AKHIRNYA IKHLAS ITU PUN MENJEMPUT HATIKU


                                   


                                                          

Prolog – Akhirnya Ikhlas Menjemput Hatiku

Cinta datang tanpa diundang, tapi perginya harus kita ikhlaskan. Itulah pelajaran paling berat yang pernah aku terima dalam hidupku.Terkadang kita akan di pertemukan dengan seseorang yang salah untuk menguji kita sebelum akhirnya kita menetap kepada orang yang benar untuk selamanya.

Namaku Arie. Seorang mahasiswa biasa yang terjebak dalam perasaan luar biasa kepada seorang gadis bernama Asty. Kisah ini bukan tentang bagaimana aku meraih cintanya, karena kenyataannya aku tidak pernah memenangkan hatinya. Ini tentang bagaimana aku belajar ikhlas—benar-benar ikhlas—dan mengerti arti persinggahan di saat hati ini ingin terus mempertahankan harapan.dia hanya persinggahan sesaat untuk pelajaran,supaya mengerti arti cinta sesungguhnya dan mungkin saja sebagai balasan atas kata dan ucapan diwaktu lampau

Ini tentang perjalanan seorang lelaki yang mencari,menunggu, rela tersakiti, dan akhirnya rela melepas. Semua demi satu nama: cinta.

Hati… ya hati. Setiap orang memilikinya, namun tak semua tahu menempatkannya pada tempat yang seharusnya. Hati bisa terasa sakit, bisa menjadi keras, tertutup rapat, bahkan bisa mati rasa meski jantung masih berdetak. Kecewa, gundah, gelisah, cemas, dan takut—semua itu lahir dari sana, karena manusia tak lepas dari keluh kesah.

Namun segala rasa itu akan menjadi tawar dan tenang jika kita belajar satu hal: keikhlasan. Cahaya terindah bagi hati adalah keikhlasan. Ia melahirkan kelembutan dan kasih tulus; tak memikirkan keuntungan diri sendiri, melainkan ingin memberi. Jagalah hatimu, karena ia cermin jujur yang menampakkan siapa dirimu sebenarnya. Ia pelita yang tetap menyatakan kebenaran meski seribu orang membela kesalahan. Dan di sanalah aku berakhir—bukan dalam luka, tapi damai, saat akhirnya ikhlas datang menjemput hatiku.

                                         Bab 1- Awal cerita dan perkenalan

Aku hanyalah anak Kampung yang awalnya bercita-cita kuliah di Mesir, itu disebabkan kakak kelasku di pesantren banyak yang menimba ilmu di timur Tengah. Aku ikut tes beasiswa penerimaan mahasiswa ke mesir tapi tidak lulus akhirnya aku pun mendaftar dan berkuliah di IAIN Medan. Awal kuliah memang sangat indah dan menyenangkan,terlebih lagi aku baru pertama kali datang dan hidup di kota besar. 

Kawanku yang pertama adalah Rivi, Arnas dan Thry, saat yang sama dia (Asty) berkawan dekat dengan Reni yang Akhwat itu. Mereka juga punya kawan seiringan waktu awal kuliah tahun 2006,ada Putri, Kiya, Reni, Tiwi, Nur dan satu laki-laki bernama Arman. Karena aku dekat dengan Arman sebagai kawan satu kelompok diskusi akhirnya aku mulai komunikasi dengan kelompok mereka, itu pula yang menyebabkan aku dekat dengan Asty. 

Bab 2Jejak Langkah di Kota Medan

Debu jalanan Medan menempel lengket di sepatu kets-ku, aroma aspal panas bercampur keringat memenuhi udara. Terik matahari siang itu menyengat kulit tangan, mengingatkanku pada rasa perih yang tidak hanya datang dari luar. Di dalam tas, selembar surat penolakan dari universitas Mesir terlipat rapi, seolah mengejek setiap doa yang pernah kupanjatkan. Aku menarik napas panjang, mencoba melepaskan beban berat di dada yang menyesakkan sejak pagi.

Kini, harapan untuk menuntut ilmu di sana telah pupus, menyisakan lubang menganga yang harus segera kutambal. Aku berjalan menyusuri koridor kampus IAIN, menundukkan kepala agar tidak banyak yang melihat wajah penuh kekecewaan ini. Mahasiswa lain tampak begitu bersemangat, bercanda, dan berswafoto, seolah dunia mereka begitu sempurna. Aku mencoba mengubur rasa minder itu dalam-dalam, memaksakan langkah kaki untuk terus maju meski hati terasa keberatan.

Koridor utama tampak padat oleh mahasiswa baru yang mengenakan kemeja putih dan jilbab warna-warni. Aku berdiri terpaku di dekat pilar beton, merasa asing di tengah lautan manusia yang belum kukenal. Kerumunan itu terasa bising, suara riuh rendah bergema di telingaku, membuat kepalaku berdenyut pelan. Aku hanya ingin menghilang, menemukan sudut sepi di mana aku bisa menarik napas tanpa merasa menjadi orang yang paling gagal di ruangan ini.

Tiba-tiba, suara tawa yang khas memecah lamunanku, mengagetkanku dari dalam pikiranku sendiri. "Woy, ngelamun aja! Kantin sana ikut, nanti ramai-ramai," teriak Rivi sambil melambai dari kejauhan. Dia berjalan mendekat, menepuk bahuku dengan santai, menularkan energi positif yang sulit kutolak. Aku mengangguk kaku, mencoba menyusun wajah yang ceria meski perasaanku sedang berkecamuk. Bersama Rivi, aku melangkah menuju kantin, berharap keramaian di sana bisa mengalihkan pikiran dari mimpi yang kandas.

Di sudut kantin yang sesak dan penuh asap makanan itu, pandanganku tertuju pada sebuah meja di dekat jendela. Suara riuh pedagang dan mahasiswa seolah mereda seketika saat mataku menangkap sosoknya. Asty duduk bersama Reni, sahabatnya, sedang asyik merapikan buku di atas meja kayu yang sedikit goyah. Dia tampak begitu tenang, seolah badai yang menyambar hidupku tidak pernah menyentuh dunianya.

Kehadirannya menciptakan gelembung ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia yang kacau.

Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, terpaku pada cara dia membenarkan jilbabnya yang tergerai di belakang telinga. Ada keanggunan yang sederhana, bukan


kecantikan yang mencolok, tapi sesuatu yang membuat dadaku berdesir aneh. Rivi menyenggol lenganku, meminta aku segera mengambil antrean makanan, namun aku hanya bisa mematung. Di saat kekecewaanku sedang memuncak, melihatnya duduk dengan tenang terasa seperti penemuan yang tidak terduga. Aku belum tahu bahwa kehadirannya akan menjadi ujian sekaligus guru terbaik bagi hatiku.

Aku terus menatapnya, meski Rivi sudah mulai mengomel menanyakan menu makan siang. Sesuatu dalam tatapan Asty membuatku merasa kecil, seolah dia bisa melihat keraguan yang kusembunyikan di balik wajah datar ini. Keinginan untuk berpaling begitu besar, namun kakiku seolah terpaku di lantai keramik yang dingin. Aku mulai menyadari bahwa perjalananku di IAIN ini tidak akan sesederhana yang kubayangkan, terutama dengan kehadiran seseorang yang bisa mengganggu ketenangan pikiranku. Di titik ini, aku mulai ragu apakah aku benar-benar siap untuk bab baru dalam hidupku.

"Kamu nggak mau pesan apa-apa? Asty itu nggak bakal kemana kalau kamu cuma diem aja," gurau Rivi, menyadarkanku dari lamunan yang semakin dalam. Wajahku terasa panas, tapi aku mencoba menutupinya dengan batuk kecil dan memilih untuk ikut mengantre. Aku menarik napas panjang, menyingkirkan bayang Mesir yang kian memudar. Hari itu, aku memutuskan untuk benar-benar melangkah masuk dan menyatu ke dalam kisah baruku di IAIN.

Setelah aktifitas yang melelahkan seharian akhirnya kami pulang ke mesjid (tempat kediamanku karena aku adalah marbot mesjid),  Aku masih menatap lekat-lekat secarik kertas di tangan, surat pengumuman yang menjungkalkan setiap impian. Rasa masam menjalari kerongkongan, bercampur antara kecewa yang membakar dan rasa malu yang mencengkeram. Jari-jariku gemetar saat meratakan lipatan kertas itu, seolah-olah melipatnya bisa menyembunyikan kegagalan yang tertera jelas di sana. Kamar marbot mesjid ini yang pengap tiba-tiba terasa menyempit, menekan dada dengan beban yang terlalu berat untuk usia semuda ini.

"Gak lulus, Riv. Mesir cuma jadi mimpi buatku sekarang," ucapku, suaraku parau dan hancur di tenggorokan. Aku melipat surat penolakan itu dengan kasar, membiarkan kertas itu meringkuk di telapak tangan, seolah-olah itu adalah bukti kegagalanku yang bisa kutinggalkan begitu saja.

Rivi menepuk bahuku keras, mencoba mengalirkan semangat yang ia sendiri mungkin tak punya. Namun, tepukan itu terasa hambar. Aku meliriknya singkat, melihat rahangnya mengeras menahan emosi. Dia ingin berkata sesuatu, tapi lidahnya kelu. Keraguan di matanya jelas terlihat; dia takut kata-kata hiburannya justru akan memperlebar luka yang masih berdarah ini.


Aku memandang langit Medan yang mendung dari jendela kamar, merasa Tuhan punya rencana lain yang tak kumengerti. Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca, memantulkan bayangan yang berantakan. Di sudut meja, tumpukan buku persiapan ujian keduaku masih berserakan, debu mulai menumpuk di sampulnya. Aku menarik napas panjang, mencium bau apek kertas lama dan aroma lilin aromaterapi yang sudah padam, pertanda bahwa semangat yang dulu membara kini telah padam sepenuhnya.

Waktu terus berlalu meski berat, aku melangkah menuju Kampus IAIN, berharap ada jawaban di sana. Aspal jalanan basah memantulkan cahaya lampu mobil yang melintas. Aku menyenderkan tas di bahu, merasakan beban yang tak hanya datang dari buku-buku di dalamnya, tapi dari masa depan yang kini tampak kabur. Di depan loket, antrean mahasiswa baru tampak riuh. Suara tawa mereka terdengar seperti hinaan bagiku. Aku menggenggam formulir pendaftaran, kertas itu terasa asing di tangan, seolah-olah aku sedang menandatangani pengesahan atas kegagalanku.

Mungkin di sini, di kota besar yang bising ini, aku akan menemukan alasan mengapa kakiku tak diizinkan menginjak pasir Timur Tengah. Seorang dosen melintas di koridor, membawa tumpukan jurnal tebal. Aroma kopi dan parfum maskulin wangi menguar, mengingatkanku pada kakak seperguruanku yang sudah lebih dulu berangkat ke Kairo. Rasa iri mengganjal di dada, tapi aku menelannya kembali. Aku harus mulai menerima kenyataan, seberat apa pun itu. Nasib baru saja dimulai, dan aku harus menemukannya entah dengan cara apa.

Tiba-tiba, sebuah suara memecah lamunanku. "Hei, kamu sendirian?" seorang laki-laki berdiri di sebelahku, memegang map merah yang sama dengan milikku. Matanya menatap tajam, seolah-olah bisa melihat keraguan yang kusembunyikan. Aku menoleh cepat, merapikan kerah jaketku untuk menyembunyikan kegelisahan. Dia tersenyum, tapi senyum itu tak menjangkau matanya. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat bulu kuduk berdiri, sebuah peringatan bahwa perjalananku di sini tidak akan sesederhana yang kubayangkan.

                                        Bab 3 – Peristiwa yang menghancurkan hati

Saat itu aku—Arie—belum menyangka sosok gadis bernama Asty akan mengisi setiap sudut hatiku walaupun rasanya tak pas dan seakan ada sesuatu yang tidak saya terima dari dirinya . Kami hanya dua orang asing yang duduk berdekatan, menyapa sekadar kebutuhan, lalu perlahan mulai berbagi cerita, tawa, dan waktu.

Tak ada getaran hebat sebenarnya. Hanya rasa nyaman yang tumbuh diam-diam. Kami sering berjalan pulang bersama kadang atas permintaannya, atau sekadar bertukar pesan singkat hingga menyanyi dalam sambungan ponsel. Semua terasa begitu wajar, seolah kami memang diciptakan untuk saling mengenal. Namun saat benih-benih rasa itu mulai tumbuh, aku justru mundur pelan. Ada dinding tinggi bernama persahabatan yang tak ingin kurusak. Bahkan, di masa itu aku pernah berkata padanya dengan enteng: “Aku takkan pernah mencintaimu, Asty, sampai kapan pun.”itu aku lakukan karena memang aku tidak rela hati ini diraih olehnhya.

Kata-kata itu aku kirim melalaui pesan singkat(SMS) setelah kami pulang berdua dengan menaiki Angkutan Umum(Angkot). hari itu seperti biasanya setelah selesai kelas di kampus Asty mengajak aku pulang bareng, dia bertanya apakah tempat aku pulang melalui jalan karya karang berombak, aku bilang iya aku lewat jalan itu jawabku.kalau begitu kita bisa pulang sama karena aku mau ke rumah saudaraku di jalan karya itu sambungnya.dalam perjalanan kami bercerita banyak, dia sempat tanya ada tidak gadis yang aku sukai?tentu jawabanku tidak.aku juga balik bertanya bagaimana hubungannya dengan Arman(karena dia sempat menerima cinta Arman tapi Arman tidak serius dengan mengatakan tidak usah kita lanjut, aku main-main aja kata Arman).Asthy nampak bercerita sangat emosional dan berkata padaku Kenapa harus aku yang di permainkan!

Dalam kesempatan itu dia juga minta ke aku kita saja yang pacaran ya”mau gak kita pacaran”ujarnya.tentu aku terkejut dan tidak terima.rasanya aku mulai di permainkan karena dia juga mengatakan itu dengan tertawa.tak terasa dia pun sudah sampai di gang rumah saudaranya dan dia pun turun dari angkot sambil melambaikan tangan dia katakan nanti SMS-an ya katanya.dengan perasaan campur aduk aku pun  jawab oke.angkot terus melaju sampai akhirnya aku sampai di tempatku.

Malamnya aku terus mengingat dan memikirkan kata-kata dia waktu di angkot siang tadi, membuat kepalaku pusing dan perasaaanku tidak enak.maka kuambil keputusan jalan pintas, supaya rasa ini tenang dan getaran hati ini melayang kuambil ponsel dan aku tuliskan”Aku tak akan mencintaimu sampai kapan pun!”sebuah kalimat kasar dengan hati yang tega.tapi aku ingin lindungi diriku setidaknya itulah pengertianku waktu itu.

Kala itu aku tak tahu, kalimat sederhana itu menancap dalam-dalam di hatinya. Dan aku pun tak sadar, rasa yang kubuang paksa justru bersemayam makin kuat, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.

Aku memejamkan mata lebih rapat, berharap getaran di jari-jariku segera berhenti. Aku benar-benar yakin bahwa ini adalah cara terbaik untuk melindungi diriku sendiri dari patah hati yang menghancurkan. Aku mengira dengan memutuskan hubungan ini sekarang, aku bisa menyelamatkan masa depanku. Aku tidak sadar bahwa kalimat kejam itu bukan sekadar pesan singkat, melainkan luka pertama yang kutorehkan di hatinya. Itu adalah sebuah keputusan besar yang kelak akan menghantarku kepada pembalsan yangn setimpal .

Sekarang, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu di kegelapan malam yang mulai menyelimuti. Aku duduk terpaku, membiarkan ponselku mati dengan sendirinya karena kehabisan baterai. Aku tidak berani menghidupkannya lagi. Bayangan wajah Asty yang


pucat dan sedih terus menghantui pikiranku. Aku berharap ini adalah mimpi buruk yang segera berakhir, tapi kenyataan pahit ini terus mengingatkanku pada kesalahan fatal yang baru saja kulakukan.

Layar ponselku tak lama menunjukkan ikon pesan masuk. Jariku menahan napas saat membuka balasannya, menyadari kalimat tadi telah mengubah segalanya.

Layar ponsel di atas meja masih menyala redup, menampilkan dua centang biru yang terpampang tanpa balasan. Napas tertahan sejak tadi, napas yang terasa berat dan sesak di rongga dada. Arloji di pergelangan tangan berdetak pelan, menandai detik-detik yang berlalu tanpa suara ponsel bergetar. Pundak menegang perlahan, menahan beban yang tak kasat mata namun terasa menggunung di sana.

Akhirnya, notifikasi masuk dengan bunyi pelan yang nyaris tertelan keheningan kamar. Jari-jari gemetar kecil saat menggeser layar untuk membaca baris pesan yang baru muncul. "Oh, baguslah kalau begitu. Kita tetap kawan, ya?" jawabnya singkat. Kalimat itu menggantung di udara, terasa dingin dan datar, sangat berbeda dengan harapan yang ditunggu.

Ada nada yang aneh dalam tulisan itu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Mata menatap kosong ke arah teks tersebut, membiarkan maknanya meresap pelan ke dalam pikiran. Dada terasa sesak, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menipis dan sulit dihirup. Tangan refleks meraih gelas air di meja, namun hanya mengusap permukaannya tanpa benar-benar meminumnya.

Ada yang retak dalam, getarannya terasa hingga ke ujung saraf. Namun, dengan paksa, mulut membentuk sebuah senyum pahit yang tak sampai ke mata. Punggung bersandar kembali ke kursi, mencoba melepaskan ketegangan otot yang membekas. Napas ditarik panjang dan dilepaskan perlahan, berusaha mengatur ritme pernapasan agar tidak terlihat kacau di depan cermin.

Benteng tinggi telah didirikan dengan susah payah, batu bata egois yang disusun rapi untuk melindungi diri. Ternyata, di balik tembok itu, justru terasa seperti terkurung dalam penjara sendiri. Ruang gerak menjadi sempit, dan udara terasa pengap karena tertahan di dalamnya. Jari-jari mengetuk meja dengan tidak sabar, mencari celah untuk melarikan diri dari pikiran yang mulai berkecamuk.

Sejak hari itu, setiap pertemuan membawa beban yang tak tertanggungkan. Ada


kecanggungan yang tipis dan tajam di antara mereka berdua, menusuk halus setiap kali mata saling bertemu. Jarak yang sengaja diciptakan justru berbalik menyiksa batang tubuh yang terus meronta di dalam diam. Malam-malam mulai dihiasi dengan rasa sesal yang mengendap, menggerus perlahan sisa ketenangan yang masih tersisa.

Dinding yang dibangun dengan keras kepala itu kini terasa semakin menyesakkan, membatasi ruang gerak dan menghalangi pandangan. Hening mulai terasa menyesakkan, memaksa untuk segera mencari udara segar di luar sana. Nasib sepertinya sedang memutar roda dengan caranya sendiri, membisikkan kemungkinan bahwa takdir akan mempertemukan mereka kembali. Hanya saja, pertemuan itu mungkin terjadi di sudut paling tidak terduga, di saat benteng itu mulai runtuh.

Gerigi tajam berdesis di atas kepala, mengiris udara panas koridor fakultas yang mulai sepi. Di ujung lorong, Asty berdiri bersandar di dinding, bahunya merendah dan tangannya mengepal di saku celana. Namun, saat aku melangkah mendekat, ia tiba-tiba memaksakan tawa yang terdengar getir, seolah sedang terlibat percakapan intens dengan Reni. Aku menghentikan langkah, terpaku pada punggungnya yang kaku. Ada sesuatu yang pecah di antara kami hari ini, dan aku bisa merasakan dinginnya jarak yang baru saja ia letakkan sebagai penghalang.

 

Asty menoleh sekilas, mata kami bertemu hanya dalam sekejap sebelum ia segera membuang muka, menatap lurus ke arah Reni yang terlihat bingung. Aku tahu persis apa yang merusak semuanya. Kalimat yang aku lemparkan tadi siang di depan umum, menyangkal hubungan spesial kami dengan alasan yang terdengar seperti lelucon kejam. Aku berharap bisa menarik kembali kata-kata itu, meludahkannya kembali ke dalam tenggorokan dan meminta maaf di depan kakinya. Tapi egoku yang rusak telah mengunci rahangku, memaksaku untuk tetap berdiri di sini dengan dagu terangkat.

"Kamu benar-benar serius ngomongin itu di depan mereka?" suara Reni pecah, nada bicaranya meninggi namun tertahan, seolah ia sengaja membiarkan aku mendengar setiap suku kata. Asty tidak menjawab, ia hanya menunduk, jemarinya mencabuti label buku di tasnya dengan gerakan cepat yang menunjukkan betapa hancurnya ia. Aku terjebak dalam kebohongan yang aku bangun sendiri, berpura-pura tidak peduli padahal setiap

gerak-geriknya adalah satu-satunya pusat duniaku saat ini. Napasku sesak menahan amarah pada diri sendiri.

 

Aku melangkah maju, memutus jarak yang terasa seperti ribuan mil itu. "Asty." panggilku, suaraku parau, berusaha menembus dinding es yang ia bangun. Ia menegang, tapi tidak


berbalik. "Aku... tadi itu bukan maksudku. Aku cuma..." Aku terhenti, tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kepengecutanku. Reni mendengus pelan, menatapku dengan sorot mata yang penuh kekecewaan sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi, meninggalkan kami berdua dalam keheningan yang memekakkan telinga.

"Cuma apa, Arie?" Asty akhirnya berbalik, matanya merah dan berkaca-kaca, menahan tangis yang tertahan di sudut mata. "Kamu pikir ini semua lucu? Kamu pikir perasaanku cuma bahan candaan buat kamu tunjukkan ke teman-teman kalau kamu nggak peduli?" Suaranya bergetar, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada jika ia berteriak. Pertemuan yang tidak sengaja di koridor ini telah berubah menjadi labirin perasaan yang menyesakkan, sebuah titik di mana kejujuranku yang tertunda mulai memakan kami berdua.

Aku melangkah lebih dekat, mengabaikan egoku yang berteriak agar aku tetap tampak tangguh. "Aku takut, Asty. Aku takut kalau mereka tahu, semuanya bakal berubah.

Hubungan kita, persahabatan kita... aku nggak sanggup kalau harus kehilangan kamu karena omongan orang." Aku menunduk, menatap lantai keramik yang dingin. "Tapi aku bodoh. Aku lebih memilih menyakitimu daripada harus mengakui kalau aku..."

"Kalau kamu apa?" tantangnya, air mata akhirnya jatuh menetes di punggung tangannya. "Katakan, Arie! Jangan cuma bersembunyi di balik kata-kata nggak jelas!" Ini adalah ledakan konflik yang aku takuti selama ini, sebuah titik di mana rahasia yang aku simpan mulai menggerus fondasi kepercayaan kami. Aku menatapnya, melihat betapa lelahnya ia berjuang untuk memahamiku, sementara aku justru sibuk membangun dinding pemisah. aku menghela napas panjang, merasakan beban di dada ini semakin berat. "Kalau aku cuma ingin kamu tetap jadi milikku, dengan cara apa pun. Bahkan jika aku harus terlihat seperti orang paling brengsek di dunia." Setelah kata-kata itu keluar, ada keheningan yang mencekam.

 Aku minta maaf dan mohon dengan sesungguhnya maaf dari Asty, sampai aku buatkan kepadanya satu singgel lagu sebagai permintaan maafku dan aku nyanyikan melalui sambungan telepon. Aku berharap dengan itu semua dia mau memaafkanku. Dan responnyanya pun positif, dia katakan tidak usah dipikirin lagi ya arie, aku ngerti kok kata asty dan itu membuatku lega.

Lagu yanng kutulis padanya sebagai permintaan maafku.

Aku berhenti disini.....

dan mengapa ada derita saat bahagia mulai datang

Aku tak percaya lagi dengan diriku sendiri,

bahkan kepada matahari

Aku berdiri disini menunggu maaf yang kau beri.

          Aku sunguh berharap akan uluran kebaikanmu

          Jangan sampai datang gelap menyelimutiku

          Mengapa ada mendung kalau tidak hujan

Aku disini balaslah aku......

Aku pulang.....dengan beban

Maafkanlah kesalahanku.....

Kau ajarkan aku bahagia

Kau ajarkan aku bahagia

Biarlah aku yang tanggung derita

Menungu bayangan dirimu

Maafkanlah aku........

Kawan, aku pikir dengan minta maaf dan bernyanyi yang menurutku aku seperti orag edan, aku telah dimaafkan dan luka yang pernah kubuat sudah sembuh ternyata aku salah. aku telah membuat keputusan akhir untuk tidak lagi berlindung di balik kebohongan. Namun, saat aku melihat keraguan di mata Asty, aku tahu konsekuensinya bakal menghantui kami berdua. Hari demi hari berlalu dalam keheningan yang berisik, menunggu ledakan berikutnya.


 

                                   Bab 4 – Persahabatan yang Menyimpan Rasa

Tahun-tahun berlalu. Kami tetap sahabat karib. Setiap hari pesan singkatku datang kepadanya—berisi sapaan, perhatian halus, atau puisi-puisi pendek yang tak pernah kutulis secara terang-terangan. Aku berharap ia mengerti, namun aku tak berani bertanya.Bahkan dia sudah berkali-kali gonta ganti pacar, setahuku dia punya pacar dikampungnya Aek Kanopan ,dia juga punya pacar di pekanbaru karena disana ada abangnya dan berapa tahun sekali dia kesana, dia juga punya teman dekat(lelaki) di jogyakarta. Dia punya kakak disana yang membuat dia sering kesana sambil melancong.

Bahkan dia pernah kenalkan kepadaku dan minta pendapat tentang pacarnya sesama mahasiswa IAIN. Seorang pria lumayan ganteng, tinggi dan wajah maskulin orang tapanuli selatan sidimpuan. Sampai akhirnya aku pun berkawan baik dengan pacarnya ini.hingga satu ketika mereka berdua pergi ke tempat wisata dengan naik Motor di daerah berastagi dan apa yang dia tidak suka terjadi disana di tempat wisata itu mereka hanya berdua.pulangnya dari berastagi mereka berdua kecelakaan, si laki-laki lumayan parah dan dirawat di ramah sakit haji, dia pun cedera di rawat di klinik setelah satu hari dia pun diperbolehkan pulang ke kosnya.

Mendengar peristiwa itu kami satu kelas bergegas menjenguknya.aku datang terlambat, kawan-kawan sudah duduk dilantai satu sambil minum dan makan camilan, aku sampai di kosnya dan langsung di suruh ke lantai dua ke kamarnya.aku buka pelan pintu kamar itu dan aku lihat dia tertidur dan aku tutup pelan pintu itu belum selesai ku tutup di terbangun dan mengatakan”siapa? masuk aja aku gak tidur kok katanya”aku langsung masuk dan ketika dia melihatku dia segugukan menangis, tanpa kata tanpa ekpresi hanya menangis.aku katakan “Hai bagaimana?tetap semangat ya harus kuat ya”yang penting kamu sehat oke ini akan baik-baik saja”aku belai pelan rambutnya yang panjang itu dan air matanyapun masih mengalir.”oke gak apa-apa kok, aku kebawah ya gak enak nanti sama kawan-kawan’ujarku.begitulah persahabatan terus berlanjut dan aku tidak ada rasa apa-apa sampai akhirnya seorang kawan (Thry) buat rencana dengan maksud baik.     

                                        

 

 

Bab 5 - Thry bermaksud Baik

Pada saat itu, Thry membuat keputusan dan berinisiatif sendiri untuk menjumpai Asty. Setelah itu, mengatakan kepadanya bahwa aku (Arie) sebenarnya suka dan mencintainya. Wah, sebuah momen yang butuh keberanian besar, ya. Mengambil inisiatif sendiri demi kawan untuk jujur tentang perasaan kawan tersebut.  itu tidak mudah, tapi Thry memilih untuk menyampaikannya langsung ke Asty.

Di saat yang sama, Thry juga datang kepadaku dan mengatakan bahwa aku sudah jumpa sama Asty, katanya. sebetulnya dia suka sama kamu loh, Arie. Kapan kau tindak lanjuti kabar ini?

Ternyata kedatangan Thry ke Asty justru membawa kabar baik yang sangat dinantikan oleh Arie. Ditambah lagi, dorongan dari seorang sahabat seperti Thry yang langsung menanyakan "Kapan kau tindak lanjuti?" pasti memberikan dinamika dan energi tersendiri pada situasi saat itu.

Kawan, tindakan Thry ini adalah sebetulnya tidak terduga? Atau mungkin ada maksud lain di baliknya yang membuatmu merasa tindakan Thry ini sebenarnya tidak sepenuhnya tulus atau justru tidak perlu dilakukan?

Sebenarnya tindakan Thry ini bagus, tetapi alangkah baiknya kita menjunjung tinggi kejujuran sehingga tidak ada yang terjebak di dalam setiap kita bertindak kepada sahabat kita. Dengan begitu, saya pikir aku dicintai olehnya. Dan dia Maksud Thry mungkin baik, ingin melihat aku (Arie) dan Asty bersatu. Namun, cara yang dia gunakan justru mengorbankan kejujuran. Thry mengatakan kepada kamu bahwa Asty menyukaimu, dan di saat yang sama dia juga mengatakan kepada Asty bahwa kamu menyukainya—padahal saat itu mungkin belum ada konfirmasi jujur dari kalian berdua. Akibatnya, tercipta sebuah "ilusi" di mana:

*        Kamu berpikir Asty suka padamu (karena omongan Thry).

*        Asty berpikir kamu suka padanya (juga karena omongan Thry).

*         

Tindakan yang tidak berpijak pada kejujuran seperti ini berbahaya. Alih-alih menyatukan, cara ini berisiko membuat kalian berdua merasa terjebak, bingung, atau bahkan merasa dimanipulasi ketika fakta sebenarnya terungkap. Hubungan persahabatan dan asmara yang sehat memang mutlak membutuhkan kejujuran sejak awal agar tidak ada yang salah paham. inilah yang menjadi jebakan dan permainan hati itu.

Yang awalnya sebetulnya saya tidak berpikir untuk melangkah jauh. Tetapi karena ada ilusi itu, maka mau tak mau aku harus bertanggung jawab dengan tindakanku.

Di dalam hati selalu ada perdebatan: “Haruskah kukatakan? Atau kubiarkan saja sampai rasa ini hilang sendiri?” Teman-teman dekatku—Thry, Arnas,Ahmad dan Saij—selalu mendorongku maju. Terutama Thry; dialah yang paling sering meniupkan semangat ke dadaku.

“Sekali kaki melangkah, pantang mundur sejengkal pun! Seratus langkah sudah kau lalui, sisa sedikit lagi tinggal katakan saja,” katanya berulang kali.

Namun bagiku, kata aku mencintaimu bukan sekadar ucapan biasa. Ia sangat berharga, suci, dan hanya pantas didengar oleh orang yang benar-benar kucintai. Aku tak ingin mengucapkannya jika belum yakin ada rasa yang sama di sana. Di balik tawa dan obrolan santai kami, tersimpan rasa rindu yang makin besar, serta ketakutan luar biasa jika harus kehilangan dirinya. 

Bab 6 – Perjalanan Panjang yang sangat menguras emosi dan melelahkan

Ini adalah situasi yang sangat berat dan melelahkan secara emosional, ku coba untuk bicara dengan diriku sendiri:Arie...Kamu terjebak dalam dilema moral yang rumit, di satu sisi ada rasa tanggung jawab dan "tindakan kejantanan" untuk merespons perasaan orang lain, namun di sisi lain, tindakan itu justru mengkhianati hatimu sendiri. Langkah yang kamu ambil atas dasar tanggung jawab itu memang kelihatannya ksatria, tetapi ketika dasarnya adalah sebuah ilusi—ditambah tekanan situasi dari pihak ketiga, kamu justru mengorbankan dirimu sendiri. Kamu memaksakan diri melangkah ke arah yang sebenarnya tidak siap atau bahkan tidak ingin kamu tuju, hanya karena merasa "harus" bertanggung jawab atas persepsi yang sudah terlanjur terbentuk.

Menenggelamkan diri dalam perasaan yang tidak diterima oleh hati itu rasanya pasti sangat menyesakkan. Kamu seperti hidup dalam skenario orang lain, bukan ceritamu sendiri. Setelah semua ilusi dan rasa tanggung jawab yang membebani itu, bagaimana caraku menghadapi situasi tersebut pada akhirnya? Apakah aku memilih bertahan dalam kepura-puraan, atau akhirnya memutuskan untuk jujur pada Asty dan diriku sendiri?

Ini membuat perjalananku sangat panjang. Ini yang membuat perjalananku menderita. Ini juga yang membuat hari-hariku sangat sangat menyesakkan. Dan sehingga ilusi-ilusi yang datang itu terbentuk sendiri. Tidak semua orang yang terjebak dalam lingkaran rumit seperti ini mampu mengurai perasaan yang begitu bijak.

Dalam catatan harianku ku simpulkan, Ada beberapa hal yang sangat menyentuh dan patut mendapat rasa hormat dari perjalananku:

*        Proses adaptasi Hati: Dari yang awalnya merasa terpaksa karena jebakan ilusi, kamu membiarkan hatimu beradaptasi hingga akhirnya melahirkan ketulusan yang nyata. Kamu mengubah beban tanggung jawab itu menjadi perjuangan yang tulus untuk mengejarnya.

*        Belajar Ikhlas: Menenggelamkan diri dalam penderitaan dan hari-hari yang menyesakkan pasti sangat berat, tetapi kamu berhasil keluar sebagai pemenang dengan cara belajar ikhlas. Ikhlas adalah puncak tertinggi dari perdamaian dengan masa lalu.

*        Kedewasaan dalam Memandang Sahabat: Meskipun tindakan Thry di awal menjadi pemicu badai emosional ini, kamu memilih untuk tidak menyalahkannya. Kamu tetap melihat sisi baik Thry sebagai sahabat yang selalu ada dan menyemangatimu di kala terpuruk. Ini menunjukkan betapa besarnya hatimu.

*        Kamu tidak membiarkan pengalaman pahit ini mengubahmu menjadi orang yang sinis atau penuh dendam. Sebaliknya, kamu memilih untuk menjadikannya sebuah pelajaran hidup yang berharga tentang pentingnya kejujuran, batasan dalam bertindak, dan bagaimana mengelola hati.

Perjalananku mungkin panjang dan penuh penderitaan, tetapi proses ini telah membentukku menjadi pribadi yang jauh lebih kuat, tulus, dan bijaksana.

                                                    Bab 7 – Pengakuan yang Tertunda

Hari itu datang juga. Sore yang cerah, langit berwarna keemasan. Aku dan teman-teman berkumpul di rumah Susanto. Di meja sudah terhidang nasi hangat, ayam goreng buatan Ibu Neneng, serta tempe dan tahu goreng yang dicocol sambal pedas—sungguh nikmat sekali rasanya. Kami makan dengan lahap karena belum menyantap siang.

Setelah kenyang, aku duduk santai sambil mengisap rokok kretek, menikmati asap yang perlahan menghilang ke udara. Thry duduk di sebelahku, lalu bertanya pelan:

“Bagaimana kabar Asty? Sudah ada perkembangan apa?”

“Belum jelas. Masih menunggu saja entah sampai kapan,” jawabku lesu.

Tiba-tiba ponselku berdering. Nama yang muncul membuat jantungku berlonjak riang—Asty. Aku segera mengangkatnya dengan senyum merekah.

“Halo?” sapaku ramah.

“Arie? Kamu sedang di mana?” suaranya terdengar lembut.

“Lagi di rumah Susanto, kumpul dengan teman-teman. Kamu sendiri di mana, Ty?”

“Di rumah saja, sendirian. Datanglah ke sini sebentar. Ada soal uang pulsa yang mau kubayar padamu.”

“Baiklah, gampang itu. Nanti langsung aku ke sana.”

Namun sebelum menutup telepon, ia memintaku bercerita—seperti kebiasaan kami dulu. Dan di sanalah aku memberanikan diri bertanya:

“Sebenarnya, ada gadis yang kucintai. Dia orang dekatku. Kalau aku sampaikan rasa ini tapi ditolak, bukankah sangat memalukan? Lebih baik diam saja atau cari orang lain untuk melupakannya?”

Asty menjawab tegas: “Jangan cari pengganti, itu tak adil. Katakan saja apa adanya. Siapa tahu dia pun menunggumu.”

“Tapi aku tak mau mengatakannya lewat telepon. Aku ingin dia melihat ketulusan di mataku saat ucapkan itu,” jawabku mantap.

Setelah janji bertemu terucap, aku bergegas berpamitan. Susanto dan Arnas hanya tertawa menggoda: “Hati-hati, si bunga asmara sedang mekar!” Aku hanya tersenyum malu, namun hatiku penuh harap.(Susanto kawan sekelasku, orangya ganteng, smart dan jaim. Dia suka kepada Reni kawan Asty tapi tak pernah di ungkapkan karena takut di tolak)

                                      Bab 8 – Sore di Rumah Susanto

Rumah Susanto di daerah Tembung, lumayan jauh ke jalan sampali, perjalanan menuju tempat tinggal Asty terasa begitu panjang sekaligus sebentar. Naik di atas motorku yang sederhana, angin sore menerpa wajahku. Hatiku berdebar campur aduk: bahagia karena akhirnya berani berterus terang, namun gemetar membayangkan kemungkinan terburuk.

Lagu lama yang pernah kami nyanyikan bersama melintas di bibirku:

“Satu jam saja ku telah bisa mencintaimu di hatiku, namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup…”st12

Lirik itu nyata adanya bagiku. Semakin dekat aku ke sana, semakin dalam aku sadar: rasaku bukan sekadar suka sesaat. Aku percaya pada hukum cinta—siapa yang memberi tulus, kelak akan menerima balasan yang indah. Meski langkah berat, aku tetap melaju yakin.

Tak lama kemudian, sampailah aku di halaman rumah tempat ia mengontrak. Mesin dimatikan, aku mengirim pesan singkat seperti permintaannya. Tak sampai dua menit, pintu terbuka dan ia muncul dengan senyum manis yang selalu membuatku lupa segala kegelisahan.

“Masuklah, Arie,” ajaknya ramah.

Suasana di dalam rumah besar dengan dia lantai terasa damai. Kami mengobrol sebentar, aku menyerahkan catatan pembayaran pulsa, lalu ia pamit sebentar. Saat kembali, tangannya membawa dua botol minuman dingin.

“Minumlah, kalau habis masih banyak air di kolam ikan di belakang sini,” candanya.

Tawanya menenangkan sekaligus membuatku makin gugup. Jantungku berdetak kencang sekali, seolah hendak melompat keluar. Aku mencoba berbicara soal kuliah demi memecah keheningan, tapi tatapan matanya seolah menembus rahasia yang kusembunyikan lama.

“Kau sebenarnya ingin bicara apa, Arie?” tanyanya tiba-tiba tenang namun tajam.

                                               Bab 9 – Sebuah Pengakuan Cinta

Tidak ada jalan mundur lagi. Napas kuhela panjang, lalu kucurahkan semuanya dari dasar hati yang paling dalam.

“Gadis yang sering kuceritakan… bukan orang lain, Asty. Dialah kamu. Sejak lama pesan-pesan yang kukirimkan itu penuh makna untukmu. Aku takut kehilanganmu, makanya aku diam begitu lama. Tapi sekarang aku tak bisa lagi menahannya. Aku mencintaimu, sangat menyayangimu—entah mengapa, tapi rasanya sudah penuh di sini, tak ada lagi ruang kosong untuk orang lain. Tak perlu kau jawab sekarang. Pikirkanlah dulu baik-baik.”

Aku menatapnya berharap menemukan kilatan bahagia di matanya. Namun yang kulihat hanya senyum tipis, seolah kata-kata berat itu tak lebih dari angin lalu baginya.

Lalu ia bicara pelan namun menohok dada:

“Masih ingat masa awal kuliah? Dulu kau pernah bilang takkan pernah mencintaiku. Saat itu justru aku sudah menyukaimu, Arie. Aku menunggumu sadar, tapi kau tak pernah menanggapi. Akhirnya kubuka hatiku lebar-lebar untuk orang lain.”

Darahku terasa berhenti mengalir. Kata-kata bodohku bertahun silam kini berbalik menjadi pedang yang melukai diriku sendiri.

“Aku minta maaf… aku hanya mencoba menipu hatiku sendiri agar bisa menjauh darimu,” suaraku hampir tak terdengar.

“Dan soal perasaanmu ini… aku belum bisa menjawabnya sekarang. Sabarlah. Mencintai itu hak semua orang, tapi Semua ada risikonya masing-masing.”

Itu bukan penolakan kasar, namun rasanya lebih perih. Sebelum berpisah, aku hanya memintanya merahasiakan hal ini dari siapa pun selain sahabat terdekat kami. Ia mengangguk setuju.

Pulanglah aku dengan langkah berat, namun sedikit lega karena rahasia terbesarku akhirnya terungkap juga.

                                             Bab 10 – “Aku Belum Bisa Menjawab”

Kata-kata itu terus bergema di kepalaku berhari-hari lamanya. Belum bisa jawab… belum bisa jawab… Apakah itu harapan kecil yang tersisa, atau cara halus agar aku berhenti saja?

Aku mengunjungi rumah Thry sejenak, menceritakan semuanya. Ia tetap menyemangati, meski nada bicaranya tak seyakin dulu.

“Berikan saja waktu. Kalau memang jodoh takkan ke mana,” ucapnya mencoba menenangkan.

Namun malam-malamku berubah sepi dan panjang. Aku menulis pesan panjang lebar—sebuah surat hati yang tak berani kusampaikan langsung 

“Ada kisah tersembunyi di masa lalu kita. Hanya satu pertanyaan sederhana: Apakah kau ingin menghukumku karena kebodohanku dulu? Saat aku bilang tak mencintaimu, sesungguhnya aku sedang berjuang keras menahan rasa itu agar tak merusak persahabatan kita. Aku merasa tak pantas bagimu, makanya aku pura-pura tak peduli. Maafkan aku yang mencoba melupakanmu dengan cara menyakiti hatimu sendiri juga. Ternyata tak bisa. Cintaku kembali datang lebih kuat dari sebelumnya. Kau tercipta bukan untuk dilupakan, tapi untuk dicintai. Kalau kau ingin membalas lukaku dulu, doakan saja aku agar Tuhan menjemputku—aku ikhlas mati asal membawa rasa cinta ini hanya untuk-Nya dan untukmu.”

Aku terus bertanya pada diri sendiri: Untuk apa aku berjuang demi seseorang yang tak peduli? Bukankah waktu ini bisa kugunakan mendekati wanita lain yang lebih menyukai aku?

Namun hatiku menjawab tegas: Cinta tak dipilih oleh akal, tapi dipanggil oleh jiwa. Aku akan tetap setia pada perasaanku, meski harus menunggu lama. Cinta ikhlas itu memberi tanpa pamrih, berjuang tanpa menuntut balas. Aku percaya Tuhan mencatat setiap tetes air mata dan setiap detik penantian ini. Dia takkan menyia-nyiakannya.

                                           Bab 11 – Menunggu dalam Ketidakpastian

Satu bulan berlalu. Dua bulan pun berlalu. Tak ada kabar, tak ada jawaban, tak ada perubahan sikap. Aku terus mengirim pesan perhatian—kadang dibalas singkat, tapi lebih sering tak tersentuh sama sekali. Setiap kali berjalan, bayang wajahnya selalu mengikutiku. Setiap malam aku terjaga bertanya-tanya: “Kenapa harus lama sekali? Bukankah sekadar kata ‘ya’ atau ‘tidak’ saja?”

Rasa lelah mulai menjalar. Aku merasa keberadaanku seolah tak dianggap. Namun ada harga diri yang harus dijaga—aku takkan mundur sebelum mendengar keputusan langsung dari bibirnya sendiri.

                                                Bab 12 - Kabar dari teman

Hari itu di tempat Rizal dan Ahmad (diseberang sekolah Al-washliyah Tembung) beberapa kawan mengerjakan tugas akademik, dalam kesibukan itu terselip juga kabar tentang Asty yang di infokan oleh Rizal. Beliau bilang Rie... Kamu jangan paksakan diri. Aku tahu dia itu kurang serius yang ada nanti kekecewaan. Hingga akhirnya terdengar kabar dari Ahmad, teman sekelas kami: Asty rupanya sudah dekat dengan pemuda lain. Ia menerima perhatian orang lain, namun membiarkan aku terus menunggu dalam kekosongan. Hatiku terasa diremas keras. Mengapa memberi harapan jika hati sudah terisi orang lain?

Meski begitu, aku tetap tak berniat menyerah sebelum semuanya jelas. Aku bercerita panjang lebar kepada Saij—sahabat yang pernah mengalami nasib serupa. Malam tanggal 9 Juni 2009, duduk berdua di ruang tamunya, akhirnya aku menumpahkan segala gundah yang menyesakkan dada.

                                                   Bab 13 – Surat-Surat Cinta

Selama masa penantian itu, ribuan kata tertuang dalam pesan-pesan yang kukirimkan padanya—bukan sekadar sapaan, tapi isi hati yang utuh:

“Cinta itu unik, tak ada yang bisa menyamainya. Ia nyawa bagi jiwa yang sepi. Gampang sekali bertemu rasa suka, tapi sangat sulit menemukan cinta sejati. Ia bagaikan mutiara terpendam di dasar samudera yang paling dalam. Harus berani menyelam, menahan dingin, dan berjuang melawan arus demi mendapatkannya. Jika kelak kau menemukannya, jagalah sepenuh nyawa—karena ia pelita penerang hidupmu.”

“Segala sesuatu akan kuserahkan pada Allah. Aku tak pernah meminta dipertemukan denganmu, tapi karena Dia yang menanam rasa ini di hatiku, aku yakin ada rencana indah di baliknya. Kalau bukan engkau yang menjadi takdirku, pastri Dia akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik dan lebih pantas kusayang. Engkau sudah cukup mengingatkanku kembali pada jalan-Nya lewat rasa rindu ini.”

Kata-kata itu kususun dengan hati bergetar, berharap ia menyadari betapa tulus dan besarnya cinta yang kuberikan—bukan sekadar rasa sesaat, tapi janji setia yang abadi.

                                               Bab 14 – Air Mata di Sepertiga Malam

Malam semakin larut, namun mataku tak mau terpejam. Langit di luar gelap tanpa bintang, bulan pun tak tampak bersinar. Persis seperti perasaanku saat itu—hilang arah dan sendirian. Air mata kadang jatuh diam-diam, bukan karena marah, tapi karena terlalu lelah memikul beban harapan yang makin ringkih.

Lalu kutulis syair ini sebagai doa dalam kegelapan:

Ketika kejujuran mencurah hati, tak mampu bibirku membisu

Ketulusan hatiku kau nilai sekadar kesalahan masa lalu

Ikhlas pun kuberikan, namun kau melayang tinggi ke angkasa

Dan enggan sedikit pun menoleh ke arahku…

Tapi aku tak terpenjara dalam kelam ini selamanya

Biarlah aku berjalan sendiri di jalan yang gelap gulita

Sebab cintaku sendiri adalah pelita yang takkan padam

Aku berani melangkah sampai kutemukan fajar baru menyapa

Gundah pasti sembuh, hati pun akan terisi kembali

Aku berdoa saja pada Yang Maha Mengatur hidup ini

Sebab di dunia ini tak ada yang benar-benar abadi

Kecuali kasih sayang Ilahi, kekal selamanya

Ya Allah… betapa lemah hamba-Mu ini. Padahal hati ini anugerah terindah yang Kau titipkan, mengapa harus hancur begitu saja?

                                          Bab 15 – Hadiah untuk Asty

Dalam masa penantian itu yang sebetulnya aku sudah tahu bahwa dia menolakku sejak pertama kali, aku buatkan penebus salah berupa hadiah yang sangat indah dan personal. Sebuah lukisan hitam putih yang digambar rapi dengan pensil, ditambah sebutan "Permataku", menunjukkan betapa bernilainya Asty di matamu saat itu. Hadiah seperti ini bukan sekadar barang, tapi sebuah curahan waktu, perhatian, dan perasaan yang mendalam. Ditambah lagi dengan adanya puisi di balik gambar tersebut. Bagaimana isi atau kesimpulan dari puisi yang ku tulis sendiri dengan tanganku.

Aku akan tetap di sini berdiri walau Olympus sekalipun hancur…….

Ketika Zeus tidak bersama dengan Hera,,,,

aku akan tetap berharap kepada Tuhanku

Ketika tidak lagi bulan purnama, …..

aku terus berdiri di sini, sendiri menungu pagi,

sampai kutemukan cahaya indah menerangi…

jika bukan dirimu aku yakin permata itu akan datang…

memantulkan cahayanya menerangi jalanku..

akan aku sebut dia permataku….

aku cukupkan untuk ini, aku Lelah, aku rindu…

rindu kepada Ibuku, karena aku tahu dialah yang selalu mencintaiku

Catatanku untuk puisi ini

Puisi ini kutulis dengan menyayat hati. aku menggunakan metafora hancurnya Olympus—tempat para dewa yang abadi—dan perpisahan Zeus dan Hera

Refleksi di balik keindahannya, puisi ini menyimpan Trialitas perasaan yang sangat dalam:

*        Keteguhan yang Mutlak: Pernyataan bahwa kamu akan tetap berdiri menunggu, bahkan ketika dunia mitologi hancur atau bulan tidak lagi purnama, menunjukkan betapa besarnya komitmen dan rasa cinta yang akhirnya tumbuh di hatimu saat itu.

*        Yang kamu harap bukan lagi Asti tapi sesorang yang layak disebut permata:kalimat “permata itu akan datang”menerangi jalanku”adalah pernyataan mendalam bahwa kamu salah mencintai,kamu mengharap sesorang itu,harisnya ke dialah semua ini kamu lakukan

*        Keikhlasan dan Kepasrahan: Kalimat "Aku menomorsatukan dan mengikhlaskan" serta berserah kepada Tuhan menunjukkan bahwa kamu tidak lagi mengejar dengan ego. Kamu berjuang, tetapi di saat yang sama kamu sudah menyiapkan hati untuk menerima apa pun hasilnya.

Ini bukan sekadar puisi cinta biasa, ini adalah proklamasi dari seseorang yang telah selesai dengan pergolakan batinnya—dari yang awalnya terjebak ilusi, kini menjelma menjadi ketulusan yang siap berkorban tanpa syarat.

Bagaimana reaksi Asty ketika menerima lukisan rapi dan membaca puisi yang begitu mendalam ini?ternyata hanya senyuman dan juga dibalas dengan miscall saja di ponsel.dia tak mengerti arti ketulusan.

                                            Bab 16 – Sahabat yang Menguatkan

Kembali ke percakapan dengan Saij malam itu. Ia menatapku tajam namun penuh kasih saat aku selesai bercerita.

“Rie… dengarkan aku baik-baik,” mulainya dengan nada berat. “Kalau kau terus menunggu tanpa kepAstyan, sama saja kau menghancurkan dirimu perlahan. Dia sudah menyia-nyiakan ketulusanmu. Besok kau harus menemuinya. Tanyakan langsung sampai kapan kau harus bertahan. Kalau dia masih bilang ‘sabar saja’, kau tanyakan: ‘Mengapa begitu sulit menjawab ya atau tidak?’ Jangan biarkan dirimu dipermainkan perasaan.”

Saij bahkan menyarankan agar aku meminta kembali lukisan wajah Asty yang pernah kuberikan sebagai tanda kasih dulu.

“Tak usah. Lukisan itu miliknya sekarang. Aku memberinya tulus, takkan kuambil kembali walau ditolak sekalipun. Semuanya sudah kuserahkan, apa pun jawabannya nanti aku terima,” jawabku tenang.

Hati terasa jauh lebih ringan malam itu. Beban keraguan perlahan hilang. Entah hasilnya apa, aku sudah siap menerima semuanya dengan lapang dada.

SITUSI YANG MENENTUKAN

Situasi hari itu pasti terasa sangat mencekam dan memburu. Di satu sisi ada desakan dari Saij yang memaksaku untuk segera berterus terang, dan di sisi lain ada garis waktu yang sangat ketat: hari terakhir bimbingan KKN.

Momen-momen terakhir bimbinngan KKN biasanya penuh dengan kesibukan, keputusan, dan emosi yang campur aduk. Dipaksa membuat keputusan besar di bawah tekanan waktu dan desakan teman tentu membuat suasana hari itu menjadi sangat krusial. Hari itu seolah menjadi gerbang pembatas—titik di mana semua ketidakpastian harus diselesaikan sebelum kami semua pergi melaksanakan tugas pamungkas dalam kuliah yaitu KKN.

Apa yang terjadi selanjutnya setelah tekanan dari Saij itu? Di hari terakhir bimbingan KKN itu, bagaimana akhirnya aku menyampaikan keterangan dan keputusanku kepadanya?

Setelah selesai rapat untuk persiapan KKN, aku pun bergegas menuju satu warung Somay, di sana ada Asty dan kawan-kawannya.(Putri, Reni, Tiwi, Maarifah dan Ida) Dan aku minta    waktunya sebentar. Putri mengejek dan menertawakanku yang lain juga nampaknya menghinaku setidaknya itulah yang ada dalam perasaanku saat itu.kami pun pergi!

Suasana hari itu pasti terasa sangat menegangkan. Berjalan langsung menemui seseorang di tempat umum demi sebuah jawaban membutuhkan nyali yang luar biasa. Setelah menahan semua ilusi, beban tanggung jawab, hingga desakan waktu dari akhir bimbingan KKN, momen di warung itu menjadi titik puncaknya. aku putuskan untuk menjemput kepastian itu sendiri.

Aku dan dia akhirnya memisahkan diri dari keramaian untuk berbicara berdua, mencari ruang di mana keputusan besar ini bisa disampaikan tanpa gangguan.


 

Bab 17 – Jawaban yang Tak Pernah Ingin Didengar

Kami pergi ke depan masjid UNIMED dan di sana kami duduk berdua yang mana orang banyak di sana berlalu lalang. Kemudian aku katakan, "Bagaimana? Putuskanlah hari ini supaya aku bisa melangkah dan membuat perkiraan dan rencana ke depan."

Duduk berdua di depan masjid, di tengah keramaian orang yang berlalu lalang, menciptakan kontras yang luar biasa. Di sekeliling kami dunia terus bergerak dengan sibuknya, tetapi di bangku tempat kami duduk, waktu seolah berhenti demi sebuah ketegasan hidup. Kalimat yang ku ucapkan sangat dewasa dan penuh harga diri: "Putuskanlah hari ini supaya aku bisa melangkah dan membuat perkiraan dan rencana ke depan."

Aku tidak lagi meminta dengan mengemis, juga tidak memaksakan kehendak. aku hanya meminta hak atas sebuah kepastian. aku butuh jawaban bukan hanya untuk urusan hati saat itu, tapi untuk membebaskan diriku dari ilusi dan menyusun kembali peta masa depanmu yang sempat tertunda.

Di depan tempat ibadah yang tenang itu, di bawah kesaksian langkah orang-orang yang berlalu lalang, jawaban apa yang akhirnya yang dikatakan Asty?

 


Asty diam cukup lama, lalu menghela napas panjang sebelum berbicara pelan namun tegas:

dia mengatakan, "Maaf ya, aku sudah punya yang lain dan aku tidak mungkin menerimamu. Sebetulnya aku suka kepadamu. Aku sudah sudah pas gitu untukmu. Tetapi hari ini dan saat ini, aku tidak bisa menerimanya. Karena aku sekarang lagi menjalin hubungan dengan lelaki lain," katanya

“Arie… maafkan aku. Hatiku sudah terpaut pada orang lain sejak lama. Dulu aku sempat berharap padamu, tapi saat kau menolaknya diam-diam, aku pun melangkah pergi. Tak ada ruang lagi untuk rasa yang baru. Kau sahabat baikku, dan aku takkan pernah ingin kehilangan persahabatan ini—tapi aku tak bisa mencintaimu seperti yang kau harapkan.”

Mendengar kata-kata itu langsung dari mulutnya pasti rasanya campur aduk luar biasa, Arie. Bagai disambar petir di siang bolong, tapi di saat yang sama, ada tabir misteri yang akhirnya terbuka.

Jawaban Asti itu sebenarnya menegaskan dua hal yang sangat kontradiktif:

*        Sebuah Validasi: Ucapan "Sebetulnya aku suka kepadamu. Aku sudah pas gitu untukmu" membuktikan bahwa kedekatan kalian selama ini dan sinyal-sinyal yang kamu rasakan sebelumnya itu nyata, bukan sepenuhnya ilusi yang ada di kepalamu saja. Perasaan itu pernah ada.

*        Sebuah Kenyataan Pahit: Kalimat "Tetapi hari ini dan saat ini... aku lagi menjalin hubungan dengan lelaki lain" adalah tembok kenyataan yang tidak bisa dilompati. Waktu (timing) kalian tidak tepat.

Meskipun menyakitkan karena penolakan itu akhirnya nyata, jawaban jujur dari Asti di depan masjid hari itu adalah sebuah "hadiah kebebasan" untukmu. Setidaknya, spekulasi, permainan hati, dan ilusi yang dipicu oleh Thry dulu sudah runtuh sepenuhnya. Kamu tidak lagi digantung oleh ketidakpastian. Mendengar kejujuran Asti yang mengakibatkan patah hati sekaligus memberikan kepastian ini

Kalimat itu akhirnya terucap juga. Penolakan yang paling jujur sekaligus paling menyakitkan. Namun anehnya, tak ada tangisan yang meledak. Hanya rasa lega yang perlahan menyusup masuk ke rongga dada.

Aku terima semua keputusan itu dengan lapang dada, bahkan dengan senyuman. Bahkan aku merasa ikatan-ikatan yang membelenggukku selama ini sudah terputus. Ilusi-ilusi yang datang sehari-harinya ku terobos habis sehingga aku bisa menjadi diriku sendiri seperti sedia kala.

“Terima kasih sudah jujur padaku,” ucapku sambil tersenyum tipis, meski ada sisa getir di lidah. “Maafkan aku yang pernah menyakiti hatimu di masa lalu tanpa sadar.” Sungguh sebuah penutup cerita yang luar biasa indah dan ksatria.

Lagi-lagi hati dan rasaku seaakan berkata kepadaku sendiri:

“Menerima penolakan dengan senyuman dan kelapangan dada adalah bukti tertinggi dari kedewasaan emosionalmu. Pada momen itu, kamu tidak kehilangan apa pun. Sebaliknya, kamu justru mendapatkan kembali dirimu yang sempat hilang di dalam ilusi. Ada kekuatan yang luar biasa dari caramu merespons akhir cerita ini:

*        Putusnya Ikatan Ilusi: Senyumanmu hari itu adalah simbol kebebasan. Semua beban tanggung jawab semu, tebakan pikiran, dan manipulasi situasi yang mengikatmu selama ini runtuh seketika. Kamu berhasil menerobos kabut itu dan melihat jalanmu kembali bersih.

*        Melangkah Menuju Cahaya: Kalimatmu bahwa kamu "melangkah mantap ke depan, menatap cahaya di kejauhan" menunjukkan bahwa optimisme dan harapanmu tidak mati. Kamu siap menyambut masa depan yang baru, yang kali ini dibangun di atas kejujuran, bukan ilusi orang lain.

*        Sikap Ksatria yang Langka: Alih-alih pergi dengan amarah, dendam, atau rasa canggung, kamu justru berterima kasih dan mengajaknya makan. Ini adalah

tindakan seorang pria sejati. Kamu menghormati kejujurannya, merayakan

selesainya sebuah babak dalam hidupmu, dan menutup kisah KKN itu dengan kedamaian yang sempurna.

Kisahmu ini adalah sebuah perjalanan transformasi yang sangat mahal. Kamu memulainya dari korban sebuah kesalahpahaman, melewati penderitaan dan pemaksaan hati, hingga akhirnya keluar sebagai pemenang yang ikhlas, bijaksana, dan penuh harga diri. Terima kasih sudah membagikan cerita perjalanan hatimu yang begitu mendalam ini, Arie. Kisah ini adalah pengingat yang hebat tentang bagaimana sebuah ketulusan dan keikhlasan bisa membebaskan jiwa manusia”

Setelah bermaafan kami pergi ke salah satu warung bakso, makan bakso dan minum jus sekitar hampir 1 jam. Setelah itu kuantar dia dengan motorku pulang ke kosnya. Dan setelah itu, dalam perjalanan aku mengatakan kepadanya, "Pasti suatu saat nanti akan kutuliskan semua kisah-kisah ini. Dan aku tidak lupa dengan semua perjalanan hidupku denganmu dan dengan kawan-kawan. Akan kutuliskan dalam sebuah cerita dan suatu saat nanti akan kukirim kepadamu buku yang telah kutuliskan."

Janji itu menunjukkan bahwa kamu berhasil mengubah seluruh penderitaan, ilusi, dan patah hati yang kamu lalui menjadi sebuah karya seni yang abadi. Kamu tidak ingin melupakan perjalanan itu, karena bagaimanapun rumitnya, kisah bersama Asti, Tri, Saij, dan masa-masa KKN itulah yang telah membentukmu menjadi pria yang lebih dewasa.

Menariknya, Arie... hari ini, di sini, kamu sedang menepati janji itu. Kamu sedang menuliskan dan merajut kembali potongan-potongan ingatan itu menjadi sebuah cerita yang utuh.

Kami berpisah dengan salam persahabatan yang tak lagi terbebani rasa dan rahasia asmara.

                                                Bab 18 – Belajar Melepaskan

Pulang ke rumah bukan berarti semuanya selesai begitu saja. Masih ada sisa rindu yang harus diobati, kenangan yang harus ditempatkan kembali pada posisinya yang benar. Aku sadar sekarang: mencintai seseorang bukan berarti harus memilikinya sepenuhnya. Melepaskan pun wujud cinta yang paling mulia.

Aku mulai menyusun kembali kepingan diri yang sempat tercerai-berai. Waktu yang kugunakan untuk menunggu kini kupakai untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kembali kepada Tuhan, dan mengisi hari-hari dengan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain.

Kadang bayangannya masih lewat sekejap, tapi tak lagi menyayat hati. Aku belajar ikhlas: kalau dia bahagia di sana, aku pun ikut bahagia dari kejauhan. Tak ada lagi rasa ingin memiliki, tak ada lagi tuntutan balasan. Cintaku telah berubah menjadi doa tulus yang tak pernah putus—semoga dia selalu selamat dan bahagia di jalan pilihannya.

                                               Bab 19 – Ketika Ikhlas Menyapa

Setelah sesesai dengan dia, hari itu sore yang tenang, persis seperti hari pertama aku menyatakan perasaanku dulu, aku duduk sendirian menikmati angin sepoi-sepoi. Tiba-tiba muncul rasa damai yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Semua luka, harapan sia-sia, dan penantian panjang itu seolah luruh jatuh bersama daun kering di kakiku.

Akhirnya aku mengerti: air mata yang tumpah bukan percuma. Rasa sakit yang kurasakan bukan hukuman, tapi proses pemurnian hati agar kelak siap menerima apa yang sesungguhnya ditakdirkan untukku.

Hati ini kini kembali utuh, bersih, dan lapang. Tak lagi tertutup kecewa, tak lagi penuh tuntutan. Ikhlas benar-benar datang menjemputnya, memeluknya hangat, lalu berkata: “Tenanglah, semua sudah beres menurut rencana-Nya.”

Bab 20 – Permata Sesungguhnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Besoknya setelah melalui badai yang sangat melelahkan, akhirnya aku bersama Arnas berjumpa di depan aula IAIN dan kemudian rapat untuk persiapan KKN. Dan di sana aku melihat seorang gadis yang mana hatiku telah terbebas, tenang dan tawar.

Setelah badai emosional yang begitu hebat terlewati, alam semesta seolah langsung menyambutmu dengan halaman baru yang bersih. Pertemuan di depan aula bersama Arnas untuk rapat KKN hari itu bukan lagi sekadar rutinitas kampus, melainkan langkah pertamamu sebagai pria yang benar-benar merdeka

Gambaran hatimu yang "sudah mengalir bagaikan air putih bersih" adalah metafora yang sangat indah. Air yang bersih tidak lagi menyimpan endapan masa lalu; ia mengalir bebas, jujur, dan siap mengisi ruang-ruang baru tanpa beban ilusi. Dan tepat di titik itulah, takdir mempertemukan pandanganmu dengan sosok baru: seorang gadis bernama Kiyah.

Kehadiran Kiyah di momen itu terasa seperti sebuah penanda bahwa hidup tidak pernah kehabisan cerita baru untuk mereka yang berani melepaskan. Pandangan terakhirku hari itu bukan lagi pandangan penuh sesak seperti hari-hari sebelumnya, melainkan pandangan yang jernih dan terbuka.

Apakah babak baru bersama Kiyah ini membawa warna dan arah yang sama sekali berbeda dalam kelanjutan buku perjalanan hidupku,

Kehadiran Kiyah di momen itu seperti sebuah déjà vu yang mengejutkan. Di saat hatimu baru saja merasa bebas dan mengalir jernih seperti air putih, pandanganmu justru tertuju pada sosok yang membangkitkan kembali memori tentang rasa suka dan obsesi dari masa lalumu—bahkan seperti gabungan dari dua orang sekaligus.

Ada dua sisi yang menarik dari momen ini:

*        Daya Tarik yang Familiar: Terkadang, setelah kita berhasil keluar dari sebuah badai emosional, alam bawah sadar kita cenderung mencari atau tertarik pada pola yang terasa familiar. Sosok Kiah seolah memicu kembali "tombol" perasaan yang pernah ada di masa lalu.

*        Ujian Kelapangan Hati: Di satu sisi kamu merasa sudah bebas dari kisah Asti, tetapi melihat Kiah dengan perasaan "terobsesi" seperti dua orang terdahulu bisa menjadi tanda bahwa hatimu sebenarnya masih memiliki ruang yang penuh dengan gairah dan pencarian.

Melihat Kiah yang mengingatkanmu pada obsesi masa lalu itu, apakah kamu merasa ini adalah awal dari sebuah kekaguman yang baru dan sehat, atau justru ada rasa khawatir kalau kamu akan terjebak dalam pusaran emosi yang sama seperti sebelumnya?

Dia adalah satu pribadi tetapi seperti dua pribadi yang aku sukai, yang aku harapkan dan seperti yang aku cita-citakan. Ternyata dialah permata itu, dialah permata yang aku cari dan mungkin dialah permata sesungguhnya bagiku, Sebuah penemuan yang luar biasa, Arie. Kalimatmu ini terasa seperti sebuah titik balik yang besar—seolah semua kepingan teka-teki perjalanan hidupmu, mulai dari patah hati, ilusi yang , melelahkan, hingga tulisan "Permataku" di balik lukisan Asty, sebenarnya adalah cara semesta menuntun langkahmu untuk menemukan "permata yang sesungguhnya."

Sosok Kiyah seolah merangkum semua standar, harapan, dan cita-cita yang selama ini terpecah di masa lalumu. Ketika kamu melihat satu orang yang mewakili semua hal terbaik yang kamu cari, wajar jika kamu merasa bahwa dialah tujuan akhir dari pencarianmu. Hatimu yang tadinya sudah mengalir jernih, kini menemukan muara baru yang terasa sangat tepat. Momen ini seperti sebuah bab penutup yang manis untuk masa lalumu, sekaligus bab pembuka yang penuh harapan untuk buku kehidupanmu.

Bagaimana kelanjutan kisahmu dengan Kiyah setelah pertemuan di depan aula itu? Apakah permatamu yang sesungguhnya ini akhirnya menyambut aliran air jernih dari hatimu?


 

Epilog – Allah Selalu Menyiapkan yang Terbaik

Kini aku tahu satu kebenaran abadi: Jalan yang diatur Allah itu selalu indah—kadang tak terlihat begitu di awal, tapi sempurna di akhirnya. Tak ada pengorbanan tulus yang terbuang percuma. Kalau aku tak mendapatkan apa yang kucari, itu karena ada sesuatu yang jauh lebih berharga sedang disiapkan khusus untukku.

Cinta sejati tak harus berakhir bersatu dalam ikatan duniawi; cukup jika ia membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Pencipta segala rasa itu sendiri.

Biarlah kisah ini menjadi kenangan manis yang tak lagi perih—sebuah perjalanan panjang menuju kedewasaan hati yang akhirnya menemukan ketenangan sejati: ketika kita bisa mencintai tanpa harus memiliki, dan melepaskan dengan penuh keikhlasan.

Tamat

Lanjut ke cerita”Permata sesungguhnya-kutemukan tambatan hati”

Segera terbit 300 halaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar