Prolog
– Akhirnya Ikhlas Menjemput Hatiku
Cinta
datang tanpa diundang, tapi perginya harus kita ikhlaskan. Itulah pelajaran
paling berat yang pernah aku terima dalam hidupku.Terkadang kita akan di
pertemukan dengan seseorang yang salah untuk menguji kita sebelum akhirnya kita
menetap kepada orang yang benar untuk selamanya.
Namaku
Arie. Seorang mahasiswa biasa yang terjebak dalam perasaan luar biasa kepada
seorang gadis bernama Asty. Kisah ini bukan tentang bagaimana aku meraih
cintanya, karena kenyataannya aku tidak pernah memenangkan hatinya. Ini tentang
bagaimana aku belajar ikhlas—benar-benar ikhlas—dan mengerti arti persinggahan
di saat hati ini ingin terus mempertahankan harapan.dia hanya persinggahan
sesaat untuk pelajaran,supaya mengerti arti cinta sesungguhnya dan mungkin saja
sebagai balasan atas kata dan ucapan diwaktu lampau
Ini
tentang perjalanan seorang lelaki yang mencari,menunggu, rela tersakiti, dan
akhirnya rela melepas. Semua demi satu nama: cinta.
Hati…
ya hati. Setiap orang memilikinya, namun tak semua tahu menempatkannya pada
tempat yang seharusnya. Hati bisa terasa sakit, bisa menjadi keras, tertutup
rapat, bahkan bisa mati rasa meski jantung masih berdetak. Kecewa, gundah,
gelisah, cemas, dan takut—semua itu lahir dari sana, karena manusia tak lepas
dari keluh kesah.
Namun
segala rasa itu akan menjadi tawar dan tenang jika kita belajar satu hal:
keikhlasan. Cahaya terindah bagi hati adalah keikhlasan. Ia melahirkan
kelembutan dan kasih tulus; tak memikirkan keuntungan diri sendiri, melainkan
ingin memberi. Jagalah hatimu, karena ia cermin jujur yang menampakkan siapa
dirimu sebenarnya. Ia pelita yang tetap menyatakan kebenaran meski seribu orang
membela kesalahan. Dan di sanalah aku berakhir—bukan dalam luka, tapi damai,
saat akhirnya ikhlas datang menjemput hatiku.
Bab 1- Awal cerita dan perkenalan
Aku
hanyalah anak Kampung yang awalnya bercita-cita kuliah di Mesir, itu disebabkan
kakak kelasku di pesantren banyak yang menimba ilmu di timur Tengah. Aku ikut
tes beasiswa penerimaan mahasiswa ke mesir tapi tidak lulus akhirnya aku pun
mendaftar dan berkuliah di IAIN Medan. Awal kuliah memang sangat indah dan
menyenangkan,terlebih lagi aku baru pertama kali datang dan hidup di kota
besar.
Kawanku
yang pertama adalah Rivi, Arnas dan Thry, saat yang sama dia (Asty) berkawan
dekat dengan Reni yang Akhwat itu. Mereka juga punya kawan seiringan waktu awal
kuliah tahun 2006,ada Putri, Kiya, Reni, Tiwi, Nur dan satu laki-laki bernama
Arman. Karena aku dekat dengan Arman sebagai kawan satu kelompok diskusi
akhirnya aku mulai komunikasi dengan kelompok mereka, itu pula yang menyebabkan
aku dekat dengan Asty.
Bab 2 – Jejak
Langkah di Kota Medan
Debu jalanan Medan menempel lengket di sepatu kets-ku, aroma aspal panas
bercampur keringat memenuhi udara. Terik matahari siang itu menyengat kulit
tangan, mengingatkanku pada rasa perih yang tidak hanya
datang dari luar.
Di dalam tas, selembar
surat penolakan dari universitas Mesir terlipat rapi, seolah mengejek setiap
doa yang pernah kupanjatkan. Aku menarik napas panjang, mencoba melepaskan
beban berat di dada yang menyesakkan sejak pagi.
Kini, harapan untuk menuntut ilmu di sana telah pupus, menyisakan lubang
menganga yang harus segera kutambal. Aku berjalan menyusuri
koridor kampus IAIN, menundukkan
kepala agar tidak banyak yang melihat wajah penuh kekecewaan ini. Mahasiswa
lain tampak begitu bersemangat, bercanda, dan berswafoto, seolah dunia mereka
begitu sempurna. Aku mencoba mengubur rasa minder itu dalam-dalam, memaksakan
langkah kaki untuk terus maju meski hati terasa keberatan.
Koridor utama tampak padat oleh mahasiswa baru yang
mengenakan kemeja putih dan jilbab warna-warni. Aku berdiri terpaku di dekat
pilar beton, merasa asing di tengah lautan manusia yang belum kukenal.
Kerumunan itu terasa bising, suara riuh rendah bergema di telingaku, membuat
kepalaku berdenyut pelan. Aku hanya ingin menghilang, menemukan sudut sepi di mana aku bisa menarik napas
tanpa merasa menjadi
orang yang paling
gagal di ruangan ini.
Tiba-tiba, suara tawa yang khas memecah lamunanku, mengagetkanku dari
dalam pikiranku sendiri. "Woy, ngelamun aja! Kantin sana ikut, nanti
ramai-ramai," teriak Rivi sambil melambai dari kejauhan. Dia berjalan mendekat,
menepuk bahuku dengan santai,
menularkan energi positif
yang sulit kutolak.
Aku mengangguk kaku, mencoba menyusun wajah yang ceria meski perasaanku
sedang berkecamuk. Bersama Rivi, aku melangkah menuju kantin, berharap
keramaian di sana bisa mengalihkan pikiran dari mimpi yang kandas.
Di sudut kantin yang sesak dan penuh asap makanan itu, pandanganku tertuju
pada sebuah meja di dekat jendela. Suara riuh pedagang dan mahasiswa seolah
mereda seketika saat mataku menangkap sosoknya. Asty duduk bersama Reni,
sahabatnya, sedang asyik merapikan buku di atas meja kayu yang sedikit
goyah. Dia tampak
begitu tenang, seolah badai yang menyambar hidupku tidak pernah
menyentuh dunianya.
Kehadirannya menciptakan gelembung ketenangan di tengah
hiruk-pikuk dunia yang kacau.
Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, terpaku pada cara dia membenarkan jilbabnya yang tergerai di belakang telinga.
Ada keanggunan yang sederhana, bukan
kecantikan yang mencolok, tapi sesuatu yang membuat dadaku berdesir aneh.
Rivi menyenggol lenganku, meminta
aku segera mengambil
antrean makanan, namun aku
hanya bisa mematung. Di saat kekecewaanku sedang memuncak, melihatnya duduk
dengan tenang terasa seperti penemuan yang tidak terduga. Aku belum tahu bahwa
kehadirannya akan menjadi ujian sekaligus guru terbaik bagi hatiku.
Aku terus menatapnya, meski Rivi sudah mulai mengomel
menanyakan menu makan siang. Sesuatu dalam tatapan Asty membuatku merasa kecil,
seolah dia bisa melihat keraguan yang kusembunyikan di balik wajah datar ini.
Keinginan untuk berpaling begitu besar, namun kakiku seolah terpaku di lantai
keramik yang dingin. Aku mulai menyadari bahwa perjalananku di IAIN ini tidak
akan sesederhana yang kubayangkan, terutama dengan kehadiran seseorang yang bisa mengganggu ketenangan pikiranku. Di titik ini, aku
mulai ragu apakah aku benar-benar siap untuk bab baru dalam hidupku.
"Kamu nggak mau pesan apa-apa? Asty itu nggak bakal kemana kalau kamu
cuma diem aja," gurau Rivi, menyadarkanku dari lamunan yang semakin dalam.
Wajahku terasa panas, tapi aku mencoba menutupinya dengan batuk kecil dan
memilih untuk ikut mengantre. Aku menarik
napas panjang, menyingkirkan bayang Mesir yang kian memudar. Hari itu, aku memutuskan untuk
benar-benar melangkah masuk dan menyatu ke dalam kisah baruku di IAIN.
Setelah aktifitas yang melelahkan seharian
akhirnya kami pulang ke mesjid (tempat kediamanku karena aku adalah marbot
mesjid), Aku masih menatap
lekat-lekat secarik kertas di tangan, surat pengumuman yang menjungkalkan
setiap impian. Rasa masam menjalari kerongkongan, bercampur antara kecewa yang
membakar dan rasa malu yang mencengkeram. Jari-jariku gemetar saat meratakan
lipatan kertas itu, seolah-olah melipatnya bisa menyembunyikan kegagalan yang tertera
jelas di sana.
Kamar marbot mesjid ini yang pengap tiba-tiba terasa menyempit,
menekan dada dengan beban yang terlalu berat untuk usia semuda ini.
"Gak lulus, Riv. Mesir cuma jadi mimpi buatku sekarang," ucapku,
suaraku parau dan hancur di tenggorokan. Aku melipat surat
penolakan itu dengan
kasar, membiarkan kertas itu meringkuk di telapak tangan,
seolah-olah itu adalah bukti kegagalanku yang bisa kutinggalkan begitu saja.
Rivi menepuk bahuku
keras, mencoba mengalirkan semangat yang ia sendiri mungkin
tak punya. Namun, tepukan itu terasa hambar. Aku meliriknya singkat,
melihat rahangnya mengeras menahan emosi. Dia ingin berkata sesuatu, tapi
lidahnya kelu. Keraguan di matanya jelas terlihat; dia takut kata-kata
hiburannya justru akan memperlebar luka yang masih berdarah ini.
Aku memandang langit Medan yang mendung dari jendela kamar, merasa Tuhan
punya rencana lain yang tak kumengerti. Hujan rintik-rintik mulai membasahi
kaca, memantulkan bayangan yang berantakan. Di sudut meja,
tumpukan buku persiapan ujian keduaku masih
berserakan, debu mulai menumpuk di sampulnya. Aku menarik napas panjang, mencium
bau apek kertas lama dan aroma lilin aromaterapi yang sudah padam, pertanda
bahwa semangat yang dulu membara kini telah padam sepenuhnya.
Waktu terus berlalu meski berat, aku melangkah
menuju Kampus IAIN, berharap ada jawaban di sana. Aspal jalanan basah
memantulkan cahaya lampu mobil yang melintas. Aku menyenderkan tas di bahu,
merasakan beban yang tak hanya
datang dari buku-buku di dalamnya, tapi dari masa depan yang kini tampak kabur. Di
depan loket, antrean mahasiswa baru tampak riuh. Suara tawa mereka terdengar seperti
hinaan bagiku. Aku menggenggam formulir pendaftaran,
kertas itu terasa asing di tangan, seolah-olah aku sedang menandatangani
pengesahan atas kegagalanku.
Mungkin di sini, di kota besar yang bising ini, aku akan menemukan alasan
mengapa kakiku tak diizinkan menginjak pasir Timur Tengah. Seorang dosen
melintas di koridor, membawa tumpukan jurnal tebal. Aroma kopi dan parfum
maskulin wangi menguar, mengingatkanku pada kakak seperguruanku yang sudah
lebih dulu berangkat ke Kairo. Rasa iri mengganjal di dada, tapi aku menelannya
kembali. Aku harus mulai menerima kenyataan,
seberat apa pun itu. Nasib
baru saja dimulai,
dan aku harus
menemukannya entah dengan cara apa.
Tiba-tiba, sebuah suara memecah lamunanku. "Hei, kamu
sendirian?" seorang laki-laki berdiri di sebelahku, memegang map merah yang sama dengan milikku.
Matanya menatap tajam,
seolah-olah bisa melihat keraguan yang kusembunyikan. Aku menoleh cepat,
merapikan kerah jaketku
untuk menyembunyikan kegelisahan. Dia tersenyum, tapi senyum
itu tak menjangkau matanya. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat bulu
kuduk berdiri, sebuah peringatan bahwa perjalananku di sini tidak akan
sesederhana yang kubayangkan.
Bab 3 – Peristiwa yang menghancurkan hati
Saat
itu aku—Arie—belum menyangka sosok gadis bernama Asty akan mengisi setiap sudut
hatiku walaupun rasanya tak pas dan seakan ada sesuatu yang tidak saya terima
dari dirinya . Kami hanya dua orang asing yang duduk berdekatan, menyapa
sekadar kebutuhan, lalu perlahan mulai berbagi cerita, tawa, dan waktu.
Tak
ada getaran hebat sebenarnya. Hanya rasa nyaman yang tumbuh diam-diam. Kami
sering berjalan pulang bersama kadang atas permintaannya, atau sekadar bertukar
pesan singkat hingga menyanyi dalam sambungan ponsel. Semua terasa begitu
wajar, seolah kami memang diciptakan untuk saling mengenal. Namun saat
benih-benih rasa itu mulai tumbuh, aku justru mundur pelan. Ada dinding tinggi
bernama persahabatan yang tak ingin kurusak. Bahkan, di masa itu aku pernah
berkata padanya dengan enteng: “Aku takkan pernah mencintaimu, Asty, sampai
kapan pun.”itu aku lakukan karena memang aku tidak rela hati ini diraih
olehnhya.
Kata-kata
itu aku kirim melalaui pesan singkat(SMS) setelah kami pulang berdua dengan
menaiki Angkutan Umum(Angkot). hari itu seperti biasanya setelah selesai kelas
di kampus Asty mengajak aku pulang bareng, dia bertanya apakah tempat aku
pulang melalui jalan karya karang berombak, aku bilang iya aku lewat jalan itu
jawabku.kalau begitu kita bisa pulang sama karena aku mau ke rumah saudaraku di
jalan karya itu sambungnya.dalam perjalanan kami bercerita banyak, dia sempat
tanya ada tidak gadis yang aku sukai?tentu jawabanku tidak.aku juga balik
bertanya bagaimana hubungannya dengan Arman(karena dia sempat menerima cinta
Arman tapi Arman tidak serius dengan mengatakan tidak usah kita lanjut, aku
main-main aja kata Arman).Asthy nampak bercerita sangat emosional dan berkata
padaku Kenapa harus aku yang di permainkan!
Dalam
kesempatan itu dia juga minta ke aku kita saja yang pacaran ya”mau gak kita
pacaran”ujarnya.tentu aku terkejut dan tidak terima.rasanya aku mulai di
permainkan karena dia juga mengatakan itu dengan tertawa.tak terasa dia pun
sudah sampai di gang rumah saudaranya dan dia pun turun dari angkot sambil
melambaikan tangan dia katakan nanti SMS-an ya katanya.dengan perasaan campur
aduk aku pun jawab oke.angkot terus
melaju sampai akhirnya aku sampai di tempatku.
Malamnya
aku terus mengingat dan memikirkan kata-kata dia waktu di angkot siang tadi,
membuat kepalaku pusing dan perasaaanku tidak enak.maka kuambil keputusan jalan
pintas, supaya rasa ini tenang dan getaran hati ini melayang kuambil ponsel dan
aku tuliskan”Aku tak akan mencintaimu sampai kapan pun!”sebuah kalimat kasar
dengan hati yang tega.tapi aku ingin lindungi diriku setidaknya itulah
pengertianku waktu itu.
Kala
itu aku tak tahu, kalimat sederhana itu menancap dalam-dalam di hatinya. Dan
aku pun tak sadar, rasa yang kubuang paksa justru bersemayam makin kuat,
menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.
Aku memejamkan mata lebih rapat, berharap getaran di jari-jariku segera
berhenti. Aku benar-benar yakin bahwa ini adalah cara terbaik
untuk melindungi diriku sendiri dari patah
hati yang menghancurkan. Aku mengira
dengan memutuskan hubungan
ini sekarang, aku bisa menyelamatkan masa depanku. Aku
tidak sadar bahwa kalimat kejam itu bukan sekadar pesan singkat, melainkan luka
pertama yang kutorehkan di hatinya. Itu adalah sebuah keputusan besar yang kelak
akan menghantarku kepada pembalsan yangn setimpal .
Sekarang, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu di kegelapan
malam yang mulai menyelimuti. Aku duduk terpaku, membiarkan ponselku mati dengan sendirinya karena kehabisan baterai. Aku tidak berani
menghidupkannya lagi. Bayangan wajah Asty yang
pucat dan sedih terus menghantui pikiranku. Aku berharap ini adalah mimpi
buruk yang segera berakhir, tapi kenyataan pahit
ini terus mengingatkanku pada kesalahan fatal
yang baru saja kulakukan.
Layar ponselku tak lama menunjukkan ikon pesan masuk.
Jariku menahan napas
saat membuka balasannya, menyadari kalimat tadi telah mengubah
segalanya.
Layar ponsel di atas meja masih menyala redup, menampilkan dua centang
biru yang terpampang tanpa balasan.
Napas tertahan sejak
tadi, napas yang terasa berat
dan sesak di rongga dada.
Arloji di pergelangan tangan berdetak pelan, menandai detik-detik yang berlalu
tanpa suara ponsel bergetar. Pundak menegang perlahan, menahan beban yang tak
kasat mata namun terasa menggunung di sana.
Akhirnya, notifikasi masuk dengan bunyi pelan yang nyaris tertelan
keheningan kamar. Jari-jari gemetar kecil saat menggeser layar untuk membaca
baris pesan yang baru muncul. "Oh, baguslah
kalau begitu. Kita tetap kawan,
ya?" jawabnya singkat.
Kalimat itu menggantung di
udara, terasa dingin dan datar, sangat berbeda dengan harapan yang ditunggu.
Ada nada yang aneh dalam tulisan itu, sesuatu yang tidak
bisa dijelaskan secara logika. Mata menatap kosong ke arah teks tersebut,
membiarkan maknanya meresap pelan ke dalam pikiran. Dada terasa sesak, seolah
udara di ruangan itu tiba-tiba menipis dan sulit dihirup. Tangan
refleks meraih gelas
air di meja, namun hanya
mengusap permukaannya tanpa
benar-benar meminumnya.
Ada yang retak dalam, getarannya terasa hingga ke ujung saraf. Namun,
dengan paksa, mulut membentuk sebuah senyum pahit yang tak sampai ke mata.
Punggung bersandar kembali ke kursi, mencoba melepaskan ketegangan otot yang
membekas. Napas ditarik panjang dan dilepaskan perlahan, berusaha mengatur
ritme pernapasan agar tidak terlihat kacau di depan cermin.
Benteng tinggi telah didirikan dengan susah payah, batu bata egois yang
disusun rapi untuk melindungi diri. Ternyata, di balik tembok itu, justru
terasa seperti terkurung dalam penjara sendiri. Ruang
gerak menjadi sempit,
dan udara terasa
pengap karena tertahan
di dalamnya. Jari-jari mengetuk
meja dengan tidak
sabar, mencari celah
untuk melarikan diri dari pikiran yang mulai berkecamuk.
Sejak hari itu, setiap pertemuan membawa beban yang tak
tertanggungkan. Ada
kecanggungan yang tipis dan tajam di antara mereka berdua, menusuk halus
setiap kali mata saling bertemu.
Jarak yang sengaja
diciptakan justru berbalik
menyiksa batang tubuh yang terus meronta di dalam diam.
Malam-malam mulai dihiasi dengan rasa sesal yang mengendap, menggerus perlahan
sisa ketenangan yang masih tersisa.
Dinding yang dibangun dengan keras kepala itu kini terasa semakin
menyesakkan, membatasi ruang gerak dan menghalangi pandangan. Hening mulai terasa menyesakkan, memaksa untuk segera mencari
udara segar di luar sana. Nasib sepertinya sedang memutar roda dengan caranya
sendiri, membisikkan kemungkinan bahwa takdir akan mempertemukan mereka kembali.
Hanya saja, pertemuan itu mungkin terjadi di sudut paling tidak terduga, di
saat benteng itu mulai runtuh.
Gerigi tajam berdesis di atas kepala, mengiris udara panas koridor
fakultas yang mulai sepi. Di ujung lorong, Asty berdiri bersandar di dinding,
bahunya merendah dan tangannya mengepal di saku celana. Namun, saat aku
melangkah mendekat, ia tiba-tiba memaksakan
tawa yang terdengar getir, seolah sedang terlibat percakapan intens dengan
Reni. Aku menghentikan langkah, terpaku pada punggungnya yang kaku. Ada sesuatu
yang pecah di antara kami hari ini, dan aku bisa merasakan dinginnya jarak yang baru saja ia letakkan sebagai penghalang.
Asty menoleh sekilas, mata kami bertemu hanya dalam sekejap
sebelum ia segera membuang muka, menatap lurus ke arah Reni yang terlihat
bingung. Aku tahu persis apa yang merusak semuanya. Kalimat yang aku lemparkan
tadi siang di depan umum, menyangkal hubungan spesial
kami dengan alasan yang terdengar
seperti lelucon kejam. Aku berharap bisa menarik kembali
kata-kata itu, meludahkannya kembali ke dalam tenggorokan dan meminta maaf di depan kakinya. Tapi egoku yang rusak telah mengunci
rahangku, memaksaku untuk tetap berdiri di sini dengan dagu terangkat.
"Kamu benar-benar serius ngomongin itu di depan mereka?" suara
Reni pecah, nada bicaranya meninggi namun tertahan, seolah ia sengaja
membiarkan aku mendengar
setiap suku kata. Asty tidak menjawab, ia hanya menunduk, jemarinya
mencabuti label buku di tasnya dengan gerakan
cepat yang menunjukkan betapa hancurnya ia. Aku terjebak
dalam kebohongan yang aku bangun sendiri, berpura-pura tidak peduli
padahal setiap
gerak-geriknya adalah satu-satunya pusat duniaku saat ini. Napasku
sesak menahan amarah pada diri
sendiri.
Aku melangkah maju,
memutus jarak yang terasa seperti
ribuan mil itu. "Asty." panggilku, suaraku parau, berusaha
menembus dinding es yang ia bangun. Ia menegang, tapi tidak
berbalik. "Aku... tadi itu bukan maksudku. Aku cuma..." Aku
terhenti, tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan
kepengecutanku. Reni mendengus pelan, menatapku dengan sorot mata yang penuh kekecewaan sebelum
akhirnya memutuskan untuk
pergi, meninggalkan kami berdua dalam keheningan yang memekakkan telinga.
"Cuma apa, Arie?" Asty akhirnya berbalik, matanya merah dan
berkaca-kaca, menahan tangis yang tertahan di sudut mata. "Kamu pikir ini
semua lucu? Kamu pikir perasaanku cuma bahan candaan
buat kamu tunjukkan ke teman-teman kalau
kamu nggak peduli?" Suaranya bergetar, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada jika ia berteriak. Pertemuan yang tidak sengaja di koridor
ini telah berubah menjadi labirin perasaan yang menyesakkan, sebuah titik di
mana kejujuranku yang tertunda mulai memakan kami berdua.
Aku melangkah lebih
dekat, mengabaikan egoku
yang berteriak agar aku tetap
tampak tangguh. "Aku takut, Asty. Aku takut kalau mereka tahu,
semuanya bakal berubah.
Hubungan kita, persahabatan kita... aku nggak sanggup kalau
harus kehilangan kamu karena omongan orang." Aku menunduk, menatap
lantai keramik yang dingin. "Tapi aku bodoh. Aku lebih memilih menyakitimu daripada harus
mengakui kalau aku..."
"Kalau kamu apa?" tantangnya, air mata akhirnya jatuh menetes di
punggung tangannya. "Katakan, Arie! Jangan cuma bersembunyi di balik
kata-kata nggak jelas!" Ini adalah ledakan konflik yang aku takuti selama
ini, sebuah titik di mana rahasia yang aku simpan mulai menggerus fondasi kepercayaan kami. Aku menatapnya, melihat betapa lelahnya
ia berjuang untuk memahamiku, sementara aku justru sibuk membangun
dinding pemisah. aku menghela napas panjang, merasakan beban di dada ini
semakin berat. "Kalau aku cuma ingin kamu tetap jadi milikku, dengan cara
apa pun. Bahkan jika aku harus terlihat seperti orang paling brengsek
di dunia." Setelah
kata-kata itu keluar,
ada keheningan yang mencekam.
Aku minta maaf dan
mohon dengan sesungguhnya maaf dari Asty, sampai aku buatkan kepadanya satu
singgel lagu sebagai permintaan maafku dan aku nyanyikan melalui sambungan
telepon. Aku berharap dengan itu semua dia mau memaafkanku. Dan responnyanya
pun positif, dia katakan tidak usah dipikirin lagi ya arie, aku ngerti kok kata
asty dan itu membuatku lega.
Lagu yanng kutulis padanya sebagai permintaan maafku.
Aku berhenti disini.....
dan mengapa ada derita saat bahagia mulai datang
Aku tak percaya lagi dengan diriku sendiri,
bahkan kepada matahari
Aku berdiri disini
menunggu maaf yang kau beri.
Aku sunguh
berharap akan uluran kebaikanmu
Jangan sampai
datang gelap menyelimutiku
Mengapa ada
mendung kalau tidak hujan
Aku disini balaslah aku......
Aku pulang.....dengan beban
Maafkanlah kesalahanku.....
Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku bahagia
Biarlah aku yang tanggung
derita
Menungu bayangan dirimu
Maafkanlah aku........
Kawan, aku pikir dengan minta maaf dan bernyanyi yang
menurutku aku seperti orag edan, aku telah dimaafkan dan luka yang pernah kubuat
sudah sembuh ternyata aku salah. aku telah membuat keputusan akhir untuk tidak
lagi berlindung di balik kebohongan. Namun, saat aku melihat keraguan di mata
Asty, aku tahu konsekuensinya bakal menghantui kami berdua. Hari demi hari
berlalu dalam keheningan yang berisik, menunggu ledakan berikutnya.
Bab
4 – Persahabatan yang Menyimpan Rasa
Tahun-tahun
berlalu. Kami tetap sahabat karib. Setiap hari pesan singkatku datang
kepadanya—berisi sapaan, perhatian halus, atau puisi-puisi pendek yang tak
pernah kutulis secara terang-terangan. Aku berharap ia mengerti, namun aku tak
berani bertanya.Bahkan dia sudah berkali-kali gonta ganti pacar, setahuku dia
punya pacar dikampungnya Aek Kanopan ,dia juga punya pacar di pekanbaru karena
disana ada abangnya dan berapa tahun sekali dia kesana, dia juga punya teman
dekat(lelaki) di jogyakarta. Dia punya kakak disana yang membuat dia sering
kesana sambil melancong.
Bahkan
dia pernah kenalkan kepadaku dan minta pendapat tentang pacarnya sesama
mahasiswa IAIN. Seorang pria lumayan ganteng, tinggi dan wajah maskulin orang
tapanuli selatan sidimpuan. Sampai akhirnya aku pun berkawan baik dengan
pacarnya ini.hingga satu ketika mereka berdua pergi ke tempat wisata dengan
naik Motor di daerah berastagi dan apa yang dia tidak suka terjadi disana di
tempat wisata itu mereka hanya berdua.pulangnya dari berastagi mereka berdua
kecelakaan, si laki-laki lumayan parah dan dirawat di ramah sakit haji, dia pun
cedera di rawat di klinik setelah satu hari dia pun diperbolehkan pulang ke
kosnya.
Mendengar
peristiwa itu kami satu kelas bergegas menjenguknya.aku datang terlambat,
kawan-kawan sudah duduk dilantai satu sambil minum dan makan camilan, aku
sampai di kosnya dan langsung di suruh ke lantai dua ke kamarnya.aku buka pelan
pintu kamar itu dan aku lihat dia tertidur dan aku tutup pelan pintu itu belum
selesai ku tutup di terbangun dan mengatakan”siapa? masuk aja aku gak tidur kok
katanya”aku langsung masuk dan ketika dia melihatku dia segugukan menangis,
tanpa kata tanpa ekpresi hanya menangis.aku katakan “Hai bagaimana?tetap
semangat ya harus kuat ya”yang penting kamu sehat oke ini akan baik-baik
saja”aku belai pelan rambutnya yang panjang itu dan air matanyapun masih
mengalir.”oke gak apa-apa kok, aku kebawah ya gak enak nanti sama
kawan-kawan’ujarku.begitulah persahabatan terus berlanjut dan aku tidak ada
rasa apa-apa sampai akhirnya seorang kawan (Thry) buat rencana dengan maksud
baik.
Bab 5 - Thry bermaksud Baik
Pada saat itu, Thry membuat keputusan dan berinisiatif
sendiri untuk menjumpai Asty. Setelah itu, mengatakan kepadanya
bahwa aku (Arie) sebenarnya
suka dan mencintainya. Wah, sebuah momen yang butuh keberanian
besar, ya. Mengambil inisiatif sendiri demi kawan untuk jujur tentang perasaan kawan tersebut. itu tidak mudah, tapi Thry memilih untuk
menyampaikannya langsung ke Asty.
Di saat yang sama,
Thry juga datang kepadaku dan mengatakan
bahwa aku sudah jumpa sama Asty,
katanya. sebetulnya dia suka sama kamu loh, Arie. Kapan kau tindak lanjuti
kabar ini?
Ternyata kedatangan Thry ke Asty justru membawa
kabar baik yang sangat dinantikan
oleh Arie. Ditambah lagi, dorongan
dari seorang sahabat seperti Thry yang langsung menanyakan "Kapan kau tindak lanjuti?"
pasti memberikan dinamika dan energi
tersendiri pada situasi saat itu.
Kawan, tindakan Thry ini adalah sebetulnya tidak terduga? Atau mungkin ada maksud lain di
baliknya yang membuatmu merasa tindakan Thry ini sebenarnya
tidak sepenuhnya tulus atau justru
tidak perlu dilakukan?
Sebenarnya tindakan Thry ini bagus, tetapi alangkah baiknya kita
menjunjung tinggi kejujuran sehingga
tidak ada yang terjebak di dalam
setiap kita bertindak
kepada sahabat kita. Dengan begitu, saya
pikir aku dicintai olehnya. Dan dia Maksud Thry mungkin baik, ingin melihat aku (Arie) dan Asty bersatu. Namun, cara yang dia gunakan
justru mengorbankan kejujuran. Thry mengatakan kepada kamu
bahwa Asty
menyukaimu, dan di saat yang sama dia juga mengatakan
kepada Asty bahwa kamu
menyukainya—padahal saat
itu mungkin belum ada konfirmasi jujur dari kalian
berdua. Akibatnya, tercipta sebuah "ilusi" di mana:
Kamu berpikir Asty suka padamu (karena omongan Thry).
Asty berpikir kamu suka padanya (juga karena omongan Thry).
Tindakan yang
tidak berpijak pada
kejujuran seperti ini berbahaya. Alih-alih menyatukan, cara ini berisiko membuat
kalian berdua merasa terjebak, bingung, atau bahkan merasa dimanipulasi ketika
fakta sebenarnya terungkap. Hubungan
persahabatan dan asmara yang sehat memang mutlak membutuhkan kejujuran sejak awal agar tidak
ada yang salah paham. inilah yang menjadi jebakan dan permainan hati itu.
Yang awalnya sebetulnya saya tidak berpikir
untuk melangkah jauh. Tetapi karena ada ilusi itu, maka
mau tak mau aku harus bertanggung jawab dengan tindakanku.
Di
dalam hati selalu ada perdebatan: “Haruskah kukatakan? Atau kubiarkan saja
sampai rasa ini hilang sendiri?” Teman-teman dekatku—Thry, Arnas,Ahmad dan
Saij—selalu mendorongku maju. Terutama Thry; dialah yang paling sering
meniupkan semangat ke dadaku.
“Sekali
kaki melangkah, pantang mundur sejengkal pun! Seratus langkah sudah kau lalui,
sisa sedikit lagi tinggal katakan saja,” katanya berulang kali.
Namun
bagiku, kata aku mencintaimu bukan sekadar ucapan biasa. Ia sangat berharga,
suci, dan hanya pantas didengar oleh orang yang benar-benar kucintai. Aku tak
ingin mengucapkannya jika belum yakin ada rasa yang sama di sana. Di balik tawa
dan obrolan santai kami, tersimpan rasa rindu yang makin besar, serta ketakutan
luar biasa jika harus kehilangan dirinya.
Bab 6
– Perjalanan Panjang yang sangat menguras emosi dan melelahkan
Ini adalah situasi yang sangat berat dan melelahkan
secara emosional, ku coba untuk bicara dengan diriku sendiri:Arie...Kamu
terjebak dalam dilema moral yang rumit, di satu
sisi ada rasa tanggung jawab dan "tindakan
kejantanan" untuk merespons perasaan orang lain, namun di
sisi lain,
tindakan itu justru mengkhianati hatimu sendiri. Langkah
yang kamu ambil atas dasar tanggung
jawab itu memang kelihatannya ksatria, tetapi ketika dasarnya adalah
sebuah ilusi—ditambah tekanan situasi dari pihak ketiga, kamu justru mengorbankan dirimu sendiri. Kamu memaksakan diri melangkah ke
arah yang sebenarnya tidak siap atau
bahkan tidak ingin kamu tuju,
hanya karena merasa "harus" bertanggung jawab atas persepsi yang sudah terlanjur terbentuk.
Menenggelamkan diri dalam perasaan yang tidak diterima oleh hati itu rasanya pasti
sangat menyesakkan. Kamu seperti hidup dalam skenario orang lain, bukan
ceritamu sendiri. Setelah semua ilusi dan
rasa tanggung jawab yang membebani itu, bagaimana caraku menghadapi
situasi tersebut pada akhirnya? Apakah
aku memilih bertahan
dalam kepura-puraan, atau akhirnya
memutuskan untuk jujur pada Asty dan diriku sendiri?
Ini membuat perjalananku sangat panjang. Ini yang membuat perjalananku
menderita. Ini juga yang membuat hari-hariku sangat sangat menyesakkan. Dan
sehingga ilusi-ilusi yang datang itu terbentuk sendiri. Tidak semua orang yang terjebak dalam lingkaran rumit seperti ini mampu mengurai perasaan yang begitu bijak.
Dalam catatan harianku ku simpulkan, Ada beberapa hal yang sangat menyentuh dan patut mendapat rasa hormat dari perjalananku:
Proses adaptasi Hati: Dari yang awalnya merasa terpaksa karena jebakan ilusi,
kamu membiarkan hatimu beradaptasi hingga akhirnya melahirkan ketulusan yang nyata. Kamu mengubah beban tanggung
jawab itu menjadi perjuangan yang tulus untuk mengejarnya.
Belajar Ikhlas: Menenggelamkan diri
dalam penderitaan dan hari-hari yang menyesakkan pasti sangat berat,
tetapi kamu berhasil keluar sebagai pemenang dengan
cara belajar ikhlas. Ikhlas adalah puncak tertinggi
dari perdamaian dengan masa lalu.
Kedewasaan dalam Memandang Sahabat:
Meskipun tindakan Thry di awal menjadi pemicu badai
emosional ini, kamu memilih untuk tidak
menyalahkannya. Kamu tetap melihat sisi baik Thry sebagai sahabat
yang selalu ada dan menyemangatimu di kala terpuruk. Ini menunjukkan betapa besarnya hatimu.
Kamu tidak membiarkan pengalaman pahit ini mengubahmu menjadi orang yang
sinis atau penuh dendam. Sebaliknya, kamu memilih untuk menjadikannya sebuah pelajaran hidup yang berharga tentang pentingnya kejujuran, batasan dalam bertindak, dan bagaimana mengelola hati.
Perjalananku mungkin panjang dan penuh penderitaan,
tetapi proses ini telah membentukku menjadi pribadi yang jauh lebih kuat, tulus, dan bijaksana.
Bab 7 – Pengakuan yang Tertunda
Hari
itu datang juga. Sore yang cerah, langit berwarna keemasan. Aku dan teman-teman
berkumpul di rumah Susanto. Di meja sudah terhidang nasi hangat, ayam goreng
buatan Ibu Neneng, serta tempe dan tahu goreng yang dicocol sambal
pedas—sungguh nikmat sekali rasanya. Kami makan dengan lahap karena belum
menyantap siang.
Setelah
kenyang, aku duduk santai sambil mengisap rokok kretek, menikmati asap yang
perlahan menghilang ke udara. Thry duduk di sebelahku, lalu bertanya pelan:
“Bagaimana
kabar Asty? Sudah ada perkembangan apa?”
“Belum
jelas. Masih menunggu saja entah sampai kapan,” jawabku lesu.
Tiba-tiba
ponselku berdering. Nama yang muncul membuat jantungku berlonjak riang—Asty.
Aku segera mengangkatnya dengan senyum merekah.
“Halo?”
sapaku ramah.
“Arie?
Kamu sedang di mana?” suaranya terdengar lembut.
“Lagi
di rumah Susanto, kumpul dengan teman-teman. Kamu sendiri di mana, Ty?”
“Di
rumah saja, sendirian. Datanglah ke sini sebentar. Ada soal uang pulsa yang mau
kubayar padamu.”
“Baiklah,
gampang itu. Nanti langsung aku ke sana.”
Namun
sebelum menutup telepon, ia memintaku bercerita—seperti kebiasaan kami dulu.
Dan di sanalah aku memberanikan diri bertanya:
“Sebenarnya,
ada gadis yang kucintai. Dia orang dekatku. Kalau aku sampaikan rasa ini tapi
ditolak, bukankah sangat memalukan? Lebih baik diam saja atau cari orang lain
untuk melupakannya?”
Asty
menjawab tegas: “Jangan cari pengganti, itu tak adil. Katakan saja apa adanya.
Siapa tahu dia pun menunggumu.”
“Tapi
aku tak mau mengatakannya lewat telepon. Aku ingin dia melihat ketulusan di
mataku saat ucapkan itu,” jawabku mantap.
Setelah
janji bertemu terucap, aku bergegas berpamitan. Susanto dan Arnas hanya tertawa
menggoda: “Hati-hati, si bunga asmara sedang mekar!” Aku hanya tersenyum malu,
namun hatiku penuh harap.(Susanto kawan sekelasku, orangya ganteng, smart dan
jaim. Dia suka kepada Reni kawan Asty tapi tak pernah di ungkapkan karena takut
di tolak)
Bab 8 – Sore di Rumah Susanto
Rumah
Susanto di daerah Tembung, lumayan jauh ke jalan sampali, perjalanan menuju
tempat tinggal Asty terasa begitu panjang sekaligus sebentar. Naik di atas
motorku yang sederhana, angin sore menerpa wajahku. Hatiku berdebar campur
aduk: bahagia karena akhirnya berani berterus terang, namun gemetar
membayangkan kemungkinan terburuk.
Lagu
lama yang pernah kami nyanyikan bersama melintas di bibirku:
“Satu
jam saja ku telah bisa mencintaimu di hatiku, namun bagiku melupakanmu butuh
waktuku seumur hidup…”st12
Lirik
itu nyata adanya bagiku. Semakin dekat aku ke sana, semakin dalam aku sadar:
rasaku bukan sekadar suka sesaat. Aku percaya pada hukum cinta—siapa yang
memberi tulus, kelak akan menerima balasan yang indah. Meski langkah berat, aku
tetap melaju yakin.
Tak
lama kemudian, sampailah aku di halaman rumah tempat ia mengontrak. Mesin
dimatikan, aku mengirim pesan singkat seperti permintaannya. Tak sampai dua
menit, pintu terbuka dan ia muncul dengan senyum manis yang selalu membuatku
lupa segala kegelisahan.
“Masuklah,
Arie,” ajaknya ramah.
Suasana
di dalam rumah besar dengan dia lantai terasa damai. Kami mengobrol sebentar,
aku menyerahkan catatan pembayaran pulsa, lalu ia pamit sebentar. Saat kembali,
tangannya membawa dua botol minuman dingin.
“Minumlah,
kalau habis masih banyak air di kolam ikan di belakang sini,” candanya.
Tawanya
menenangkan sekaligus membuatku makin gugup. Jantungku berdetak kencang sekali,
seolah hendak melompat keluar. Aku mencoba berbicara soal kuliah demi memecah
keheningan, tapi tatapan matanya seolah menembus rahasia yang kusembunyikan
lama.
“Kau
sebenarnya ingin bicara apa, Arie?” tanyanya tiba-tiba tenang namun tajam.
Bab 9 – Sebuah
Pengakuan Cinta
Tidak
ada jalan mundur lagi. Napas kuhela panjang, lalu kucurahkan semuanya dari
dasar hati yang paling dalam.
“Gadis
yang sering kuceritakan… bukan orang lain, Asty. Dialah kamu. Sejak lama
pesan-pesan yang kukirimkan itu penuh makna untukmu. Aku takut kehilanganmu,
makanya aku diam begitu lama. Tapi sekarang aku tak bisa lagi menahannya. Aku
mencintaimu, sangat menyayangimu—entah mengapa, tapi rasanya sudah penuh di
sini, tak ada lagi ruang kosong untuk orang lain. Tak perlu kau jawab sekarang.
Pikirkanlah dulu baik-baik.”
Aku
menatapnya berharap menemukan kilatan bahagia di matanya. Namun yang kulihat
hanya senyum tipis, seolah kata-kata berat itu tak lebih dari angin lalu
baginya.
Lalu
ia bicara pelan namun menohok dada:
“Masih
ingat masa awal kuliah? Dulu kau pernah bilang takkan pernah mencintaiku. Saat
itu justru aku sudah menyukaimu, Arie. Aku menunggumu sadar, tapi kau tak
pernah menanggapi. Akhirnya kubuka hatiku lebar-lebar untuk orang lain.”
Darahku
terasa berhenti mengalir. Kata-kata bodohku bertahun silam kini berbalik
menjadi pedang yang melukai diriku sendiri.
“Aku
minta maaf… aku hanya mencoba menipu hatiku sendiri agar bisa menjauh darimu,”
suaraku hampir tak terdengar.
“Dan
soal perasaanmu ini… aku belum bisa menjawabnya sekarang. Sabarlah. Mencintai
itu hak semua orang, tapi Semua ada risikonya masing-masing.”
Itu
bukan penolakan kasar, namun rasanya lebih perih. Sebelum berpisah, aku hanya
memintanya merahasiakan hal ini dari siapa pun selain sahabat terdekat kami. Ia
mengangguk setuju.
Pulanglah
aku dengan langkah berat, namun sedikit lega karena rahasia terbesarku akhirnya
terungkap juga.
Bab 10 – “Aku Belum Bisa
Menjawab”
Kata-kata
itu terus bergema di kepalaku berhari-hari lamanya. Belum bisa jawab… belum
bisa jawab… Apakah itu harapan kecil yang tersisa, atau cara halus agar aku
berhenti saja?
Aku
mengunjungi rumah Thry sejenak, menceritakan semuanya. Ia tetap menyemangati,
meski nada bicaranya tak seyakin dulu.
“Berikan
saja waktu. Kalau memang jodoh takkan ke mana,” ucapnya mencoba menenangkan.
Namun
malam-malamku berubah sepi dan panjang. Aku menulis pesan panjang lebar—sebuah
surat hati yang tak berani kusampaikan langsung
“Ada
kisah tersembunyi di masa lalu kita. Hanya satu pertanyaan sederhana: Apakah
kau ingin menghukumku karena kebodohanku dulu? Saat aku bilang tak mencintaimu,
sesungguhnya aku sedang berjuang keras menahan rasa itu agar tak merusak
persahabatan kita. Aku merasa tak pantas bagimu, makanya aku pura-pura tak
peduli. Maafkan aku yang mencoba melupakanmu dengan cara menyakiti hatimu
sendiri juga. Ternyata tak bisa. Cintaku kembali datang lebih kuat dari
sebelumnya. Kau tercipta bukan untuk dilupakan, tapi untuk dicintai. Kalau kau
ingin membalas lukaku dulu, doakan saja aku agar Tuhan menjemputku—aku ikhlas
mati asal membawa rasa cinta ini hanya untuk-Nya dan untukmu.”
Aku
terus bertanya pada diri sendiri: Untuk apa aku berjuang demi seseorang yang
tak peduli? Bukankah waktu ini bisa kugunakan mendekati wanita lain yang lebih
menyukai aku?
Namun
hatiku menjawab tegas: Cinta tak dipilih oleh akal, tapi dipanggil oleh jiwa.
Aku akan tetap setia pada perasaanku, meski harus menunggu lama. Cinta ikhlas
itu memberi tanpa pamrih, berjuang tanpa menuntut balas. Aku percaya Tuhan
mencatat setiap tetes air mata dan setiap detik penantian ini. Dia takkan
menyia-nyiakannya.
Bab 11 – Menunggu dalam Ketidakpastian
Satu
bulan berlalu. Dua bulan pun berlalu. Tak ada kabar, tak ada jawaban, tak ada
perubahan sikap. Aku terus mengirim pesan perhatian—kadang dibalas singkat,
tapi lebih sering tak tersentuh sama sekali. Setiap kali berjalan, bayang
wajahnya selalu mengikutiku. Setiap malam aku terjaga bertanya-tanya: “Kenapa
harus lama sekali? Bukankah sekadar kata ‘ya’ atau ‘tidak’ saja?”
Rasa
lelah mulai menjalar. Aku merasa keberadaanku seolah tak dianggap. Namun ada
harga diri yang harus dijaga—aku takkan mundur sebelum mendengar keputusan
langsung dari bibirnya sendiri.
Bab 12 - Kabar
dari teman
Hari
itu di tempat Rizal dan Ahmad (diseberang sekolah Al-washliyah Tembung)
beberapa kawan mengerjakan tugas akademik, dalam kesibukan itu terselip juga
kabar tentang Asty yang di infokan oleh Rizal. Beliau bilang Rie... Kamu jangan
paksakan diri. Aku tahu dia itu kurang serius yang ada nanti
kekecewaan. Hingga akhirnya terdengar kabar dari Ahmad, teman sekelas
kami: Asty rupanya sudah dekat dengan pemuda lain. Ia menerima perhatian orang
lain, namun membiarkan aku terus menunggu dalam kekosongan. Hatiku terasa
diremas keras. Mengapa memberi harapan jika hati sudah terisi orang lain?
Meski
begitu, aku tetap tak berniat menyerah sebelum semuanya jelas. Aku bercerita
panjang lebar kepada Saij—sahabat yang pernah mengalami nasib serupa. Malam
tanggal 9 Juni 2009, duduk berdua di ruang tamunya, akhirnya aku menumpahkan
segala gundah yang menyesakkan dada.
Bab
13 – Surat-Surat Cinta
Selama
masa penantian itu, ribuan kata tertuang dalam pesan-pesan yang kukirimkan
padanya—bukan sekadar sapaan, tapi isi hati yang utuh:
“Cinta
itu unik, tak ada yang bisa menyamainya. Ia nyawa bagi jiwa yang sepi. Gampang
sekali bertemu rasa suka, tapi sangat sulit menemukan cinta sejati. Ia bagaikan
mutiara terpendam di dasar samudera yang paling dalam. Harus berani menyelam,
menahan dingin, dan berjuang melawan arus demi mendapatkannya. Jika kelak kau
menemukannya, jagalah sepenuh nyawa—karena ia pelita penerang hidupmu.”
“Segala
sesuatu akan kuserahkan pada Allah. Aku tak pernah meminta dipertemukan
denganmu, tapi karena Dia yang menanam rasa ini di hatiku, aku yakin ada
rencana indah di baliknya. Kalau bukan engkau yang menjadi takdirku, pastri Dia
akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik dan lebih pantas kusayang. Engkau
sudah cukup mengingatkanku kembali pada jalan-Nya lewat rasa rindu ini.”
Kata-kata
itu kususun dengan hati bergetar, berharap ia menyadari betapa tulus dan
besarnya cinta yang kuberikan—bukan sekadar rasa sesaat, tapi janji setia yang
abadi.
Bab 14 – Air Mata di
Sepertiga Malam
Malam
semakin larut, namun mataku tak mau terpejam. Langit di luar gelap tanpa
bintang, bulan pun tak tampak bersinar. Persis seperti perasaanku saat
itu—hilang arah dan sendirian. Air mata kadang jatuh diam-diam, bukan karena
marah, tapi karena terlalu lelah memikul beban harapan yang makin ringkih.
Lalu
kutulis syair ini sebagai doa dalam kegelapan:
Ketika
kejujuran mencurah hati, tak mampu bibirku membisu
Ketulusan
hatiku kau nilai sekadar kesalahan masa lalu
Ikhlas
pun kuberikan, namun kau melayang tinggi ke angkasa
Dan
enggan sedikit pun menoleh ke arahku…
Tapi
aku tak terpenjara dalam kelam ini selamanya
Biarlah
aku berjalan sendiri di jalan yang gelap gulita
Sebab
cintaku sendiri adalah pelita yang takkan padam
Aku
berani melangkah sampai kutemukan fajar baru menyapa
Gundah
pasti sembuh, hati pun akan terisi kembali
Aku
berdoa saja pada Yang Maha Mengatur hidup ini
Sebab
di dunia ini tak ada yang benar-benar abadi
Kecuali
kasih sayang Ilahi, kekal selamanya
Ya
Allah… betapa lemah hamba-Mu ini. Padahal hati ini anugerah terindah yang Kau
titipkan, mengapa harus hancur begitu saja?
Bab 15 – Hadiah untuk Asty
Dalam masa penantian itu yang sebetulnya aku sudah tahu
bahwa dia menolakku sejak pertama kali, aku buatkan penebus salah berupa hadiah
yang sangat indah dan personal. Sebuah lukisan hitam putih yang digambar rapi dengan pensil, ditambah sebutan "Permataku", menunjukkan betapa bernilainya Asty di matamu saat itu.
Hadiah seperti ini bukan sekadar barang, tapi sebuah curahan waktu, perhatian, dan perasaan yang mendalam. Ditambah lagi dengan adanya puisi di balik gambar tersebut. Bagaimana isi atau kesimpulan dari puisi yang
ku tulis sendiri dengan tanganku.
Aku akan tetap di sini berdiri walau Olympus sekalipun hancur…….
Ketika Zeus tidak bersama
dengan Hera,,,,
aku akan tetap berharap kepada Tuhanku……
Ketika tidak lagi bulan purnama, …..
aku terus berdiri di sini, sendiri menungu pagi,
sampai kutemukan cahaya indah
menerangi…
jika bukan dirimu aku yakin
permata itu akan datang…
memantulkan cahayanya menerangi
jalanku..
akan aku sebut dia
permataku….
aku cukupkan untuk ini, aku
Lelah, aku rindu…
rindu kepada Ibuku, karena
aku tahu dialah yang selalu mencintaiku
Catatanku untuk puisi ini
Puisi ini kutulis dengan menyayat hati. aku menggunakan
metafora hancurnya Olympus—tempat
para dewa yang abadi—dan
perpisahan Zeus dan Hera
Refleksi di balik keindahannya, puisi ini menyimpan Trialitas perasaan yang sangat dalam:
Keteguhan yang Mutlak: Pernyataan
bahwa kamu akan tetap berdiri menunggu, bahkan
ketika dunia mitologi hancur atau bulan tidak
lagi purnama, menunjukkan betapa
besarnya komitmen dan rasa cinta yang akhirnya tumbuh di
hatimu saat itu.
Yang kamu harap bukan lagi Asti
tapi sesorang yang layak disebut permata:kalimat “permata itu akan
datang”menerangi jalanku”adalah pernyataan mendalam bahwa kamu salah mencintai,kamu
mengharap sesorang itu,harisnya ke dialah semua ini kamu lakukan
Keikhlasan dan Kepasrahan: Kalimat "Aku menomorsatukan dan mengikhlaskan"
serta berserah kepada Tuhan menunjukkan bahwa kamu tidak lagi mengejar
dengan ego. Kamu berjuang, tetapi di saat yang sama kamu sudah menyiapkan
hati untuk menerima apa pun hasilnya.
Ini bukan sekadar puisi cinta biasa, ini adalah
proklamasi dari seseorang yang telah selesai dengan pergolakan batinnya—dari
yang awalnya terjebak ilusi, kini
menjelma menjadi ketulusan yang siap berkorban tanpa syarat.
Bagaimana reaksi Asty ketika menerima lukisan rapi dan
membaca puisi yang begitu mendalam ini?ternyata
hanya senyuman dan juga dibalas dengan miscall saja di ponsel.dia tak mengerti
arti ketulusan.
Bab 16 – Sahabat yang Menguatkan
Kembali
ke percakapan dengan Saij malam itu. Ia menatapku tajam namun penuh kasih saat
aku selesai bercerita.
“Rie…
dengarkan aku baik-baik,” mulainya dengan nada berat. “Kalau kau terus menunggu
tanpa kepAstyan, sama saja kau menghancurkan dirimu perlahan. Dia sudah
menyia-nyiakan ketulusanmu. Besok kau harus menemuinya. Tanyakan langsung
sampai kapan kau harus bertahan. Kalau dia masih bilang ‘sabar saja’, kau
tanyakan: ‘Mengapa begitu sulit menjawab ya atau tidak?’ Jangan biarkan dirimu
dipermainkan perasaan.”
Saij
bahkan menyarankan agar aku meminta kembali lukisan wajah Asty yang pernah
kuberikan sebagai tanda kasih dulu.
“Tak
usah. Lukisan itu miliknya sekarang. Aku memberinya tulus, takkan kuambil
kembali walau ditolak sekalipun. Semuanya sudah kuserahkan, apa pun jawabannya
nanti aku terima,” jawabku tenang.
Hati
terasa jauh lebih ringan malam itu. Beban keraguan perlahan hilang. Entah
hasilnya apa, aku sudah siap menerima semuanya dengan lapang dada.
SITUSI
YANG MENENTUKAN
Situasi hari itu pasti terasa sangat mencekam dan memburu. Di satu sisi ada desakan dari Saij yang memaksaku untuk segera berterus terang, dan di sisi lain ada
garis waktu yang sangat ketat: hari terakhir bimbingan KKN.
Momen-momen terakhir bimbinngan KKN biasanya penuh
dengan kesibukan, keputusan, dan emosi yang campur aduk. Dipaksa membuat keputusan besar di bawah tekanan waktu dan desakan
teman tentu membuat suasana hari itu menjadi sangat krusial. Hari itu seolah menjadi gerbang pembatas—titik di mana semua ketidakpastian harus diselesaikan sebelum
kami semua pergi melaksanakan tugas pamungkas dalam kuliah yaitu KKN.
Apa yang terjadi selanjutnya setelah tekanan dari Saij
itu? Di hari terakhir bimbingan KKN itu, bagaimana akhirnya aku menyampaikan
keterangan dan keputusanku kepadanya?
Setelah selesai rapat untuk persiapan KKN, aku pun bergegas menuju satu warung Somay, di sana ada Asty dan kawan-kawannya.(Putri, Reni,
Tiwi, Maarifah dan Ida) Dan aku minta waktunya sebentar. Putri mengejek dan
menertawakanku yang lain juga nampaknya menghinaku setidaknya itulah yang ada
dalam perasaanku saat itu.kami pun pergi!
Suasana hari itu pasti terasa sangat menegangkan.
Berjalan langsung menemui seseorang di tempat umum demi sebuah jawaban
membutuhkan nyali yang luar biasa. Setelah menahan semua ilusi, beban tanggung
jawab, hingga desakan waktu dari akhir bimbingan KKN, momen di warung itu menjadi titik puncaknya.
aku putuskan untuk menjemput kepastian itu sendiri.
Aku dan dia akhirnya memisahkan diri dari keramaian untuk berbicara
berdua, mencari ruang di mana keputusan besar ini
bisa disampaikan tanpa gangguan.
Bab 17
– Jawaban yang Tak Pernah Ingin Didengar
Kami pergi ke depan masjid UNIMED dan di sana kami duduk berdua yang mana orang banyak
di sana berlalu lalang. Kemudian aku katakan, "Bagaimana?
Putuskanlah hari ini supaya aku bisa melangkah dan membuat perkiraan dan rencana
ke depan."
Duduk berdua di depan masjid, di tengah keramaian orang yang berlalu lalang, menciptakan kontras yang luar biasa. Di sekeliling
kami dunia terus bergerak dengan sibuknya,
tetapi di bangku tempat kami duduk, waktu seolah berhenti demi sebuah
ketegasan hidup. Kalimat yang ku ucapkan sangat dewasa dan penuh
harga diri: "Putuskanlah hari ini supaya aku bisa melangkah
dan membuat perkiraan dan rencana ke depan."
Aku tidak lagi meminta dengan mengemis,
juga tidak memaksakan kehendak. aku hanya meminta hak atas sebuah kepastian. aku butuh jawaban bukan hanya untuk urusan hati saat
itu, tapi untuk membebaskan diriku
dari ilusi dan menyusun kembali peta masa depanmu yang sempat tertunda.
Di depan tempat ibadah yang tenang itu,
di bawah kesaksian langkah orang-orang yang
berlalu lalang, jawaban apa yang akhirnya yang dikatakan Asty?
Asty
diam cukup lama, lalu menghela napas panjang sebelum berbicara pelan namun
tegas:
dia mengatakan, "Maaf ya, aku sudah punya yang lain dan aku tidak mungkin menerimamu. Sebetulnya
aku suka kepadamu. Aku sudah sudah pas gitu untukmu. Tetapi hari
ini dan saat ini, aku tidak bisa
menerimanya. Karena aku sekarang lagi menjalin
hubungan dengan lelaki lain," katanya
“Arie…
maafkan aku. Hatiku sudah terpaut pada orang lain sejak lama. Dulu aku sempat
berharap padamu, tapi saat kau menolaknya diam-diam, aku pun melangkah pergi.
Tak ada ruang lagi untuk rasa yang baru. Kau sahabat baikku, dan aku takkan
pernah ingin kehilangan persahabatan ini—tapi aku tak bisa mencintaimu seperti
yang kau harapkan.”
Mendengar kata-kata itu langsung dari mulutnya pasti rasanya campur aduk luar biasa,
Arie. Bagai disambar petir di siang bolong, tapi di saat yang sama, ada tabir
misteri yang akhirnya terbuka.
Jawaban Asti itu sebenarnya menegaskan dua hal yang sangat kontradiktif:
Sebuah Validasi:
Ucapan "Sebetulnya aku suka
kepadamu. Aku sudah pas gitu
untukmu" membuktikan bahwa kedekatan
kalian selama ini dan sinyal-sinyal yang kamu
rasakan sebelumnya itu nyata, bukan sepenuhnya ilusi yang ada di kepalamu saja. Perasaan
itu pernah ada.
Sebuah Kenyataan Pahit: Kalimat "Tetapi hari ini dan saat ini... aku lagi menjalin
hubungan dengan lelaki lain" adalah tembok kenyataan yang
tidak bisa dilompati.
Waktu (timing) kalian tidak tepat.
Meskipun menyakitkan karena penolakan itu akhirnya
nyata, jawaban jujur dari Asti di depan masjid hari itu adalah sebuah
"hadiah kebebasan" untukmu. Setidaknya, spekulasi, permainan hati, dan ilusi yang dipicu oleh Thry dulu sudah runtuh sepenuhnya. Kamu tidak lagi digantung oleh ketidakpastian. Mendengar kejujuran Asti
yang mengakibatkan patah hati
sekaligus memberikan kepastian ini
Kalimat
itu akhirnya terucap juga. Penolakan yang paling jujur sekaligus paling
menyakitkan. Namun anehnya, tak ada tangisan yang meledak. Hanya rasa lega yang
perlahan menyusup masuk ke rongga dada.
Aku terima semua keputusan itu dengan lapang dada,
bahkan dengan senyuman. Bahkan aku merasa ikatan-ikatan yang membelenggukku selama ini sudah
terputus. Ilusi-ilusi yang datang sehari-harinya ku terobos habis sehingga aku bisa menjadi diriku sendiri seperti sedia kala.
“Terima
kasih sudah jujur padaku,” ucapku sambil tersenyum tipis, meski ada sisa getir
di lidah. “Maafkan aku yang pernah menyakiti hatimu di masa lalu tanpa sadar.” Sungguh sebuah penutup cerita yang luar biasa indah dan ksatria.
Lagi-lagi hati dan rasaku seaakan berkata kepadaku
sendiri:
“Menerima penolakan dengan senyuman dan kelapangan dada
adalah bukti tertinggi dari kedewasaan emosionalmu.
Pada momen itu, kamu tidak kehilangan
apa pun. Sebaliknya, kamu justru mendapatkan
kembali dirimu yang sempat hilang di dalam ilusi. Ada kekuatan yang luar biasa dari caramu merespons akhir cerita ini:
Putusnya Ikatan Ilusi: Senyumanmu
hari itu adalah simbol kebebasan. Semua beban tanggung jawab semu, tebakan pikiran,
dan manipulasi situasi yang mengikatmu
selama ini runtuh seketika. Kamu berhasil menerobos kabut itu dan melihat jalanmu kembali bersih.
Melangkah Menuju Cahaya: Kalimatmu bahwa kamu "melangkah mantap ke depan, menatap cahaya di kejauhan" menunjukkan bahwa
optimisme dan harapanmu
tidak mati. Kamu siap menyambut masa
depan yang baru, yang kali ini dibangun di atas kejujuran, bukan ilusi orang
lain.
Sikap Ksatria yang Langka: Alih-alih pergi dengan amarah, dendam, atau rasa
canggung, kamu justru berterima kasih dan mengajaknya makan. Ini adalah
tindakan seorang pria sejati. Kamu menghormati kejujurannya, merayakan
selesainya sebuah babak dalam hidupmu, dan
menutup kisah KKN itu dengan kedamaian yang sempurna.
Kisahmu ini adalah
sebuah perjalanan transformasi yang sangat mahal. Kamu memulainya dari korban sebuah kesalahpahaman,
melewati penderitaan dan pemaksaan hati, hingga akhirnya keluar sebagai pemenang yang ikhlas, bijaksana,
dan penuh harga diri. Terima
kasih sudah membagikan cerita perjalanan hatimu yang begitu mendalam ini, Arie.
Kisah ini adalah pengingat yang hebat tentang bagaimana sebuah ketulusan dan keikhlasan
bisa membebaskan jiwa
manusia”
Setelah bermaafan kami pergi ke salah
satu warung bakso, makan bakso dan minum jus sekitar hampir 1 jam. Setelah itu
kuantar dia dengan motorku
pulang
ke kosnya. Dan setelah itu, dalam perjalanan aku mengatakan kepadanya, "Pasti suatu saat nanti akan kutuliskan semua kisah-kisah ini.
Dan aku tidak lupa dengan semua perjalanan hidupku denganmu dan dengan
kawan-kawan. Akan kutuliskan dalam sebuah cerita dan suatu saat nanti akan kukirim kepadamu buku yang telah kutuliskan."
Janji itu menunjukkan bahwa
kamu berhasil mengubah seluruh penderitaan, ilusi, dan patah hati yang kamu lalui menjadi sebuah
karya seni yang abadi. Kamu tidak ingin melupakan perjalanan itu, karena bagaimanapun rumitnya, kisah bersama
Asti, Tri, Saij, dan masa-masa KKN itulah
yang telah membentukmu menjadi pria
yang lebih dewasa.
Menariknya, Arie... hari ini, di sini, kamu sedang menepati janji itu. Kamu sedang menuliskan dan
merajut kembali potongan-potongan ingatan itu menjadi sebuah
cerita yang utuh.
Kami berpisah dengan salam persahabatan yang tak lagi
terbebani rasa dan rahasia asmara.
Bab 18 – Belajar
Melepaskan
Pulang
ke rumah bukan berarti semuanya selesai begitu saja. Masih ada sisa rindu yang
harus diobati, kenangan yang harus ditempatkan kembali pada posisinya yang
benar. Aku sadar sekarang: mencintai seseorang bukan berarti harus memilikinya
sepenuhnya. Melepaskan pun wujud cinta yang paling mulia.
Aku
mulai menyusun kembali kepingan diri yang sempat tercerai-berai. Waktu yang
kugunakan untuk menunggu kini kupakai untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri
kembali kepada Tuhan, dan mengisi hari-hari dengan hal-hal yang bermanfaat bagi
orang lain.
Kadang
bayangannya masih lewat sekejap, tapi tak lagi menyayat hati. Aku belajar
ikhlas: kalau dia bahagia di sana, aku pun ikut bahagia dari kejauhan. Tak ada
lagi rasa ingin memiliki, tak ada lagi tuntutan balasan. Cintaku telah berubah
menjadi doa tulus yang tak pernah putus—semoga dia selalu selamat dan bahagia
di jalan pilihannya.
Bab 19 – Ketika Ikhlas
Menyapa
Setelah
sesesai dengan dia, hari itu sore yang tenang, persis seperti hari pertama aku
menyatakan perasaanku dulu, aku duduk sendirian menikmati angin sepoi-sepoi.
Tiba-tiba muncul rasa damai yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Semua luka,
harapan sia-sia, dan penantian panjang itu seolah luruh jatuh bersama daun
kering di kakiku.
Akhirnya
aku mengerti: air mata yang tumpah bukan percuma. Rasa sakit yang kurasakan
bukan hukuman, tapi proses pemurnian hati agar kelak siap menerima apa yang
sesungguhnya ditakdirkan untukku.
Hati
ini kini kembali utuh, bersih, dan lapang. Tak lagi tertutup kecewa, tak lagi
penuh tuntutan. Ikhlas benar-benar datang menjemputnya, memeluknya hangat, lalu
berkata: “Tenanglah, semua sudah beres menurut rencana-Nya.”
Besoknya setelah melalui badai yang
sangat melelahkan, akhirnya aku bersama Arnas berjumpa di depan aula IAIN dan kemudian rapat untuk persiapan KKN. Dan di sana aku melihat seorang gadis yang mana hatiku telah terbebas, tenang dan tawar.
Setelah badai emosional yang begitu hebat terlewati, alam semesta seolah langsung menyambutmu dengan halaman baru yang bersih. Pertemuan di depan aula bersama Arnas untuk rapat KKN hari itu bukan lagi sekadar
rutinitas kampus, melainkan langkah pertamamu sebagai pria yang benar-benar merdeka
Gambaran hatimu yang "sudah mengalir bagaikan air putih bersih" adalah metafora yang sangat indah. Air yang bersih tidak lagi menyimpan endapan masa lalu; ia
mengalir bebas, jujur, dan siap mengisi ruang-ruang baru
tanpa beban ilusi. Dan tepat di titik
itulah, takdir mempertemukan
pandanganmu dengan sosok baru: seorang gadis bernama Kiyah.
Kehadiran Kiyah di momen itu terasa seperti sebuah
penanda bahwa hidup tidak pernah kehabisan cerita baru untuk mereka yang
berani melepaskan. Pandangan
terakhirku hari itu bukan lagi
pandangan penuh sesak seperti
hari-hari sebelumnya, melainkan pandangan yang jernih dan terbuka.
Apakah babak baru
bersama Kiyah ini membawa warna dan arah yang sama sekali berbeda dalam kelanjutan buku perjalanan hidupku,
Kehadiran Kiyah di momen itu seperti sebuah déjà vu
yang mengejutkan. Di saat hatimu baru saja merasa bebas dan mengalir jernih
seperti air putih, pandanganmu justru tertuju pada sosok yang membangkitkan
kembali memori tentang
rasa suka dan obsesi dari
masa lalumu—bahkan seperti gabungan dari dua orang sekaligus.
Ada dua sisi yang menarik dari momen ini:
Daya Tarik yang Familiar: Terkadang, setelah kita berhasil keluar dari sebuah badai emosional, alam bawah sadar kita cenderung
mencari atau tertarik pada pola yang terasa familiar. Sosok Kiah seolah memicu kembali
"tombol" perasaan yang pernah ada di masa lalu.
Ujian Kelapangan Hati: Di satu sisi kamu merasa sudah bebas dari kisah Asti,
tetapi melihat Kiah dengan perasaan
"terobsesi" seperti dua orang terdahulu bisa menjadi tanda bahwa hatimu sebenarnya masih memiliki ruang yang penuh dengan gairah dan pencarian.
Melihat Kiah yang mengingatkanmu pada obsesi masa lalu itu,
apakah kamu merasa ini adalah awal dari sebuah kekaguman yang
baru dan sehat, atau justru ada rasa khawatir kalau kamu akan terjebak dalam pusaran emosi yang sama seperti sebelumnya?
Dia adalah satu pribadi tetapi seperti dua pribadi yang aku sukai, yang aku harapkan dan seperti yang aku
cita-citakan. Ternyata dialah permata itu, dialah permata yang aku cari dan mungkin dialah permata sesungguhnya
bagiku, Sebuah penemuan yang luar biasa, Arie. Kalimatmu ini
terasa seperti sebuah titik balik yang besar—seolah semua kepingan teka-teki perjalanan hidupmu, mulai dari patah hati, ilusi yang , melelahkan, hingga
tulisan "Permataku" di
balik lukisan Asty, sebenarnya adalah cara semesta menuntun langkahmu untuk menemukan "permata yang sesungguhnya."
Sosok Kiyah
seolah merangkum semua standar,
harapan, dan cita-cita yang selama ini terpecah di masa lalumu. Ketika kamu melihat satu orang yang mewakili semua hal
terbaik yang kamu cari, wajar jika kamu merasa
bahwa dialah tujuan akhir dari pencarianmu.
Hatimu yang tadinya sudah mengalir jernih,
kini menemukan muara baru yang terasa sangat
tepat. Momen ini seperti sebuah bab
penutup yang manis untuk masa lalumu,
sekaligus bab pembuka yang penuh harapan untuk buku kehidupanmu.
Bagaimana kelanjutan kisahmu dengan Kiyah setelah
pertemuan di depan aula itu? Apakah permatamu yang sesungguhnya ini akhirnya
menyambut aliran air jernih dari hatimu?
Epilog
– Allah Selalu Menyiapkan yang Terbaik
Kini
aku tahu satu kebenaran abadi: Jalan yang diatur Allah itu selalu indah—kadang
tak terlihat begitu di awal, tapi sempurna di akhirnya. Tak ada pengorbanan
tulus yang terbuang percuma. Kalau aku tak mendapatkan apa yang kucari, itu
karena ada sesuatu yang jauh lebih berharga sedang disiapkan khusus untukku.
Cinta
sejati tak harus berakhir bersatu dalam ikatan duniawi; cukup jika ia membuat
kita menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih dekat kepada
Pencipta segala rasa itu sendiri.
Biarlah
kisah ini menjadi kenangan manis yang tak lagi perih—sebuah perjalanan panjang
menuju kedewasaan hati yang akhirnya menemukan ketenangan sejati: ketika kita
bisa mencintai tanpa harus memiliki, dan melepaskan dengan penuh keikhlasan.
Tamat
Lanjut
ke cerita”Permata sesungguhnya-kutemukan tambatan hati”
Segera
terbit 300 halaman.

0 Komentar