ia tidak ingin terlihat seperti pria yang
terlalu romantis di depan warga desa.
Di luar sana, suara jangkrik bersahutan dengan
deru motor yang melintas di jalan desa yang masih berbatu. Arie sesekali
mengusap wajahnya yang terasa panas. Ia membayangkan Kiyah bukan sekadar
gadis desa biasa. Bagi Arie, kehadiran Kiyah di tengah rutinitas mereka ibarat permata
yang tersembunyi di tengah hamparan
pohon sawit yang membosankan.
"Dasar
bodoh, nggak mungkin
dia suka sama puisi semacam
ini," gerutu Arie pelan. Ia melirik ke
arah jendela yang tertutup tirai tipis. Angin malam menerpa kain tirai itu,
membuat bayangan Arie di dinding semakin tak menentu. Ia merasa puisi
itu hanya miliknya sendiri, sebuah pengakuan jujur yang tidak berani diucapkan
secara langsung karena takut
mendapat tamparan atau ejekan dari rekan-rekannya.
Ia menutup buku harian itu dengan pelan agar
tidak mengejutkan penghuni kos lainnya. Arie menyandarkan punggung ke
kursi dan menatap langit-langit yang mulai retak. Ia memutuskan untuk tidak buru-buru.
Momen yang tepat harus datang tanpa paksaan, mungkin saat acara panen raya
nanti atau saat Kiyah sendirian di perpustakaan desa. Ia ingin menyerahkan semua bait rindu
itu di saat yang tenang,
tanpa gangguan suara
mesin atau teriakan anak-anak.
Namun, malam ini terasa lebih berat dari
biasanya. Arie menyadari bahwa waktu terus berjalan dan ia belum
melakukan langkah berani.
Ia hanya bisa menatap buku harian itu di
atas meja, berharap suatu hari nanti Kiyah akan membaca setiap baris dan
mengerti betapa tulusnya perasaan yang selama ini ia pendam di balik senyum
canggungnya.
RAHASIA
DIBALIK LAYAR
Udara di dusun itu terasa makin panas dan
lengang. Hari-hari di minggu ketiga KKN ini berbeda secara nyata. Semangat
awal yang dulu menyala-nyala kini surut. Ruang tengah
penginapan yang dulu selalu riuh kini sering dihiasi keheningan yang
menyesakkan dada.
Imran menghempaskan
badannya ke kursi. "Laporan ini bikin kepala pusing. Lo belum tidur?"
tanyanya. Arie hanya mengangguk sambil membalas, "Sebentar
lagi." Ia memaksakan mata untuk tetap terbuka.
Tangannya terus memegang
pena tanpa menulis apa-apa. Ia justru mengamati sudut
ruangan tempat Kiyah duduk.
Kiyah tampak asyik
menatap layar ponselnya. Gadis itu lupa dengan tugasnya. Matanya menatap tajam ke arah bawah. Sesekali bibirnya berkedut
membentuk senyum tipis.
Namun, senyum itu sering menghilang dan digantikan raut sedih. Arie menelan ludahnya
dengan susah payah. Ia merasa ada dinding besar yang mulai memisahkan mereka.
Arie mendekat dan meletakkan gelas
air. "Kiyah, lo kenapa? Sejak
tadi aku perhatikan lo seperti ada masalah,"
ucap Arie hati-hati. Kiyah tersentak kaget dan buru-buru
mematikan layar ponselnya. Gadis itu menatap Arie dengan mata yang masih
berkaca-kaca.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya lelah dan
pikiran sedang kacau. Ini pasti karena tugas," jawab Kiyah singkat.
Ia membalikkan badannya agar tidak berhadapan langsung. Arie merasakan kejanggalan yang sangat dalam. Penjelasan Kiyah terdengar seperti alasan yang dibuat-buat agar ia tidak
bertanya lebih jauh.
Beberapa saat kemudian, Arie memutuskan untuk
pergi ke dapur.
Ia butuh udara
segar dan waktu untuk berpikir. Di sana, ia melihat Ainun sedang
membereskan piring. Ainun mendekat saat melihat wajah Arie yang
tampak sangat murung. "Lo dan Kiyah bertengkar?" tanya Ainun.
"Tidak juga. Aku hanya merasa dia menjauh.
Dia punya rahasia yang aku tidak tahu. Aku takut kalau aku bertanya, dia akan menganggap aku terlalu ikut campur," ucap Arie pelan. Ainun menghela napas dan
meletakkan kain pel di meja. "Mungkin lo hanya butuh waktu. Tapi, kalau lo
terus mendiamkan perasaan, nanti malah jadi masalah besar," saran Ainun.
Arie mengangguk dan berjalan kembali
ke ruang kerja.
Di sana, suasana
makin panas dan tegang. Suara ketikan keyboard
terdengar sangat keras. Beberapa anggota keLompok lain mulai bersitegang karena
beda pendapat soal data. Di tengah keributan itu, Arie melihat Kiyah
kembali memegang ponselnya.
Kali ini, Kiyah tidak sedang menatap
layar, melainkan menatap
ke arah jendela.
Wajahnya terlihat sangat pucat dan ada keraguan di matanya. Arie
ingin sekali merebut ponsel itu dan melihat apa yang sedang dilihat Kiyah.
Namun, rasa hormat dan cintanya masih menahannya.
Malam itu, hujan
turun dengan derasnya. Angin bertiup kencang
dan merusak atap rumah.
Semua orang sibuk membereskan barang. Arie melihat Kiyah berdiri
di teras dengan ponsel di tangan. Gadis itu mengetik sesuatu dengan sangat
cepat.
"Kiyah, masuklah! Lo bisa kedinginan!"
teriak Arie. Kiyah menoleh sebentar dan memberi isyarat bahwa ia
baik-baik saja. Namun, saat Arie melangkah maju, ia melihat ada notifikasi pesan masuk. Layar
ponsel Kiyah menyala
dan menampilkan sebuah
nama yang tidak dikenal. Hati Arie langsung berkecamuk dengan
rasa cemburu.
Arie tidak bisa
membaca isi pesan itu. Namun, ia melihat reaksi Kiyah yang sangat
berlebihan. Gadis itu memeluk ponselnya ke dada dan menundukkan kepala.
Air mata mulai jatuh dari
pelupuk matanya. Arie merasa hancur. Ia bertanya-tanya apa yang
sebenarnya terjadi.
Keesokan paginya, keadaan makin tidak menentu. Arie
sengaja duduk di sebelah Kiyah saat sarapan. "Kiyah, aku
tidak suka dengan keadaan ini. Kita harus bicara dengan jujur," kata Arie dengan suara yang bergetar. Kiyah hanya memainkan jemarinya dan tidak berani menatap mata Arie.
"Arie, toLong beri aku waktu. Aku
sedang menghadapi masalah yang sangat rumit. Aku tidak ingin menarikmu ke dalam
masalahku," jawab Kiyah tertunduk. Arie merasakan dadanya sesak.
Ia merasa dikhianati oleh diam kekasihnya. Rahasia-rahasia kecil itu mulai
terkuak dan mengancam ketenangan batinnya.
Mereka kembali bekerja dalam diam. Ruangan itu
terasa sangat pengap dan dingin. Arie mulai memikirkan kemungkinan terburuk.
Apakah Kiyah menyimpan
masa lalu yang belum
selesai? Atau, apakah ada orang lain yang masih berhubungan dengan Kiyah?
Pikiran-pikiran itu terus menghantui benak Arie.
Di tengah kesibukan menyusun laporan akhir,
ketegangan antar anggota makin menjadi. Ainun tanpa sengaja menjatuhkan tumpukan kertas. Kiyah yang sedang melamun
tersentak dan berdiri dengan kasar. Ponselnya yang tadi diletakkan di
meja hampir jatuh ke lantai.
Arie refleks mengambil ponsel itu sebelum
jatuh. Saat itu, ponsel Kiyah menyala lagi. Arie
melihat sekilas foto profil yang tidak biasa.
Di foto itu, Kiyah tampak
sangat akrab dengan seseorang. Hatinya mulai bergetar
hebat. Ia ingin memastikan kebenarannya, namun Kiyah dengan cepat
merampas ponselnya.
"Jangan sentuh ponselku!" teriak Kiyah
dengan nada yang sangat tinggi. Semua orang di ruangan itu menoleh dan terdiam.
Suasana menjadi sangat mencekam. Arie melangkah mundur dengan
perasaan yang sangat
terpukul. Ini adalah
konfrontasi yang tidak
pernah ia bayangkan
sebelumnya.
Kiyah menutup
wajahnya dengan kedua tangan. Gadis itu menangis tersedu-sedu di depan semua
orang. "Maafkan aku, Arie. Aku tidak bermaksud berteriak. Aku hanya
sedang tidak kuat menanggung beban
ini," ucap Kiyah lirih. Arie ingin
menghiburnya, tapi rasa sakit
di hatinya masih sangat mendalam.
Malam itu, Arie memilih untuk duduk
sendirian di depan
rumah. Ia menatap
langit yang gelap tanpa
bintang. Keheningan malam terasa sangat berat. Ia menyadari bahwa hubungan
mereka sedang di ujung tanduk. Cintanya pada Kiyah sangat besar, tapi
kepercayaan adalah hal yang sangat sulit untuk dikembalikan.
Sementara itu, di dalam rumah,
Kiyah masih duduk
termenung di meja kerjanya. Ponsel
itu kembali berada di genggamannya. Gadis itu menatap layar ponselnya
yang perlahan menyala. Kiyah menarik
napas panjang dan menunggu sesuatu
yang ia takuti akan segera terjadi. Ketidaktenangan mulai memuncak
di dalam dirinya.
Lampu gantung di ruang makan
memancarkan cahaya kuning
yang redup, membuat
layar ponsel Kiyah yang tersisa di atas meja kayu itu tampak
sangat mencoLok. Arie awalnya hanya menunduk, sibuk mengaduk kopi yang
mulai dingin di cangkirnya. Ia menunggu Kiyah kembali dari kamar
mandi, namun tiba-tiba sebuah bunyi 'ting'
yang tajam memecah keheningan di antara mereka.
Sebuah notifikasi muncul dengan cahaya biru
yang menyilaukan mata. Arie secara refleks menoleh, melihat
nama pengirim yang sama sekali
tidak ia kenal
terpampang jelas di baris
paling atas. Rasa penasaran bercampur dengan kecemasan mendadak mengalir di
nadinya. Tanpa sengaja, matanya terlanjur menangkap isi pesan singkat yang
tertulis di layar itu.
Pesan tersebut berisi baris demi baris bait
puisi romantis dalam bahasa Inggris yang sangat puitis dan menyentuh hati. Arie menatap
kosong pada kata-kata asing itu, namun
ia paham betul maknanya. Ada rasa memiliki yang sangat intim di sana.
Dadanya terasa
sesak, seolah udara
di ruangan itu tiba-tiba tersedot
habis sehingga ia kesulitan bernapas dengan normal.
Ia buru-buru memejamkan mata dan menarik napas
panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang mulai berdegup kencang.
Napasnya memburu, namun ia berusaha mengatur
ritme pernapasan dengan
menghitung dalam hati.
Ia tidak ingin
Kiyah melihatnya dalam
keadaan panik jika gadis itu keluar sekarang juga. Namun tangannya mulai
gemetar hebat.
"Siapa dia? Apa aku tidak cukup baik untuk Kiyah?"
Pertanyaan itu terus berkelebat di dalam
benaknya, menciptakan jarak emosional yang tiba-tiba terasa sangat jauh.
Arie merasa dunianya
runtuh seketika, seolah
semua harapan yang selama ini
ia simpan hancur berkeping-keping. Ia menunduk, menarik napas berat, dan
mencoba meredam perasaan cemburu yang mulai membakar dadanya.
Ia melirik ke arah kamar
mandi yang pintunya
masih tertutup rapat.
Arie menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri
sebelum Kiyah kembali duduk di hadapannya.
Namun, pikiran negatif terus bermunculan,
membuat rasa percaya diri yang selama ini ia bangun hancur dalam sekejap.
Ia harus memutuskan apa yang akan ia lakukan
setelah ini.
Awan Mendung di Pagi Hari
Embusan angin pagi membawa bau tanah basah
dan sisa hujan
semalam, tapi udara
di beranda kos Arie terasa lebih dingin dari biasanya. Ia berdiri
di depan jendela, menatap tajam ke arah halaman yang mulai diinjak sinar
matahari. Di tangannya, secangkir kopi sudah dingin dan mengendap di dasar
gelas. Arie tidak menyentuhnya sama sekali.
Pikirannya masih terpaku
pada layar ponsel
yang sempat ia lihat semalam,
saat ponsel Kiyah
tersandar tak sengaja di meja kerja mereka.
"Arie, kita berangkat
sekarang?" suara Kiyah terdengar dari balik pintu kamar. Langkah
kaki perempuan itu memecah kesunyian, membawa aroma sabun mandi yang biasanya
membuat Arie menoleh. Namun pagi ini, Arie hanya menarik napas
panjang dan membalikkan tubuh menjauh dari pintu.
"Lo kenapa, Rie? Ada salahku?" tanya Kiyah
lembut, wajahnya mendekat saat ia menyampingkan tas kerja. Arie dapat
melihat kerutan halus di dahi Kiyah, tanda kebingungan yang tulus.
Namun, Arie memilih menunduk, jari-jarinya menarik ujung kemeja yang masih kusut.
Ia membuka lemari,
mengambil tas, dan meletakkannya di lantai
dengan bunyi gedebuk yang keras.
"Aku nggak enak badan. Kepala rasanya
berat," jawab Arie, suaranya datar dan kaku. Ia tidak berani
menatap mata Kiyah karena takut perempuan itu akan membaca
kebohongan di balik rasa sakit yang ia sembunyikan. Kiyah mundur
selangkah, bibirnya mengerucut, namun ia tidak memaksa.
Langkah
yang Menjauh
Siang hari di posko desa terasa panas dan
pengap. Biasanya, Arie akan berada di sudut ruangan, duduk di kursi kayu
yang goyah, membantu Kiyah menata berkas-berkas pendataan. Mereka
akan bertukar lelucon
kecil atau berbagi
snack di sela-sela pekerjaan. Hari ini, Arie memilih duduk di teras belakang, di bawah naungan
pohon jati yang rindang.
Ia sengaja menjauh, memberi jarak fisik yang mencoLok.
Kiyah beberapa kali menoleh ke arah teras, melihat punggung
Arie yang kaku. "Arie, toLong ambilkan meteran di dalam ya,"
teriak Kiyah, mencoba mencairkan suasana. Arie hanya mengangguk singkat
tanpa mengucapkan sepatah
kata pun. Ia berjalan masuk, mengambil
alat itu, dan menyerahkannya dengan tangan yang terjulur kaku, tanpa menyentuh
tangan Kiyah.
Rasa sakit itu seperti duri yang menancap di
dada Arie setiap kali melihat senyum Kiyah yang kini terasa
asing. Ia merasa dikhianati oleh bayangan laki-laki misterius yang mengirimkan puisi-puisi indah di layar
ponsel Kiyah. Bagi Arie, puisi-puisi itu adalah bukti adanya seseorang yang memiliki
tempat di hati Kiyah, tempat yang belum sempat Arie gapai sebelum
rasa itu tumbuh.
Di dalam hatinya, Arie mengutuk diri
sendiri karena terlalu berharap. "Lebih baik aku menjauh sekarang sebelum
semuanya menjadi lebih menyakitkan," gumamnya pelan, suara yang hampir tenggelam oleh deru angin.
Ia melihat Kiyah tertawa kecil dengan
salah satu warga desa yang datang
membawa dokumen. Tawa itu seperti
pisau yang membelah kesunyian di dalam dadanya.
Sebuah
Pesan yang Tak Terkirim
Menjelang sore, hujan rintik-rintik mulai
turun, memaksa semua orang di posko untuk berkumpul di ruang utama. Arie
terpojok di antara tumpukan kardus berisi obat-obatan, sementara Kiyah
duduk di depan meja, membalas pesan singkat di ponselnya. Arie bisa
melihat bagaimana jari-jari
Kiyah bergerak cepat, sesekali matanya
menatap layar dengan
sorot hangat yang tidak pernah ia tujukan pada Arie.
Kiyah menghela
napas, lalu menyandarkan ponselnya di atas meja kayu yang kasar. Ponsel itu
menyala, menampilkan nama yang membuat darah Arie berdesir dingin. "Ihsan: 'Malam ini baca puisi baruku ya, Sayang.
Rindu peluk hangatmu.'"Arie menutup telapak tangannya, menahan napas yang tiba-tiba sesak. Ia
merasa seperti orang luar yang mengintip kehidupan yang tidak memiliki tempat
untuknya.
"Arie, lo pucat. Mau minum air hangat?" tanya
Kiyah, suaranya kembali
lembut, namun kali ini terasa
seperti beban bagi Arie. Arie menggeleng cepat, bangkit dari
duduknya dengan gerakan yang sedikit tertatih. Kursi kayu itu terjatuh ke
lantai, menciptakan suara keras yang membuat semua orang menoleh, termasuk Kiyah
yang terkejut.
"Aku keluar sebentar.
Butuh udara," ucap Arie singkat.
Ia melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban.
Dingin hujan mulai
menyentuh kulitnya, tapi ia tidak
peduli. Ia berlari kecil menuju gudang penyimpanan di belakang posko, menutup
pintu dengan keras di belakangnya. Di dalam gelap gudang, ia merosotkan tubuh,
menahan isak yang mulai naik di tenggorokan.
Keheningan
yang Membeku
Malam hari di balai desa terasa sangat berbeda
tanpa kehadiran Arie yang biasanya menjadi penghangat suasana. Kiyah
duduk sendirian di bangku kayu, menatap piring makan malam yang tidak
tersentuh. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Keheningan di antara mereka
bukan lagi sekadar
kesunyian, melainkan tembok
tebal yang mulai dibangun Arie dengan sangat sengaja.
"Arie, kita harus bicara,"
ucap Kiyah saat melihat Arie kembali ke ruang utama dengan wajah basah
oleh air hujan.
Arie berhenti di ambang pintu,
menatap Kiyah dengan
mata yang merah dan kapas mata yang berat. Namun, ia hanya menggeleng
pelan, menarik baju basahnya, dan berjalan menuju sudut ruangan untuk mengambil
tasnya.
"Besok aku akan fokus di pendataan wilayah
utara. Lo bisa urus wilayah selatan sendiri, kan?" kata Arie,
suaranya parau namun tegas. Ia tidak menunggu persetujuan Kiyah. Setiap
langkah yang diambil
Arie terasa berat,
seolah ia sedang
menggali lubang untuk
mengubur semua harapan yang sempat ia simpan. Kiyah hanya bisa menatap
punggung Arie yang semakin menjauh, merasakan dinginnya udara malam yang
mulai menyusup ke dalam hati.
Di luar sana, hujan mulai turun lebih deras,
menyamarkan suara isak tangis Arie yang akhirnya pecah di tengah
kegelapan halaman. Ia tidak ingin
menjadi pengganggu di antara
Kiyah dan laki-laki yang bisa menuliskan puisi indah untuknya. Arie merasa hancur,
namun ia memilih untuk memendam semua rasa sakit itu dalam diam,
membiarkan jarak menjadi pelindung terakhir bagi hatinya yang rapuh.
Satu minggu penuh sudah berlalu sejak kata-kata
terakhir mereka menggantung tak jelas di udara. Di dalam posko yang dindingnya
mulai lapuk dimakan cuaca, suasana itu berubah drastis. Ruang tengah yang
biasanya riuh dengan tawa dan ledekan kecil antara Arie dan Kiyah,
kini terasa menyesakkan dan dingin. Beberapa anggota tim lain berusaha
mengabaikan ketegangan ini, memilih untuk sibuk dengan tugas masing-masing agar tidak harus
memecah kesunyian yang canggung.
Arie duduk menunduk
di mejanya, jari-jarinya menari cepat di atas tombol laptop yang mulai usang.
Layar itu menampilkan baris demi baris angka statistik KKN yang sebenarnya
tidak terlalu mendesak. Namun, ia sengaja membiarkan matanya terpaku pada grafik-grafik
tersebut. Ia menggunakan layar laptopnya sebagai perisai, agar tidak perlu
menatap ke arah dapur kecil di dalam posko, di mana Kiyah biasanya mulai
sibuk mencek daging yang sedang direbus untuk makan malam mereka.
Di sudasana lain ruangan, Kiyah berdiri menyusun gelas
di rak piring. Gerakannya terhenti sejenak setiap kali matanya
melirik ke arah punggung Arie yang kaku. Gadis itu menghela napas pelan,
menyesuaikan letak sekelumit tisu di atas meja, berharap pria itu akan
mengalihkan pandangannya dan akhirnya berbicara. Namun, Arie tetap tidak
bergerak.
Hanya suara kipas laptop yang berdengung pelan, seolah menenggelamkan segala usaha Kiyah
untuk mencari celah berkomunikasi.
Ainun, salah satu
rekan satu tim mereka, melangkah hati-hati membawa botol minyak goreng menuju
dapur. Ia mengamati punggung Arie yang tegak kaku, lalu beralih menatap Kiyah yang tiba-tiba sangat
tertarik pada noda di meja kayu. Ainun ingin sekali bertanya
apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Namun, melihat
garis rahang Arie yang mengeras dan tatapan kosong Kiyah, Ainun
akhirnya memilih untuk membungkam mulutnya. Ia meletakkan minyak di sudut dapur
dan segera kembali ke dipannya tanpa suara.
Arie menekan tombol enter dengan
keras tanpa melihat hasil di layar. Dadanya terasa sesak, seolah
ada tangan tak kasat mata yang meremasnya perlahan. Pikirannya terus berputar pada bayangan Kiyah
yang tertawa bersama pria lain di depan warung kopi
minggu lalu. Pria itu tidak tahu persis
hubungan mereka, tapi tatapan pria itu terasa memiliki. Arie merasa dirinya
bodoh karena terlalu
cepat berharap, terlalu
cepat jatuh, dan kini ia harus menelan pil pahit bahwa
perasaannya mungkin tidak akan pernah tersampaikan.
Ia menarik tangannya dari keyboard dan memijat
pelipisnya yang berdenyut. Bagi Arie, mundur adalah satu-satunya cara
untuk menjaga harga dirinya. Ia tidak sanggup membayangkan rasa malu jika kelak ia mengungkapkan perasaan,
hanya untuk diberitahu bahwa Kiyah sudah
memiliki orang lain. Lebih baik ia menjadi orang asing yang sopan di dalam
posko ini, daripada harus menanggung hati yang hancur karena mencintai seseorang
yang mungkin sudah milik orang lain. Ia harus mematikan rasa itu, sekarang juga.
Di meja makan, Kiyah akhirnya duduk. Ia
melihat punggung Arie yang begitu asing baginya. Gadis itu merapatkan
jaketnya, mencoba menahan hawa dingin yang datang bukan dari udara malam,
melainkan dari jarak
yang tiba-tiba menganga
di antara mereka. Ia ingin sekali berjalan
mendekat, meletakkan tangannya di bahu Arie, dan bertanya mengapa mereka
harus berakhir seperti ini. Namun, kebisuan Arie terasa seperti tembok
tebal yang tidak bisa ia tembus hanya dengan kata-kata maaf yang tidak ia
mengerti alasannya.
Arie menutup
laptopnya dengan bunyi klik yang keras, memutus keheningan. Ia berdiri, merapikan beberapa
lembar kertas di tangannya, dan berjalan menuju
kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kiyah.
Langkah kaki mereka nyaris berselisih di depan pintu dapur, namun Arie
dengan sengaja merapat ke kusen pintu, menghindari sengatan listrik yang biasa
ia rasakan jika bahu mereka bersentuhan. Kiyah menunduk, menatap lantai
yang dingin, merasakan kekalahan pertama dalam minggu yang panjang ini.
Malam itu, saat semua lampu di posko sudah
dimatikan dan hanya menyisakan lampu minyak di sudut ruang tengah, Arie
tetap terjaga di dipannya. Ia menatap ke gelapnya langit-langit, merasakan
kehampaan yang luar biasa. Ia hampir menyerah pada perasaannya sendiri,
berpikir bahwa mungkin jarak ini adalah takdir yang harus ia terima. Namun, di
dalam keheningan itu, ada satu pertanyaan kecil yang mulai menggerogoti
keputusasaannya: apakah ia benar-benar yakin
dengan apa yang ia lihat,
ataukah ia hanya sedang lari dari ketakutan untuk
benar-benar terluka?
Kiyah menekan ujung jari ke matanya yang perih, berusaha
menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan dokumen di meja kerja.
Udara ruangan terasa sesak, bukan karena sempitnya ruangan, melainkan karena
keheningan telepon genggamnya yang tak kunjung berdering. Setiap notifikasi
palsu membuat jantungnya berdetak kencang, hanya untuk kembali hancur saat
melihat itu bukan dari Arie.
Ia meraba permukaan meja yang dingin, mencari
pegangan pensil yang biasanya selalu tersedia di sana. Ketiadaan benda kecil
itu terasa seperti lubang besar di dadanya. Arie selalu mengisi
hari-harinya dengan tawa dan sokongan
tanpa pamrih, namun
kini sosok itu berubah menjadi asing. Tatapan sang
kekasih kini kosong, seolah mengenang kegagalan yang tak terucap.
Kiyah melangkah
keluar ruangan, mencari sosok Arnas yang sedang menata kabel di sudut gudang. Ia menarik lengan baju Arnas
dengan lembut agar pria itu berhenti bekerja. Napas Kiyah memburu,
menahan isak yang mulai naik ke tenggorokan. "Arnas, apa Arie
bercerita sesuatu padamu?
Kenapa dia mendiamkanku seminggu ini?" tanya Kiyah dengan mata berkaca-kaca.
Arnas menoleh
perlahan, meletakkan tang obeng di atas meja kayu yang berdebu. Ia mengusap
wajahnya yang berkeringat, menatap Kiyah dengan sorot mata yang sulit
diterka. Ada beban berat di bahu Arnas, sebuah rahasia yang mulai menggerogotinya dari dalam. Ia melangkah maju, namun kembali mengurungkan
niatnya untuk bicara.
"Kiyah, kau harus lebih
kuat," ucap Arnas pelan, suaranya parau
tertelan debu. Ia melirik
ke arah jendela, melihat bayangan Arie yang sedang duduk termenung di
teras depan.
Konflik batin Arnas mencapai puncaknya; ia adalah saksi
hidup kehancuran yang dialami
sahabatnya, namun ia terikat janji untuk diam.
Kiyah merapatkan jaketnya, merasa dingin menusuk
tulang meski cuaca
tidaklah dingin. Ia menunduk, menatap ujung sepatu yang
mulai kusam. "Aku tidak tahan melihatnya seperti itu, Arnas. Aku
takut kehilangan dia, tapi aku lebih takut jika dia memutuskan pergi tanpa
alasan yang jelas." Kiyah memaksakan diri menatap lurus ke mata Arnas.
Arnas menghela napas
panjang, jemarinya mengepal
di saku celana.
Ia tahu ini adalah
masalah komunikasi yang fatal. Jika ia terus diam, Kiyah akan hancur,
namun jika ia bicara, Arie mungkin akan membenci keberadaannya
selamanya. Suara dentuman
jantungnya terasa nyaring
di telinga, menandingi riuhnya mesin generator
di belakang mereka.
"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya
sekarang," jawab Arnas terbata-bata, suaranya
hampir tak terdengar. Ia melangkah pergi, meninggalkan Kiyah yang masih
terpaku di tempat yang sama. Keraguan itu mulai berubah menjadi tekad saat ia
melihat air mata yang mulai mengalir di pipi Kiyah.
Arnas berhenti di
sudut ruangan, menatap tangannya sendiri yang sedang gemetar. Ia harus
melakukan sesuatu agar sahabatnya tidak kehilangan kesempatan untuk bahagia.
Melihat Kiyah yang bersedih membuat
hatinya menciut, memutus
rantai keheningan yang menyakitkan itu sebelum semuanya
terlambat.
Bau asap bekas pembakaran sampah dari kebun
sebelah menempel di baju Arnas saat ia berdiri di depan kamar
Kiyah. Ia menarik
napas panjang, mencoba
menenangkan detak jantung yang terasa lebih kencang dari biasanya. Di
dalam saku celana, ujung jarinya meremas bungkusan rokok kosong. Ia tidak
merokok, tapi benda itu memberinya alasan untuk tidak memasukkan tangan ke
dalam saku dan terlihat gugup. Kiyah duduk di kursi plastik, matanya
masih merah karena kurang tidur seminggu terakhir.
"Kiyah, kita harus bicara sekarang.
Kalau tidak, besok lusa kalian berdua akan menyesal seumur hidup," ucap Arnas tanpa
basa-basi. Suaranya sedikit
serak karena debu jalanan
yang ia hirup dalam perjalanan ke sini. Kiyah mendongak, menatap wajah Arnas
yang tampak serius, bukan wajah santai teman yang biasa bercanda. Arnas
duduk di anak tangga teras, tidak ingin terlalu dekat namun tetap ingin kontak
mata terjaga.
Ia meraba tengkuknya yang basah oleh keringat.
"Dia diam karena dia mencintaimu, Kiyah. Dan dia melihat sesuatu yang
membuatnya berpikir kau sudah punya orang lain." Kiyah mengerutkan
kening, bibirnya sedikit terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Arnas melanjutkan dengan nada lebih
rendah, "Aku melihat
sendiri dia membaca
pesan di ponselmu minggu
lalu. Dia pikir itu dari kekasihmu."
Kiyah terkejut
mendengar pengakuan itu. Tubuhnya menegang, jari-jemarinya mencengkeram erat
lengan kursi plastik hingga buku jarinya memutih. "Pesan apa? Aku tidak
pernah menyembunyikan apa pun darinya selain..." Suaranya terputus saat
ingatannya kembali ke beberapa minggu lalu. Ia baru menyadari bahwa puisi-puisi
dari Ihsan yang memang mencintainya tapi sekarang sudah putus hubungan.
"Itu Ihsan, Arnas! Dia
memang suka samaku! Dia sering kirim puisi buat tugas kuliah, minta pendapatku.
Arie lihat itu dan diam saja?" Kiyah bangkit dari kursinya,
langkah kakinya terburu-buru di lantai semen yang kasar. Tangannya gemetar
mencari ponsel di dalam rumah yang tergeletak
di atas meja makan. Asap dari dapur
tetangga mulai masuk
ke pekarangan, tapi mereka berdua tidak peduli dengan
iritasi di mata.
Kiyah meminta Arnas menyampaikan pesan pada Arie bahwa
ia ingin bicara.
"ToLong temui dia
sekarang, Arnas. Bilang aku yang minta. Aku imgin hilangkan prasangka
dia tentang diriku." Suara
Kiyah mulai pecah,
menahan tangis yang mulai naik ke tenggorokan. Harapan mulai muncul
kembali, meski tipis, di tengah luka yang sempat menganga di hati mereka
masing-masing selama satu minggu terakhir.
Arnas melihat jam dinding di dinding ruang
tamu yang catnya
sudah mengelupas. Matahari mulai condong ke barat, sinarnya
berubah menjadi jingga redup yang menembus dedaunan jati di depan rumah.
"Aku segera pergi sekarang juga. Tapi Kiyah, lo harus siap. Dia
tidak mudah diajak bicara setelah dia memutuskan untuk menjauh." Kiyah
mengangguk cepat, mengusap air mata yang belum tumpah dengan punggung tangan kasar.
Sebelum Arnas beranjak pergi, Kiyah
meraih sehelai kertas dari buku catatannya dan menuliskan satu kalimat pendek.
"Berikan ini padanya jika dia tidak mau mendengar penjelasanmu." Arnas
mengambil kertas itu, melipatnya rapi dan menyelipkannya di balik jam tangannya. Angin sore bertiup
kencang, membawa debu tanah merah
yang membuat mereka berdua
harus menyipitkan mata sesaat.
JEMBATAN
KOMUNIKASI
Sore di perkebunan itu memang terasa berbeda.
Bukan karena angin musim hujan yang biasanya
mulai masuk, tapi lebih ke suasana hening
yang terasa berat
di antara dedaunan sawit. Arie duduk
bersandar di akar pohon besar, tanah di bawahnya masih agak lembap karena hujan
semalam. Ia menyilangkan tangan, menunjukkan sikap tertutup yang tak perlu
diucapkan.
Arnas berjalan
mendekat dengan langkah hati-hati di atas tanah yang tak rata. Ia membawa dua
botol air minum kemasan yang sudah tak terlalu dingin. Ia melihat punggung Arie yang kaku, seolah
sedang menahan amarah
yang besar. Arnas menarik napas panjang, mencoba
mengumpulkan keberanian untuk
memulai pembicaraan yang mungkin saja akan berakhir dengan
keributan.
"Arie," panggil Arnas pelan, suaranya sedikit
serak karena debu perkebunan.
Arie tidak menoleh.
Matanya terus tertuju pada barisan pohon sawit yang terjajar rapi sampai ke batas pandang.
Daun-daun palm itu berdesir pelan,
tapi baginya suara
itu justru menambah kegaduhan
pikirannya. Ia sedang memikirkan pesan-pesan di ponsel Kiyah yang sempat
ia lihat tempo hari.
Arnas akhirnya
duduk di sebelah Arie, menyisakan jarak satu meter agar tidak terlalu
mendekat. Ia meletakkan satu botol air di antara mereka,
sebuah isyarat damai yang biasa mereka lakukan sejak kecil.
Namun, Arie tetap
membisu. Hening di antara mereka
menjadi sangat menyesakkan, jauh lebih buruk daripada debat sengit
sekalipun.
"Kau masih kesal soal pesan itu, kan?" tanya Arnas langsung.
Ia tidak mau berputar-putar
lagi. Waktunya semakin
sore dan mereka
harus segera memperjelas masalah ini sebelum kecurigaan menggerogoti
persahabatan mereka.
Arie akhirnya
bergerak. Ia merapatkan jaketnya, lalu menoleh setengah badan. Matanya merah, bukan
karena menangis, tapi karena kurang
tidur dan emosi
yang tidak stabil.
"Apa yang harus kusikapi, Arnas? Semuanya jelas di layar
ponsel itu. Kiyah... dia bukan orang yang kukira selama ini."
Arnas menghela
napas kasar. Ia membuka tutup botol air dan menyesapnya, memberi jeda sebelum
menjawab. "Layar ponsel itu bohong, Arie. Kau hanya melihat
potongan cerita, bukan keseluruhannya. Kau tahu Kiyah sedang dalam
tekanan keluarga sekarang."
"Tekanan apa? Mencari pengganti di
belakangku?" suara Arie meninggi sedikit, namun langsung ditelan
keheningan perkebunan. "Aku melihat namanya di aplikasi pesan, Arnas.
Ada percakapan yang tidak seharusnya dia lakukan."
Arnas merasa dadanya
sesak. Ia tahu betul apa yang dilihat
Arie, tapi dia juga tahu alasan
di balik itu. Kiyah memang ceroboh menyimpan ponsel, tapi niatnya tidak
jahat. "Itu masalah keluarga Kiyah. Dia dipaksa tunangan oleh
pamannya. Dia butuh saran, bukan dihakRina."
Arie mendengus
pelan, pandangannya beralih ke arah posko yang jaraknya cukup jauh dari tempat
mereka duduk. "Saran dari siapa? Dari lelaki lain?
Kau melindunginya karena kau kenal dia lebih lama, tapi kau
tidak melihat apa yang kurasakan sekarang."
Ketegangan mulai terasa di udara. Arnas
mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi
agar tidak meledak.
Ia tidak ingin
Arie melakukan hal bodoh karena
salah paham ini. "Aku melindungimu dari tindakan
yang kau akan sesali. Kalau kau mendatangi Kiyah dengan amarah ini, kau
hanya akan menyakitinya tanpa mendengar penjelasannya."
Tiba-tiba, suara mesin
berat terdengar dari kejauhan, salah
satu ekskavator yang sedang
memperbaiki saluran irigasi. Suara bising itu seperti latar belakang yang cocok
dengan kondisi hati mereka yang sedang bergejolak. Arie akhirnya
mengambil botol air yang ditawarkan Arnas, tangannya sedikit gemetar.
"Aku tidak bisa membiarkan ini terus
berlarut," ucap Arie, suaranya lebih tenang namun terdengar sangat
lelah. "Setiap kali aku melihat
dia, aku teringat
pesan itu. Rasanya
seperti ada duri di tenggorokan yang tidak bisa dikeluarkan."
Arnas melihat
keraguan di mata sahabatnya itu. Ini saat yang tepat. Jika dia tidak mengatakan
kebenaran sekarang, kebencian akan tumbuh subur dan menghancurkan segalanya. Ia harus mengambil risiko untuk membuka
rahasia yang selama
ini dia simpan demi menjaga privasi Kiyah.
"Aku yang menyuruhnya berkomunikasi dengan lelaki
itu," kata Arnas tiba-tiba. Kalimat itu meluncur keluar sebelum dia sempat
berpikir panjang. Arie menoleh tajam, keningnya berkerut dalam.
"Apa maksudmu?" tanya Arie tidak percaya.
Arnas menatap lurus
ke mata Arie. "Lelaki di ponsel itu memang suka sama Kiyah dan
mau ditunangkan dengannya oleh pakciknya kiyah. Dia juga yang dRinanta
pamannya untuk mengawasi Kiyah. Aku menyuruh
Kiyah untuk tetap
sopan dan membalas pesannya supaya pakciknya tidak curiga dan
membatalkan pertunangan paksa itu. Aku yang mengatur semua kata-katanya."
Dan satu hal yang perlu kau tahu rie....
kiyah tidak mencintai lelaki itu.
Arie terdiam, Informasi itu seperti ledakan
kecil di kepalanya. Selama ini dia mengira Kiyah berpura-pura, ternyata
ada skenario yang jauh lebih
rumit di baliknya. Namun, ada satu hal
yang masih mengganjal di hatinya. "Kenapa kau tidak bilang apa-apa sejak
awal? Kenapa harus kuselidiki sendiri sampai aku hampir memutuskan
hubungan?"
"Karena
Kiyah memintaku untuk
diam. Dia malu,
Arie. Dia merasa
tidak layak untukmu
jika keluarganya terlibat masalah seperti ini," jelas Arnas.
"Tapi sekarang, diam sudah tidak memungkinkan lagi. Kebencian di matamu
semakin dalam dan aku tidak tahan melihat kalian berdua menderita karena
kesalahpahaman ini."
Angin malam mulai
bertiup lebih kencang,
menerpa wajah mereka
berdua. Arie menunduk, menatap tanah. Dia merasa bodoh
karena telah membiarkan egonya menguasai akal sehat. Namun, rasa sakit hati itu
tidak langsung hilang begitu saja hanya dengan penjelasan Arnas.
"Aku harus bicara
dengannya," bisik Arie. "Tapi aku tidak
tahu harus mulai
dari mana setelah semua yang
telah kupikirkan tentang dia."
Arnas menepuk bahu Arie, kali ini dengan
sentuhan yang lebih
kuat dan meyakinkan. "Kita akan bicara bersama dia nanti. Tapi sekarang, kau
harus tenang. Jangan biarkan amarah ini menghalangi kebenaran yang
sesungguhnya.
Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Arie.
Ia menatap lurus ke arah lantai, berusaha mencerna setiap
kata yang baru saja tadi diucapkan oleh Arnas. Suara
bising dari jalanan di luar posko seolah tiba-tiba memudar, tertelan
oleh detak jantungnya yang sangat kencang. Ia menghela napas panjang, namun
dadanya terasa sesak sekali.
"Kau yakin?" tanya Arie dengan suara
parau. Keraguan masih menyelimuti benaknya, meski rasa lega perlahan mulai
merayap masuk. Arnas mengangguk cepat sambil menyeruput minuman
kaleng di meja.
"Yakin, Rie." jawab Arnas santai.
Arie menundukkan
kepala, menatap lantai ubin yang retak di sudut. Malu bercampur jijik menyergap perasaannya. Selama seminggu penuh, ia justru membuang waktu berharga
untuk marah dan mendiamkan Kiyah tanpa alasan yang jelas. Ia bahkan
sempat memutuskan hubungan hanya karena buku kumpulan puisi itu.
Rasa bersalah kini menghantui pikirannya. Betapa mudahnya ia menyerah pada ego dan rasa cemburu yang semu. Kiyah
pasti merasa bingung dan terluka oleh sikap dinginnya
belakangan ini. Ia mengepalkan tangan
di atas meja,
bertekad untuk segera
memperbaiki kesalahan besar tersebut.
Tanpa menunggu lama, Arie melangkah
keluar dari kamar posko. Udara malam yang cukup dingin langsung menyambut tubuhnya, namun ia tak peduli sama sekali. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini adalah wajah Kiyah
yang harus segera ia temui dan minta maaf.
Ia berjalan dengan langkah cepat menyusuri gang
sempit yang sepi. Beberapa anjing kampung saling menyalak
di kejauhan, namun
hal itu tak mampu mengalihkan fokusnya. Arie ingin sekali berlari kencang, namun
jalanan yang cukup gelap dan berbatu membuatnya harus tetap waspada agar tidak
tersandung.
Setelah menempuh perjalanan singkat, posko
wanita dimana Kiyah tinggak bersama anaj KKN lain akhirnya terlihat
di ujung jalan.
Pagar rumah kayu yang sedikit lapuk itu tampak kokoh dalam kegelapan.
Ada sebuah lampu teras yang menyala redup, menciptakan siluet bayangan di
dinding. Arie berhenti sejenak tepat di depan gerbang besi yang
tertutup.
Jantungnya kembali berdebar kencang, namun kali
ini karena rasa rindu yang sangat mendalam dan juga gugup. Berbagai
skenario tentang bagaimana reaksi Kiyah nanti
mulai bermunculan di kepalanya. Namun, ia tahu bahwa ia tidak boleh
mundur lagi. Ia harus mengambil langkah pertama ini sekarang juga.
Kepalan tangan Arie menggantung di
udara, tepat beberapa sentimeter dari daun pintu kayu yang sudah mulai
mengelupas catnya. Suara denting jam dinding di ruang tengah terdengar sangat
keras, seolah mengejar
detak jantungnya yang tidak menentu.
Ia menarik napas panjang,
menahan rasa perih di ulu hati sejak sore tadi, lalu mengetuk pintu itu tiga
kali dengan ritme yang ragu.
Langkah kaki berat
terdengar dari balik
pintu sebelum gagangnya diputar perlahan. Kiyah muncul dengan jilbab yang
gak karuan menutupi sebagian wajahnya. Matanya sembab dan merah, tanda ia baru
saja menangis cukup lama di depan cermin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kiyah
menunduk dan mulai berjalan menuju tangga belakang yang gelap, menghindari
kontak mata dengan Arie.
"Kau marah padaku, kan?" tanya Arie
pelan, mengejar langkah Kiyah yang sudah memasuki teras belakang yang sepi. Hanya
suara jangkrik malam
dan deru kendaraan jauh di jalan raya yang memecah
kesunyian. Angin malam membawa dingin yang
membuat Kiyah memeluk
tubuhnya sendiri, menahan
rasa dingin yang sebenarnya
bersumber dari dalam diri.
Arie berhenti tepat di belakang Kiyah,
melihat punggung gadis itu yang sedikit bergetar. "Maafkan
aku, Kiyah. Aku sudah kekanak-kanakan. Aku terlalu cepat berprasangka buruk soal itu," sesal
Arie, suaranya sedikit serak karena menahan emosi. Ia ingin menyentuh
bahu Kiyah, tapi tangannya kembali dirapatkan di depan dada, takut jika
sentuhannya justru akan membuat Kiyah menjauh lagi.
Kiyah masih menunduk, jari-jari
tangannya meremas ujung baju kaos yang ia kenakan hingga kusut. "Aku pikir
lo membenciku, Rie. Caramu menatap
aku tadi pagi...
rasanya seperti aku orang asing yang menyusahkan hidupmu," bisiknya
lirih, suaranya hampir tertelan oleh embusan angin. Setitik air mata kembali
jatuh dari keLopak matanya, jatuh ke tanah yang kering di depan kakinya.
Arie melangkah maju,
memutar tubuh Kiyah agar menghadapnya, meskipun
gadis itu tetap menundukkan kepala. "Tidak pernah, Kiyah. Aku hanya bingung dan merasa
gagal karena tidak bisa menjaga
rahasia kecil kita.
Tapi itu tidak
berarti aku membenci
keberadaanmu di sini," jawab
Arie, mencoba menyakinkan diri sendiri selain Kiyah. Ia melihat
bagaimana dagu Kiyah mulai bergetar menahan tangis yang kedua.
Di bawah cahaya bulan yang remang-remang dan
tersaring oleh dedaunan pohon jati di halaman, ketegangan yang membayangi
mereka selama seminggu perlahan menguap. Arie menghela napas lega saat Kiyah akhirnya mengangkat wajah, menunjukkan senyum tipis yang pahit namun tulus.
Kebekuan itu mencair, digantikan oleh rasa rindu yang mendalam dan kelelahan
setelah membawa beban prasangka sepanjang hari.
Mereka akhirnya duduk berdampingan di anak tangga
teras yang dingin. Arie merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah
gantungan kunci kecil yang rusak."Aku menemukan ini di saku jaketmu. Maaf sudah membongkar
tanpa izin. Aku berjanji mulai sekarang kita tidak
akan lagi menyimpan rahasia atau berprasangka buruk tanpa bertanya terlebih dahulu," kata Arie,
menyerahkan gantungan kunci itu kembali ke tangan Kiyah.
Kiyah menerima benda itu dengan hati-hati, mengusap
permukaannya yang tergores. "Terima kasih sudah jujur. Aku juga minta
maaf sudah terlalu sensitif. Mari kita akhiri malam ini dengan damai dan
kembali ke posko sebelum kawan-kawan yang lain mencarimu," ujar
Kiyah. Suara tawa kecil mereka akhirnya pecah di kegelapan, menandakan
bahwa badai kecil di antara mereka telah benar-benar berlalu untuk sementara
waktu.
Arie menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang agak goyah. Diskusi
untuk kegiatan penutupan KKN
sudah berjalan selama satu jam. Di atas meja berdebu itu, tumpukan kertas
berisi draf acara berserakan. Dia merasa lega karena hari-hari tegang selama
ini mulai mencair. Kehadiran Kiyah di sebelahnya membuat pikirannya
tenang. Gadis itu sesekali mencatat di buku kecilnya sambil mengangguk setuju
pada usulan teman lain.
Tiba-tiba, Arnas meletakkan gelas
plastik berisi kopi di atas meja dengan bunyi gedebuk yang cukup keras. Cairan
cokelat itu sedikit tumpah mengenai draf acara di depan Arie. Ucapannya terdengar datar, tapi matanya
menatap tajam ke arah Arie. "Arie, lo yakin pengumuman ini harus disebar malam
ini? Laptop-mu kan sempat rusak kemarin. Apa datanya sudah benar-benar
aman?"
Arie mengernyit.
Dia merasa pertanyaan Arnas terdengar seperti tuduhan terselubung.
"Sudah kuperbaiki, Arnas. Semuanya aman. Aku sudah cek berkali-kali," jawab
Arie sambil mengusap
tumpahan kopi dengan tisu. Dia mencoba menjaga nada suaranya agar tidak memicu
keributan baru di tengah suasana yang baru saja membaik.
Kiyah meletakkan pulpennya perlahan. Dia meliak
ke arah Arie, lalu beralih menatap
Arnas yang sedang bersandar di kusen jendela. "Ada masalah
apa dengan data itu? Arie kan sudah bekerja keras menyusunnya sampai
larut malam," kata Kiyah. Nadanya tenang, tapi ada penekanan kata
yang seolah membela Arie di depan semua orang.
Arnas mendengus pelan.
Dia melangkah maju dan membuka
sebuah file di ponselnya, lalu meletakkannya di tengah meja.
"Masalahnya bukan di susunannya, Kiyah. Tapi di keamanannya. Coba
lihat ini. Tadi pagi, ada yang kirim tangkapan layar dari grup luar.
Isinya persis sama dengan format acara kita yang belum dirilis ini."
Udara di ruangan itu langsung terasa panas. Ipung
yang dari tadi diam di sudut, mendekat untuk melihat
layar ponsel Arnas. Dia melihat daftar
acara yang identik,
lengkap dengan kesalahan pengetikan yang hanya ada di draf internal
mereka. "Ini... ini beneran bocor?" tanya Ipung pelan, hampir
tak percaya.
Arie merasakan detak
jantungnya meningkat. Dia menatap tajam
pada layar ponsel
Arnas, lalu beralih ke arah tas laptopnya yang tergeletak di
bawah meja. "Itu tidak mungkin.
Laptopku memang sempat diperbaiki kemarin,
tapi teknisinya terpercaya. Aku kenal dia." Arie mencoba
mempertahankan Logikanya, tapi keraguan mulai merayap di kepalanya.
Kiyah menggeleng perlahan. Dia melihat ke arah
Arie dengan sorot mata yang mulai
berubah, bukan lagi tajam membela, tapi penuh
kekecewaan yang dalam. "Arie, kalau benar ada yang bocor,
berarti ada yang salah dengan
cara kita menyimpan data. Aku ingat lo sempat pinjam flash disk Ipung
kemarin untuk mencetak banner, kan?"
Arie menoleh ke arah Ipung. Teman itu terlihat
menunduk, menggigit bibir
bawahnya dengan gelisah. Ipung tidak mengelak, tapi dia juga
tidak memberikan penjelasan.
Keheningan Ipung terasa
lebih berisik daripada
debat kusir tadi.
Arie merasa jebakan baru saja terbuka di depan
kakinya sendiri.
Dia menghela napas
panjang dan menatap
ke luar jendela.
Malam sudah mulai
larut, tapi Arie tidak
peduli. Dia harus
segera memeriksa kembali
perangkatnya sekarang juga.
Ada sesuatu yang harus diklarifikasi sebelum kepercayaan Kiyah
benar-benar hilang karena masalah manipulasi data ini. Dia harus bertindak
cepat sebelum semuanya runtuh.
Lampu penerangan di teras utama posko KKN hanya
menyisakan satu yang berfungsi penuh, sementara tiga lainnya berkedip enggan
memerangi kegelapan malam. Udara dingin dataran tinggi mulai merayap, membawa
serta aroma basah dari rerumputan yang baru
disiram hujan sore tadi. Suasana
di sekitar mereka
terasa hening, hanya
diselingi oleh suara gesekan
daun rambutan yang saling beradu diiringi embusan angin malam.
Arie berdiri
menyandarkan bahu di tiang kayu yang sudah mulai lapuk, jemarinya sibuk
memainkan ritsleting jaket
yang mulai aus di bagian
ujungnya. Ia menatap
punggung Kiyah yang
sedang membereskan dokumen di atas meja kayu, memastikan setiap lembar surat
tersusun rapi di dalam map berwarna cokelat. Tangannya bergerak perlahan,
seolah membiarkan waktu berjalan lebih lambat agar momen kebersamaan ini tidak
segera berakhir.
Kiyah menutup map
tersebut dengan suara klik kecil, lalu membalikkan tubuhnya menghadap arah Arie
dengan membawa dua cangkir berisi air putih hangat. Uap tipis masih mengepul
dari permukaan gelas itu, membelah
pandangan antara mereka berdua.
Ia menyerahkan satu cangkir kepada Arie, jari mereka nyaris bersentuhan,
namun keduanya memilih membiarkan jarak itu tetap ada.
"Lo kelihatan sangat tenang malam
ini," ucap Kiyah sambil menghembuskan napas perlahan, menatap
langsung ke arah mata Arie yang tampak berkaca-kaca karena pantulan lampu penerangan. "Padahal kemarin lo masih gelisah memikirkan laporan akhir kita." Ia menyesap air hangatnya, menunggu
jawaban yang keluar dari lubuk hati lelaki di depannya itu.
Arie menerima cangkir
itu dan meletakkannya di atas meja kosong di sampingnya, ia melangkah selangkah
lebih dekat mendekati
Kiyah. "Laporan bisa diselesaikan nanti, tapi
ada hal lain yang sudah terlalu lama mengendap di pikiranku," jawab Arie
dengan suara bergetar pelan, berusaha mengumpulkan keberanian yang selama ini
terpendam dalam diam.
Ia menunduk sejenak, menatap lantai tanah yang
tidak rata di antara mereka, lalu menghela napas panjang yang terasa berat di
dadanya. Arie mengangkat wajahnya kembali, menatap langsung ke dalam mata Kiyah yang tampak teduh
dan menenangkan di tengah kegelisahan yang mulai
mengganas dalam batinnya. "Besok, sebelum kita kembali ke rutinitas
masing-masing, aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat."
Kiyah mengerutkan
keningnya sedikit, bibirnya membentuk senyum kecil yang tidak bisa
disembunyikan. "Ke mana? Apa kita harus membawa peta atau perbekalan
tambahan lagi?" tanyanya setengah bercanda, mencoba mencairkan ketegangan
yang tiba-tiba menyelimuti ruang terbuka
di depan posko
tersebut. Ia merapatkan jaketnya, merasa angin malam mulai semakin kencang
bertiup.
"Tidak perlu persiapan ribet," bisik Arie
mendekat, suaranya hampir tertelan oleh suara dedaunan yang tertiup angin.
"Aku sudah menyiapkan semuanya. Hanya kita berdua, ke tempat yang tenang di perbatasan
kampung sebelah. Aku ingin menjadikan hari esok sebagai momen paling bersejarah
dalam hidupku, dan aku ingin lo berada di sana."
Kiyah menatap wajah
Arie yang serius, melihat kerut halus di kening lelaki itu yang
menandakan betapa beratnya beban pikiran yang selama ini ia pendam. Tidak ada
keraguan sedikit pun di mata Kiyah saat ia mengangguk mantap, seolah ia
sudah menunggu momen ini sejak pertama
kali mereka bertemu
di perpustakaan kampus.
"Tentu, aku akan ikut. Aku tidak akan melewatkan apa pun jika itu
berasal dari dirimu."
Arie merasakan
beban di bahunya perlahan memudar, seolah batu besar yang selama berbulan-bulan menekan
dadanya akhirnya terangkat. Ia menarik napas lega, merasakan udara malam yang tadinya terasa
sesak kini menjadi segar dan penuh harapan. "Terima kasih, Kiyah.
Lo adalah jawaban dari segala pencarianku selama ini, dan aku berjanji tidak
akan membiarkan permata itu lepas lagi dari genggamanku."
Malam semakin larut, suara burung hantu mulai
terdengar dari balik pepohonan lebat di sekitar posko. Arie dan Kiyah
tetap berdiri di sana, membicarakan hal-hal kecil tentang masa depan yang
tiba-tiba tampak lebih jelas dan lebih terang dari sebelumnya. Mereka tidak lagi merasa takut
akan hari esok,
karena mereka tahu mereka akan menghadapinya
bersama.
Kiyah berpaling ke
arah kamar mandi umum yang letaknya agak jauh di belakang posko, "Aku akan ke sana sebentar, menyiapkan diri untuk istirahat." Ia melangkah pergi,
namun sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, ia menoleh kembali dan
memberikan senyum yang membuat dada Arie berdebar kencang. "Jangan
lupa bangunkan aku sebelum fajar, ya. Aku ingin melihat matahari terbit
bersamamu."
Arie hanya bisa
mengangguk kaku, matanya terpaku pada sosok Kiyah yang semakin memudar di kegelapan malam.
Ia meraba saku celananya, memastikan sebuah kotak kecil yang disembunyikannya masih ada di
sana. Benda itu terasa berat, bukan karena fisiknya, melainkan karena arti yang
dibawanya bagi masa depan hubungan mereka berdua.
Ia berjalan menuju beranda kamarnya, melihat ke
arah langit yang mulai dihiasi oleh bintang-bintang yang jarang terlihat di
kota besar. Keraguan yang selama ini menghantuinya mulai memudar, digantikan
oleh keyakinan yang teguh bahwa besok adalah
hari yang akan mengubah segalanya. Ia tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja tanpa sebuah kepastian.
Di dalam kamar
yang pengap dan hanya diterangi oleh lampu minyak
tanah, Arie duduk
di tepi kasurnya yang keras. Ia membuka kotak kecil itu, melihat
sepasang cincin sederhana yang sudah ia beli dengan menabung uang saku selama
tiga bulan terakhir. Logam itu berkilau redup, memantulkan tekad yang sudah
bulat di dalam hatinya.
Ia menutup kotak itu kembali dengan hati-hati,
lalu berbaring di atas kasur dan menatap langit-langit kamar yang mulai retak. Bayangan
wajah Kiyah terus menghantui pikirannya, membayangkan bagaimana reaksi
perempuan itu saat ia melafalkan kalimat yang sudah beribu kali ia hafalkan. Tidurnya malam itu sangat gelisah,
namun penuh dengan
senyum yang mengembang.
Sementara itu, di kamar sebelah,
Kiyah duduk di depan jendela
kecil yang menghadap ke halaman kosong. Ia menatap bulan
purnama yang bulat
sempurna, merasakan getaran
di dalam dadanya yang tidak bisa ia jelaskan secara Logika. Sesuatu
tentang cara Arie memandangnya malam itu terasa berbeda,
lebih dalam dan lebih membara
dari biasanya.
Ia menarik selimut
tipis menutupi kakinya
yang mulai terasa
dingin, memejamkan mata dan
membiarkan angan tentang masa depan bersama Arie membawanya ke alam
mimpi yang indah. Ada perasaan damai yang menyelimutinya, seolah semua potongan
teka-teki dalam hidupnya akhirnya menemukan bentuk yang tepat di samping lelaki
itu.
Esok hari, semuanya pasti akan berubah. Angin
malam bertiup lebih kencang, membawa serta debu-debu halus
yang menari di depan jendela,
namun di dalam
hati mereka berdua, hanya ada satu keyakinan yang
sama: bahwa besok adalah awal dari babak baru yang tidak akan pernah mereka
sesali.
Cahaya lampu penerangan di kamar kos yang
sempit itu hampir mati sepenuhnya, menyisakan
pendar redup dari bohlam yang sudah berumur.
Udara malam terasa
lembap, tetapi Arnas dan Arie masih terjaga di atas kasur
tipis mereka. Suara deru kendaraan dari jalan
raya di kejauhan
hanya menjadi latar
yang membosankan bagi keheningan ruangan.
Arnas merentangkan tangan
kanannya ke atas,
mengarahkan ibu jempol
ke arah Arie yang sedang merapikan selimutnya. Gerakan tangan itu terlihat
kaku namun penuh makna di tengah kegelapan. Ia menarik napas melalui sela gigi,
mencoba merapikan baris kalimat yang akan keluar agar tidak terdengar terlalu
berat.
"Jangan
gagal lagi, kawan," bisik Arnas. Suaranya
serak dan parau,
sengaja ditahan agar tidak mengganggu tetangga kamar
sebelah yang sudah tidur pulas. Matanya menatap tajam ke arah Arie,
mengamati setiap kerutan di dahi sahabatnya itu, memastikan pesan tersebut
benar-benar masuk.
Arie menghentikan
gerakannya merapikan bantal. Ia mendongak, menatap sosok Arnas yang
berbaring di ranjang sebelah. Bibirnya mengerucut sejenak, menahan sebuah tawa
kecil yang muncul dari rasa geli dan haru bercampur menjadi satu. Ada beban
yang terangkat dari pundaknya, menggantikannya dengan rasa percaya diri yang membuncah.
Ia merasa sangat beruntung memiliki sahabat
seperti Arnas yang selalu mendukungnya, bahkan di saat dia sendiri
hampir menyerah pada keputusasaan. Setiap lelah yang dirasakannya selama
ini seolah terbayar
lunas oleh satu kali jempol
tadi. Pikirannya mulai melayang, mencoba memilah ribuan
kata yang berputar di dalam kepala.
Arie memejamkan
mata sejenak, mencoba memikirkan kata-kata yang pas untuk diucapkan besok.
Ia tidak ingin
terbata-bata seperti pertemuan mereka yang pertama
di aula kampus. Semua puisi yang pernah ia tulis di atas kertas
bergaris, yang biasanya teronggok di laci meja, seolah menari-nari di
kepalanya, menanti untuk dibacakan.
Matanya terbuka kembali, menatap noda di
langit-langit kamar yang gelap. Sesuatu yang berat mulai mengganjal di tenggorokannya, sebuah
rasa takut yang sudah lama bersarang.
Ia teringat akan masa lalu yang kelam, hari-hari ketika ia berpikir cinta
hanyalah ilusi
belaka dan semua usahanya akan berakhir dengan kehancuran.
Namun, bayangan wajah Kiyah tiba-tiba
muncul di dalam bayang-bayang kamarnya. Senyum gadis itu terasa begitu nyata,
seolah bisa membersihkan debu-debu luka yang masih menempel di jiwanya.
Kepahitan masa lalu yang pernah menghancurkan hatinya sebelum ia bertemu dengan gadis
itu di aula IAIN perlahan memudar, tergantikan oleh cahaya harapan.
Tanpa sadar, napas Arie mulai melambat
dan ritme detak jantungnya melunak. Ia membiarkan dirinya terbawa dalam lamunan
indah tentang masa depan bersama Kiyah, membayangkan sebuah
rumah kecil dengan
taman yang tertata
rapi. Malam itu, tidur Arie sangat nyenyak, tanpa mimpi
buruk yang biasanya datang menghantui.
Di balik keLopak matanya yang mulai terkulai,
ia mulai merencanakan langkah besok dengan lebih matang. Ada sebuah benda kecil
yang terselip di dalam saku celananya, tersembunyi di balik tumpukan
pakaian kotor di sudut kamar.
Benda itu harus
diberikan di waktu yang
tepat, sebuah kejutan yang mungkin akan mengubah segalanya.
Matahari mulai menyingsing di ufuk timur,
membawa harapan baru bagi orang-orang yang masih punya semangat untuk bertahan. Di dalam kamar yang
mulai diterpa cahaya keemasan itu, Arie tersentak bangun, menyadari hari
yang dinanti akhirnya tiba. Tanpa membuang waktu, ia segera bersiap, memastikan
setiap detail penampilannya sempurna demi Kiyah.
Udara pagi terasa sejuk menembus sela-sela
tirai kamar kos yang belum sepenuhnya disingkap. Arie sudah berdiri di
depan wastafel sejak fajar, menyiramkan air dingin ke wajahnya berkali-kali
agar benar-benar terbangun. Hari ini terasa berbeda. Ada degup yang tidak
biasa di telinganya, seolah hari ini menuntut persiapan yang jauh lebih
matang daripada sekadar mandi dan menyikat gigi.
Dia berjalan menuju halaman depan di mana
motornya terparkir. Embun pagi masih mengelupak di atas bodi cat merah
itu. Arie mencarikannya kain lap yang bersih, lalu mulai
mengelap setiap sudut
dengan gerakan memutar
yang teliti. Tangannya bergerak hati-hati,
memastikan tidak ada setitik kotoran pun yang tersisa, seolah dia sedang
merawat mahkota raja, bukan sekadar kendaraan roda dua.
Setelah motor mengilap
tertimpa sinar matahari, Arie kembali ke kamar. Dia membuka
lemari yang isinya hampir seragam--semua berwarna gelap dan kasual.
Jari-jarinya
menyentuh kain jaket denim kesukaannya. Jaket
itu masih bersih, tapi dia tetap menyemprotkannya dengan sedikit pewangi
pakaian. Dia ingin terlihat rapi, tapi tetap terasa diri sendiri, bukan seperti
orang yang berpura-pura menjadi orang lain.
Saat mengenakan jaket,
dia merasa ada sesuatu yang kurang. Arie meraba saku kiri,
lalu saku kanan. Dia mengeluarkan isinya: sebuah helm pelindung, sebuah
kotak obat kecil, dan uang kembalian receh. Dia mengeluarkan semuanya, mengatur
ulang, lalu memasukkannya kembali dengan urutan yang lebih rapi. Dia ingin
memastikan tidak ada barang yang berbunyi-bunyi saat dia berjalan nanti.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari
arah ruang tengah. Arie menoleh ke arah cermin, meluruskan kerah
jaketnya dengan gugup. Dia melihat siluet Kiyah di ambang pintu. Gadis
itu mengenakan kemeja
putih yang dipadukan dengan gamis ala
arabi sederhana, bukan dengan
aksesori mewah, tapi justru kesederhanaan itulah yang membuat Arie
menahan napas sesaat.
Kiyah tersenyum kecil
saat melihat Arie yang sudah siap.
"Lo kelihatan sangat
rapi pagi ini," ucapnya
pelan, suaranya sedikit parau karena baru bangun. Arie hanya bisa
mengangguk kaku, tangannya tersembunyi di saku celana, meremas kain dalamnya.
Dia ingin menjawab sesuatu yang pintar, tapi yang keluar hanya sebuah senyum
bodoh yang dia coba tahan di sudut bibir.
Mereka berjalan keluar
dari
posko menuju halaman.
Beberapa teman KKN yang sudah bangun terlihat duduk di beranda.
Saat melihat pasangan itu berjalan berdampingan menuju motor, salah satu dari
mereka bersiul nyaring. "Wah, jangan lama-lama pulang ya! Bawa oleh-oleh
bakso yang banyak!" teriak seseorang dari dalam rumah. Arie
menunduk malu, tapi dia bisa merasakan tangan Kiyah menyentuh lengannya
sebentar, seolah mengatakan bahwa semua ini wajar.
Arie menarik kunci
kontak dari saku jaketnya. Getaran
mesin motor saat dinyalakan terasa familiar, tapi detak jantungnya
saat ini jauh lebih keras dari suara knalpot. Dia menoleh ke arah Kiyah
yang sudah memakai helm pelindung di belakangnya. "Siap?" tanya Arie,
suaranya sedikit bergetar. Kiyah mengangguk, tangannya melingkar di
pinggang Arie dengan pelan, dan mereka pun mulai meluncur meninggalkan
keriuhan teman-teman.
PUNCAK PENGAKUAN
Perjalanan menuju perbatasan kampung terasa sangat singkat bagi Arie.
Angin
sepoi-sepoi membawa aroma tanah perkebunan yang
khas, menemani deru motor yang melaju stabil di atas aspal yang mulai retak di
sisi-sisinya. Pohon-pohon karet yang tinggi berdiri diam di kiri dan kanan
jalan, seolah sengaja memagari mereka dari dunia luar yang penuh dengan
tugas-tugas organisasi yang melelahkan. Arie mencoba bernapas mengikuti irama mesin, menahan gumpalan
kata-kata yang sejak tadi mengganjal di tenggorokannya.
Kiyah duduk di
belakang dengan tenang, tangannya melingkar di pinggang Arie namun tidak
terlalu erat, memberi jarak yang cukup untuk udara tetap beredar di antara
mereka. Sesekali ia membisikkan komentar tentang pemandangan kebun sawit yang
membosankan, daun-daunnya yang hijau tua terlihat sama sejak kiLometer pertama,
namun hari ini semua terasa
istimewa. Ada kegembiraan kecil yang sulit
ia sembunyikan, terutama
ketika melihat punggung Arie yang sedikit membungkuk menahan angin.
"Lo yakin mau makan bakso
di sana? Tempatnya jauh banget, Arie," tanya Kiyah,
suaranya hampir tertelan suara knalpot motor.
Arie tidak menoleh,
hanya mengangguk kecil
sambil fokus menatap
jalan yang mulai menanjak pelan. "Lagian lo
yang bilang bosan makan di posko terus. Ini mumpung hari libur, kita cari yang
original dikit."
Kiyah terkekeh pendek,
bahunya sedikit menyentuh
punggung Arie. "Bukan libur kalau masih
bawa-bawa laptop dan proposal acara sampai malam."
"Nanti urusan proposal kita lupakan dulu.
Yang penting sekarang perut kenyang," jawab Arie cepat. Ia mengerem
pelan saat sebuah angkot tua melintas di depan mereka, mengeluarkan asap hitam
pekat. Bau bensin angkot itu langsung bercampur dengan aroma tanah basah,
menciptakan kontras yang aneh tapi akrab bagi penduduk pinggiran.
Beberapa menit kemudian, pemandangan mulai
berubah. Rumah-rumah penduduk yang tadinya rapat mulai jarang, digantikan oleh lapak-lapak kayu kecil yang sepi. Arie melirik ke kaca spion,
melihat wajah Kiyah yang mulai cerah. Gadis itu sedang sibuk merapikan
jilbabnya yang agak rusuh tertiup
angin, jarinya terampil
menyematkan peniti dengan
cepat tanpa meminta motor berhenti.
"Lo gak mau aku berhenti
dulu biar lo beresin jilbab?" tanya Arie, suaranya
sedikit parau karena angin.
"Nggak usah, nanti sampai aja. Lagian ini udah mau sampai
kan?" Kiyah menunjuk ke arah
depan, di mana sebuah papan nama catur dari
kayu mulai terlihat mencuat di balik pepohonan. Tulisan 'Bakso Urat Pak Slamet'
terbaca agak miring,
cat merahnya sudah mengelupas dimakan cuaca.
Arie mengangguk,
tapi dalam hatinya ada rasa cemas yang mulai menggelitik. Ia tidak hanya
membawa Kiyah untuk makan bakso. Ada undangan rapat dadakan malam ini
yang sebenarnya ingin ia sampaikan, tapi ia takut
momentumnya rusak. Ia ingin sekadar
berdua, tanpa gangguan radio komunikasi atau pesan singkat dari
koordinator lapangan.
"Arie," panggil Kiyah tiba-tiba, nadanya berubah sedikit
lebih serius. "Ya?"
"Makasih
ya sudah diajak
jalan. Aku butuh
banget suasana kayak
gini. Di posko
kemarin, aku hampir stres urus data peserta." Kiyah menghela
napas panjang, wajahnya menunjukkan kelegaan yang nyata saat motor mereka
memasuki area parkir tanah yang agak berdebu di depan kedai.
Kedai itu tampak lebih ramai dari perkiraan Arie.
Asap putih mengepul tebal dari panci raksasa di pojok warung, membawa aroma
bawang putih dan kemiri yang sanggup membuat
perut siapa saja langsung keroncongan. Meja-meja plastik berjejer
rapi, sebagian besar sudah
diduduki oleh warga Lokal yang tampak akrab satu sama lain.
Arie mematikan
mesin motor dan menurunkan standar tengah. Suara deru mesin yang tadinya
memekakkan telinga berhenti seketika, digantikan oleh suara obrolan warga dan
denting sendok beradu mangkuk. Kedamaian
pura-pura ini adalah yang ia cari. Ia menoleh
ke belakang, melihat Kiyah sudah
turun lebih dulu dan sedang
menepuk-nepuk debu di rok
panjangnya.
"Bagus kan di sini? Tempatnya sepi, jauh
dari gangguan posko," kata Arie sambil meletakkan helm di jok motor. Ia berusaha terdengar santai, padahal telapak
tangannya sedikit berkeringat.
Kiyah mengangguk antusias, matanya menyapu seluruh
area kedai. "Ini pas banget. Aku pesan yang pedas ya, Arie.
Jangan lupa minta tambah kuah."
Mereka berjalan berdampingan menuju bangku kosong
di sudut paling
ujung, dekat jendela yang terbuka lebar. Dari sini,
mereka bisa melihat jalan raya yang sepi, namun tetap merasa terlindungi oleh
dinding kayu kedai yang berwarna kusam. Arie menarik napas panjang untuk
menenangkan detak jantungnya yang mulai berlari kencang.
Ia harus mengatakan sesuatu. Tentang rapat
malam ini, atau mungkin tentang perasaannya
yang sudah terlalu
lama ia pendam
sejak masa orientasi kemah kemarin. Namun
saat ia melihat Kiyah yang sedang sibuk membaca menu tempel di dinding,
ia memutuskan untuk menunda semuanya. Malam masih panjang, dan bakso di depan
mereka masih mengepulkan asap hangat.
"Duduk
sini aja, Ki. Posisinya enak,
bisa lihat pemandangan tapi nggak ketiban
matahari langsung," ajak Arie sambil menepuk kursi plastik
di hadapannya.
Kiyah tersenyum dan
duduk dengan patuh. Ada keheningan sesaat antara mereka, bukan keheningan yang
canggung, melainkan keheningan yang penuh dengan harapan. Arie tahu, setelah
mereka selesai makan,
ia harus mengajak
Kiyah masuk ke percakapan yang lebih dalam. Tapi untuk saat ini, ia
hanya ingin menikmati detik-detik sebelum badai tugas itu datang menyapa.
Ia menatap ke arah parkiran, memastikan tidak ada kendaraan dinas
atau anggota tim lain
yang menyusul. Untungnya, hanya motor tua warga sekitar yang terparkir di sana.
Ini adalah dunianya sendiri,
sebuah gelembung kecil
di perbatasan kampung
yang tidak akan ia biarkan pecah oleh rutinitas
organisasi. Arie akhirnya mengajak Kiyah masuk lebih jauh ke
dalam ruangan, mencari tempat duduk yang paling strategis untuk memulai obrolan
mereka.
Kedai bakso itu sepi, hanya ada satu pelanggan
lewat yang sedang menyeruput kuah panas. Arie berjalan sedikit
membungkuk di bawah lampu neon yang berkedip pelan, mencari meja yang paling
jauh dari keramaian jalanan. Ia menarik kursi Logam yang berderit untuk
Kiyah, lalu duduk
menyilang tangan di atas meja yang masih
lengket bekas sisa sambal.
Udara malam cukup dingin, tapi punggung kemeja Arie sudah mulai lembap
oleh keringat gugup yang tak tertahankan.
"Kok sepi banget,
ya?" tanya Kiyah sambil meletakkan tas kanvasnya di lantai. Ia melihat
ke arah persawangan yang gelap, di mana gemerlap lampu-lampu rumah penduduk
terlihat samar di kejauhan. "Enak juga sih kalau makan tidak berisik
begini."
Arie mengangguk
cepat, matanya menatap tajam ke arah piring kosong di antara mereka. Ia mencoba
bernapas pelan, tapi dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang ingin sekali
meLompat keluar dari tenggorokannya. Ia menepuk-nepuk jari di atas meja, mengatur
ritme agar tidak terlihat terlalu tegang di depan Kiyah.
Pelayan datang membawa dua mangkuk besar beruap. Kuah berlemak
mengapung di atas
bakso yang bulat sempurna, namun Arie
hanya menatapnya tanpa selera. Ia menyendokkan kuah itu ke mulut, mencoba
menelan ludah yang tiba-tiba mengental. Setiap
kali ia menoleh
ke arah Kiyah, ia merasa seolah-olah ada dinding kaca tebal yang memisahkan mereka berdua.
"Rie, lo nggak
mau nambah es teh?" tanya
Kiyah, menyadari gelas
Arie sudah kosong sejak lima menit lalu. Ia
menyipitkan mata, melihat ada sesuatu yang aneh pada rahang Arie yang
mengeras. Biasanya Arie akan langsung memesan dua gelas sekaligus dan
bercanda soal kantuk setelah minum teh manis.
Arie menggeleng
pelan, jarinya mengusap layar ponsel yang tidak pernah dilihatnya sejak tadi.
Di dalam saku celananya, sebuah notifikasi pesan masuk bergetar, namun ia
mengabaikannya dengan paksa.
Ia tahu jika ia membuka
ponsel sekarang, wajahnya
akan berubah pucat dan rahasia yang ia simpan sejak siang tadi akan
terbongkar sebelum waktunya.
"Sebenarnya..." Arie mulai bicara, suaranya
sedikit serak. Ia berdehem, memaksakan senyum yang terasa kaku di wajahnya. "Aku cuma lagi mikir, apakah
kita benar-benar sudah siap
buat selesai KKN minggu depan? Kayaknya banyak banget yang harus diberesin,
Yah."
Kiyah meletakkan sendoknya dengan pelan. Ia menatap mata Arie yang tampak gelisah menatap ke arah beranda kedai.
Ada kecurigaan kecil yang mulai tumbuh di benaknya, sebuah firasat bahwa pria
di depannya sedang menyembunyikan sesuatu yang berat.
Namun melihat tangan
Arie yang sedikit
gemetar memegang gelas,
Kiyah memilih untuk tidak menekannya lebih jauh.
Makan malam itu berlalu dengan
santai, namun ada ketegangan manis
yang mengudara. Saat piring
bersih dan es teh habis, Arie akhirnya merasa saat yang tepat telah
tiba.
Uap nasi bakso masih mengepul di antara mereka,
tapi mangkuk di meja itu sudah kosong. Arie meletakkan sendok plastiknya tepat
di tepi meja.
Suara bising dari jalanan di luar kedai seolah tertahan, membentuk
gelembung hening di sekitar meja mereka. Ia menarik napas panjang, menahan
detak jantung yang terasa semakin kencang. Tanpa ragu lagi, tangannya merangkak
di atas meja dan menggenggam tangan Kiyah yang dingin.
Kiyah menatap Arie tanpa berkedip. Arie
memandang lurus ke dalam bola mata
kekasihnya, mengumpulkan segala keberanian yang tersisa. "Kiyah, aku ingin mengatakan sesuatu yang sudah lama
kupendam," ucapnya. Suaranya agak bergetar, tertelan oleh kebisingan
knalpot motor yang melaju kencang di jalan raya.
Kiyah terdiam, jemarinya sedikit mengendur di dalam genggaman Arie. Gadis itu menatap
Arie dengan mata yang mulai berkaca-kaca, memancing Arie untuk
bicara lebih jauh. Arie menarik napas pendek. Ia mulai menceritakan
bagaimana ia terpesona sejak pertemuan pertama
mereka di aula kampus yang pengap. Ia ingat persis
bagaimana kala itu matanya
terpaku pada senyum Kiyah yang menembus kerumunan mahasiswa.
"Aku iri, Kiyah. Saat Ipung mendekatimu,walaupun kau tak pernah
meresponnya dadaku rasanya
sesak sekali," kata Arie. Suaranya parau, menahan
amarah yang sudah lama mengendap. Ia menceritakan bagaimana Ipung cemburu
padanya bahkan pernah suatu ketika Ipung suka dengan gadis (satu kelas
dengan Arie) dan dia minta aku membantunya untuk mendapatkan perempuan itu
malah gadis itu suka samaku.namanya Anggraini orang galang itu.
Kemarahan itu berubah menjadi kehancuran saat ia salah
paham mengenai puisi
yang terbaca di ponselmu Ki.
Kiyah mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.
"Aku tidak pernah menyangka
kau berpikir seperti itu, Arie," bisiknya pelan. Arie
menggeleng cepat. Kejujuran itu kini mengalir begitu saja, tanpa ada lagi
rahasia yang ditutupi di antara mereka berdua. Ia menumpahkan semua keraguan
dan rasa sakit yang selama ini menggerogotinya dari dalam.
Tiba-tiba, sebuah suara denting keras menggelegar dari arah dapur, memecah keheningan di antara mereka. Arie
menghentikan ceritanya sejenak, meLonggarkan sedikit genggaman tangannya. Namun,
Kiyah justru semakin
memperkuat cengkeramannya, seolah
tidak ingin kejujuran ini
terputus oleh suara apa pun dari luar.
"Teruskan, Arie. Jangan berhenti
sekarang," ucap Kiyah, suaranya sedikit lebih
tegas. Arie menatap
gadis itu dengan kagum. Selama ini ia mengira kejujuran akan memutus hubungan
mereka, tapi justru sebaliknya. Membuka hati secara total membuat
dinding-dinding tebal yang selama ini memisahkan mereka akhirnya runtuh
sepenuhnya.
Suasana di kedai bakso itu terasa semakin
pengap, namun di dalam hati mereka justru terasa sejuk. Arie merasa
beban di bahunya
perlahan memudar. Ia menatap Kiyah dengan tulus, membiarkan keheningan setelah pengakuan itu
menguatkan ikatan yang sempat retak. Malam itu, di bawah lampu neon yang redup,
mereka berdua akhirnya menemukan kembali kepercayaan yang nyaris hilang.
Arie menarik napas
panjang. Udara malam di kedai itu terasa berat, bercampur dengan aroma kuah bakso yang sudah mendingin. Jari-jarinya yang dingin
meraba kotak beludru kecil di saku celana. Kini
saatnya. Ia menatap mata Kiyah yang tertunduk di seberang meja.
"Lo adalah permata yang sesungguhnya
bagiku, Kiyah. Maukah lo menjadi pendamping hidupku?" tanya Arie. Suaranya sedikit serak, menahan rasa gugup yang menggelitik tenggorokannya.
Kiyah terdiam
sejenak. Sendok di tangannya jatuh ke atas meja dengan bunyi pelan. Ia
mengangkat wajah, menatap
Arie tanpa berkedip. Air mata mulai
menggenang di pelupuk matanya.
Air mata itu akhirnya mengalir
membasahi pipinya. Tetesan
bening itu jatuh
ke atas piring kotor yang masih tersisa di antara
mereka. Bukan karena sedih, melainkan kebahagiaan yang meluap.
Ia mengangguk pelan
namun pasti. Bahunya
sedikit bergetar menahan
isakan yang mulai pecah. Senyum tipis akhirnya
mengembang di bibirnya yang basah oleh air mata.
"Aku juga mencintaimu, Arie. Aku sudah
menunggumu mengatakan ini sejak lama," jawab Kiyah di sela isakannya. Ia menyeka hidung dengan
punggung tangan karena tidak memegang tisu.”kenapa lama sekali, kenapa
kemana saja kau selama ini, ternyata lolah yang aku cari,tempatku untuk
berlabuh dan engkau tambatan hatiku”balas Arie.itu potongan puisi
yang dipersiapkannya untuk Kiyah
Suasana di kedai bakso itu seolah berhenti
berputar. Suara denting piring dari dapur tiba-tiba terdengar sangat jauh.
Hanya ada mereka
berdua dan janji
suci yang baru saja
terucap.
Arie menghela napas lega. Dadanya
yang sebelumnya terasa sesak kini mengembang
penuh. Semua keraguan dan pencarian panjangnya selama ini akhirnya menemukan
ujungnya di sini.
Malam mulai bertambah larut. Arie mulai
membereskan meja sambil memandang ke arah luar
kedai. Rasa penasaran mulai menyelinap di benaknya tentang
apa yang akan mereka
bicarakan selanjutnya di bawah rindangnya pohon rimbun nanti.
Kiyah menekan tisu
tipis ke sudut matanya, namun lengkungan senyumnya tetap bertahan. Di
hadapannya, Arie menghela napas panjang hingga bahunya yang tegang sejak
sore mulai mengendur. Beban yang tadinya mengimpit dadanya seolah menguap entah
ke mana. Ia menatap wajah Kiyah yang remang oleh cahaya lampu jalan
masuk lewat jendela, merasa seperti
baru saja menemukan kembali sesuatu yang lama hilang.
"Rie, lo nggak perlu nahan terus,
kok," ucap Kiyah pelan. Suaranya sedikit serak, namun tetap
terdengar hangat di telinga Arie. Gadis itu meletakkan tisu di atas meja kayu kecil yang sudah berbekas goresan. Arie
menggeleng cepat, jarinya menyusup ke
sela-sela jemari Kiyah, mencari kepastian bahwa
gadis itu benar-benar ada di depannya sekarang.
"Bukan
nahan, Yah. Cuma lega," jawab
Arie. Ia mengusap
punggung tangan Kiyah dengan ibu jarinya, mengikuti alur garis halus di kulitnya.
"aku ngerasa kayak orang buta yang baru
ketemu lampu. Aku muter-muter sendirian bertahun-tahun, nyari sosok kayak gini.
Ternyata ketemunya pas KKN, pas Aku lagi kotor-kotornya bantu warga."
Kiyah tertawa
kecil, napasnya sedikit tersengal karena tangis yang baru reda. "Itu mah
gara-gara Lo yang suka ngilang, Rie. Aku pikir Lo benci Aku waktu itu."
Tatapan Kiyah menerawang ke sudut ruangan yang gelap, mengenang
hari-hari saat Arie sengaja menghindari
kontak mata dengannya. "Aku sempat ngerasa
putus asa. Aku nanya terus ke diri sendiri, salah Aku di mana
sampai Lo cuekin Aku?"
Arie mengatupkan rahangnya. Penyesalan menghantamnya pelan-pelan. Memang benar ia sengaja menjaga jarak karena takut
kehilangan fokus, tapi ia lupa bahwa Kiyah bukanlah rintangan, melainkan
alasan mengapa ia harus bertahan. Ia melangkah mundur justru saat Kiyah
paling butuh kejelasan.
"Maaf, Yah. Aku bodoh," gumam Arie.
Ia tidak mencari alasan lagi. Tangannya yang menggenggam Kiyah mulai berkeringat dingin, namun ia tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia menarik tangan itu mendekat ke dadanya sendiri,
membiarkan Kiyah merasakan detak jantungnya yang mulai tak beraturan
karena emosi.
Kiyah mendekatkan wajahnya, menatap langsung ke bola mata Arie. "Jangan pernah pergi lagi
ya, Rie." Permintaan itu keluar bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai
harapan kecil yang rapuh. Lampu neon di atas wastafel kedai itu berkedip pelan,
memercikkan
bayangan yang membuat
suasana terasa lebih
privat, seolah dunia
di luar sana ikut
menahan napas.
Arie menggenggam tangan
Kiyah lebih erat,
jemarinya menyatu dengan
kuat. "Aku janji. Apa pun rintangannya nanti, Aku
bakal ada di sini. Aku nggak bakal ninggalin Lo lagi." Ia menundukkan
kepala, menyandarkan keningnya ke kening Kiyah untuk sesaat sebelum
akhirnya ia menyadari ada perasaan yang membuncah di dalam dadanya.
Udara di dalam kedai bakso itu terasa kian
lembap, bercampu dengan aroma kuah sapi yang
kian mengental seiring
berjalannya waktu. Arie menyandarkan punggungnya ke kursi
plastik yang agak goyah, lalu melirik jam tangan kasonya yang sabuknya sudah
mulai terkelupas. Ia mencatat tanggal hari itu di dalam hati dan pikirannya: 30
Juli 2009. Hari di mana ia secara resmi menemukan tambatan hatinya.
Kiyah duduk di
seberang meja, memainkan sedotan plastik di jari-jarinya. Gadis itu tidak lagi
menunduk malu seperti saat mereka pertama kali duduk. Matanya yang bulat dan
jeli kini menatap langsung
ke arah Arie, mencari kepastian di balik kacamata
tebal yang sedikit meLorot di hidung Arie.
"Lo yakin orang tua di kampung tidak akan protes kalau aku pulang membawa
oleh-oleh bukan oleh-oleh khas daerah, melainkan calon istri?" tanya
Arie dengan nada rendah, sengaja menahan tawa agar
tidak memecah kesunyian kedai yang mulai sepi pengunjung itu.
Kiyah mengerutkan
hidungnya, sebuah kebiasaan kecil yang mulai disukai Arie. "Yang
penting lo berani bilang duluan ke ibu lo. Ibu saya di Pasar delapan Langkat
orangnya sederhana, tapi kalau
urusan adat, dia paling tegas.
Jangan sampai nanti
lo lari takut duluan," jawab Kiyah
sambil menyipitkan mata, menantang.
Mereka menghabiskan waktu lebih lama di kedai
itu, tentu mereka tak melupakan waktu sholat Ashar yang tinggal sedikit lagi. Obrolan
mereka mengalir dari topik ringan
tentang jenis bakso
yang enak, hingga pembicaraan serius mengenai rencana setelah KKN
berakhir. Arie menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak
jantungnya yang mulai berlari kencang.
"Setelah
laporan ini selesai,
aku akan pulang
ke Medan dulu.
Hari raya aku pulang kampung ke hutabargot melapor ke Ayahku bahwa aku suadah punya calon dan rencana aku tetap di medan dan mengajar di sekolah dekat mesjid al
-ishlah, tapi kalau aku jujur, aku ingin mencari kerja wira usaha sendiri
supaya aku bisa segera kirim lamaran ke rumahmu," ucap Arie, suaranya
sedikit serak karena terlalu banyak berbicara sekaligus menahan haru.
Kiyah mengangguk perlahan,
jemarinya mengusap permukaan
meja yang sedikit
lengket. "Jangan terburu-buru, Arie. Yang penting lo sehat
dan ridho orang tua lo dapat.
Saya juga masih
harus menyelesaikan kuliah
semester depan. Kita punya waktu,
kan?" suaranya pelan, namun memiliki beban berat di dalamnya.
Dunia terasa jauh lebih indah sekarang bagi Arie.
Lampu neon di atas meja mereka berkedip pelan, namun
bagi Arie, cahayanya terasa seterang pelangi.
Ia menghela napas lega, merasakan beban kesepian yang
biasa ia bawa selama di posko KKN seolah menguap bersama asap tipis dari panci
bakso di sudut ruangan.
Arie merasa perjalanannya mencari separuh jiwa telah mencapai
tujuannya di tempat
yang sama sekali tidak terduga. Tidak di ruang kuliah yang dingin, tidak
di perpustakaan yang sunyi, melainkan di sebuah desa perkebunan sawit yang
panas di Kisaran, bersama seorang gadis yang sangat sederhana namun luar biasa
berharga.
Tiba-tiba, sebuah motor bebek tua berhenti
dengan bunyi knalpot yang keras di depan kedai. Pak Lik, pemilik kedai yang
juga guru pamong Arie di sekolah prakteknya, menarik selang bensin dan
berteriak dari balik asap, "Mas Arie! Ada telepon dari posko! Teman-teman bilang ada rapat
dadakan soal evaluasi
KKN!" suaranya parau, memecah keheningan mereka berdua.
Arie mendongak, keningnya
berkerut menahan rasa kesal yang tiba-tiba muncul.
Sebelum ia sempat menjawab, sebuah mobil pick-up milik penyuluh pertanian
melaju kencang di jalan aspal di depan kedai, menghempaskan debu merah yang
masuk melalui jendela kedai yang terbuka lebar.
Kiyah langsung
menutup hidungnya dengan sapu tangan kecil, matanya sedikit perih karena debu.
"Kelihatannya tanda alam kalau kita harus segera berangkat juga ya?"
ucapnya setengah batuk, mencoba menutupi
kekecewaan karena waktu mereka berdua harus terpotong oleh urusan
tiba-tiba itu.
Arie mengeluarkan beberapa
lembar uang seribuan
dari dompetnya dan meletakkannya di bawah piring kosong. Ia menatap Kiyah
dengan tekad yang mendadak mengkristal. "Kita selesaikan ini sekarang. Aku
tidak mau ada yang menghalangi obrolan kita hari ini. Coba telepon Pak Lik,
bilang kita mau bayar dan minta waktu sebentar lagi," katanya cepat.
Kiyah menggeleng,
tangannya menggenggam tas kecilnya. "Sudahlah, Arie. Senja mulai
turun. Jalan pulang ke posko
itu jauh kalau
kita jalan kaki,
dan ojek sudah
jarang lewat sini kalau sudah mendekati Maghrib. Kita
harus mikir realistis sedikit," jawab Kiyah, nada suaranya mulai
menunjukkan ketegangan yang nyata.
Konflik kecil itu menggantung di udara antara
mereka. Arie menatap
keluar jendela, melihat matahari yang mulai bersembunyi
di balik barisan pohon sawit yang tak berujung.
Bayangan panjang mulai menyelimuti lantai kedai, membuat
suasana menjadi lebih dingin
dan penuh dengan pilihan-pilihan sulit.
Kiyah meraih tangan
Arie di atas meja, jemarinya yang dingin menyentuh punggung tangan
Arie yang hangat.
"Kita bisa lanjutkan obrolan ini nanti
di posko. Lagipula, ada yang ingin aku
tunjukkan di kebun belakang posko, sesuatu yang tidak akan bisa dilihat di
kedai bakso ini," bisiknya, mencoba meredakan ketegangan dengan rencana
baru.
Arie menatap tangan
mereka yang bertautan, lalu menatap mata Kiyah yang berkaca-kaca
karena debu, namun berkilau karena semangat. Ia mengangguk pelan, menerima
kekalahan sementara dari waktu dan tugas. "Baiklah. Tapi janji, kita
bicara serius malam ini. Aku tidak mau ini cuma mimpi siang yang lewat begitu
saja," ucap Arie.
Mereka berdiri hampir bersamaan, kursi plastik
itu berderit keras di lantai semen. Pak Lik membawa kembalian uang mereka,
namun mereka hanya menyeringai sebentar
sebelum melangkah keluar dari kedai yang pengap. Angin senja mulai
bertiup, membawa harapan baru dan sedikit rasa dingin di ujung hari.
Di depan kedai, jalanan tanah merah mulai sepi.
Arie melihat ke arah jalan setapak yang menuju ke posko KKN, lalu menoleh
ke arah Kiyah yang sedang merapikan jilbabnya yang
tertiup angin. Ada keputusan kecil yang mulai tumbuh di benak Arie,
sebuah tekad untuk melindungi momen ini sampai akhir.
"Ayo, kita jalan
kaki pelan-pelan. Aku ingin mendengar suara cicak dan burung gereja
di pinggir jalan ini. Aku ingin menghapus suara bising knalpot tadi
dengan suaramu," kata Arie pada dirinya sendiri, namun cukup keras
untuk didengar Kiyah.
Embusan angin sore membawa aroma tanah yang
baru saja disiram hujan, menyambut perjalanan
pulang mereka yang berjalan perlahan.
Arie menarik stang
motor, merasa setiap aspal yang
dilalui seolah terasa lebih mulus dari biasanya. Di belakangnya, ia bisa
merasakan beban jaketnya sedikit tertarik ke arah belakang, sebuah isyarat
kehadiran yang tidak lagi menjaga jarak.
"Jangan ngebut, Arie. Masih basah
jalannya," suara Kiyah terdengar di telinganya, tidak lagi setengah
berteriak karena takut
seperti biasanya. Tangan
perempuan itu yang tadinya
hanya mencengkeram ujung jaket, kini melingkar dengan mantap di pinggang Arie.
Kepalan tangan Arie yang memegang stang sedikit mengendur, digantikan oleh
kehangatan yang menjalar dari punggungnya.
Mereka berhenti sejenak di sebuah warung kecil
untuk membeli minuman penghangat. Arie menyandarkan helm di atas meja
plastik yang agak goyah, lalu melirik jam tangan kasonya yang sabuknya sudah
mulai terkelupas. "Kita telat sampai posko," katanya setengah bergumam, namun matanya tidak
beralih dari wajah
Kiyah yang sedang
sibuk merapikan jilbabnya di kaca spion motor.
Kiyah mendongak,
matanya bertemu dengan tatapan Arie. "Nggak apa-apa. Lagipula, tadi
kan lo yang minta mampir sebentar," jawabnya dengan nada yang sedikit
lebih rendah, mencoba menyembunyikan senyum yang mengembang di pipinya. Arie
hanya bisa mengangguk, merasa detak jantungnya berpacu
lebih kencang meski mereka sedang tidak
berpacu dengan waktu.
Sesampainya
di halaman posko,
suara keributan dari dalam rumah
sudah terdengar sejak jauh. Begitu Arie mematikan
mesin motor, pandangan mata mereka langsung menyapu keadaan sekitar. Ada sebuah
ketegangan yang berbeda di udara hari itu, bukan sekadar kelelahan setelah
seharian bekerja, melainkan sesuatu yang mengendap di balik senyum teman-teman
satu tim mereka.
Ainun, salah
satu rekan satu tim, menghampiri mereka dengan langkah
cepat. "Arie, Kiyah, ada surat buat kalian. Tadi
diantar orang desa," ucapnya sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat yang
sudutnya sudah sedikit basah. Arie mengambil amplop tersebut, merasakan
tekstur kertas yang agak kasar. Di dalamnya, terdapat selembar kertas yang mengubah
seluruh rencana perayaan malam itu.
"Apa isinya?" tanya
Kiyah pelan, melihat
perubahan ekspresi di wajah Arie yang tiba-tiba
memucat. Arie menatap mata Kiyah yang tertunduk di seberang meja,
mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kebenaran
yang selama ini ia pendam.
Ini bukan sekadar masalah
program kerja, melainkan sebuah keputusan akhir
yang harus ia ambil sebelum semua menjadi lebih
rumit.
Arie menghela napas
panjang hingga bahunya yang tegang sejak sore mulai mengendur. "Ini surat
dari kampus. KKN kita diperpanjang dua minggu lagi, tapi Lokasinya
dipindah," katanya dengan suara
parau. Ruang tengah
posko mendadak hening,
hanya diselingi oleh suara detak jarum jam dinding yang
seolah berdentang lebih keras dari biasanya.
Kiyah menekan tisu tipis ke sudut matanya,
namun lengkungan senyumnya tetap bertahan
meski air mata mulai menggenang. "Berarti
kita nggak bisa pulang bersamaan minggu depan?" tanyanya, suaranya sedikit
bergetar. Arie meraih tangan Kiyah di atas meja, merasakan dinginnya ujung jari perempuan itu. Ini adalah
konsekuensi yang harus
mereka tanggung, sebuah ujian kesetiaan di awal kisah mereka.
Malam itu berlalu
tanpa ada syukuran
seperti yang mereka
bayangkan. Arie duduk
di teras posko, menatap
kegelapan malam yang mulai menyelimuti desa. Ia tahu,
keputusan untuk tetap tinggal
atau mengikuti perpindahan Lokasi akan menentukan arah hubungan mereka
selanjutnya. Esok pagi, ketika matahari terbit, jawaban atas pilihan sulit itu
harus sudah bulat diambil.
AKHIR
YANG INDAH
Udara pagi di Kisaran terasa berat, membawa
kelembapan tanah yang baru disiram embun dan aroma
gosong dari dapur
umum yang masih
membara. Arie menghempaskan karung goni ke atas bak
truk, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor. Di pelataran posko,
ibu-ibu PKK sibuk
membalutkan plastik di atas tumpukan
piring
dan panci sumbangan warga. Tawa dan isak tangis
bercampur aduk di antara debu jalanan
yang mulai menggeliat.
"Arie, kardus buku tabungan itu
jangan ditaruh di bawah, nanti kena oli," ujar Kiyah. Ia berjalan mendekat
sambil menggendong dua dus berisi dokumentasi kegiatan
posyandu. Jilbabnya yang panjang dan sederhana berkibar seperti bendera,
membuat helaian kain jilbab menempel di pipinya yang merona karena panas. Arie
segera meraih dus itu, jemarinya secara tak sengaja menyentuh punggung tangan Kiyah
yang basah oleh peluh. Keduanya terdiam sesaat, membiarkan hangatnya sentuhan
itu meredam keributan di sekitar mereka.
Melihat mereka, Ibu Sum, ketua keLompok PKK,
mendekat sambil membawa nampan berisi potongan kelapa muda. "Makanlah
dulu, Nak. Ini terakhir kalinya Ibu bisa menyuguhhi kalian sebelum pulang ke
Medan," katanya dengan suara yang sedikit bergetar. Matanya yang menyipit
karena sering terkena
asap dapur tampak berkaca-kaca.
Arie menerima tawaran itu, merasakan dinginnya air kelapa yang kontras
dengan hawa panas di pipinya. Kelembutan warga ini yang akan paling sulit untuk
ditinggalkan.
Di sudut lain, beberapa pemuda desa sedang
mengikatkan tali tambang di atas muatan truk. Mereka bercanda, namun sesekali
saling berpandangan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kapan lagi kita
bisa main futsal sampai tengah malam tanpa ditegur Pak Lurah?" tanya
Imran, teman satu keLompok Arie, sambil melempar botol
air ke arah Arie. Arie
hanya tertawa kecil, merasa hatinya semakin sesak. Persahabatan yang dibangun
selama berbulan-bulan di tengah keterbatasan ini memberikan pelajaran tentang
keikhlasan yang tidak akan ditemukannya di ruang kuliah.
Kiyah kemudian
duduk di atas baLok kayu di bawah pohon jambu depan posko. Ia membuka catatan
kecil yang selalu dibawanya, mengecek daftar inventaris terakhir. Arie
duduk di sebelahnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk mencium
aroma sampo jeruk yang biasa digunakan Kiyah. "Masih banyak yang
harus dibereskan, Kiyah. Tapi entah
kenapa, aku jadi malas mengangkat koper ini," ucap Arie pelan,
menatap asap rokok warga yang mengepul jauh di sana. Kiyah
menutup bukunya, menoleh dengan senyum yang meneduhkan.
"Kalau kita buru-buru pergi, kita tidak
akan sempat pamitan dengan Pak Tua yang di ujung desa sana," jawab Kiyah.
Ia menunjuk ke arah bukit kecil di seberang sungai. "Dia tadi pagi
datang membawakan ikan asin untuk kita.
Katanya, anak-anak kost di kota pasti rindu masakan sederhana." Arie
mengangguk, merasa teringat kembali pada masa-masa sulit awal KKN ketika mereka
harus beradaptasi dengan
air sumur yang keruh dan listrik yang sering mati total.
Suasana di posko
perlahan berubah menjadi
seperti pasar malam.
Anak-anak kecil mulai berkerumun, menarik-narik ujung
jaket mahasiswa yang akan berangkat. Ada yang menangis karena kakak asuhnya
akan pergi, ada pula yang meminta janji untuk dikirRina foto saat sudah berada
di Medan. Arie merunduk, mengusap kepala
seorang bocah yang sedang tersedu. "Kakak pasti balik lagi, ya? Atau kalau tidak, nanti kalian yang ke Medan
ke rumah Kakak," ucapnya, berusaha menenangkan meski ia sendiri tidak
yakin kapan bisa kembali.
Ibu-ibu dan anak-anak berkumpul saling peluk
cium dengan teman-teman mahasiswi deraian air mata perpisahan yang menyesakkan
tak terbendung, selama kami KKN di kampung itu ternyata kami sangat di hargai,
di senangi dab mereka pengen kami lebih lama lagi disana tapi waktu juga lah yang
memisahkan.hadir disana pak kadus, pak sudarsono pemilik kedai yang sering
menggratiskan sayurnya ke anak KKN.nenek tempat posko kami, Pak Lubis P3N kadhi
dengan ibu dan anaknya yang cantik bernama adek wawa, Pak Thairan pendukung
kami selama KKN, Ibu Ponijem.kalian semua takkan bisa kami lupakan.suatub saat
nanti akan aku kutuliskan semua kisah ini biar cerita ini abadi.kata hatiku,
sebelum berangkat kami semua berfoto bersama dengan awarga dan kelompok kami
juga.sangat berkesan subhanallah gumamku.
kelompok kami laki-laki: Arnas, Ipung,Imran,
Arie.
Yang perempuan: Ainun, Vivie, Hayati, Lely,
Ayla, Shari, Kiyah dan Rina
Sementara itu, suara mesin truk mulai panas,
menandakan waktu keberangkatan semakin dekat. Sopir truk, seorang pria paruh
baya dengan topi caping, mulai memeriksa tekanan ban. "Kita berangkat jam
sebelas, ya, Adik-adik. Jalan menuju ke jalur utama mulai macet kalau siang," teriaknya dari balik
kaca yang buram.
Kiyah berdiri, merapikan kerah bajunya yang
agak meLorot. Ia terlihat sangat tenang, sebuah sikap yang selalu membuat Arie
kagum sekaligus merasa kecil.
"Arie, kau masih ingat saat pertama
kali kita datang ke sini?" tanya Kiyah tiba-tiba. Ia menatap
bangunan posko yang dindingnya masih dipenuhi coretan spidol dari anak-anak
desa. "Waktu itu kau bilang, 'Gimana kita bisa tidur di tempat sekelam
ini?'" Arie tertawa mengejek dirinya sendiri. "Aku bodoh
sekali waktu itu. Aku tidak tahu kalau kegelapan di sini justru akan membawaku pada cahaya yang paling terang
dalam hidupku." Mendengar itu, Kiyah menunduk,
mencoba menyembunyikan senyum lebar yang mengembang di wajahnya.
Perpisahan ini bukan sekadar tentang jarak,
tapi tentang transisi dari dunia idealisme mahasiswa ke dunia nyata
yang menunggu di depan mata.
Arie merasa ada beban baru di
pundaknya. Ia tidak lagi hanya
memikirkan jadwal kuliah
atau skripsi, tapi juga nasib
warga yang telah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. "Kita
harus janji untuk tidak berubah, Kiyah. Janji untuk tetap seperti di
sini, saling mendukung meski tidak lagi di bawah atap yang sama," bisik Arie,
menatap mata Kiyah yang dalam.
Kiyah mengangkat dagunya,
menatap langsung ke mata Arie tanpa rasa takut.
"Tidak ada yang bisa
berubah kecuali kita membiarkannya. Kita sudah melewati masa sulit di aula
IAIN, melewati KKN ini bersama. Medan mungkin berisik dan sibuk, tapi hatiku
sudah terkunci di sini, bersamamu." Ucapan itu meluncur begitu saja,
natural dan tanpa beban,
seolah-olah mereka memang ditakdirkan untuk
mengucapkannya di momen ini. Angin siang mulai bertiup,
membawa debu halus yang membuat
mereka sedikit memicingkan mata.
Sopir truk mulai membunyikan klakson pendek
sebagai tanda peringatan. Mahasiswa lain mulai
naik ke bak truk, saling
berpelukan dengan warga
yang mengantar. Namun,
Arie dan Kiyah
masih terdiam di tanah, enggan menginjakkan kaki di atas pijakan besi yang
dingin. Di kejauhan, terdengar suara adzan zuhur dari musala desa, menggema
pelan membawa ketenangan di tengah keramaian. Arie meraih tas ransel Kiyah
yang tergeletak di tanah, menggantungkannya di bahunya sendiri.
"Biar aku yang bawa, biar tidak berat buat
lo nanti saat naik ke truk," kata Arie. Kiyah tidak
membantah, hanya memberikan senyumnya lagi, senyum yang dulu di aula IAIN
membuat Arie merasa
ada harapan di tengah tumpukan
tugas kuliah. Senyum
itu kini telah bertransformasi menjadi sebuah
jaminan bahwa masa depan, betapapun samarnya dulu, kini memiliki wajah yang
jelas. Mereka melangkah bersama menuju barisan mahasiswa yang sudah mulai
berdiri rapi.
Warga desa mulai
bertepuk tangan, menciptakan ritme yang selaras
dengan detak jantung Arie yang berdegup kencang.
Tepuk tangan itu bukan sekadar
salam perpisahan, tapi juga
sebuah aplaus untuk perjuangan mereka selama ini. Kiyah menggenggam
tangan Arie, jemarinya erat melingkari telapak tangan Arie yang
kasar karena sering mengangkut kayu dan batu. Mereka berdiri di samping truk,
siap melangkah maju namun hati masih terpaku pada debu jalanan Kisaran yang
akan segera ditinggalkan.
Halaman depan balai
desa dipenuhi warga
yang membawa berbagai
hasil kebun dalam keranjang anyaman. Suasana itu
terasa hangat, meski ada rasa sesak di dada karena harus berpisah. Arie
berdiri di pinggir teras, memperhatikan kerumunan warga yang tertawa dan
berpelukan. Ia menarik napas panjang, mencium aroma khas daun kelapa yang mulai
mengering di udara pagi. Hari ini adalah hari kepulangan mereka, namun suasana
desa ini terasa jauh lebih berat daripada saat mereka pertama kali datang.
Khairani, Icha
dan Ifath tiba-tiba muncul dari arah dapur umum, mereka membawa sebuah
bungkusan kecil yang dibungkus daun pisang. Icha mendekati arnas sedangkan
ifath menjumpai Imran mereka memberikan sesuatu sebagai kenag-kenangan.(Icha
adalah gadis desa yang suka sama Arnas sedang Ifath pacar Imran
di desa waktu KKN ini), Khairani mendekati arie, Dia tersenyum, namun
matanya terlihat sedikit berkaca-kaca saat melangkah mendekati Arie. "Ini
buat kamu, Arie," katanya pelan, menyodorkan bungkusan itu dengan kedua tangan. Arie menyambutnya
dengan sopan, merasakan kehangatan bungkusan itu di telapak tangannya. Ia
membuka sedikit lapisan daunnya dan melihat beberapa potong kue tradisional
yang masih beruap tipis.
"Terima kasih, Khairani. Aku akan
sangat merindukan masakanmu," jawab Arie, suaranya terdengar tulus.
Kiyah yang berdiri
tak jauh dari situ hanya
memperhatikan dengan tenang. Dia tidak lagi merasakan sesak di
dada seperti dulu saat melihat Khairani dan Arie berinteraksi.
Kepercayaan yang mereka bangun selama berbulan-bulan di desa ini telah mengubah
segalanya. Kiyah justru merasa bersyukur memiliki teman seperjuangan yang
peduli pada Arie, karena dia tahu itu tulus.
Khairani lalu
menoleh ke arah Kiyah, melambai kecil sebelum kembali ke tengah
kerumunan warga. Tidak ada lagi ketegangan di antara mereka bertiga. Hubungan
itu kini jernih, seperti air sungai kecil yang mengalir di pinggiran kebun
sawit. Arie menyimpan bungkusan kue itu ke dalam
tas ranselnya dengan
hati-hati. Dia tahu bungkusan itu bukan
sekadar makanan, melainkan simbol dari pertemanan yang tulus tanpa pamrih.
Mereka telah melewati banyak hal bersama di desa terpencil ini.
Di sudut lain balai desa, Kiyah sedang
dikerubuti oleh murid-muridnya. Anak-anak itu menarik ujung kain desain baju
KKN yang sedang mereka pakai. Ada yang memeluk pinggang Kiyah, ada yang memegang tangannya
erat-erat. "Bu Kiyah, jangan pulang dong. Ajarin kami baca lagi," rengek salah satu anak kecil
dengan hidung yang kemerahan. Kiyah membungkuk sedikit, mengusap
pipi anak itu dengan ibu jarinya yang masih terasa kasar karena sering mencuci
pakaian di sungai.
"Ibu harus kembali ke kota, nak. Tapi Ibu
sudah mengajar kakak-kakakmu supaya bisa mengajar kalian lagi nanti," kata
Kiyah, berusaha menguatkan suaranya. Namun, saat melihat air mata yang
mulai menetes dari pipi muridnya, emosinya ikut tergerak. Dia memeluk anak-anak
itu bergantian, mencium bau sabun batangan murah yang biasa mereka gunakan.
Kepergian ini terasa
seperti meninggalkan bagian
dari jiwanya di dalam
kelas darurat berdinding papan itu.
Arie mendekat ke
arah kerumunan anak-anak, mencoba menyela dengan candaannya yang khas. Dia
mengangkat satu anak kecil ke pundaknya, membuat anak-anak lain tertawa sebentar
meski masih isak tangis. "Ayo, jangan sedih. Nanti
kalau sudah jadi orang
pintar, datanglah ke kota. Arie dan Kiyah akan menjemput
kalian," ujarnya sambil tertawa kecil. Tawa itu menyebar, mencairkan
ketegangan perpisahan yang hampir membuat mereka semua patah semangat. Namun,
bayang-bayang perpisahan tetap menyelimuti.
Saat matahari mulai naik tinggi, Pak Lurah
datang membawa sebuah kotak kayu kecil. Dia menepuk bahu Arie dan Kiyah
bergantian dengan tangan yang kasar karena bekerja di ladang. "Ini bukan
sekadar oleh-oleh. Ini tanda bahwa kalian berdua adalah bagian dari sejarah desa ini," ucap Pak Lurah
dengan suara berat.
Arie membuka kotak
itu dan melihat
sebuah surat keterangan penghargaan dari warga, lengkap dengan sidik jari mereka
sebagai tanda tangan. Hatinya bergetar membaca setiap nama di atas kertas itu.
Arie menatap Kiyah, mencari persetujuan untuk sebuah keputusan
kecil yang tiba-tiba muncul di benaknya. "Kita
harus membawa ini pulang, Kah. Bukan sebagai
kenang-kenangan, tapi sebagai janji," bisik Arie. Kiyah mengangguk perlahan, mengusap air mata yang hampir jatuh dengan
punggung tangannya. Dia merasa ada beban baru yang justru terasa sangat ringan
di pundaknya. Kepergian ini bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab
baru yang lebih besar di luar desa.
Mereka berjalan menuju kendaraan yang akan
membawa mereka pergi. Langkah kaki mereka terasa berat di atas tanah yang
sedikit berdebu. Di sepanjang jalan menuju kendaraan, warga desa berbaris
memberi hormat dengan
senyum yang penuh
haru. Arie melirik ke arah perkebunan sawit yang terbentang luas di kejauhan. Pohon-pohon itu kini tampak berbeda, tidak lagi terasa asing atau menyeramkan, melainkan seperti saksi bisu
perjuangan mereka selama ini. Ada rasa bangga yang bercampur dengan rindu yang menyakitkan.
Ketika mereka sudah duduk di kursi belakang
mobil, Arie menarik ritsleting tasnya. Dia mengeluarkan buku catatan
kecil yang penuh dengan coretan rencana pengembangan desa. "Masih banyak
yang harus dilakukan di sini, Kah. Nilai KKN kami mungkin sudah selesai, tapi ini..." katanya
sambil menunjuk buku itu. Kiyah meletakkan kepalanya di bahu
Arie, mendengarkan detak
jantung pria itu yang terdengar tenang. Dia tahu,
meski mereka pergi, hati
mereka akan selalu kembali ke tempat ini.
Mobil mulai bergerak pelan, meninggalkan balai
desa yang perlahan mengecil di kaca spion. Tidak ada yang berbicara di dalam
mobil selama beberapa menit. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing,
memproses semua kejadian selama berbulan-bulan di tengah perkebunan. Ketegangan
yang selama ini membayangi hubungan mereka, termasuk masalah dengan keluarga
Arie, seolah memudar
sejenak. Yang tersisa
hanyalah kebersamaan yang telah diuji oleh kerasnya kehidupan di
peLosok.
Tiba-tiba, Arie merogoh saku celananya
dan mengeluarkan sebutir biji sawit yang sudah mengering. Dia memutar-mutar
biji itu di atas meja kayu di depannya. "Tahukah kamu, Kiyah? Biji ini dulu terasa sangat
berat dan tajam
saat pertama kali aku pegang.
Sekarang, setelah aku tahu betapa berharganya hasil ini bagi warga, biji
ini terasa seperti permata," katanya dengan suara lirih. Kiyah
tersenyum, merasakan kehangatan di dadanya. Pria di sebelahnya telah berubah
menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa dan peduli.
Mobil terus melaju melewati jalan desa yang
berliku. Di luar jendela, anak-anak yang tadi menangis kini berlari kecil
mengikuti mobil hingga batas pagar desa. Arie membuka jendela sedikit,
melambaikan tangannya hingga tangannya mulai terasa pegal. Dia melihat Khairani yang masih berdiri
di depan balai desa, melambai dengan satu tangan di kening. Adegan itu
mengingatkannya pada betapa luasnya kasih sayang yang mereka terima di tempat
yang awalnya mereka anggap asing ini.
Kiyah menghela
napas panjang, lalu meraih tangan Arie yang dingin karena angin malam
mulai masuk dari celah jendela.
"Arie, aku sadar
sesuatu hari ini," ucapnya pelan, menatap lurus ke depan. Arie
menoleh, menunggu kata-kata selanjutnya dengan rasa penasaran. "KKN ini
bukan tentang nilai di kertas. Ini tentang bagaimana kita bisa tumbuh bersama
orang-orang yang bahkan tidak seharusnya kita temui dalam hidup kita,"
lanjut Kiyah. Arie mengangguk, menggenggam tangan Kiyah
lebih erat.
Malam mulai benar-benar turun saat mobil mereka
memasuki jalur utama menuju kota. Lampu-lampu di kejauhan mulai terlihat,
menandakan bahwa mereka semakin dekat dengan
kehidupan nyata mereka
yang sesungguhnya. Namun,
di dalam mobil
itu, suasana desa masih
terasa sangat kental. Arie menutup matanya sejenak, membayangkan masa
depan mereka berdua di tengah kota yang sibuk. Dia bertekad untuk menjaga
kemurnian cinta mereka yang tumbuh di tengah kebun sawit yang keras ini.
Mobil berhenti sejenak
di sebuah perempatan sepi untuk menurunkan seorang warga desa yang ikut menumpang. Saat pintu
terbuka, angin malam yang dingin langsung masuk, membawa serta aroma hutan yang
masih basah. Arie merapatkan jaketnya, lalu menoleh ke arah Kiyah
yang tampak mulai mengantuk. Dia merapikan selendang di bahu Kiyah,
memastikan wanita itu tetap hangat. Tindakan kecil itu dilakukan dengan sangat
hati-hati, seolah Kiyah adalah benda paling berharga yang pernah dia
miliki dalam hidupnya.
Beberapa saat kemudian, ponsel Arie
bergetar di saku celananya. Dia mengabaikannya pada awalnya, tidak ingin
mengganggu momen keheningan yang indah bersama Kiyah. Namun, getaran itu
terus berulang dengan pola yang tidak biasa. Arie menghela napas, merasa
ada sesuatu yang tidak beres. Dia melirik layar ponselnya dan melihat beberapa
panggilan tidak terjawab
dari nomor yang tidak dia kenal. Hatinya
mulai berdetak kencang, merasakan firasat buruk yang
tiba-tiba muncul di tengah kebahagiaan mereka.
"Arie, ada apa? Wajahmu
tiba-tiba pucat," tanya
Kiyah yang terbangun karena merasakan
ketegangan pada tubuh Arie. Arie tidak menjawab langsung,
jari-jarinya sibuk mengetik balasan pesan singkat dengan sangat cepat.
"Tunggu sebentar, Kah. Ada sesuatu yang harus aku pastikan," katanya
singkat. Suasana hangat
di dalam mobil
mendadak berubah
menjadi dingin. Kebersamaan yang mereka bangun dengan susah payah tiba-tiba terancam oleh sesuatu yang datang dari luar lingkaran kecil kebahagiaan mereka.
Arie mematikan
layar ponselnya dengan kasar, lalu menatap ke luar jendela yang gelap. Cermin
mata Arie memantulkan lampu-lampu jalan yang melintas cepat. Dia merasa
ada beban berat yang kembali menghantui pikirannya. Kepergian dari desa membawa
mereka pada kenyataan baru, di mana masalah-masalah lama yang mereka
tinggalkan di kota mungkin masih menunggu untuk diselesaikan. Dia tidak ingin
masalah itu merusak apa yang sudah mereka bangun di desa bersama Kiyah.
Mobil terus melaju,
namun keheningan di dalamnya kini terasa menyesakkan. Kiyah tidak
mencoba untuk bertanya lebih jauh, dia hanya meremas tangan Arie dengan
lembut, berusaha memberikan dukungan tanpa kata. Dia tahu Arie akan
berbicara jika dia sudah siap. Hubungan mereka
telah melalui terlalu
banyak badai untuk
dirusak oleh keheningan sesaat. Namun, Kiyah
tidak bisa menghentikan rasa gelisah yang mulai tumbuh di dalam hatinya tentang
apa yang menanti di akhir perjalanan nanti.
Akhirnya, Arie berbisik pelan, suaranya
hampir tidak terdengar karena suara mesin mobil. "Sepertinya perjalanan
kita belum benar-benar selesai, Kah. Ada masalah di rumah yang harus segera
aku selesaikan begitu
kita tiba." Kiyah menarik tangannya perlahan, menatap wajah Arie dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Dia tidak marah, hanya merasa sangat lelah membayangkan harus kembali berhadapan dengan konflik yang sama. Namun, dia berjanji dalam hati untuk tetap berada di
sisi Arie, apa pun yang terjadi di masa depan mereka nanti.
Keretanya masih bergetar pelan, tapi di dalam
gerbong kelas ekonomi itu, suasana terasa jauh lebih tenang daripada saat
mereka berangkat dulu. Arie merapatkan bahunya ke jendela, lalu menyesuaikan posisi
duduknya agar lebih
dekat dengan Kiyah. Tidak ada lagi jarak fisik di antara mereka.
Punggung Kiyah menempel hangat di lengan Arie, sementara kepala
gadis itu bersandar lembut di bahunya.
Arie menarik napas
panjang, mencium aroma
sampo campur sedikit
wangi kemenyan dari pakaian Kiyah. Dia merasa
lega, tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak tadi pagi. Dia
menggeser pandangannya ke luar jendela, melihat pohon kelapa di pinggir rel
yang melaju cepat tertinggal.
"Kiyah," panggil
Arie pelan. Suaranya
hampir tenggelam oleh bunyi mesin
kereta. Gadis itu mendongak sedikit, alisnya terangkat
menunggu lanjutan kalimat Arie. "Nanti kalau sudah
sampai di Medan,
setelah wisuda selesai,
aku mau ngomong
sama orang tuamu.
Aku sudah mantap."
Kiyah menoleh
cepat, matanya membulat. Dia mendorong bahu Arie pelan, wajahnya
langsung memerah. "Lo
serius? Jangan bercanda, Arie. Aku belum
siap ketemu mertua kalau lo bilangnya cuma gitu
aja."
"Bukan cuma ngomong, Ya. Aku mau lamar
kamu. Resmi," jawab Arie serius. Dia menangkup kedua
tangan Kiyah yang dingin karena
pendingin kereta. "Aku sudah siapkan cincin
simpel di tas ranselku. Tapi aku mau lakukan ini setelah semua urusan kampus
beres. Biar mereka terima karena nilai KKN kita bagus."
Kiyah terdiam. Dia
menunduk, jari-jarinya meremas ujung hijab yang menutupi dadanya. Ada senyum
yang sulit dia sembunyikan, tapi matanya berkaca-kaca. "Tapi aku takut, Arie.
Takut mereka tidak setuju karena kita
beda jurusan, atau karena masalah Ipung kemarin."
Seolah mendengar namanya disebut, Ipung
yang duduk di kursi seberang Lorong--sebelumnya asyik melipat jaket--mendadak berdiri dan berjalan
mendekat.
Langkah kakinya terdengar berat di lantai
kereta yang bergetar. Wajahnya terlihat tegang, tidak seperti biasanya yang
selalu bercanda.
Arie langsung
melepaskan tangan Kiyah dan menegakkan badan. Dia menatap Ipung
dengan waspada, bersiap
jika pria itu ingin membuat
ulah lagi di tengah perjalanan pulang mereka. "Ada apa, Pun? Mau pinjam charger
lagi?"
Ipung menggeleng. Dia berhenti tepat
di depan sandaran
kursi Arie, lalu menghela napas panjang hingga dadanya mengembang
penuh. "Bukan, Rie. Aku mau ngomong seserius ini." Dia melirik Kiyah
sebentar, lalu menatap langsung ke mata Arie. "Aku minta
maaf.baik-baiklah kau bilang dia dua pribadi yang kau suka dan kau cari dari
dulu ada padanya. Arie terdiam. Dia tidak menyangka Ipung akan
berbicara sejujur itu. Biasanya pria itu selalu menutupi rasa malunya
dengan jokes yang tidak lucu.
"Sudah lah, Pun. Kita semua lelah. Itu sudah berlalu,"
sahut Arie cepat, berusaha merendahkan egonya.
"Tidak,
ini harus aku sampaikan sekarang," potong Ipung tegas.
Dia mengulurkan tangan kanannya, telapak tangan terbuka
lebar di antara mereka. "Selamat ya, Rie. Dia bukan cuma teman satu tim
lagi buatku, tapi dia juga alasan lo bisa bertahan selama ini. Aku sadar itu
sekarang."
Sebelumnya Arnas bercerita kalau Ipung
sudah dekat dengan Hayati dan
sepertinya mereka cocok.bahkan dari intensitas pertemuanya yang selalu bersama Ipung
sudah jadian dengan Hayati.Aku hanya bisa doakan semoga mereka bahagian
sampai kepernikahan.
Arie menatap tangan
Ipung yang menggantung di udara. Ada kekakuan di rahangnya, sisa dari amarah yang dia pendam selama berminggu-minggu. Tapi melihat ketulusan
di mata sahabatnya itu, dia perlahan
mengulurkan tangan dan menggenggam jabat tangan
itu erat. "Terima kasih, Pun. Aku juga minta maaf kalau aku terlalu kaku
jadi ketua keLompoknya."
Kedua pria itu saling berjabat
tangan, melepaskan rasa sesal yang membebani dada sejak
hari pertama mereka tiba di desa itu. Kiyah mengusap sudut matanya yang
basah dengan punggung tangan, lalu tersenyum tipis melihat mereka berdua.
"Akhirnya," gumamnya pelan.
Arie melepaskan
genggamannya, merasa ada beban berat yang baru saja tercabut dari punggungnya. Dia menyandarkan kembali
kepalanya ke jok, merasakan getaran
rel yang sekarang terasa
menenangkan. Dia menyadari bahwa konflik selama KKN bukanlah
sia-sia; semua itu memaksa mereka untuk tumbuh,
belajar memahami arti persahabatan,
dan mencari keberanian untuk mencintai dengan tulus.
Ipung sudah kembali
ke kursinya dan disebelahnya da Hayati memakai earphone dan menutup matanya. Arie
melirik tas ranselnya di bagasi kabin atas,
memikirkan janji yang harus dia tepati segera
setelah upacara wisuda selesai di aula kampus IAIN nanti.
Arie menarik napas
panjang saat memasuki kembali aula utama IAIN Medan. Lantai marmer yang dingin di bawah sepatunya terasa asing, padahal
baru beberapa bulan
lalu ia berdiri di tempat
yang sama dengan ragu-ragu. Udara di dalam ruangan itu terasa lebih panas hari
ini, bercampur dengan aroma kertas fotokopi yang masih hangat dan keringat
mahasiswa yang menunggu giliran.
Ia menggeser tumpukan dokumen di tangannya,
merasa berat kertas itu bukan lagi sekadar beban fisik, melainkan bukti dari
kerja keras selama berbulan-bulan. Di sudut ruangan, barisan kursi plastik
yang dulu kosong
kini penuh sesak
dengan mahasiswa lain yang tertawa dan berbicara. Arie
menatap ke arah barisan kursi di belakang, tempat di mana ia dulu duduk
menyendiri dan mencuri pandang ke arah Kiyah.
Kini, Kiyah berdiri di depan meja
panitia, bahunya tegak dan gerakannya terukur Jilbabnya rapi denga bros mawar
rapi sedikit bergeser
saat ia menyerahkan map tebal berwarna hijau. Arie memperhatikan
bagaimana jari-jari Kiyah yang lincah itu menyusun berkas laporan
bendahara, memastikan setiap lembar tidak ada yang lecek sebelum diserahkan
kepada dosen pembimbing.
"Laporan keuangan sudah lengkap, Bu.
Termasuk bukti pengeluaran untuk kegiatan penyuluhan kemarin," ucap Kiyah dengan suara yang jelas, meski
sedikit parau karena kelelahan.
Dosen di seberang
meja itu mengangguk, lalu menyerahkan tanda
terima. Kiyah menatap secarik kertas itu sejenak sebelum
menyelipkannya ke dalam tas selempangnya. Saat ia berbalik, tatapan mereka
bertemu. Arie tidak lagi melihat gadis yang canggung di depan kelas,
tapi seorang rekan yang tangguh, yang mampu mengeLola dana desa dengan
transparan dan presisi.
Arie melangkah
maju, menyusul giliran keLompoknya untuk menyerahkan laporan akhir. Tangannya terulur,
menyerahkan dokumen itu dengan percaya
diri yang tidak
ia miliki saat pertama kali menginjakkan kaki di
kampus ini. Setelah semua proses selesai, ia merasakan beban di bahunya luruh.
Tantangan lapangan yang dulu terasa mustahil kini hanya menjadi memoar di balik
sampul laporan yang mereka pegang.
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu
keluar, melewati barisan pohon ketapang yang
rindang. Sinar matahari
sore menembus celah daun, menciptakan bayangan panjang di
atas trotoar. Arie merasakan sisa kelelahan di otot kakinya, namun ada
kepuasan yang mendalam karena mereka berhasil melalui semua ini tanpa cela.
"Kita berhasil, Kan?" tanya Kiyah pelan,
suaranya hampir tertelan
oleh suara knalpot
bus kota di luar pagar kampus.
Arie mengangguk, lalu menepuk punggung
tas Kiyah dengan ringan. "Laporannya rapi. Dosen tadi bilang ini salah satu yang terbaik."
Mereka berhenti sejenak
di bawah pohon yang rindang,
membiarkan angin sore menerpa
wajah. Langkah kaki mereka seolah
menuntun ke arah halaman kampus
yang mulai sepi, meninggalkan aula yang kini mulai
dipadati keLompok berikutnya. Hari ini, mereka resmi meninggalkan status
sebagai peserta KKN, namun ada janji yang belum terucap yang terasa lebih berat
dari segala laporan yang baru saja mereka kumpulkan.
Sinar kuning dari lampu taman kampus menembus
dedaunan pohon beringin yang mulai rontok. Arie mengusap permukaan kotak
beludru di sakunya. Udara sore yang lembap membekukan keringat di telapak
tangannya saat ia menatap punggung
Kiyah yang sedang merapikan selembar kertas di
bangku taman.
Ia menghirup udara malam yang mulai dingin. Arie
melangkah mendekat, lalu duduk di sebelah Kiyah tanpa mengeluarkan
suara. Suara knalpot motor dari jalan raya terdengar samar, tertutup
oleh detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Kiyah," panggilnya pelan, suaranya sedikit serak karena
gugup.
Kiyah menoleh, alisnya
sedikit berkerut melihat
wajah Arie yang serius. Arie mengeluarkan kotak kecil itu, membukanya perlahan untuk
menunjukkan sebuah kalung dengan liontin permata biru yang memantulkan cahaya
lampu taman. "Ini bukan berlian atau emas mahal," ucap Arie,
matanya menatap lurus ke mata Kiyah. "Tapi ini pengingat bahwa kau
adalah permata sesungguhnya yang kutemukan di antara ribuan pohon sawit."
Kiyah menutup mulutnya, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia meraih liontin
itu dengan jari yang sedikit
gemetar, merasakan tekstur dingin Logam itu menyentuh kulitnya. Tidak ada
kata-kata yang keluar, hanya isak kecil yang tertahan di sudut bibirnya yang
mulai bergetar. Arie mengalungkan kalung itu sendiri, jemarinya
menyentuh leher Kiyah yang hangat.
Malam itu terasa lebih tenang setelah badai
komunikasi yang hampir memisahkan mereka bulan
lalu. Ponsel Kiyah berbunyi, menampilkan nama seorang rekan
satu organisasi yang sering mengirim pesan ambigu. Arie
menatap layar itu sejenak, namun Kiyah langsung mematikan layar
ponselnya dan menaruhnya di tas tanpa membaca pesan tersebut. "Sudah tidak
ada lagi keraguan soal laki-laki pengirim puisi itu," ucap Kiyah
tegas, suaranya jernih tanpa beban.
Mereka berjanji untuk
terus berjuang bersama
hingga pelaminan, melewati
sisa kuliah dan perbedaan jarak yang akan segera
menyapa. Arie merasa beban di bahunya mengendur, seolah ujian komunikasi
yang paling berat telah berakhir dan mereka keluar sebagai pemenang. Mereka
siap merajut hari-hari baru dengan landasan cinta dan saling pengertian yang
kuat.
Angin malam bertiup kencang, membawa aroma daun basah yang menyegarkan
paru-paru. Arie menyandarkan kepalanya
ke bahu Kiyah, menutup mata sejenak untuk menikmati ketenangan ini. Namun, di balik ketenangan itu, awan kelabu
mulai terlihat di ufuk timur, membawa janji perubahan
yang akan menguji kesetiaan mereka di masa depan.
HARI WISUDA
Hari itu, Arie berdiri di pelataran
kampus dengan toga yang sedikit sesak di leher. Dia menarik lembaran ijazah di
dalam map merah, merasakan tekstur kertas yang kaku itu dengan ujung jari.
Senyum lebar terukir di wajahnya, bukan hanya karena nilai yang memuaskan, melainkan
karena bayangan Kiyah yang berdiri di antara kerumunan
orang tua dan mahasiswa. Napasnya terasa lebih ringan, beban tugas akhir
yang bertumpuk sudah lenyap sepenuhnya.
Orang tua Arnas ayah(Pak Naja) dan
ibunya(Ibu Nur) lengkap dengan saudara laki dan saudara perempuannya hadir
dalam acara wisuda itu, begitu juga dengan orang tuaku Ayah dan ibuku Pak Alim
dan Ibu Hanum begitu orang kampungku memanggil ayah dan ibuku yang sejak dua
hari lalu sudah di Medan dan ikut berbagi kebahagiaan anaknya.Ayah berjalan
mencari orang tua Kiyah (Pak Saif&ibu Idah) dan mereka bersalaman dan bercanda basa-basi.
Ayahku juga bercengkrama dengan ayah Arnas.begitulah kebahagiaan
menyelimuti hari wisuda waktu itu.
Di seberang jalan, Kiyah menekan tisu
tipis ke sudut mata karena angin kampus yang cukup kencang membawa debu. Dia
melihat Arie yang sedang bercanda dengan teman-temannya, lalu melambai kecil
ketika mata mereka
bertemu. Ada rasa lega yang mendalam terpancar dari tatapan
mereka berdua. Arie berjalan mendekat, meletakkan
tangannya di bahu Kiyah dengan
santai, seolah tak ada lagi rasa canggung
yang pernah menghantui
hubungan mereka selama masa kuliah.
"Semua
sudah beres," ucap Arie pelan,
suaranya parau tertutup
kebisingan knalpot motor di parkiran. Dia menatap langsung
ke mata Kiyah, mencoba menyampaikan janji yang sudah lama digantung di ujung lidah.
"Aku sudah bicara
dengan orang tuamu
minggu lalu. Mereka setuju
kalau kita nikah sesudah aku dapat kontrak kerja tetap."
Kiyah hanya mengangguk, pipinya memerah saat mata Arie tak berpaling. Dia memainkan
ritsleting jaketnya yang sedikit macet. "Ibu sudah cerita. Tapi kamu yakin
tidak mau fokus kerja dulu? Banyak temanmu yang masih menunda nikah."
Arie menggeleng cepat, jarinya menyentuh
jemari Kiyah sebentar
sebelum ada mahasiswa lain yang lewat membawa kamera.
"Tidak ada gunanya menunggu. Aku sudah punya rencana matang. Lagipula, aku
tidak sabar ingin pulang ke rumah yang ada kamu di dalamnya."
Obrolan mereka terhenti
sejenak ketika seorang gadis datang dan memanggil Arie dengan sebutan Ustadz....aku pengen berfoto
ajaknya. Perempuan itu
membawa kamera dan memanggil sesorang Mas...tolong fotoin kami dong. Arie mengerutkan kening, mengenali wajah
itu oh....ternyata dia persinggahan
itu Asty dan yang di panggilnya Mas itu kawan sekelasku Rizal.
Arie melihat ke Kiyah seakan tidak rela berfoto dengan gadis itu
tapi aku tidak pernah menyangka sosok tersebut adalah orang yang selama ini
menjadi mimpi burukku, dia tidak bertegur atau memberi salam ke Kiyah, habis
berfoto dia pergi begitu saja dan menghilang.
Malam harinya, mereka
berkumpul di sebuah
warung kopi sederhana. Ipung duduk di sudut dengan wajah yang tampak sangat
berbinar, berbeda dari biasanya yang sering cemberut karena lembur. Dia menepuk
meja kayu hingga cangkir kopinya sedikit bergoyang, menatap ke arah Arnas
dan Ainun yang sedang saling berbisik pelan.
"Aku mau ngomong
sesuatu," kata Ipung, suaranya meninggi menarik
perhatian seluruh meja. Dia menghela
napas, merapikan kerah kemejanya yang agak kusut. "Aku dapet proyek baru
di kantor pusat, dan ada senior satu divisi yang orangnya sabar banget.
Dan satu lagi aku dan Hayati sudak oke kayaknya dia yang jodoh Aku."
Arie mendengus tertawa,
menuang air ke gelas Ipung yang sudah kosong.
"Lama juga prosesnya. Aku kira kau bakal jombLo
sampai tua karena
terlalu sibuk sama lembaran
gaji."
Ipung mendorong
bahu Arie dengan ringan. "Banyak omong lo. Yang penting, hubungan Aku aman. Kalau
Arnas sama Ainun mah sudah kayak
suami istri sejak
semester dua, nggak ada yang perlu diragukan lagi."
Masing-masing
kawan-kawanku itu menjalani hidup mereka sendiri dengan harapan, ada yang
melanjutkan pasca sarjana, ada yang langsung bekerja di instansi dan
perusahaan, ada yang kembali berbisnis dan tak sedikit yang lulus CPNS. Arnas
melanjutkan kursus Pendidikan dan pelatihan bagian engineering perkapalan di
Jakarta, Imran menjadi guru, Ipung memilih jalan profesi penceramah dan enterprener.
Ainun lulus PNS, Lely melanjutkan S2 dan menjadi dosen, Vivie lulus PNS dan
membuka perguruan sekolah. Ayla menikah dan mengajar di sekolah suaminya,
Rina Kembali
ke kampungnya di Aceh dan lulus PNS, Hayati mendampingi Ipung dan mendukung
semua cita-citanya. Shari menjadi Dosen dan melanjutkan S2, sedangkan aku
awalnya memulai usaha pendistribusian gula merah dan penjualan rokok tapi
setelah 3 bulan modal habis dan semuanya pailit, akhirnya aku terima untuk
mengajar disalah satu SMK kota Medan selama 3 tahun. Berkat pengalaman itu aku bersama
ayah angkatku mendirikan perguruan yang mempunyai unit TK-SD dan SMP dan aku
dipercayakan mengurusi semua unit itu, tidak perlu menunggu lama untuk
berkembang, alhamdulillah perguruan kami salah satu yang terbaik di kota medan.
Kiyah sejak
awal orangtua-nya menghendaki kerja dahulu dan dia diterima di perusahaan RAPP
pekan baru, selama itu pula kami LDR-an, setelah itu pada tahun 2014 aku
menikahi pujaan hatiku, permataku yang sesungguhnya pada bulan Oktober.
Begitulah kami jalani perjalanan ini dengan bersyukur.
Setahunpun berlalu, Arie
menarik tuas perseneling mobilnya pelan saat melintasi jalanan Kisaran yang
mulai sepi oleh kabut tipis. Dia melirik ke kursi penumpang di mana Kiyah
sedang asyik memandangi luar jendela dengan buah hati mereka yang lucu dan manis Alesha Ufaira itulah nama
putri kecil mereka berdua , sesekali menyusuri garis wajah Arie dengan tatapan sayang.
Hari ini tanggal
30 Juli, tanggal
yang selalu mereka
tandai dengan pulang ke tempat ini. Mobil berhenti di
depan kedai bakso yang catnya sudah mulai mengelupas. Arie
mematikan mesin, namun
dia tidak langsung
turun. Dia memutar
tubuhnya, menatap Kiyah yang kini sudah membalas
pandangannya dengan senyum tipis yang menghangatkan dada.
"Tiap tahun kita ke sini, rasanya makin
berkesan," ucap Arie, jemarinya menyentuh cincin kawin di jari manis
Kiyah. "Di sinilah
aku sadar kalau
kamu bukan cuma teman kuliah,
tapi orang yang bakal aku temani sampai tua." Kiyah merapatkan bahunya
ke jendela, lalu membuka pintu mobil tanpa melepaskan
senyumnya. "Ayo masuk, Arie.
Tamat

0 Komentar